Terakhir kali Ally menginjakkan kaki di kontruksi bangunan yang akhirnya menjadi terbengkalai ini adalah, saat ia masih berada di Junior High School. Lima tahun lalu dan Ally tidak pernah bisa melupakan betapa indah pemandangan kota, ketika dilihat dari atas sini.
Carrie adalah satu-satunya yang memperkenalkan Ally pada tempat ini. Membuat bangunan tersebut menjadi tempat favorit mereka berdua, sekaligus wadah menumpahkan segala permasalahan, serta mengikrarkan moment penting sekali pun.
Dan alasan Ally berada di sini adalah, untuk menumpahkan segala kekecewaan dan kesedihan terhadap ibunya. Dalam tangisannya, Ally membanding-bandingkan kasus Carrie dengan dirinya sekarang, maka demi Tuhan, tidak ada perbedaan diantara mereka kedua. Yakni sama-sama ingin melompat dari gedung setinggi 50 tingkat dan berakhir gagal, akibat suatu hal.
Tuhan adalah pemberi kehidupan. Sehingga Ia berhak memberi dan mengambilnya kembali. Ucapan dad yang diambil dari Bible Ayub 1:21, kembali berputar di kepala Ally sebagai suatu renungan dan membuat gadis itu menarik kembali keinginannya.
"Oh, c'mon, Ally." Ally berujar diantara isak tangis "Untuk hari ini kau diperbolehkan menjadi sosok yang melankolis," ujar Ally lalu menengadahkan wajahnya, sebagai upaya agar air matanya tidak segera turun membasahi pipi.
"Sungguh, kuharap kau berada di sini, Dad," ucap Ally lagi, "Sejak kematiannya, mom memang telah berubah. Andai kau tahu, dia melakukannya tidak hanya sekali." Lalu gadis itu meletakkan keningnya di atas lutut dan menangis sesengukkan.
"Aku sudah bersikap baik seperti ajaranNya, tapi ... itu adalah tindakan paling i***t, jika sejak awal dia membenciku, bukan?"
Terus saja Ally berbicara seorang diri. Secara bergantian menyebut dad dan sesekali menyebut nama Jesus Christ, seolah tidak menyadari kehadiran seseorang.
Terus saja seperti itu, hingga seseorang tersebut duduk di sisi Ally dan menyentuh pucuk kepalanya.
"Kau gadis yang cerdas, mandiri, dan penuh kasih sayang." Ally mengangkat kepala secara refleks. Tanpa perlu melihat, sesungguhnya dia telah tahu siapa pemilik suara bariton ini. "Aku tidak akan membencimu."
"Bagaimana kau bisa berada di sini?" Pertanyaan itu terdengar seperti bisikan, akibat keterkejutan berhasil menguasai diri Ally. "Tidak ada siapa pun yang tahu tentang ...."
"Tentang bangunan terbengkalai ini?" Harry menaikkan sebelah alis, sembari tangan kanannya mengarah pada bahu Ally lalu memeluk gadis itu. "Segala yang tidak diberi aturan, selalu bersifat umum. Begitu pula dengan gedung yang kita datangi, mereka melarang siapa pun masuk jadi--"
"Aku tahu. Aku tahu." Ally bergegas memutus ucapan Harry. "Apa yang kau lakukan di tempat ini, jika kau tahu itu adalah hal terlarang?"
"Sekadar menemuimu karena aku telah mencarimu, selama nyaris sepekan."
"Huh?" Ally memutar mata kemudian bangkit dari duduknya yang disusul Harry. "Jangan bercanda, Mr. Stonner. Apa pentingnya?"
"Aku mengkhawatirkanmu dan itu membuatku ingin melihatmu, Miss Hannagan." Tanpa diduga Harry mencengkram pelan pergelangan tangan Ally, berusaha membuat gadis itu agar tidak pergi lagi. "Ke mana saja kau, tanpa ponselmu?"
"Huh? Sungguh! Aku tidak mengerti dan tidak ada alasan untuk mengkhawatirkanku, Harry." Ally mengambil tas super besar miliknya, menyampirkan tali benda itu di bahu kanan kemudian bergegas pergi meninggalkan Harry.
Dengan perasaan teramat kesal, meskipun dia sendiri tidak tahu alasannya apa.
Dan karena Ally tidak tahu, membuatnya terus berlari menuruni tangga demi menghindari Harry. Hingga tanpa sadar keterburu-buruan tersebut, justru menghasilkan dirinya tersandung oleh kaki sendiri.
Sial! Ally memaki dalam benaknya. Serpihan debu, pasir, serta batu-batu bekas semen berhasil menjadi tumpuan pertama saat dia terjatuh.
Harry yang sedari tadi mengejar pun, segera menghampiri Ally. Memastikan bagaimana keadaan gadis itu dan memeriksa bagian-bagian yang mungkin terluka.
"Apa yang kau lakukan?" Harry bertanya sambil membalikkan kedua telapak tangan Allya. Memperlihatkan goresan luka berhias pasir, hingga meninggalkan rasa perih. "Kau melukai diri sendiri jika bertindak terburu-buru. Aku sungguh, tidak ingin menyakitimu, Ally.
"Kau seharusnya bisa memercayaiku." Bagaikan seorang pangeran berkuda putih, Harry menyempatkan diri untuk mencium punggung tangan Ally. Cukup jauh dengan lukanya, agar tidak menimbulkan perih. "I'm sorry about the last time we met. Today, I'll do everything with all your permisson."
Ally tidak menjawab. Dia hanya terdiam, sesaat kenangan lama menghampiri benaknya.
Benar. Tidak ada siapa pun yang sepeduli ini dengannya, selain dad dan Sabrina.
"Bagaimana bisa aku melupakannya?" Ally bergumam. Melemparkan pertanyaan tersebut pada diri sendiri, sedetik saat salah satu lengan Harry telah berada di bawah lipatan lututnya.
Hingga pria itu benar-benar mengangkat tubuhnya, barulah Ally tersadar dan tidak mampu menyembunyikan keterkejutan.
"Harry, apa yang kau lakukan?" Kepanikan tanpa mampu lagi Ally sembunyikan. "Turunkan aku sekarang dan ... tasku."
"Seokjin akan mengambilnya dan jika tidak aku mampu mengganti semuanya."
"Tidak dengan kenangannya, Harry!"
Ucapan Ally barusan refleks membuat langkah Harry terhenti. Air wajahnya pun seketika membeku, bersamaan dengan garis rahangnya yang mengeras.
Menyadari bagaimana reaksi Harry yang berubah secara tiba-tiba, Ally tidak perlu berbohong demi menutupi betapa tegang dirinya saat ini. Sejak awal bertemu, gadis itu sangat sulit memahami pikiran pria yang berada di dekatnya sekarang. Terkadang memperlihatkan sisi romantis nan hangat, sedetik kemudian dia pun mampu menjadi manusia berhati dingin.
"Harry," panggil Ally pelan, berusaha agar tidak mengejutkan pria itu. Terus terang, berlama-lama dengan posisi ini membuatnya tidak nyaman. "Aku bisa melangkah sendiri."
Harry mengalihkan tatapnnya ke arah netra abu-abu itu. Selalu misterius. Begitulah yang ada dipikiran Harry, meski gadis dipelukannya ini tidak seperti demikian.
"Promise me, you'll never leave me."
Ally menggeleng pelan. "I do."
"Good girl." Senyum tipis pun terlukis di wajah Harry. Terlalu indah di pikiran Ally, hingga hal sederhana itu menimbulkan semburat merah mudah di kedua pipinya.
Melangkah kembali menuju gedung tersebut. Awalnya Ally melangkah dengan sangat percaya diri, tetapi siapa sangka saat netranya tertuju pada tas tersebut ....
... air matanya menetes.
Hingga akhirnya kembali menangis dan sebuah pelukan bisa Ally rasakan di punggungnya.
"I don't wanna go home," ujar Ally. Perilaku buruk sang ibu yang tanpa sadar menyerang mental, saat ini terus berputar di benaknya. "But ... why I can't leave memories?"
"Come with me, Ally." Harry memutar tubuh gadis itu, membuatnya saling berhadapan lalu memberikan kecupan ringan di keningnya. "Aku ingin kau menjadi milikku."
Untuk kali ini, Ally paham apa yang diinginkan Harry. Dia telah mempelajari dokumen berisi poin perjanjian, telah menandai bagain-bagian tertentu, dan juga--
"Hanya menjadi milikku, Ally dan kau tidak akan kekurangan apa pun."
Sungguh. Tidak sekalipun terbesit di benaknya, bahwa Ally ingin mendurhakai wanita itu. Meninggalkan sang ibu sebatang kara, tanpa seorang yang memerhatikan dan tanpa uang sepersen pun.
Tanpa disadari Ally pun menundukkan pandangan. Memilih memerhatikan sepatu lusuh hasil diskonan di pasar loak dan berusaha, agar tidak bertindak gegabah.
Gegbah dalam artian, dia pergi di saat mereka bertengkar dan sejujurnya hal tersebut bukanlah pilihan yang tepat.
Sehingga setelah dua menit berlalu dengan membiarkan matahari menghangatkan mereka, Ally terpaksa menggeleng penuh keraguan. "Aku ingin bertemu lagi dengan ibuku dan setelah itu ... akan kuberitahu jawabannya. Bisakah kau menolongku? Aku ...."
"Aku mengerti." Harry mengangguk pelan, mengubur keinginan untuk memiliki Ally sepenuhnya. "Akan kuantar, sekarang jika kau ingin."
"Thanks." Ally memutuskan untuk berjinjit, berusaha menyamai tinggi badan Harry dan dia meninggalkan ciuman sehangat musim panas di pipi pria itu. "Terima kasih karena melihatku."
Kedua pipi gadis itu memerah dan demi menyembunyikan rasa malu, dia memutuskan untuk bergegas pergi. Namun, belum sempat melangkah jauh, Harry terlebih dahulu mencengkram pergelangan tangan Ally, lalu memberikan pagutan panas yang cukup lama tidak mereka rasakan.
***