Bab 4 Ingatan Itu Datang Lagi

1071 Words
Sebuah brankar di dorong ke ruang IGD oleh beberapa perawat. Mereka membawanya ke ruang pemeriksaan. Seorang dokter setengah baya tampak tengah memberikan pertolongan pertama kepada pasien tersebut. "Siapkan larutan Nacl 0,9 persen infus 500 mili liter," pinta seorang dokter pada seorang perawat di sampingnya. "Baik, Dok." "Pasien kritis. Detak jantungnya lemah, Dok," ucap seorang perawat yang mengamati monitor perekam detak jantung. Dokter setengah baya itu segera melakukan PCR dengan memompa d**a kiri pasien untuk membuat jantungnya kembali berdetak. "Siapkan Deflibrillator," ucap dokter tersebut sambil memeriksa denyut nadi pasien. "Deflibrillator, siap," ucap perawat tersebut. "Deflibrillator 200 joule!" "Siap!" "Shock!" "Tekanan darah 120-100/90-60 mmHg, denyut jantung 60-100bpm/beat per minute, SpO2 di atas 95%, dan frekuensi napas antara 12-20 kali per menit," jelas salah satu perawat yang berada di ruangan itu bersama dokter muda tersebut. Perasaan lega menyelimuti dokter muda dan para perawat itu, ketika kondisi pasien kembali normal. Sang Dokter mengatur napas untuk tetap tenang setelah sempat menegang. *** Elena membuka kedua matanya dengan cepat dan langsung duduk di tepi ranjang. Napasnya terdengar bergemuruh dan jantungnya berdegup kencang. Mimpi buruk kembali datang. Ingatan masa lalu itu kembali menghantui pikirannya. Seorang pemuda berwajah rupawan dengan wajah sedikit mirip dengan Elena datang menghampiri setelah mendengar jeritan Elena yang cukup kuat dengan tergesa. "Elena, ada apa? tanya pemuda itu sambil mendekat ke arah Elena. "Kak Eijaz," ucap Elena pelan. "Mimpi buruk lagi?" tanya pemuda bernama Eijaz itu sambil menatap penuh curiga ke arah Elena. Wanita itu mengangguk. Eijaz menghela napas perlahan. Meraih tubuh Elena dan memeluknya erat. Elena memejamkan kedua matanya sejenak. Merasakan hangatnya dekapan Eijaz. "Kita ke rumah sakit, ya?" ajak Eijaz yang mengkhawatirkan keadaan Elena. "Untuk apa? Aku baik-baik saja, tidak membutuhkan dokter," tolak Elena lembut. "Kau harus memeriksakan kondisimu. Awalnya aku merasa kau sudah baik-baik saja. Namun, setelah kau bertemu dengan pria b******k itu, kondisimu tidak sedang baik-baik saja, Elena," jelas Eijaz yang masih membujuk Elena. "Apa kau tidak percaya denganku?" "Bagaimana aku bisa percaya padamu? Jika kenyataannya kau sering bermimpi buruk, Elena." "Kak, aku paling tahu kondisiku." "Bukan saatnya berdebat. Kalau kau tidak mau ke rumah sakit, aku akan telepon dokter untuk memeriksamu." "Tapi, Kak ...." "No debat." Eijaz bangkit dari duduk dan berdiri. Merogoh saku celananya. Mengambil benda pipih berwarna hitam di dalamnya. Membuka kunci layar ponsel dan mencari nomor Dokter Rafael, merupakan dokter pribadi keluarga Elena. ["Halo, Dok."] ["Iya, ada apa?"] ["Datang ke rumahku segera. Aku membutuhkan pemeriksaanmu terhadap Elena."] ["Baik. Aku akan segera ke rumahmu."] ["Terima kasih, Dok."] Panggilan telepon terputus. Eijaz menaruh kembali ponsel ke dalam sakunya dan melangkah ke arah Elena yang tampak murung sambil tertunduk. "Ada apa? Merasa tidak nyaman?" tanya Eijaz dengan lembut. "Aku merasa sedikit pusing dan jantungku berdebar kencang," jelas Elena sambil memegang d**a kirinya. "Istirahatlah sejenak. Dokter Rafael akan segera tiba dan memeriksa kondisimu," jelas Eijaz sambil membantu Elena berbaring. Satu jam kemudian, Dokter Rafael datang dan mulai memeriksa kondisi Elena. Eijaz memperhatikan dengan sedikit menjauh dari Elena dan dokter tersebut agar lebih leluasa saat pemeriksaan berlangsung. "Bagaimana kondisi Elena? Apa dia baik-baik saja?" tanya Eijaz dengan penasaran. Dokter setengah baya berparas manis itu menaruh stetoskop ke dalam tas kerjanya. Kemudian, melepas kacamata yang membingkai kedua matanya dan menggantungkan pada tengah baju kemejanya. Menghela napas sejenak dan menatap ke arah Elena dan Eijaz bergantian. Kemudian, menyerahkan secarik kertas berisi copy resep kepada pria berparas menawan di sebelahnya tersebut. "Untuk saat ini kondisi kesehatannya baik-baik saja. Hanya kondisi kejiwaannya sedikit terganggu karena trauma yang ia alami. Saya resep kan beberapa obat penenang. Jika dalam waktu dua minggu belum ada perubahan, saya sarankan untuk ke psikiater agar mendapatkan perawatan lebih baik lagi. Jangan terlalu banyak pikiran dan selalu happy. Itu akan membuatnya semakin membaik. Jaga kondisi mentalnya agar tidak selalu tertekan. Konsultasikan segera jika memang tidak ada perubahan ke depannya." Dokter Rafael memberikan penjelasan dengan detail mengenai kondisi Elena kepada Eijaz. Wanita berparas cantik itu pun ikut mendengarkannya dengan seksama. Lepas itu, Dokter Rafael pamit undur diri. Eijaz kembali ke kamar Elena usai mengantarkan dokter muda tersebut. Menghampiri wanita itu yang tengah duduk di tepi ranjang sambil tertunduk. "Kau sudah dengar apa yang dikatakan Dokter Rafael, bukan? Jangan menyiksa diri sendiri dan dengarkan perkataanku. Berusahalah untuk melupakan masa lalumu. Itu lebih baik untuk kesehatanmu. Ingatlah, kau tidak sendiri, ada kami yang akan selalu menjaga dan melindungimu. Siapa pun tidak akan pernah dibiarkan jika mengganggumu, termasuk laki-laki b******k itu," nasihat Eijaz sambil menegakkan kepala Elena dan menatapnya dalam. "Maafkan aku, Kak. Aku sudah banyak merepotkan kalian. Seharusnya aku bisa lebih menjaga diri sendiri," sesal Elena sambil membalas tatapan Eijaz dan menggenggam kedua tangannya. "Tidak perlu meminta maaf. Ini semua bukan kesalahanmu. Aku yang seharusnya minta maaf padamu. Tidak bisa menjaga dan melindungimu dengan baik, sampai kau harus mengalami semua ini." Eijaz memperdalam tatapannya. Ada penyesalan dan rasa bersalah besar di balik kedua matanya. Setelah itu, ia memeluk erat tubuh Elena dan mengusap lembut rambut panjang sepinggangnya yang terurai. *** Sementara itu, di kediaman Erlangga. Pria bermata elang itu masih terus memikirkan Elena. Sudah hampir tiga bulan setelah kepergian Elena, pemuda tersebut masih belum menemukannya. Roland dan anak buahnya pun sama. Kepergian Elena sama sekali tidak meninggalkan jejak untuk bisa di lacak. Belum lagi Erlangga dibuat pusing oleh pekerjaan dan perjodohannya dengan Carolin yang terus didesak ibunya. Meski sudah ditolak Erlangga puluhan kali. Namun, tidak menggentarkan hati ibunya untuk terus melanjutkan perjodohan itu. Sungguh rumit kisah cinta Erlangga yang penuh dengan drama dan konflik. Rasanya ingin sekali pemuda tersebut menghilang dari muka bumi sehingga tidak bertemu dengan orang-orang yang selalu membuatnya pusing. "Argh! Sial! Kenapa masalah selalu datang bertubi-tubi padaku? Masalah Elena belum selesai, sudah datang lagi masalah baru," gerutu Erlangga sambil meremas kuat rambutnya. "Mungkin itu karma dari perbuatanmu terhadap istrimu," celetuk Roland dengan santainya. "Apa kau bilang? Beraninya kau berkata seperti itu padaku!" omel Erlangga yang tidak terima dengan perkataan Roland. "Jangan marah dulu. Coba kau pikir. Semenjak kejadian itu, hidupmu selalu banyak masalah. Kau depresi, hampir gila dan mati. Bahkan, kedua orang tuamu pun selalu menekan dan mendesakmu. Apa namanya kalau bukan karma? Sadar lah, Erl. Sebaiknya kau intropeksi diri. Minta maaf kepada istrimu dan perbaiki hubunganmu dengannya saat dia kembali," nasihat Roland sambil menatap kesal ke arah Erlangga yang terkadang begitu egois dan keras kepala. Erlangga terdiam, berusaha untuk mencerna kalimat Roland yang ada benarnya juga. Meski sesungguhnya, ia juga merasa bersalah atas apa yang menimpa Elena. Namun, terlalu gengsi untuk mengakuinya, apalagi di depan Roland yang sering menggoda dan membuatnya kesal.
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD