“Aku membuatmu kaget, ya? Maaf, La. Aku nggak sadar sudah berbicara terlalu keras,” kata Kirani dengan nada sesal di dalam suaranya. Laila memungut ponselnya yang terjatuh, lalu mengusap debu yang menempel di badan ponsel. Untungnya, ponsel itu dilapisi dengan pelindung layar dan pengaman benturan. Laila memasukkan kembali ponselnya ke dalam tas tangan. “Bukan salahmu, kok. Aku tadi begitu serius sampai lupa sekeliling,” sahut Laila seraya tersenyum manis. Melihat Laila tidak marah, Kirani mengembuskan napas lega. “Ayo kita masuk. Mas Arun sudah menunggu kita,” ajak Kirani. Ia menggandeng tangan Laila dan mengajaknya berjalan bersama. Laila menurut tanpa bantahan. Mereka berdua melangkah menuju jembatan gantung yang menghubungkan lahan parkir dengan restoran apung yang berada di ten

