BAB 007

1448 Words
Ally menoleh ke arah Bar Sienna Waters yang berada di balik pungung. Sorot mata abu-abunya menyiratkan kelelahan karena telah bekerja lembur, dengan membantu pelayan dapur untuk menutup bar. Sekarang, jarum pendek sudah nyaris mendekati angka tiga dini hari, dan hujan masih belum berhenti sejak dua jam lalu. Gadis itu mengembuskan napas, sambil memeluk tubuh sendiri. Rasa dingin mulai menyapa setiap inchi kulitnya, akibat pakaian yang tidak sesuai pada tempat. Dress pemberian Harry sejak awal memang cukup mengganggu pekerjaan Ally karena tidak perlu dipungkiri, bahwa terdapat tangan-tangan m***m yang mencoba untuk menyibaknya. "Seharusnya kuterima saja tawaran Mr. Robinson," ucap Ally nyaris terdengar seperti bisikan karena perkataan tersebut, memang ditujukan pada dirinya. Dia bersandar pada dinding kaca yang memiliki ketebalan anti peluru. Menengadahkan wajah, sambil salah satu tangannya dibiarkan dibasahi oleh hujan. "Hanya si t***l yang bersedia nekat hingga basah kuyup." Ally mengedikkan bahu lalu maju selangkah, ingin menengok hujan. "Sayangnya, akulah si t***l itu. s**t!" Gadis itu berlari, menerobos hujan, dan menggunakan clutch sebagai pelindung kepala darurat. Titik hujan berukuran besar dan terkesan mengeroyoki, berhasil membuat Ally basah kuyup. Namun, seperti yang dia katakan, si t***l ini tetap keras kepala untuk terus berlari menuju halte di mana jaraknya sekitar lima ratus meter. Meskipun hujan, Las Vegas tidak pernah kehilangan cahayanya. Seolah ingin mempertahankan, sekaligus membuktikan label kota yang tak pernah tidur dan dipenuhi oleh kemeriahan pesta. Ally melompati genangan air akibat hujan, membiarkan heels miliknya sedikit kotor dan mau tidak mau harus menggigil setelah sampai di halte. Dia duduk di bangku panjang, agak ke pinggir sebelah kanan, bersandar pada papan berbahan mika tebal. Persetan! benaknya sambil meluruskan kedua kaki. Apa pun itu, aku hanya ingin tidur. Ally memejamkan kedua mata. Mengabaikan tubuhnya yang gemetar akibat kedinginan, serta kemungkinan kecil bus akan singgah di halte. Atau mungkin dia akan menggunakan taksi untuk pulang ke rumah nanti. Ally menggenggam kuat clutch yang berada di dua tangannya. Benda itu terlihat lebih gemuk dari sebelumnya, sehingga Ally harus benar-benar menjaganya dari copet. "Butuh tumpangan, Nona Hannagan?" Suara itu membuat kedua mata Ally terbuka. Rasa kantuk seketika menghilang, saat gadis itu tahu bahwa ini bukanlah mimpi. Dia menggeleng cepat, sebagai upaya untuk segera kembali ke dunia nyata. Mungkin saja di hadapannya ini adalah sebuah taksi dan supirnya. Namun, beberapa kali Ally mencoba hasilnya tetap sama. Harry tersenyum tipis, membuka pintu mobilnya, dan ingin mengeluarkan payung. Akan tetapi tertahan karena Ally segera bangkit dari tempat duduknya, hingga menimbulkan bunyi akibat kehilangan beban secara mendadak. "Apa yang kau lakukan, hingga semalam ini masih berada di luar?" Well, Ally tidak mengerti mengapa dia harus melemparkan pertanyaan penuh perhatian ini. Ugh! Dia benar-benar sudah gila. "Pertemuan mendadak." Harry menjawab singkat dengan langsung menatap ke arah Ally. "Aku akan mengantarmu pulang. Raut wajahmu sudah menjelaskan keseluruhannya." "Apa? Aku sedang menunggu taksi." "Menunggu sambil tertidur?" Sebelah alis Harry terangkat. Kini dia benar-benar berdiri di hadapan Ally, memancarkan aroma parfume maskulin yang membuat seluruh bulu halus gadis itu meremang. "Kau sungguh menempatkan dirimu dalam bahaya, Ally." "Aku tidak sepenuhnya tertidur." Ally memeluk tubuhnya sendiri, hujan disertai angin adalah mimpi buruk setelah kehujanan. Dia merasa sangat kedinginan sekarang, hingga tidak mampu menyembunyikan gemeletuk di bibirnya. "Hanya memejamkan mata, tetapi masih dalam keadaan sa--" Sontak ucapan Ally terputus saat Harry menyampirkan jaket di bahunya lalu memeluk tubuh kecil itu dengan tangan menyentuh pinggang Ally. "Berhentilah bicara dan bersikap keras kepala, Ally," ujar Harry, "Terkadang bisa menjadi sangat merugikan diri sendiri." Tidak ada satu kata pun yang keluar dari bibir Ally setelah Harry mengatakan hal tersebut. Pria itu berbicara realistis, sehingga seperti seekor kucing yang penurut Ally memilih diam ketika Harry membawanya masuk ke dalam mobilnya. Ally duduk di samping jok kemudi, seperti sebelumnya saat Harry yang mengendarai mobil tersebut dan karena satu kecerobohan jantung gadis itu harus kembali berpacu cepat, saat Harry harus memasangkan sabuk pengaman. Sial! Sial! Sial! Ally terus memaki di dalam hati ketika sepasang netra abu-abu tersebut bertemu dengan manik biru yang mampu membekukan siapa saja, termasuk dirinya sendiri. Gadis itu tak mampu berkedip, hanya menatap dengan deru jantung tak keruan. Napas Ally pun terasa berat, hingga dia mampu merasa kedua pipinya memanas. Terlebih ketika tangan Harry mengelus rambut pirangnya. Ally yakin telah kehabisan napas, jika Harry tidak membuka sedikit bibir gadis itu dan .... ... memberikan pagutan singkat. Dia ingin lebih, tetapi Harry justru tersenyum dan memberikan ciuman di kening. "Setelah kau setuju menjadi milikku, aku akan melakukannya lebih lama lagi," ujar Harry nyaris terdengar seperti bisikan penuh nada erotis di telinga Ally. "Dan aku akan menggigit bibir itu, seperti apa yang selalu kau lakukan," katanya lagi, sambil mengusap bibir bawah Ally lalu mulai menyalakan mesin, serta menjalankan mobil tersebut membelah kepadatan Las Vegas. *** Jalanan sepi. Benar-benar kosong melompong, ketika mobil hitam mengkilap itu memasuki kawasan apartemen kumuh. Suasana yang minim cahaya, membuat Harry harus memaksimalkan fokus. Dalam diam Harry mengabaikan bulir-bulir keringat membasahi kening. Tangan yang berkeringat serta tubuh bergerak gelisah, berusaha dia tenangkan dengan alunan piano River Flows In You dari mp3 mobil. Ally setelah berbicara cukup banyak mengenai pekerjaan, sekolah, dan sedikit hal tentang Carrie pun akhirnya tertidur sejak setengah jam lalu. Beberapa kali, Harry bisa mendengar Ally mendengkur. Selain itu, dia hanya memejamkan mata dengan terlampau tenang. Sangat-sangat tenang, hingga mendorong Harry untuk mengamati wajah indah tersebut. "Aku tidak mengerti mengapa kau harus sekeras ini, di saat ada tangan yang ingin membantumu," ucap Harry setelah menghentikan mobil di halaman parkir. Jemari panjang dan ramping milik pria itu membelai lembut pipi Ally. Menjauhkan sedikit rambut di sana lalu berkata, "Kita sudah sampai." Sejujurnya bukan itu yang ada di kepala Harry. Otaknya dipenuhi dengan pujian sekaligus hal kotor mengenai Ally. Gadis itu menoleh dengan bahasa tubuh yang tidak nyaman, akibat mengetahui betapa dekat jarak mereka berdua. Ally sadar bahwa dia tertidur dan khawatir, jika saar itu ia melakukan hal memalukan. "Terima