BAB 005

2280 Words
Mereka kekurangan oksigen. Tentu saja. Adrenalin berpacu kuat, di saat lidah saling beradu demi menemukan kenikmatan. Suara sensual juga terdengar saling berhasutan, ketika Harry memberikan pagutan panas pada bibir Ally. Hingga akhirnya pintu lift terbuka, pria itu terpaksa harus menghentikan aksi tersebut, meski dewi batin mereka sama-sama menjerit. Ally menarik napas dalam-dalam, ketika pintu lift terbuka, dan Harry menghentikan ciuman penuh hasrat yang belum pernah ia alami sebelumnya. Sebisa mungkin Ally bersikap tenang, saat beberapa pasang mata mengarah pada mereka berdua. Meskipun hanya berupa tatapan, gadis itu ternyata sudah merasa tidak nyaman dan akan menjadi sangat cemas, jika Harry tidak menggenggam tangannya lalu membawanya keluar dari kotak besi raksasa tersebut. Sungguh! Apa yang telah terjadi di dalam lift barusan, kenyatanya memang berhasil memacu adrenalin Ally. Seumur hidup, dia tidak pernah menyangka akan melakukan hal panas di tempat umum. Meskipun mereka melakukan hal panas itu hanya berdua, tetapi Ally yakin bahwa seseorang yang--mungkin--sedang mengatami layar dari kamera CCTV pasti mengetahui aksi tersebut. "Apa kau tidak pernah melakukannya?" Ally mendengar jelas suara bariton yang teramat seksi untuk diucapkan. Membuatnya refleks menoleh, meski di detik kemudian dia menyesal karena tebakan Harry tidak memiliki kesalahan sedikit pun. "Hanya tempat dan situasinya yang membuatku ...." Ally ragu untuk melanjutkan kalimatnya, meski kata-kata itu telah menggantung di lidah. "Yeah, aku ... tidak terbiasa." Harry hanya tersenyum tipis. Tidak berniat untuk menimpali ucapan Ally, tetapi justru melingkarkan lengannya di pinggang gadis itu. Memeluknya dengan cara teramat posesif hingga untuk kedua kalinya, Ally yakin bahwa setiap pasang mata di lobby mewah ini tengah mengamati dengan tatapan menilai. Demi Tuhan. Ally berani bersumpah, tatapan menilai mereka memang terasa sangat tidak nyaman. Namun, sentuhan Harry serta segala hal yang ada dalam dirinya ternyata berhasil menenangkan Ally hingga dalam sekejap, ia sempat termenung memikirkan ucapan Harry saat mereka masih berada di penthouse. "I want you to be mine, want you to kneel before me, and own you completely." Harry memberikan gigitan kecil pada cuping telinga Ally. Berbicara dengan nada berbisik hingga membuatnya bisa merasakan setiap embusan napas pria itu. Ally ingat sekali, bagaimana Harry memperlakukannya. Menggoda dengan cara elegan dan memposisikan gadis itu ke dalam situasi dilema. "Kau tentu akan cepat beradaptasi, Ally." Harry menyentuh punggung Ally, mengarahkannya agar segera melangkah ke dalam mobil. "Terlihat dari bagaimana kau menanggapinya." Ally tidak memberikan reaksi apa pun. Dia hanya duduk di jok penumpang dan membiarkan Harry meremas lembut paha kirinya. Sebenarnya gadis itu menikmati setiap sentuhan Harry, membenarkan seluruh ucapan pria tersebut serta menyadari, bahwa Carrie tidak sepenuhnya salah. Harry memang memiliki kemampuan menghipnotis seluruh kaum hawa. Mampu membuat mereka bertekuk lutut di hadapan pria itu dan sedikit pun tidak mampu mengontrol, demi mempertahankan harga diri. Ally kesulitan untuk menyangkal hal tersebut, mengatakan bahwa Harry sama sekali tak memengaruhinya karena kenyataan membuktikan bibir wanita terlalu sering berbohong, di saat tubuhnya menerima sebuah kenikmatan. "Kau harus lebih banyak mengonsumsi kalori dan berolahraga," ujar Harry sambil memasukkan ponsel ke dalam saku jaketnya. "Karena berat badan yang kurang ideal akan membuatmu kesulitan." Pandangan Ally yang awalnya kosong akibat lamunan, kini teralih pada sosok di dalam pikirannya. Pria itu memang tidak menatap Ally secara langsung, tetapi dari nada bicaranya terdengar menuntut dan perhatian. Jika mengikuti akal sehat serta egoisme, Ally tentu akan menolak keras perintah Harry sebab terkesan terlalu bossy. Namun, ketika mengingat bagaimana Harry begitu menginginkannya dan akan melakukan apa pun demi mendapatkannya, Ally tahu bahwa dia tidak mampu melakukan hal lain selain mengangguk. Ally mencoba untuk berpikir positif. Berulang kali mengulang kalimat bahwa Harry hanya ingin dirinya menerima asupan gizi yang baik, mengingat selama ini dia hanya mengonsumsi bahan makanan murah serta diskon lima puluh persen bersama sang ibu. "Aku ... tidak yakin harus menerima semua ini." Ally memelankan suaranya. Merasa tidak nyaman jika Seokjin mendengar dari jok kemudi. Kedua netra Ally melirik ke arah kaca spion yang memantulkan wajah tampan Seokjin dan beruntungnya, lelaki itu terlihat lebih fokus pada pekerjaannya daripada kecemasan Ally. Harry memerhatikan gerak-gerik Ally. Pengalaman bertemu dengan banyak orang selama bekerja, membuat Harry mampu memahami bahasa tubuh lawan bicaranya. Gadis itu menggigit bibir bawahnya, beberapa kali melirik ke arah pantulan wajah Seokjin, dan tidak jarang Harry melihat Ally menggenggam tangannya yang sedikit mengkilap akibat dibasahi oleh keringat. "Seokjin, use your earphones," titah Harry membuat Ally menoleh takjub ke arahnya. "Apa yang Anda lakukan?" "Dia tidak akan mendengar pembicaraan kita." "Tapi bukan itu yang--" "Berhentilah berbicara formal, Ally." Harry menggenggam tangan kiri Ally, meremasnya pelan hingga menimbulkan sengatan listrik ringan di seluruh tubuh gadis itu. "Aku ingin kau bersikap rileks, daripada kaku dan cemas seperti sekarang." Gadis dengan rambut golden blonde itu lagi-lagi menggigit bibir, seolah tidak mengerti bagaimana Harry menatapnya. Bagaikan singa kelaparan, Harry mencoba menahan diri agar tidak melakukan hal lebih demi menghargai Ally sebagai pemula. Yang benar saja andai Ally sudah membubuhkan tanda tangan di surat perjanjian, maka Harry tentu akan membawa mulut gadis itu ke pusat kenikmatannya. Harry tidak bisa menjadi lebih sabar lagi. Gigitan Ally di bibirnya, selalu membuat Harry menggila karena ingin melakukan hal serupa. Sehingga setelah mengembuskan napas kasar, Harry menarik wajah cantik tersebut dan dengan menggunakan ibu jari dia melepaskan gigitan di bibir itu. "Jika kau terus melakukannya, maka aku tidak bisa menahan diri dan kau akan terkejut jika hal itu terjadi," ujar Harry, sambil mengusap bibir bagian bawah Ally dengan jemarinya hingga kedua pipi gadis itu merona. "I ... don't know what will happen, if you can't take it anymore," ungkap Ally yang jelas terdengar serak, hingga membuat kedua bola abu-abu itu membesar karena gugup. ... atau mungkin tidak. Ally tidak yakin dia gugup atau merona akibat ucapan Harry barusan. Ally lebih percaya bahwa adrenalin sedang mendominasi perasaan, hingga memengaruhi reaksi tubuhnya. Adrenalin yang jika dijelaskan hanya berupa rasa penasaran tentang bagaimana sosok Harry Stonner saat dia dikalahkan oleh nafsu, serta sejauh apa pria itu akan memperlakukan pasangannya ketika iblis-iblis berhasil menguasai akal sehatnya. Ally sungguh ingin mengetahui hal tersebut dan tanpa sadar telah membawanya hingga sejauh ini. Yakni di hadapan Bellagio Hotel & Casino. Tempat ini terlalu megah untuk Ally dan dia tidak pernah berpikir apalagi bermimpi untuk menginjakkan kaki sebagai seorang tamu. Gadis itu menyelipkan sejumput rambut di balik telinganya, menatap ke arah air mancur menari dengan iringan lagu klasik yang menurut gadis itu terdengar seperti backsound film Disney. "Beberapa kali melihatnya pun, akan tetap terlihat menakjubkan" Ally bergumam, sambil menggenggam clutch berwarna rose gold dengan kedua tangannya. Harry masih berbicara dengan seorang wanita berpakaian resmi berupa pantsuit dengan model atasan blazer serta celana panjang berbahan serupa. Wanita itu membiarkan rambut panjang hitamnya tergerai, membuat mereka sesekali bergoyang saat diterpa angin dan menimbulkan ketertarikan tersendiri di mata para kaum adam. Ally turut memerhatikan bagaimana keduanya berbicara, tidak ada sentuhan di sana. Hanya raut wajah serius sampai Ally memutuskan untuk kembali menyaksikan tarian Bellagio Fountain Show. Namun, belum sempat satu menit Ally menyaksikan penampilan yang menjadi salah satu daya tarik wisatawan di Las Vegas, suara Harry menyapu indera pendengaran. Cukup samar di antara keramaian kawasan hotel dan bar yang memiliki bangunan super besar serta ribuan jendela kaca yang menghiasi. Membuat gadis itu menoleh, di mana ketika tatapan mereka bertemu Harry mengisyaratkan agar Ally mendekat. "This is Miss Hannagan, Seokjin will send you the data and then finish the paperwork quickly." Harry menggenggam tangan Ally ketika gadis itu tengah berdiri di sisinya, membuat wanita berambut hitam itu mengamati Ally secara diam-diam dari ujung kaki hingga kepala kemudian mengangguk pelan. "Kau harus segera mengirimkannya, Lea. Maksimal besok pukul lima sore." "Yes, Sir," ujarnya dengan wajah murung yang berusaha dia sembunyikan. Ally menatap wanita bernama Lea itu, kemudian menampilkan senyum ramah, tetapi tidak dibalas sesuai harapan Ally. Lea justru mengalihkan pandangan, segera mungkin menghadap jalan lalu melangkah cepat menuju mobil berwarna hitam. Entah apa yang membuat Lea bersikap demikian dengan keramahan Ally, gadis itu hanya mengembuskan napas panjang. Mencoba memaklumi sikap sombong beberapa orang sukses. Harry memeluk pinggang Ally, bersikap seolah tidak tahu apa yang dialami gadis itu dan memutuskan untuk tidak peduli. Sikap Lea barusan, sudah menjadi santapan Harry setiap kali dia meminta personal asistant-nya untuk mempersiapkan dokumen perjanjian antara Daddy dan Baby. Sehingga tingkah laku kurang sopan Lea tadi pun, hanya menjadi angin lalu bagi Harry. Harry membawa gadis itu ke salah satu meja outdoor yang telah Lea reservasi, dengan menghadap langsung ke arah Bellagio Fountain Show. Harry sengaja meminta Lea untuk memilih tempat tersebut, memerintahkan agar dia datang ke tempat ini agar bisa menemui Seokjin secara langsung, dan mendapatkan data yang harus segera ia isi di surat perjanjian. Lagu Michael Jackson yang berjudul Billie Jean terdengar. Para wisatawan atau warga lokal sengaja mengambil lokasi outdoor, segera menoleh ke arah Bellagio Fountain Show. Deretan panjang air mancur itu pun mulai meliuk-liuk mengikuti melodi, beberapa dari para penonton mengabadikan keindahannya dengan menggunakan ponsel. Ally ingin mengabadikan hal tersebut dari view yang kebetulan berbeda. Namun, tertahan saat Harry meletakkan serbet di atas pangkuan gadis itu lalu memalingkan wajahnya secara lembut, agar netra abu-abu tersebut hanya menatap ke arah Harry Stonner. "Setelah kau menjadi milikku, Ally." Harry menyelipkan sejumput rambut ke balik telinga gadis itu, lalu jemarinya menelusuri garis rahang Ally hingga terhenti di bibir berpoles lipstick merah jambu. "Maka senyum itu hanya boleh kau perlihatkan untukku." "I'm sorry, w-what?" Suara Ally nyaris terdengar seperti bisikan dan hal itu membuat Harry tersenyum tipis. Dia mengambil segelas tropical juice untuk Ally, lalu mengambil segelas anggur miliknya dan mengajak gadis itu bersulang. "I'll own you completly, then everything in you is mine," ungkap Harry setelah denting gelas yang saling beradu terdengar dan pria itu menikmati minumannya. "Let's eat, Ally. Don't think to much because I'll take you somewhere after this." Ally meletakkan segelas tropical juice yang baru terminum sedikit. Kedua alisnya mengerut, tetapi jantungnya berdebar kuat karena menyimpan pertanyaan ke mana pria itu akan membawanya. Sehingga setelah beberapa detik mencoba menganalisis raut wajah Harry, Ally pun berkata, "Ke mana kau akan membawaku?" "Ke tempat di mana, kau tentu akan menyukainya." Kedua mata Ally lantas mengerjap. Bukan itu jawaban yang dia inginkan. Harry sama sekali tidak menjawabnya secara terang-terangan. Pria itu membuatnya memiliki banyak makna, sehingga menjadikan pikiran Ally semakin liar. Kedua lutut Ally pun merapat, jantungnya berdebar amat kuat, hingga dia menjadi kesulitan bernapas, dan tenggorokannya pun terasa kering. Ally meminum kembali minumannya. Meneguk cairan segar itu dengan sangat cepat, sebagai upaya untuk membekukan otaknya agar tidak berpikir hal kotor. "Aku sungguh minta maaf, Mr. Stonn ... bukan, maksudku Harry." Ally menggeleng pelan lalu meletakkan gelas dengan sangat hati-hati. "Aku bukanlah seorang gadis pelajar yang pengangguran. Kau tahu, tidak semua manusia seberuntung itu. Aku harus bekerja hari ini dan jadwalnya benar-benar padat, sehingga--" "Kau tidak memiliki jadwal pekerjaan seharian penuh." Harry menyela ucapan gadis itu, bersamaan dengan tatapan yang seketika mampu membekukan lawan bicaranya. "Pekerjaanmu hari ini dimulai pukul enam sore, di Bar Sienna Waters. Kau berbohong kepada orang yang salah, Ally." Senyum miring terbit di wajah Harry, seiring dengan keterkejutan yang menghampiri Ally hingga gadis itu nyaris menjatuhkan rahangnya ke atas piring berisi daging steak. Ally menatap Harry dengan kedua mata membola. Terlalu terkejut atas pengetahuan Harry mengenai dirinya. Jika otak Ally masih waras seperti beberapa jam lalu, mungkin dia akan memilih pergi sekarang juga. Namun, seluruh keindahan milik Harry ternyata mampu melumpuhkan akal sehat gadis itu, sehingga bibirnya pun hanya mampu berkata .... "How do you know, Harry?" Ally tidak bisa lagi mengalihkan pandangannya. Untuk saat ini, seluruh perhatian gadis itu hanya berpusat pada Harry. Harry meletakkan pisau dan garpu di atas piring, lalu membersihkan sudut bibir sebagai tanda bahwa dia telah selesai. Seorang pelayan dengan sigap menghampiri meja mereka, mengganti makanan Harry dengan sajian penutup. "Easy," ujar Harry, sambil tersenyum asimetris yang membuatnya tampak misterius. "Ada banyak sekali orang dari berbagai pekerjaan, sehingga menemukanmu bukanlah hal sulit." "Apa kau juga mengintipku di toilet?" "Ya, aku akan sangat senang jika hal itu bisa terjadi dan tidak melanggar hukum." Ally memutar mata, menganggap bahwa ucapan Harry barusan merupakan dirty joke paling payah sedunia. Namun, pria itu tidak bereaksi apa pun. Dia hanya menatap lurus ke arah Ally, sembari mengetuk jemarinya di atas meja. Saat itu juga Ally pun sadar, bahwa besar kemungkinan ucapan Harry adalah benar. Sehingga ketika gadis itu ingin tertawa, dia segera berhenti dan berujar dengan sangat hati-hati. "Oh, tidak, Harry, kuharap kau tidak melakukan hal serendah itu." "Habiskan saja makananmu dan kita akan segera pergi dari sini," kata Harry masih dengan ekspresi serupa, yaitu tanpa garis senyum sedikit pun serta hanya memberikan tatapan sedingin Samudera Antartika. "Dan pastikan kau tidak lagi memutar mata di hadapanku." "Why?" Ally mengangkat kedua bahunya, memberikan reaksi bertanya sekaligus kebingungan atas permasalahan di mana menurut gadis itu hanyalah hal sepele. "Aku melakukannya karena kupikir kau bercanda, tapi ternyata ... kurasa tidak." "Ya, kau dipersilakan untuk menebak dan mencari jawabannya." "Shit." "I'm sorry, can you repeat what you said before?" Harry memberikan senyuman raja, sambil menyatukan sepuluh jemarinya lalu meletakkan mereka di atas meja. "I want to hear it more clearly." Dari sudut Ally berada, dia bisa melihat Harry sedang menyilangkan kaki kirinya di atas kaki kanan. Duduk bersandar tanpa perlu memangkas jarak dan dengan suara bariton nan mendominasi itu, dia tahu bahwa dirinya berhasil menimbulkan kepanikan pada gadis di hadapannya ini. Lalu seperti keinginannya, Harry bisa mendengar bagaimana Ally kembali mengumpat dengan--masih--berupa desisan dan tanpa menunggu lama, tangan kokoh Harry pun menarik mengangkat tubuh gadis itu. Membuat perutnya bertumpu pada bahu Harry, kemudian segera membawa Ally pergi meninggalkan steak yang baru habis separuh. Ally meminta agar Harry menurunkannya. Memohon dengan nada cukup tinggi, hingga pergerakan mereka terlihat sangat mencolok dan menarik banyak perhatian siapa pun yang berada di sekitar mereka. "Sebagai bentuk pemanasan, maka aku akan mendisiplinkanmu dengan cara yang menyenangkan," bisik Harry lalu membelai lembut b****g Ally kemudian memukulnya pelan. "Tenang dan jangan terlalu menonjol, Baby girl." ***
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD