Elena tampak duduk melamun di depan meja rias kamarnya. Wanita itu terus memikirkan perkataan Erlangga. Sebenarnya, ia sangat kesal sekali dengan Erlangga yang selalu mengancam dan mengendalikan dirinya. Meski sudah berusaha menghindari lelaki itu. Namun, tetap saja selalu bertemu. "Erlangga, kenapa kau selalu membuatku kesal? Kenapa selalu mencampuri urusanku?" gerutu Elena dengan kesal. Satu sisi, Elena ingin mempertahankan pekerjaannya demi menyelesaikan proyek yang bernilai fantastis itu dan tidak ingin membayar pinalti. Namun, di sisi lain, ia juga tidak bisa melawan Erlangga karena pasti akan berbuat nekad. Elena sangat memahami karakter dan watak Erlangga yang keras kepala dan akan menggunakan cara apa pun untuk membalas dendam pada siapa pun yang mengusiknya. Elena tidak mau ad

