Kejujuran Marni

1216 Words

Laila lekas membuka pintu dan mempersilakan Kirani untuk masuk. “Aku sangka kamu datangnya jam setengah sembilanan, Ki,” ceplos Laila. “Eh, aku datang kecepatan, ya? Kamu belum siap?” Kirani menatap Laila dengan sorot mata bersalah. “Nggak kecepatan juga, sih. Hanya aku yang berpikir kamu akan datang agak siang,” tangkis Laila. Kirani duduk di sofa ruang tamu Laila. Sementara Laila tidak ikut duduk. “Sebentar aku ganti setelan dulu, ya. Oya, kamu mau minum apa?” tanya Laila berbasa-basi. “Nggak perlu repot, La. Aku belum haus, kok. Kamu ganti pakaian saja,” ujar Kirani seraya menggelengkan kepala. Laila berlalu masuk ke dalam kamarnya. Setelah berganti setelan menjadi busana luar yang cukup sopan, Laila menoleh ke arah suaminya yang masih terlelap di kasur. Laila menggoyang pelan p

Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD