"Saya Park Seokjin, supir pribadi Mr. Stonner dan dia meminta saya untuk mengantar Anda ke mana pun yang Anda inginkan hari ini."
Begitulah yang dikatakan Park Seokjin dan Ally ingat sekali setiap katanya. Namun, apa yang dikatakan ternyata berbeda jauh dengan keadaan sebenarnya.
Ally tidak pergi ke mana pun yang dia inginkan. Tidak bisa bertahan menemani Carrie di bengkel tempat mobilnya diperbaiki, sekaligus tempat Daniel bekerja. Dan tidak pula menerima pertanyaan, mengenai hendak ke mana dia berpergian karena secara mendadak--saat mereka baru saja sampai di bengkel--Harry menelepon Seokjin. Mengubah rencana, secara sepihak. Tanpa sepengetahuan Ally.
Idiot. Ini adalah kata yang terus berputar di kepala Ally, saat ia sadar bahwa dirinya tak lagi memiliki akses untuk kabur. Dia tidak pernah menyangka, akan menginjakkan kembali kakinya di apartemen serupa, di kawasan Las Vegas Strip, Paradise seperti sepekan lalu, dengan situasi yang berbeda.
Sekarang suhunya terasa panas. Sangat panas hingga mampu melelehkan b****g siapa saja, jika berani duduk di hamparan besi selama satu menit. Ini adalah gambaran akuratnya, jika kalian ingin mengetahui betapa panasnya Las Vegas jumat lalu, saat Ally bertugas sebagai pengantar makanan menggantikan Cabel.
Ally berjalan di belakang Seokjin. Rasa tidak percaya diri, membuatnya bersikap seperti demikian. Hal yang terjadi sejak, Carrie menolak masuk di dalam mobil Audi A8 dan membiarkan Ally diculik oleh pria kaya bernama Harry Stonner.
"Miss Hannagan." Seokjin berhenti sejenak, sebelum menaiki tangga gedung apartemen. "Anda tidak seharusnya berada di sana. Berjalanlah di sebelah atau di depan saya, karena hari ini Anda adalah prioritas kedua saya," ujar Seokjin setelah megubah posisinya agar berhadapan dengan Ally dan mempersilakan gadis itu.
"Apakah harus benar-benar menemuinya?" Ally bertanya dengan nada penuh keraguan karena tahu, bahwa Seokjin tidak akan memberikan jawaban yang sesuai dengan harapannya. "Aku sungguh minta maaf, tapi aku tidak punya alasan kuat untuk bertemu dengan Mr. Stonner, apalagi setelah dia membuatku takut karena menghajar seseorang hingga sekarat."
"Anda bisa mengatakannya saat bertemu dengan Mr. Stonner nanti, Miss Hannagan," ujar Seokjin yang untuk kesekian kali, selalu membuat Ally mengembuskan napas panjang.
Beberapa orang terlihat keluar masuk dari gedung apartemen mewah tersebut. Ally memerhatikan mereka, ketika kakinya menaiki anak tangga pertama. Sebagian besar merupakan pelayan pesan antar, pelayan bersih-bersih, dan sebagian kecilnya adalah mereka yang berpakaian mahal dengan mobil beserta supir sedang menunggu tidak jauh tempatnya berada.
Ally pernah menjadi salah satu di antara mereka. Yaitu sebagai pelayan pesan antar sementara di restoran cepat saji Fortune's Rockets, saat menggantikan Cabel karena tugas kuliahnya yang menumpuk.
Entah apa Ally harus berterima kasih atau justru merutukinya, tetapi kesialan Cabel-lah yang membuat gadis itu bertemu dengan Harry untuk pertama kali.
Seokjin memberikan anggukan saat lelaki itu berpapasan dengan petugas keamanan yang berdiri di pintu lobby, sedangkan Ally menyapanya menggunakan senyuman hangat lalu menebarkan pandangan untuk memerhatikan interior ruangan yang mengusung tema bangunan Eropa.
Sama seperti sebelumnya, Seokjin mengganti alih tugas Ally. Di mana sepekan lalu gadis itu melayani diri sendiri, hingga berhasil berdiri tepat di depan pintu pelanggan. Kali ini Seokjin-lah yang menekan tombol lift, sampai pintu besi itu terbuka dan membawa mereka ke lantai tertinggi apartemen.
Dan pemandangan menakjubkan pun kembali menyambut indera penglihatan Ally, bersama aroma mawar yang cukup menenangkan deru jantung tak keruan, dan saat itu pula ingatan Ally pun memuat kilas balik peristiwa pertemuannya dengan Harry Stonner.
Dia ingat sekali, saat itu Harry bersama seorang wanita yang menuliskan namanya sebagai Miss Ziggy. Entah apa hubungan meraka berdua, Ally tidak terlalu peduli. Ia hanya memikirkan mengapa seorang Harry Stonner ingin sekali bertemu dengannya, sampai harus membuat dirinya seolah diculik.
Ally berdiri di belakang Seokjin, saat lelaki itu menuntunnya agar masuk ke dalam penthouse. Secara refleks, gadis itu meraba bufet kualitis impor lalu mengugamkan rasa kagum, karena bufet tersebut memiliki ukiran yang rumit.
Sangat artistik. Itulah yang dipikirkan Ally saat mengamati detil benda tersebut.
"Mr. Stonner." Seokjin menyebutkan nama belakang yang belum ingin didengar Ally. "Miss Hannagan berada di sini," ujarnya yang semakin membuat jantung Ally jungkir balik, akibat tidak tahu mengapa ia harus berada di sini.
Sosok tinggi, ramping, dan memiliki bahu lebar itu mengubah posisi berdirinya menjadi membelakangi jendela kaca. Dia belum mencukur rambut halus di wajah, sehingga memiliki jejak kasar saat disentuh. Namun, akan menimbulkan perasaan geli ketika menyentuh area sensitif.
Ally meneguk saliva. Secara diam-diam melakukan hal tersebut dan dia bisa merasakan, bagaimana napasnya begitu cepat. Bahkan ditengah kesunyian yang hanya ditemani oleh musik intrument piano, Ally mampu mendengar jelas deru jantung akibat kegugupan tak terkontrol.
Harry melangkah mendekat dan di saat itu pula, waktu berjalan lambat sehingga Ally tanpa sadar mengamati pria itu dan melupakan keberadaan Seokjin.
"Senang bisa bertemu denganmu lagi, Miss Hannagan." Harry mengulurkan tangannya. "Kuharap lukamu baik-baik saja."
"Umm, I'm sorry, w-what?" Ally mengerjap kembali pada kenyataan dan terdengar nyaris gagap, akibat sadar bahwa dia tengah melamun.
Harry tersenyum tipis lalu mengarahkan netranya ke uluran tangan yang diabaikan Ally. Hal itu pun, membuat gadis itu bergegas menyambutnya sembari mengucapkan maaf berulang kali.
"Maaf, aku hanya ...." Ally ragu untuk melanjutkan ucapannya saat dia mengepalkan kedua tangan kuat-kuat, sebagai upaya menghilangkan keringat. "Tidak terbiasa dan ... I'm sorry, aku kebingungan karena belum menemukan alasan mengapa harus berada di sini, serts hadiah yang menurutku terlalu--"
"Mereka terlihat luar biasa bersamamu," sela Harry lalu mempersilakan Seokjin untuk pergi. "Jika kau ingin, aku bisa memberikan yang lebih daripada ini."
Harry mengambil tangan kanan Ally, menggenggamnya dan menuntun gadis itu untuk masuk lebih jauh ke dalam penthouse, menuju sofa berwarna abu-abu dengan meja hasil potongan pohon besar.
Kulit putih Ally terlihat semakin bersinar, saat matahari menembus jendela kaca dan langsung menyinarinya. Perpaduan antara warna salmon dari dress selutut pemberian Harry, dengan aksen tali yang dibentuk pita oleh Ally, membuat pundak serta bahu gadis itu terekspos. Harry menyukai bagaimana Ally mengenakan dress pilihannya.
Di mana tidak perlu dipungkiri lagi, siapa pun pasti akan setuju bahwa dress tersebut berhasil memberikan kesan luar biasa saat dikenakan oleh Ally.
Harry menatap cukup lama ke arah gadis itu. Memerhatikan setiap senti wajahnya, lengan serta kaki rampingnya, dan terakhir pada sepasang mata abu-abu tersebut. Penuh misteri, hingga menimbulkan rasa penasaran tentang apa yang pemilikinya sembunyikan.
"Do you want to drink?" tanya Harry.
"Yes, just ... water."
"Yes." Harry kembali tersenyum tipis, tanpa peduli bahwa hal sederhana itu selalu sukses membuat kedua pipi Ally merona. "Miss Hannagan, take a sit, please," ujarnya lagi sambil mempersilakan Ally untuk duduk di sofa beludru yang teramat empuk.
Ally mengangguk, sadar bahwa suaranya telah serak sebab terus-menerus mengagumi dalam diam. Apa pun yang berada di penthouse, sungguh luar biasa jika dibandingkan dengan apartemen ibunya. Bukan berarti Ally tidak bersyukur, tetapi dia merasa sangat kecil untuk berada di tempat ini.
Tangan gadis itu meraba sofa yang ia duduki. Tekstur halus serta lembut, seperti menyentuh bulu kucing menyambut indera peraba Ally. Di waktu bersamaan, netranya bergerak menelusuri ruangan super besar ini.
Hingga beberapa menit berlalu, Harry datang dengan dua gelas berisi air mineral. Ally segera berdiri canggung, berusaha bersikap sopan dan segera mengambil satu gelas untuknya.
"Apa kau masih merasa tidak nyaman?"
Ally berhenti meneguk dan menyisakan air yang tinggal setengah gelas. "Lebih tepatnya, kurang percaya diri." Ally menggigit bibir lalu menunduk, menatap segelas air yang dia genggam menggunakan kedua tangan. "Jadi kuharap Anda bisa memberitahuku tentang alasan, mengapa aku harus berada di sini?"
Harry meletakkan gelasnya. Menatap Ally secara intens, sambil mengambil gelas milik gadis itu. Dia memutuskan untuk bangkit, lalu duduk tepat di sisi Ally.
Jarak mereka semakin dekat.
Ally semakin tidak mampu mengontrol detak jantungnya.
Dan dia mulai berkeringat di telapak tangan.
Terutama saat telunjuk dan ibu jari Harry, menyentuh dagunya. Mengangkat lembut agar wajah Ally menghadap Harry lalu seperti yang pria itu lakukan sebelumnya, dia mengarahkan bibir seksi tersebut ke telinga Ally kemudian berbisik, "I want you to be mine." Sebuah gigitan kecil, hinggap di cuping telinga Ally. "I want you to kneel before me, own you completely, and I will give you what you want."
Suara itu terdengar berat, terlalu seksi, hingga seluruh area sensitif Ally meremang.
Ally melirik ke arah Harry, seiring sensasi menggelitik menghampiri akibat sapuan lidah dan ciuman di lehernya. Sekuat tenaga, Ally berusaha mempertahankan akal sehat agar tidak mudah jatuh ke dalam pelukan pria memabukkan ini.
"I'm sorry, Mr. Stonner." Ally bergerak mundur, menggeser posisi duduknya untuk menjaga jarak. "Aku ... aku tidak mengerti, tentang apa yang Anda bicarakan," kata Ally, berusaha menyembunyikan napas beratnya akibat menahan gejolak erotisisme.
"Kau mengerti, dari apa yang kau pikirkan."
"Bagaimana Anda bisa mengatakannya?"
"Tubuhmu yang berbicara."
Tatapan itu seolah menelanjangi Ally dan dalam dirinya mulai menggila, akibat tatapan intens tersebut.
Harry kembali mengarahkan tangan kekarnya. Di mana saat ini dia menyentuh paha ramping Ally yang sedikit tersingkap saat duduk.
Ally merapatkan kedua kakinya. Dia memejamkan mata sejenak, merasakan sengatan listrik penuh kenikmatan akibat sentuhan Harry. Ally bukan maniak seks, tetapi sentuhan Harry nyatanya berhasil membuat gadis itu kesulitan mengontrol diri.
"Kau ingin tahu apa yang dibicarakan tubuhmu, Miss ... Hannagan?" Harry masih berbicara dengan nada terlampau berat dan rendah, hingga membuat Ally membuka kedua matanya dan membalas tatapan Harry.
"Kedua kakimu merapat," ujar Harry, sambil memberikan belaian lembut di paha dan betis gadis itu. "Napasmu berubah menjadi semakin berat." Harry semakin berani dengan mencium bagaian bahwa tulang selangka Ally, merasakan embusan napasnya lalu kembali melanjutkan ucapannya. "Dan ... kedua pipimu merona."
Ally menepis tangan Harry yang sudah berada di paha bagian atas, lalu segera bangkit dari tempat duduknya. Napas gadis itu terengah-engah, membuktikan bahwa sentuhan Harry berhasil membangunkan dewi sensual dalam dirinya.
"Aku tidak akan mengatakannya, tapi jika Anda berpikir bahwa aku sama seperti mereka. Maka Anda salah besar, sebab aku lebih memilih bekerja siang malam, daripada menukar tubuh dengan uang," kata Ally bernada tegas. "I've to go right now and you can find another girl, exception me."
Ally bergegas menuju lift, secepat mungkin menjauhi Harry sebelum akal sehatnya dikalahkan oleh nafsu duniawi. Namun, belum sempat melangkah jauh lengan Ally dicekal oleh kekuatan yang diluar kemampuannya. Menyentak tanpa mampu ditahan, hingga membuat gadis itu berbalik menghadap Harry. Beruntungnya, tidak sampai memeluk karena Ally menjauhi kontak fisik yang terlalu intens.
Ini terlalu gila dan sungguh tidak pernah terbayang oleh Ally.
"Aku tidak akan melepas apa yang kuinginkan." Harry melemparkan tatapan dingin itu ke arah Ally. Mencengkram kuat lengannya, hingga gadis itu meringis kesakitan. "Dan aku bisa memaksa, jika hal tersebut diperlukan."
"Anda menyakitiku." Ally berkata dengan nada memohon.
Harry melirik ke arah cekalannya di lengan Ally lalu melepas secara perlahan, seiring dengan tatapan intimidasi yang membuat hati Ally mengecil. "Kau adalah milikku sejak kau berlutut di hadapanku."
Kedua alis Ally menyatu. Dia berusaha mengingat kapan dirinya melakukan hal demikian. Seumur hidup, tidak pernah dia merendahkan diri seperti demikian.
"Aku ... tidak ingat, kapan melakukan hal itu." Aroma white musk menghampiri indera penciuman Ally, membuatnya mengenali bahwa pemiliknya adalah Harry. Gadis itu memberanikan diri untuk mengangkat wajah, menatap langsung ke arah Harry memperlihatkan perbedaan beberapa menit lalu. "Dan aku tidak akan pernah melakukan hal tersebut, meski Anda adalah seorang malaikat maut sekali--"
Ucapan Ally terputus, saat Harry memangkas jarak tanpa sempat dicegah dan memberikannya ciuman panas ke bibir gadis tersebut. Lidah Harry menerobos masuk, memainkan lidah Ally. Lengan kokoh itu menahan pergelangan tangan Ally, membawanya ke belakang punggungnya.
Menikmati keadaan yang mendominasi, Harry semakin serakah mengeksplorasi bibir Ally. Cekalan itu pun berubah menjadi remasan pada b****g gadis itu, hingga suara desahan milik Ally terdengar dia memutuskan untuk berhenti. Menarik ciumannya, melepaskan remasannya di saat Ally membuka mulut agar Harry melanjutkannya.
Sayangnya, Harry tidak menuruti keinginan Ally. Pria itu hanya menyeringai kemudian mengecup kening Ally dan mengusap kepalanya.
Wajah Ally merona. Harry adalah pencium handal, hingga membuatnya tak kuasa menolak.
"Kita akan pergi untuk makan siang," ujar Harry lalu mengambil kunci mobil yang diletakkan tidak jauh dari mereka berdiri. "Sangat menyenangkan, bukan?" Dia menyeringai lagi dan hal itu membuat Ally semakin tersiksa, akibat perlakuan barusan.
Ally tertunduk. Mencoba mengintip sosok luar biasa seksi yang berdiri di hadapannya, bergerak gelisah dengan mengigit bibir lalu menatap heels pemberian Harry.
Diam-diam, dia kembali meresapi ciuman panas yang baru saja dia lalui. Kedua tangannya menyatu di balik pinggang, mengingat cengkraman mendominasi itu. Hingga tidak sadar bahwa Harry memerhatikan tingkah lakunya.
"Kau membuatku gila, Miss Hannagan," ujar Harry lalu kembali memagut bibir Ally, dengan cara yang serupa di saat pintu lift benar-benar tertutup.
***