BAB 006

1740 Words
You are a hypocritical bitches. Pikiran itu tiba-tiba saja terlintas di benak Carrie, saat dia melihat dengan siapa sahabatnya sekarang. Terus terang. Jendela kaca yang merangkap sebagai dinding bagian depan Sienna Waters tidak pernah seramai ini, oleh wajah-wajah wanita penghibur. Termasuk Esmeralda, dia adalah sesosok perempuan paling angkuh di bar karena memiliki paras paling diperhitungkan di Las Vegas. Semua orang tahu, bahwa Esmeralda tidak pernah memperlihatkan sikap penasarannya secara terang-terangan. Menurutnya hal itu sama saja dengan meruntuhkan keanggunan, sehingga jika dia ingin tahu mengenai sesuatu maka wanita tersebut akan memasang telinga tajam-tajam untuk mencuri dengar. Namun, untuk hari ini tidak ada lagi Esmeralda yang suka mencuri dengar untuk mendapatkan informasi rahasia atau gosip orang-orang Sienna Waters. Melalui dinding dekat pintu utama bar yang berpanel kayu, Carrie menyaksikan bagaimana Ally berhasil membuat primadona angkuh di Senna Waters tidak lagu menjaga sikap, akibat keterkejutan luar biasa. Bersama sosok pria nomor satu yang paling diinginkan di Las Vegas, Ally diperlakukan bak putri saat gadis itu keluar dari Audi A8 berwana hitam mengkilap. Harry Stonner membukakan pintu mobil untuk Ally lalu memeluknya dan memberikan kecupan singkat di bibir, sebelum Ally melangkah menuju bar. Tindakan penuh kontrovelsial bagi kaum hawa itu pun, semakin diperparah dengan keputusan Harry untuk menunggu Ally hinga gadis tersebut benar-benar mencapai tempat kerjanya. "Oh, shit." Carrie memaki dengan penuh tekanan, tetapi kedua sudut bibirnya menukik ke atas. "What the hell going on, Bitches? Kau telah membuat wanita di seluruh dunia menangis karena perbuatanmu." Ally meremas tali tas selempang, hingga kedua tangannya menimbulkan urat-urat tipis. Kedua netra abu-abu gadis itu juga melirik ke arah jendela kaca Bar Sienna Waters, yang sesuai ucapan Carrie tampak tidak biasa. Beberapa pasang mata memerhatikannya, beberapa lainnya mulai berbisik, dan sisanya mengarahkan ponsel ke arah gadis itu. Semua tindakan yang membuat Ally merasa risi, tetapi teralihkan saat tatapannya bertemu dengan manik biru milik Esmeralda. "Jadi, apa kau telah berubah menjadi sosok yang munafik, eh?" "I'm sorry, what?" Ally mengerjapkan mata, sambil menatap Carrie. Pikiran gadis itu sempat disibukkan, oleh pertanyaan-pertanyaan yang telah menemukan jawaban jelas. Yakni, semua ini terjadi karena keberadaan Harry Stonner. Carrie memutar mata kemudian menarik tangan Ally, membawanya untuk segera masuk ke dalam bar. Sekarang masih pukul empat sore, gadis itu masih memiliki tiga puluh menit untuk bercerita. "Ceritakan padaku, bagaimana kalian bisa berakhir seperti ini," titah Carrie, sambil duduk di salah satu kursi bar yang berhadapan langsung dengan Cabel. "Jika instingku benar, maka aku sedang melihat awal kisah Cinderella bertemu pangeran." "Dia menculikku. Kau tahu, bukan?" "Yeah." Carrie mengedikkan bahu. "Lalu kami berbincang seperti orang-orang yang baru saja bertemu dan penthouse itu mengintimidasiku." Ally menggigit bibirnya dan sedikit menunduk, memerhatikan flat shoes kuning telur milik Carrie. "And then?" "Hanya itu." "Liar!" Carrie mengambil segelas beer yang diberikan Cabel lalu meminumnya, tanpa dipersilakan. "Mustahil hanya seperti itu, jika pria seksi tersebut berani menciummu di depan umum dan--" "Kau dicium seorang pria? Siapa? Sejak kapan kau berkencan? Kau tidak pernah cerita pad--" "Oh, f**k you, Cabel!" Carrie mengarahkan tinjuan di atas meja bar, sambil menampilkan ekspresi kesal karena Cabel memotong ucapannya. "Aku sedang bicara. Kenapa kau jadi kepo seperti ini? Sial! Lakukan saja pekerjaanmu." "Well, aku memang bekerja lalu obrolan kalian terdengar olehku, dan menimbulkan rasa penasaran dalam jiwaku," kata Cabel sembari menggoncang pengocok koktail dan memberikan sedikit atraksi. Hanya dengan mengocok lalu melemparnya beberapa kali. Dua gadis yang duduk di sisi Ally pun bergumam kagum kemudian bertepuk tangan. Reaksi tak asing lagi hingga Ally tidak berniat untuk menoleh, sedangkan Carrie memutar mata. "Well ...." Ally menjeda sesaat, "Dia hot dan akal sehatku menolak, tetapi tidak dengan dewi batinku." "Apa kalian sudah bercinta?" "Oh, no!" Ally menggeleng pelan dan hal tersebut menimbulkan tawa di bibir Cabel. "Tentu saja tidak," ucap Cabel yang kini berdiri tepat di hadapan Ally dan Carrie. Lelaki itu meletakkan kedua sikunya di meja bar. "Bercinta di saat kencan pertama adalah hal yang murahan." "Dan kurasa dia cukup sulit disentuh." Ally menyecap beer yang diberikan Cabel. Sedikit alkohol mungkin bisa sedikit menghilangkan rasa malu, tanpa mengganggu pekerjaan. "Pria itu membuatku cukup tersiksa." Sebelah alis Carrie terangkat. "Bagaimana hal itu bisa terjadi?" "Sial! Aku sungguh penasaran dengan lelaki itu." Cabel semakin mempertajam indera pendengarann, di mana di waktu bersamaan dia meminta Sean untuk menggantikan pekerjaannya melayani pelanggan. "Menyentuh, tanpa membiarkan dirinya disentuh." "s**t!" Ally dan Cabel memaki bersamaan, mereka lalu saling menatap. Paham apa yang dimaksud Ally, tetapi ragu apakah maksudnya sejauh pikiran mereka. "Katakan yang sejelasnya, Ally." Lagi-lagi mereka mengatakan hal serupa, sehingga berhasil menarik perhatian beberapa pasang mata. Bahkan kali ini, lagu Come With Me Now dari KONGOS pun tidak lagi menarik di beberapa pasang telinga. Bagaimana pun, kejadian di depan Bar Sienna Waters berhasil menimbulkan rasa penasaran. Sehingga ketika Ally baru saja ingin menjelaskan, sebuah tangan kurus berjerami lentik menarik rambutnya kebawah. Ally memekik. Reaksi kedua dia segera mencengkram tangan yang menguasai separuh rambutnya dan terakhir, dia berusaha mencari tahu pelakunya. "Jalang sialan!" Esmeralda berkata cukup keras, memperlihatkan amarahnya. "Apa yang telah kau lakukan, hah?! Apa kau menyewa seorang penyihir?!" "Lepaskan aku dulu, Esmeralda." "f**k off, b***h!" Carrie segera turun dari kursi bar dan membantu Ally untuk melepas cengkraman Esmeralda di rambut gadis itu. "Apa yang kau lakukan?" Namun, Esmeralda berhasil menjauhkan Carrie. Membuat gadis itu jatuh ke lantai dan seolah tidak ingin membuang banyak waktu, dia pun segera menarik rambut Ally serta menampar wajahnya. Di bawah lampu remang, tetapi memiliki banyak warna, wajah Esmeralda merah padam akibat menahan emosi kecemburuan. Kepala dan hati wanita itu benar-benar panas hingga terasa mendidih, saat beberapa bibir berani membicarakan serta mengejeknya karena dikalahkan oleh Ally Hannagan. Gadis belia yang sama sekali tidak menarik dalam hal visual. Esmeralda menarik kerah dress Ally dan memberikan tatapan yang berapi-api. "Kau bahkan tidak memiliki apa pun yang bisa dibanggakan!" Dia meludah. Benar-benar tidak berpikir bahwa perilakunya, mungkin akan berpengaruh pada karirnya. "Sadarlah bahwa kau hanya sampah yang--" "Hentikan, Esmeralda!" Suara Mr. Robinson menghentikan tinjuan yang ingin Esmeralda layangkan kembali ke arah Ally. "Kalian berdua ikut ke ruanganku sekarang," titah pria itu. "Demi Tuhan, aku tidak merugikan bar. Ini hanyalah masalah pribadi." "Oh, ya? Lalu mengapa bertengkar di sini?" "Ini efek alkohol." "Dan karyawan di sini dilarang mabuk. Kau keliru mencari alasan, Esmeralda," ucap Mr. Robinson sambil membanti Ally berdiri. "Lagi pula, kau telah melukai salah satu karyawanku dan kau tahu artinya apa?" Esmeralda mendecak. "Dia melukai harga diriku, Sir." "Just ..." Menggunakan lirikan, Mr. Robinson meminta Cabel dan Sean untuk membantunya. "Lets discussed this matter in my room." "What!" Esmeralda menggeleng kuat. "No, Sir. That's not my fault!" Sayangnya, Mr. Robinson tidak mengubris ucapan Esmeralda. Pria itu hanya menaikkan sebelah alisnya lalu membantu Ally untuk melangkah, serta membiarkan Esmeralda berbicara banyak hal mengenai pembelaan dirinya. Setelah itu, seperti yang sering dilakukan para atasan jika karyawannya bermasalah adalah, menyeret ke ruangannya untuk mentukan bagaimana nasib mereka. Di lain sisi, Ally justru memilih untuk tidak bicara saat Mr. Robinson membawanya ke ruangan pria itu. Ally hanya sibuk berdoa, berharap agar hal buruk tak terjadi padanya akibat ulah gegabah Esmeralda. *** "Aku sungguh minta maaf, Ally." Begitulah yang diucapkan Mr. Robinson dan beberapa kali terdengar di telinga Ally, sebagai kalimat putus asa. "Aku tidak bisa mempertahankannya lagi." Ally paham sekali apa maksud dari pembicaraan Mr. Robinson. Sejak awal mereka bertiga; Ally, Mr. Robinson, dan Esmeralda berada di ruangan pria itu, dia sudah menceramahi serta memberikan keputusan akhir. Esmeralda bisa tertawa penuh kemenangan, sekaligus memberikan senyuman iblis karena Ally kalah telak dan harus pergi, meski bukan kesalahannya. Situasi menyulitkan Ally, serta kepedulian Mr. Robinson yang sama sekali bukan tempatnya. "Setidaknya hanya saat akhir pekan, Mr. Robinson," ucap Ally. Dia menarik napas panjang lalu mengembuskannya, berusaha agar air mata tidak jatuh. "Jika Anda peduli, maka seharusnya kau mempertahankanku bukan memecat." "Esmeralda adalah salah satu bongkahan berlian di Bar-ku dan memeliki beberapa karyawan di bawah usia yang ditentukan negara, akan membuatku berada di dalam masalah." "Apa aku selalu membawamu pada masalah?" Ally bertanya dengan perasaan gelisah. Beruntunglah Esmeralda tidak lagi berada di sini. Wanita itu terlebih dahulu diperintahkan untuk beristirahat di rumah, selama seminggu. Yang mana menurut Ally jauh lebih baik, daripada tidak diberi kesempatan untuk bertahan. Mr. Robinson mengembuskan napas, sembari menyatukan kesepuluh jarinya. Dia menunduk sejenak, sebelum kembali menatap ke arah Ally. "Kesalahanku karena terlalu peduli padamu, hingga menerimamu bekerja di tempat berbahaya seperti ini." Ia menjeda sejenak. "Maksudku, bar adalah tempat terlarang untuk seorang remaja seusiamu yang tentu saja memiliki masa depan cerah." Well, Ally tidak perlu mendebat lebih lagi. Bagaimanapun, menyimpan sedikit harapan agar Mr. Robinson mempertahankan posisinya adalah hal yang tak mungkin lagi, sebab status pelajar tingkat senior merupakan tahun terberat bagi beberapa orang. Termasuk Ally yang harus menghadap beberapa kesulitan, hanya demi masuk di perguruan tinggi. "Baiklah. Aku tidak punya hak untuk memaksa agar tetap dipertahankan." Ally mengembuskan napas berat, membuat pundaknya menurun sedikit. "Aku bersyukur Anda menaruh peduli padaku. Namun, jujur saja ... yang lebih kubutuhkan adalah pekerjaan, daripada kepedulian yang membuatku menjadi pengangguran." Baru saja beban di pundaknya terangkat sedikit, kali ini dia harus menopangnya kembali. Terus terang, liburan akhir semester tidak memakan waktu yang lama. Berulang kali, Ally selalu menghitung kalender demi memperoleh kemungkinan berapa lembar Dollar yang mampu dia kumpulkan selama bekerja. "I'm so sorry, Ally." Mr. Robinson bangkit dari kursinya, lalu buru-buru melangkah ke arah Ally, dan memeluk gadis itu. "Sebagai bentuk penyesalanku, aku akan membiarkanmu bekerja untuk malam ini." Ally hanya mengangguk, menolak untuk berusaha demi menahan air mata yang memaksa untuk keluar. Mr. Robinson sudah cukup baik karena tetap memberinya kesempatan bekerja malam ini, sehingga satu hal di pikiran Ally adalah dia harus bekerja dua kali lebih gesit demi mendapatkan tip. "Thanks, Mr. Robinson," ujar Ally lalu membalas pelukan pria itu. "I'll work even harder, to get more tips in my last night." "Kau terluka, jangan terlalu memaksakan diri, Ally." Ally tersenyum tipis. Dia mengerti bagaimana boss-nya ini sangat memerhatikan setiap karyawannya. "Anda tahu bagaimana aku bekerja untuk mendapatkan keinginanku." "Yeah, dan juga sering lupa untuk memerhatikan kondisi diri sendiri." "Terus terang, itu memang kelemahanku. Jadi ... biarkan aku bekerja sekarang, Mr. Robinson," ujar Ally sambil menyentuh pergelangan tangan menggunakan telunjuk, seolah sedang memperlihat jam imaginer. "Datang terlambat adalah hal yang paling kuhindari." Alhasil, Mr. Robinson pun hanya mengangguk kemudian mempersilakan Ally untuk keluar dari ruangannya dan sebelum itu, mengungkapkan permohonan maaf atas sikap Esmeralda. Yang benar saja, semua orang tahu bahwa wanita itu cemburu sebab Ally berhasil merebut perhatian Harry. Dan baru saja Ally keluar dari ruangan Mr. Robinson, tiba-tiba saja lengannya ditarik tanpa sempat dia lawan. Sial! ***
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD