BAB 008

1659 Words
Kedua mata Ally terbuka, bersamaan dengan gerakan refleks yang membuatnya terduduk akibat mimpi di luar ekspektasi. Jantung Ally pun berdebar kuat, bersamaan dengan kepala berdenyut kuat hingga menimbulkan nyeri, dan waktu bersamaan otak gadis itu mulai menyusun potongan-potongan memori tentang apa yang terjadi semalam. Ally percaya bahwa semalam dia tidak mabuk karena pemerintah melarang konsumsi beer di usia belasan tahun. Mereka baru diperbolehkan ketika hanya memiliki kartu identitas kependudukan. Namun, benak gadis itu selalu bertanya bagaimana semua ini bisa terjadi? Jemari kurus dan panjang itu pun menyentuh bibir tipisnya. Bersamaan dengan manik abu-abu yang langsung mengitari seisi ruangan. Kemudian indera peraba Ally juga semakin peka, di mana dia menyadari hanya berbalut selimut dan .... ... bukan di kamarnya. Ruangan ini terlalu mewah untuk berada di apartemen Ally. Sehingga ketika dirinya menemukan tulisan Le Miracle Hotel, maka gadis itu pun memekik pelan. Segera memeriksa di balik selimutnya lalu memekik lagi. Hingga satu detik kemudian semua kilas balik mengenai kejadian semalam, berputar secara jelas dan teramat detail di benak Ally. Ciuman di bawah hujan dan diantara taburan gula dari toko roti itu, terjadi karena tingkat stressor yang tidak mampu lagi ditahan Ally. Dia terbawa suasana atas perhatian dan keberadaan Harry, di mana pria tersebut bersedia memberikan dadanya sebagai tempat menumpahkan air mata. Dan semua itu karena tingkah menjijikan mom. Seketika semburat kemerahan itu berubah menjadi merah padam. Ally teringat bagaimana gilanya sang ibu bercinta di ruang tamu, bersama lelaki asing. Teriakan bernada sensual yang diiringi dengan tangisan, telah membuat gadis itu berpikir bahwa ibunya sedang diserang oleh orang lain. Namun, ketika Harry membuka pintu unit .... Pemandangan bagaimana ibunya menggila di dalam pelukan seorang lelaki pun tersaji. Ally ingin muntah, sungguh! Dia pun selalu merasa malu serta jijik, setiap kali mengingat kejadian tersebut. Keluarganya benar-benar kacau dan Harry melihat hal tersebut. "Kau atau aku seharusnya mati saja." Ally menyembunyikan wajahnya menggunakan kedua tangan. Menunduk sebagai upaya untuk menahan tangis, lalu menarik napas panjang untuk menghilangkan beban di pundaknya barang sejenak. "Kau harus baik-baik saja, Ally. Abaikan dia dan berusahalah memiliki kehidupan yang baik," ujarnya pada diri sendiri kemudian segera menggeser selimut yang menyembunyikan tubuh setengah telanjang Ally. Tidak ada alasan bertahan di tempat ini untuk menunggu Harry. Melihat betapa mewahnya ruangan tersebut, membuat Ally sadar berapa banyak lembar Dollar yang harus dihabiskan saat membayarnya. Lilin-lilin terapi mengeluarkan aroma menenangkan, cahaya matahari terkesan mengintip di balik tirai yang sedikit tersibak. Ally melangkah mengelilingi kamar, di mana secara jelas ruangan ini merupakan jenis suite--sesuai sekali dengan sosok Harry Stonner--untuk mencari barang-barang serta pakaiannya. "Sedang mencari apa, Nona?" Seperti tertangkap sedang mencuri, suara bariton nan seksi tersebut berhasil mengejutkan Ally. Punggung gadis itu segera berbalik, memamerkan paha nyaris telanjang akibat hanya tertutup T-shirt ukuran big size. "Kau tidak berniat untuk kabur dengan menggunakan pakaian itu, bukan?" Senyum miring terbit di wajah Harry. "Aku terpaksa harus menggantinya karena milikmu telah basah kuyup dan aku tidak ingin kau kedinginan," ujar Harry sambil melangkah mendekati meja kayu jati yang berada di antara sofa berwarna royal blue dan tempat tidur dengan warna senada. Ally meneguk salivanya. Melangkah perlahan menuju kasur raksasa, sekadar ingin menyembunyikan paha telanjangnya. "Apa kau melakukan itu, saat aku tertidur?" tanyanya dengan nada suara yang dia buat setenang mungkin, agar tidak menyinggung perasaan pria itu. Harry meletakkan botol minumnya, kemudian bangkit dari sofa dan melangkah mendekati Ally. Namun, semakin dekati pria tersebut berada, maka sejauh itu pula Ally bergerak mundur. Sayangnya, keberadaan dinding kokoh di balik punggung Ally harus menghentikan langkahnya, hingga Harry menyisakan jarak sejauh sekitar dari tiga puluh centi meter. "Bisa kau jelaskan apa yang kau maksud dengan 'itu', Miss Hannagan?" Harry membungkuk sedikit, berusaha menyamaratakan tinggi badannya dengan Ally agar bisa melihat bagai wajah cantik tersebut berekspresi. "Aku sungguh tidak mengerti ke mana arah pertanyaanmu, jika mengarah pada pakaian, maka, ya, aku menggantinya saat kau tidur lelap seperti bayi." "Damned! Kau tentu mengerti apa maksudku di saat usiamu bahkan jauh lebih tua, daripada aku." Ally mengepalkan kedua tangannya erat-erat. Sedikit khawatir jika jarak yang diciptakan Harry, memiliki reaksi diluar dugaan gadisi tu. Bagaimana pun, bukankah pria ini terlalu memanjakan hasrat setiap wanita? Dan Ally adalah salah satu dari mereka. Menyaksikan betapa indah pahatan pada tubuh pria itu, selalu membuat air liur Ally seolah ingin menetes. "Katakan lebih jelas, Ally." Harry semakin mendominasi situasi. Terutama saat kedua tangan berotot itu menekan permukaan dinding yang tentu saja, terasa mengunci pergerakan Ally. Bahkan gadis tersebut tidak berani menoleh sedikit pun, selain menundukkan pandangan. "I want to hear what you think, Sweety." Refleks bulu kuduk Ally merinding. Panggilan yang dikatakan Harry barusan, terkesan memiliki makna lain. "Did you f**k me when i fell asleep last night?" Jelas Ally mengatakan itu dengan nada bergetar, bahkan tanpa menggunakan alat bantuan dia bisa merasakan betapa kuat detang jantungnya sekarang. Senyum miring terbit di wajah Harry dan itu terkesan angkuh di mata Ally. Dia mengapitkan ibu jari dan telunjuknya di dagu Ally, membuat gadis tersebut menatapnya secara langsung. "Yes, I want to f**k you," ujar Harry, "but f*****g to the dead is not my favorite." "A-aku ...." "Jika kau menginginkannya." Harry mendekatkan bibirnya di telinga Ally, memberikan sentuhan angin panas di sana lalu berbisik, "Aku bisa memasukkan milikku ke dalam tubuhmu." "Tidak!" Ally segera mendorong d**a Harry dan sedikit berhasil, membuat pria itu tersentak beberapa inchi. "Kau gila. Hal yang kau inginkan ... s**t! Hanya orang murahan yang bercinta, tanpa cinta." Refleks kedua manik biru Harry melebar. Dia tidak sepenuhnya terkejut dengan ucapan Ally, tetapi penolakan adalah pertama kali dalam hidupnya. Sehingga, hal itu pun menimbulkan reaksi yang sebenarnya tak ingin dia perlihatkan di hadapan gadis tersebut. Secara cekatan, Harry mencekal pergelangan tangan Ally. Menariknya cukup kuat, hingga membuat gadis itu tersentak lalu berbalik menghadap Harry. Dan tanpa perlu menanti perlawanan, dia segera mengangkat tubuh Ally, lalu membantingnya ke atas tempat tidur. Ally berteriak. Tentu saja. Tubuhnya kali ini terasa lumpuh total, akibat keterkejutan yang tidak mampu dikontrol. Terlebih saat cengkraman Harry di pergelangan tangan, terasa begitu menyakitkan serupa dengan bagaimana pria itu menahan kakinya. Gadis itu menitikkan air mata, saat Harry memagut rakus bibirnya. Tidak sampai di situ, pria itu bahkan juga meninggalkan di beberapa titik bagian tubuh Ally. "You are mine, Ally." Harry berbisik bersamaan dengan napasnya yang terkesan terburu-buru. "Refusing me is the biggest mistake. You should be punished, Sweety." Sedetik setelah Harry mengucapkan kalimat terakhirnya, dia pun mengakhiri aksi tersebut setelah sadar bahwa Ally memberikan balasan. Hal yang sering ia lakukan, agar lawan mainnya menjadi menderita sebab tidak mendapatkan keinginannya. Harry menyeringai, terlihat menjulang di atas tubuh Ally yang tengah terbaring lemah. Kedua pergelangan tangannya memerah akibat cengkraman Harry, begitu pula dengan leher, perut, dan d**a sebelah kiri. Pria itu telah menciptakan tanda kepemilikan, di atas air