kasih ...." Ally menggantung kalimatnya. Takut-takut menoleh ke arah Harry yang masih mempertahankan posisinya. "Kita tidak bisa sedekat ini, Harry. Maafkan aku, tapi ... kau tahu bagaimana mereka akan berbicara hanya dengan melihatku keluar dari mobil ini." Kedua alis Harry terangkat dan saat itu pula, dia segera menjaga jarak. "Apa kau tidak merasa bangga karena mampu melakukan apa yang tidak bisa mereka lakukan?" Ally menggeleng. "Mereka suka bergosip." "Kau merasa terganggu?" "Sejujurnya, tidak." Ally menyatukan kedua ujung jaket milik Harry, agar benar-benar membungkus tubuhnya. "Ibuku sudah terlebih dulu menjadi santapan mereka dan telinga serta bibirku terlampau lelah untuk meladeni mereka." "Aku bisa membuat mereka diam, jika kau menginginkannya." Refleks kedua alis Ally menyatu. Ucapan Harry barusan, terdengar memiliki makna ganda. "Apa yang akan kau lakukan?" "Tergantung pilihanmu." "Aku tidak akan memilih apa pun." Kedua sudut bibir Harry terangkat sedikit. "Baiklah," ucapnya. Namun, tidak berhasil membuat hati Ally tenang, sehingga buru-buru di berkata, "Kau tidak akan melakukan apa pun, bukan?" "Yeah, aku bukan orang bodoh yang akan melakukan apa saja demi seorang gadis," ungkap Harry, sambil melepas safety belt dan segera keluar dari mobil. Harry bersikap gentle, yaitu membuka pintu mobil untuk Ally meski gadis itu buru-buru menghalaunya. "Apa yang ingin kau lakukan?" Ally bertanya saat Harry terus berjalan di sisinya ketika pintu lift terbuka. "Akan sangat buruk jika kau sampai di depan pintu unit." "I know your problem, Honey." "What?" "Everything." Ally memutar mata ketika pintu lift akhirnya tertutup menyisakan mereka berempat bersama si kembar dari keluarga Freed. Bukan hal yang baik menurut Ally, saat terjebak dengan anak berusia delapan tahun ini sebab di balik wajah polosnya, dua makhluk kecil tersebut merupakan informan dari para gossiper di apartemen ini. Alhasil, Ally bersikap saja seolah tidak mengenal Harry. Akan tetapi, di balik diamnya Harry, Ally tentu merasa bagaimana pria itu memainkan jemarinya di punggung Ally. Membentuk pola-pola yang tidak dimengerti gadis tersebut. Lebih tepatnya mengundang perasaan geli, hingga membuat bulu-bulu halus gadis itu meremang. Dan nyaris mendesah saat jemari pria itu mulai menyentuh lembut tengkuk Ally. "Hold on or say that you are mine," bisik Harry. Akan tetapi, Ally justru mengigit bibirnya agar tidak menimbulkan suara dan justru berpikir, bahwa dia bukanlah Anastasia Rose Steele. Sehingga tidak perlu berharap bahwa akan mendapatkan akhir serupa, sebagaimana yang tersaji pada film Fifhty Shades of Darker. Terlebih Harry pun tidak menyentuh pusat kenikmatannya. Jadi bagaimana bisa dia merasakan hal sedemikian rupa? Hingga pintu lift terbuka. Ally pun segera menemukan kesadarannya kemudian buru-buru mengambil langkah lebar, demi meninggalkan Harry serta si kembar Freed menuju pintu unitnya. Akan tetapi, belum sempat Ally memutar knop pintu dan masuk ke dalam huniannya, suara teriakan terdengar di dalam sana. Disertai dengan tangisan. Lalu beberapa benda yang jatuh ke lantai. Ally ingin membuka pintu itu. Ingin mengetahui apa yang terjadi di dalam. Namun, tangan kekar itu segera menghadang. Mengambil alih posisi Ally lalu .... ... Ally berharap lebih baik dia mati saja. "Cecunguk, sialan!" ***
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD