bc

Belenggu Cinta Sang CEO

book_age18+
125
FOLLOW
1.8K
READ
billionaire
contract marriage
family
HE
age gap
forced
second chance
friends to lovers
arranged marriage
stepfather
heir/heiress
drama
sweet
bxg
serious
witty
office/work place
friends with benefits
like
intro-logo
Blurb

Lima tahun menghilang setelah melarikan diri dari Erlangga, Elena pun kembali dengan penampilan baru dan memulai bisnisnya.

Bertemu kembali dengan Erlangga karena urusan bisnis. Hal itu membuat Erlangga lebih berambisi untuk bisa mendapatkan Elena kembali setelah terpuruk dan depresi yang ia alami.

Berbagai cara dilakukan Erlangga untuk bisa menaklukan Elena. Mendapatkan kembali wanita itu. Mampukah Erlangga menaklukan hati Elena dan membuatnya kembali? Atau, justru hancur dan kehilangan Elena untuk selamanya?

Temukan jawabannya hanya di 'Belenggu Cinta Sang CEO'

chap-preview
Free preview
Bab 1 Terjerat
Elena menunduk sambil menekuk kedua kakinya pada sebuah kamar yang terlihat cukup besar dan mewah. Wajahnya tampak berantakan dengan tubuh hanya terbungkus selimut. Pakaian berserakan di lantai. Hatinya hancur, tubuhnya remuk redam. Ada beberapa tanda kepemilikan di sana. Seseorang masuk ke dalam dan mendekat ke arahnya. Meraih kepala Elena dan memaksanya untuk melihat orang tersebut. Elena menatap tajam, sorot kebencian tampak terlihat jelas di balik kedua bola matanya yang sayu dan sembab karena menangis. Orang itu meraih wajah Elena dan menangkupkannya. Menatap lamat-lamat wajah cantik wanita tersebut yang menatapnya sangat garang. Tidak ada suara, hanya embusan napas yang terdengar sedikit sesak. d**a Elena naik turun menahan sakit dan kecewa mendalam. "Jangan menatapku seperti itu. Terima saja semua, sebagai hukuman karena kau berani meninggalkanku," ucap orang itu yang meski lembut. Namun, terdengar cukup menohok. Elena bergeming. Wanita itu tidak mengubah tatapannya. Bahkan, ia semakin membenci orang itu yang ternyata seorang pemuda tampan bermata elang. "Masih menatapku garang? Apa kau mau mencobanya kembali, Sayang?" tanya pemuda itu sambil tersenyum miring dan mendekatkan wajahnya ke arah Elena. Wanita itu memejamkan kedua matanya sejenak. Kemudian, berusaha mengalihkan tatapannya dari pria tersebut, meski wajahnya masih dalam cekalan lelaki berparas menawan di hadapannya. "Tatap aku saat aku sedang bicara denganmu," ucap lelaki yang ternyata bernama Erlangga itu sambil kembali memaksa Elena untuk menatapnya. "Kenapa tidak membunuhku saja?" tanya Elena menjawab dengan suara serak. "Membunuhmu? Itu terlalu enak untukmu karena aku tidak akan bisa menghukum-mu jika melakukannya," jelas Erlangga meraih dagu Elena dan sedikit mencengkeramnya. Elena tersenyum kecut. Wanita itu kembali melayangkan tatapan tajam ke arah Erlangga. Rasa sakit itu kembali menyerang dirinya hingga menembus jantung. Rasanya, ingin sekali Elena mencekik lelaki di hadapannya tersebut hingga tidak bernapas lagi. Namun, ia seperti tidak memiliki kekuatan untuk melakukannya. "Lepaskan aku! Untuk apa mengurung dan menyiksaku? Kau tidak akan dapatkan apa pun dariku!" ucap Elena dengan tatapan menantang. "Melepaskanmu? Untuk apa? Supaya kau bisa pergi lagi dariku dan kembali ke pangkuan lelaki sialan itu?" tanya Erlangga mempertajam tatapannya. "Kau tidak berhak mengurungku di sini dan mengatur hidupku. Kita tidak ada hubungan lagi. Apa yang kau inginkan?" ucap Elena mencoba memberikan penjelasan. Erlangga tampak tidak senang dengan ucapan Elena, ia mempererat cengkeramannya dan menatap tajam wanita itu. Napasnya terlihat bergemuruh. Terdengar dari iramanya yang tidak beraturan dan cepat, meski pelan. "Kita masih akan terus berhubungan, Elena. Apa kau lupa jika kau adalah istriku? Apa lima tahun berpisah membuatmu hilang ingatan?" Kembali, Erlangga melayangkan pertanyaan dan terus menatap tajam Elena. Wanita itu mendelik, tidak ada rasa takut sama sekali dengan pemuda yang sudah mulai emosi tersebut. Elena tersenyum kecut. "Istrimu? Apa kau lupa kita sudah lama selesai? Kalau aku memilih meninggalkanmu lima tahun lalu, bukankah itu hal yang wajar karena aku bukan lagi istrimu?" "Apa kau begitu ingin berpisah dariku?" "Iya." "Sayang sekali, kau masih tetap menjadi Nyonya Rahardian. Sebab, aku tidak pernah menceraikanmu." "Kau ...." "Jangan bermimpi, Elena. Kau masih berhutang padaku. Ingat itu!" Erlangga dan Elena berdebat cukup panjang. Keduanya saling terbakar emosi dan mempertahankan ego masing-masing. Keras kepala dan selalu berseteru saat bertemu. Selalu tidak pernah ada kedamaian di antara keduanya. Elena terdiam sejenak. Kedua matanya kembali ia pejamkan sesaat. Mencoba untuk meredam emosinya agar tidak semakin memuncak. Meski sesungguhnya, ia sudah sangat muak dengan sikap Erlangga yang selalu menekannya. "Tetaplah menjadi wanitaku yang baik. Selama kau patuh, aku akan bersikap baik padamu. Jangan pernah berani menguji kesabaranku, Elena." Erlangga melepaskan cekalannya pada Elena setelah berkata cukup menohok kepada Elena. Kemudian, mengusap lembut rambut Elena dan meninggalkan wanita yang masih tampak kesal itu. "Awasi Nyonya Elena. Jangan biarkan dia keluar kamar tanpa seizinku! Jangan biarkan wanita itu melarikan diri!" perintah Erlangga kepada anak buahnya. "Baik, Bos." Erlangga pun pergi berlalu dari kamar usai memberi perintah kepada anak buahnya. Pria itu menuruni anak tangga dan melangkah menuju ruang kerjanya. Ketika tiba, sudah ada Roland, asisten pribadinya yang sudah menunggu dirinya cukup lama. "Sejak kapan kau di sini?" tanya Erlangga ketika melihat Roland di ruang kerjanya. Roland menghela napas berat. "Satu jam yang lalu," jawab pemuda berkumis tipis itu pelan sambil melangkah menuju sofa dan duduk manis. "Kenapa tidak memberitahuku?" tanya Erlangga dingin. "Aku tidak ingin mengganggu dirimu dengan istri kecilmu itu," jawab Roland santai. Erlangga mengangguk sambil duduk di kursi kerjanya. "Kau sudah melakukan apa padanya? Kau tidak bersikap kasar padanya, bukan?" tanya Roland dengan penuh ke penasaran. Erlangga menghela napas kasar. Pria itu menautkan jari-jemarinya dan menyandarkan dagu di atasnya, dengan kedua tangan bersandar pada meja. Menatap tajam ke arah Roland. "Menurutmu?" "Jangan bersikap aneh-aneh, Erl. Jika kau tidak ingin kehilangan dirinya kembali," nasihat Roland sambil menatap ke arah Erlangga penuh selidik. "Itu tidak akan terjadi. Aku tidak akan membiarkan Elena pergi lagi dariku," ucap Erlangga dengan geram. "Saranku, perlakuan dia dengan baik. Jangan sakiti hatinya. Sudah cukup penderitaannya selama ini," saran Roland mencoba mengingatkan Erlangga. "Tidak usah menasihati-ku, Roland. Aku akan menjaganya dengan caraku sendiri," ucap Erlangga dengan penuh percaya diri. "Terserah kau saja lah. Jika kau membuat dia pergi lagi, jangan memintaku untuk membantu mencarinya!" ucap Roland dengan sedikit kesal dan mengancam. "Kau mengancam-ku?" tanya Erlangga dengan garang. "Tidak, hanya mengingatkan," ucap Roland santai. "Kau ...." "Sudahlah, aku malas berdebat denganmu. Ini, laporan yang kau pinta," ucap Roland sambil bangkit dari sofa dan menyerahkan file berwarna hitam kepada Erlangga. "Ini ...." "PT Mata Elang Grup." "Bagus" Senyum mengembang di kedua sudut bibir Erlangga. Merasa puas dengan laporan Roland. Mereka mulai fokus membahas pekerjaan. Sementara Elena, wanita itu masih berdiam di kamar sambil menangis sesenggukan. 'Kenapa aku harus bertemu Erlangga kembali dan masuk dalam jeratannya? Seharusnya, aku mendengarkan perkataan Kak Eijaz untuk tidak menghadiri pertemuan itu,' monolog Elena dalam hati. Beberapa jam lalu sebelum Elena berada di rumah Erlangga. Wanita berparas cantik itu pergi menghadiri acara jamuan ulang tahun 'PT Marvel Sentosa Grup' salah satu perusahaan yang bekerja sama dengan 'Mandala Buana Grup' milik keluarga Elena. Perempuan yang berprofesi sebagai ketua desain grafis dan manager umum di anak cabang perusahaan milik Sang Ayah tersebut, mewakili Emilio yang berhalangan hadir karena sedang perjalanan bisnis. Tidak di sangka, jamuan itu membawa petaka bagi Elena karena bertemu dengan Erlangga. Awalnya, memang ia dilarang oleh Eijaz kakaknya. Namun, Elena tetap kukuh pergi karena tidak enak hati jika tidak ada perwakilan dari pihak keluarganya. Kala itu, Eijaz juga berhalangan hadir karena harus meninjau anak cabang perusahaan di kota lain. Nasi sudah menjadi bubur, takdir telah mempertemukan Elena dan Erlangga kembali. Menyesal sekali pun tiada guna. Sebab faktanya, Elena kini kembali masuk dalam jeratan Erlangga yang sulit untuk bisa melepaskannya.

editor-pick
Dreame-Editor's pick

bc

(Bukan) Istri Simpanan

read
51.2K
bc

Takdir Tak Bisa Dipilih

read
10.3K
bc

Pacar Pura-pura Bu Dokter

read
3.1K
bc

Kusangka Sopir, Rupanya CEO

read
35.7K
bc

Jodohku Dosen Galak

read
31.0K
bc

Desahan Sang Biduan

read
54.0K
bc

Silakan Menikah Lagi, Mas!

read
13.5K

Scan code to download app

download_iosApp Store
google icon
Google Play
Facebook