mata akibat sikap dominanmya. Sehingga demi menenangkan gadis itu, Harry pun mengecup lembut kening Ally. Begitu pula dengan kedua pergelangan tangannya. "I'm so sorry." Bisikan itu terdengar rapuh, di telinga Ally. "Aku sungguh ingin membuatmu menjadi milikku, hingga--" "Lepaskan aku, Harry," pinta Ally dan tanpa diduga, pria itu segera menjauh. Duduk membelakanginya. "Aku ingin pergi sekarang." Demi Tuhan! Manik abu-abu Ally sungguh tidak bisa lepas dari bahu lebar Harry. Harry tidak mengatakan apa pun, hingga membuat mereka terjebak dalam keheningan yang ditemani dengan detik jam klasik. "Thanks for everything," ucap Ally mencoba mengumpulkan keberaniannya untuk bangkit dari tempat tidur ini. Dia melangkah membelakangi Harry dan merasa tidak enak hati, karena pria itu memilih diam. Kesunyian yang melanda mereka, nyatanya membuat Ally kesulitan konsentrasi. "Pakaianmu ada di lemari." Ally menoleh ke arah Harry. Namun, pria itu tidak ingin membalas tatapannya. Dia lebih memilih untuk melihat ke arah jendela kaca yang menampilkan langit pagi. Dengan langkah hati-hati, Ally pun menuruti perintah Harry. Yaitu membuka pintu lemari dan betapa terkejutnya dia, saat melihat lusinan pakaian yang memiliki ukuran sama dengannya. "Aku mencoba untuk mendapatkan pakaian sesuai dengan seleramu, tapi karena yang lain juga tampak indah denganmu, maka aku harus mendapatkannya." Ally memutuskan untuk tidak menimpali ucapan Harry, di mana tangan gadis itu ternyata lebih sibuk memilah baju. Bukan yang paling bagus atau mahal karena memiliki detail rumit, Ally justru memilih yang paling murah. Hal itu dilakukanya agar tidak terlalu terbebani, saat dia harus menggantinya. Selesai bersiap, Ally pun menggambil clutch miliknya yang masih sama seperti sebelumnya. Yaitu tampak gendut karena di dalamnya terdapat cukup banyak lembaran Dollar, hasil dia bekerja semalam. Mr. Robison memang tidak membuang Ally begitu saja, sehingga dengan uang ini dia memutuskan untuk pergi menggunakan taksi. Jujur saja, Ally masih memikirkan ibunya meski wanita itu telah bersikap teramat memalukan. Minimal, dia harus datang sekadar membawakan makanan sebelum memikirkan bagaimana kelanjutan hidupnya. "Ally." Harry bangkit dari tempat tidurnya, memutuskan untuk melingkarkan lengannya di tubuh Ally. "Jangan pulang ke rumah. Tempat itu sama sekali tidak menghargaimu." "Aku hanya perlu pergi." Harry melepaskan pelukannya, berdiri tepat di belakang Ally. Butuh beberapa detik untuk menyerahkan, apa yang sebenarnya ingin dia berikan. "Apa kau bersedia memperlajari, sebelum memutuskannya?" Untuk pertama kali, Harry melunak di hadapan seorang gadis. "Aku ingin kau membawanya dan apa yang terjadi tadi ... aku sungguh minta maaf." Harry merasa bahwa yang berkata itu bukanlah dirinya. Kata maaf hanya diperuntukan kepada orang-orang lemah dan dia, bukan salah satu diantara mereka. Sehingga demi menyembunyikan rahangnya yang menegas akibat satu kata tersebut, Harry pun bergegas pergi menuju meja di belakangnya. Punggung telanjangnya yang lembab selepas berolahraga, membuat Ally mengikuti Harry. Dan tanpa banyak bicara, pria itu pun memberikan amplop besar berwarna cokelat lalu mengantar Ally hingga di depan pintu. Entah apa yang terjadi, tetapi perubahan sifat tersebut berhasil menimbulkan tanya dan rasa penasaran pada diri Ally. "What's wrong with you, Mr. Stonner?" Ally menatap amplop besar tersebut. Melangkah keluar hotel dan segera merogoh ponsel. Dia perlu menelepon taksi, tetapi gagal saat suara klakson menyambutnya. Yakni mobil hitam yang beberapa hari terakhir ini menjadi tidak asing baginya, telah berhenti tepat di seberang jalan dan Park Seokjin pun keluar dengan dua payung di tangannya. Ally mengusap benda tersebut, memeluknya dengan kedua tangan lalu menyebrang jalan, menghampiri Seokjin dengan menembus hujan yang tiba-tiba saja datang. ***
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD