"Gadis pintar," ucapnya, sambil meletakkan telapak tangan kirinya di pucuk kepala Ally. "Sungguh, kau lebih baik ikut denganku, daripada bertahan dengan ibumu dan menjadi mesin uang untuk wanita itu." Dia--Steven--menyeringai menikmati suasana mendominasi atas diri gadis yang berdiri di hadapannya.
Dua pria yang berada di sisi Steven--merupakan anak buahnya--turut tersenyum, hanya saja hal itu bersifat mengejek.
Ally berusaha menahan diri. Kedua tangannya mengepal dan sekuat tenaga dia menahan diri agar tidak menangis, meski cairan hasil peningkatan lakrimasi akibat tekanan emosi yang kuat sudah memenuhi pelupuk matanya. Gadis itu menunduk, menoleh sediki ke arah sang ibu dan mengabaikan bagaimana ketiga cecunguk sialan tersebut merayakan kemenangan mereka.
"Jangan sedih, Manis." Steven berujar lagi. Kali ini tangan biadab itu menelusuri punggung, hingga bagian pinggul Ally. "Kau masih harus mencarikan dua ribu Dollar untuk melunasi seluruhnya, tetapi jika kau tidak sanggup maka aku ...." Lelaki itu menjeda sebentar, lalu mendekatkan wajahnya ke telinga Ally. "Tidak keberatan membawamu ke tempatku."
Sekejap bisikan itu membuat Ally terkejut, sekaligus ketakutan hingga melangkah mundur. Tanpa sadar air matanya menetes, seiring tawa penuh ejekan yang menghinggapi indera pendengrannya. Uang enam belas ribu Dollar hasil tabungannya bekerja, serta pemberian tak terduga dari Harry kini lenyap sudah di tangan seorang rentenir.
Ally tidak akan marah pada sang ibu. Setidaknya untuk saat ini, dia berusaha untuk mengerti mengapa wanita itu harus berurusan dengan rentenir. Namun, iblis-iblis kecil yang berusaha mengusai pikiran terus berbicara dan menggoda agar meluapkan kesalahan kepada ibunya.
"Kutunggu hingga pekan depan, jika kau atau ibumu tidak bisa melunasi, maka--"
"Akan kubayar sisanya sebelum hari yang kau tentukan tiba," kata Ally menyela ucapan Steven dan memberanikan diri untuk langsung menatap ke arah pria itu.
Tentu saja sedikit keberanian yang dilakukan Ally berhasil membuat Steven tersenyum miring. Gadis itu sangat menggoda menurutnya. Tanpa sepengetahuan siapa pun dia berharap agar Ally tidak mampu membayar sisanya, sehingga otak liciknya pun menyusun rencana untuk memiliki gadis itu.
"Gadis pintar. Kau membuat kelelakianku tertuju padamu, Ally."
Lalu Ally kembali mundur. Netranya mendelik sebagai bentuk keterkejutan. Refleksnya mengatakan bahwa Steven harus dihindari karena suatu kemungkinan, bahwa pria itu akan melakukan pelecehan sebelum pergi.
Sikap yang ketakutan Ally yang terkesan seperti anak kucing di benak Steven pun, berhasil membuat pria itu tertawa kecil. Dia melangkah sedikit mendekati Ally, tetapi gadis itu justru menjauh mengikuti pergerakan Steven. Sang ibu yang tergeletak di pagar besi depan pintu unit, tidak mampu membantu sama sekali.
"Tidak ada yang bisa menolongmu hari ini. Meski kau berada di tempat ternyaman sekali pun, manusia lebih memilih menyelamatkan diri sendiri, daripada menjadi seorang pahlawan." Steven menghentikan langkah. Mengamati sebagian ruang apartemen kumuh milik Ally dan memikirkan bagaimana gadis itu berada di bawahnya.
Senyum licik tergambar di wajah Steven, sebelah alisnya terangkat karena membayangkan gadis itu berada di bawah paksaan. Udara panas di siang hari pun, membangkitkan hasrat seksual Steven. Namun, keberuntungan bagi Ally sebab dia belum bisa melakukan banyak hal sebelum Ally berhasil membayar sisanya.
Alhasil, Steven pun mendengus pelan. "Sayangnya kau beruntung hari ini," ujarnya pelan, tetapi berhasil menusuk telinga Ally.
Demi Tuhan, Ally berharap bisa membuktikan perkataannya, sehingga tidak perlu terlibat masalah ini. Namun, bagaimana agar Ally mampu mendapatkan uang sebanyak itu?
Kenyataan dengan kejam menusuk jantung Ally, memberikan rasa putus asa untuk sesaat. Dia melirik ke arah ibunya, kali ini kedua mata wanita itu sudah terbuka dan dari sudut Ally memandang, ia terlihat sedang berusaha berdiri.
Sesaat melihatnya, ucapan Steven tanpa terngiang-ngiang di telinga Ally. Membuat gadis itu kembali mengepalkan tangan, hingga kekesalan yang berusaha dia pendam berebut mengeluarkan diri sampai akhirnya Ally melangkah cepat menghampiri sang ibu.
"Apa yang kau lakukan di belakangku?" Ally bertanya dengan menahan emosi agar tidak meledak-ledak. "Mengapa bisa berurusan dengan rentenir itu?"
Namun, yang ditanya justru diam saja. Sehingga mengingatkan Ally kembali, bahwa ibunya selalu mengabaikan keberadannya.
"Sial." Ally mendecak setelah memaki dan membalikkan tubuh, menghadap punggung sang ibu. "Setidaknya dengarkan orang yang membantumu keluar dari serangan mereka!" Kali ini Ally tidak lagi menahan amarahnya. Dia berteriak tepat di belakang wanita itu, hingga membuat kedua pundakknya sedikit terangkat.
Persetan! Batin Ally. Dia sunggug tidak peduli jika suaranya sekarang didengar oleh para tetangga. Lagi pula siapa yang peduli dengan keributan ini? Keberadaan mereka hanya sekadar untuk membicarakan orang lain, tanpa sedikit pun memberikan tindakan yang berarti.
Melangkah cepat, Ally segera mencekal pergelangan tangan teramat kurus milik wanita itu. Mata ibunya yang abu-abu seperti milik Ally beralih sebentar, memberikan kebekuan di antara mereka berdua.
"Lepaskan aku," titah sang ibu. "Aku tidak pernah meminta bantuanmu. Jadi berhentilah bersikap seperti pahlawan dan berharap aku akan memerhatikanmu."
"Apa yang barusan kau katakan, Ibu?"
"Jane." Ralat Jane--ibunya--sambil menaikkan sebelah alis kanannya yang memiliki goresan luka. "I'm not your mom. Asal kau tahu sejak kematian Cassandra, kau adalah pembawa sial dalam hidupku."
Refleks kedua alis Ally mengerut. Setiap perkataan ibunya bagaikan ribuan pisau yang tertancap di seluruh hati. Entah bagaimana pikiran Jane terhadap Ally, tetapi mendengar ucapannya barusan berhasil membuat air mata gadis itu mengalir deras tanpa mampu ditahan.
Ally menangis sembari melepaskan cengkramannya di pergelangan tangan Jane. Menatap wanita itu dengan tatapan tidak percaya, kemudian melangkah mundur. Segala pengorbanan, serta perhatian Ally kepada ibunya selama ini ternyata sia-sia.
Ketulusan serta kasih sayang Ally terhadap ibunya, ternyata tidak pernah dianggap. Lalu terbesit dalam pikiran Allya, tentang mengapa dia harus tetap berada di sini jika keberadaannya, sama sekali tak diharapkan?
"You slut, Jane," ucap Ally tanpa pikir panjang lalu segera pergi memuju kamar, meninggalkan ibunya yang hanya berdiri di tempat.
"Yes, I'm slut and I wanted to give birth to you!"
Lagi-lagi ucapan Jane menghentikan langkah Ally. Tidak pernah terpikirkan, bahwa wanita yang sangat dia cintai akan berkata demikian. Sehingga untuk terakhir kalinya, Ally kembali menghampiri ibunya.
"I love Mom, but for this time, I hate you," ucap Ally dengan nada serak yang membuatnya kesulitan berbicara jelas. "And I never wanted to have a mother like you."
Lalu semua berakhir, setelah Ally masuk ke dalam kamar untuk mengemas pakaiannya. Tidak ada hal lain yang terlintas di benak Ally, dia hanya memikirkan bagaimana pergi dari sini.
Tetes-tetes air mata pun membasahi beberapa helai pakaian. Hingga ketika perhatiannya terpusat pada amplop berukuran besar di dalam lemari pakaian, maka dia pun turut memasukkan benda tersebut ke dalam tas.
"Kuharap dia tidak akan marah, karena kuabaikan."
Ally mengembuskan napas panjang dan berusaha menghentikan air matanya. Melihat amplop tersebut, dia teringat bahwa masih ada orang lain yang memerhatikan keberadaannya. Belum lagi, saat netra abu-abunya berpusat pada bingkai foto bersama Carrie dan Cabel.
"Everything gonna be ok," bisik Ally pada diri sendiri dan memutar kenop pintu.
Melangkah menuju ruang tamu, merangkap ruang keluarga dan ibunya tidak terlihat di mana pun.
***