Biasanya...
Sumber terbesar dalam hal patah hati itu adalah harapan yang terlampau besar..
untuk bisa selalu bersama...
Nyatanya... semua hanya samar..
***
Mengejar sesutu yang tidak pasti, mungkin seumpama menunggu guguran salju di negara tropis yang biasanya hanya punya dua musim. Sama seperti perasaan yang dialami gadis itu. Ia duduk termangu di teras rumah. Menatap jalanan sepi di depan halaman. Banyak rumah mewah kosong di perumahan Citraland. Mungkin mereka hanya membeli untuk hak milik dan investasi saja. Makanya jarang didatangi.
Rumah besar yang disewa Abrar dan Disya selama di Samarinda pun gratisan. Katanya yang penting dirawat dengan baik, daripada kosong tak berpenghuni. Bisa-bisa malah jadi horor nantinya kelamaan sepi. Itu adalah salah satu huniah milik kerabat jauh Rahayu, ibunda Disya.
Seorang pria dengan celana pendek dan kaus oblong favoritnya datang menghampiri. Ikut duduk sembari mengunyah klepon buatannya sendiri.
Memang benar kata orang. Abrar ini sangat unik dan serba guna. Apa saja hampir semua bisa ia lakukan. Soal pekerjaan, jangan ditanya lagi. Buktinya sudah bertahun-tahun dirinya menjadi bagian dari tim utama di perusahaan Rakabumi. Para pemilik saham saja bisa tak berkutik bila Abrar angkat suara. Ia hanya patuh pada dua orang. Pertama ibunya, kedua bos besarnya yaitu Gibran. Soal kesetiaan juga tak perlu diragukan lagi. Selama menjadi tangan kanan Gibran, belum pernah sekali pun mengecewakan atasan sekaligus sahabatnya itu. Soal masak juga tak usah khawatir, ia termasuk koki yang handal. Dan paling dominan adalah tentang masalah asmara. Pria ini ibarat buku panduan khusus untuk menaklukkan hati seseorang. Kalau Naruto punya jurus seribu bayangan, maka Abrar punya jurus seribu gombalan.
Tapi, tidak ada manusia super sempurna di muka bumi. Salah satu kelemahan Abrar paling utama adalah, ia kurang mahir melakukan praktek langsung dalam urusan cinta. Padahal teorinya bukan kaleng-kaleng semata. Terbukti Gibran sukses merayu sang pujaan dengan kumpulan gombalan receh pria satu ini. Lalu Akbar juga berhasil melunakkan kebekuan hati wanita idamannya berkat sokongan trik dan tipa dari Abrar. Walau pada dasarnya, tetap Sang Kuasa yang berkehendak. Anggap saja Abrar adalah perantara.
"Kenapa manyun terus dari tadi pagi?"
Disya menguarkan karbondioksida ke udara. Melirik sebentar klepon yang ditawarkan Abrar tanpa selera. Minatnya terhadap makanan sedang tidak bagus. "Gue kemarin lihat Adit..." katanya lirih.
Sejenak Abrar pura-pura terkesiap. Padahal, sebenarnya ia tahu di mana Adit bekerja dan tinggal. Sebab, sejak di Samarinda ia langsung meminta bantuan Akbar dan Robi guna mencari tahu keberadaan pria yang dicari-cari Disya selama ini. Sayangnya, ia tak tega memberitahu perihal Adit yang sekarang pada Disya. Ia tak ingin melihat gadis ini kecewa lagi oleh orang yang sama.
"Terus? Gimana ceritanya?" tanyanya basa-basi saja. Aslinya ia enggan dan bosan mendengar keluh kesah Disya terhadak objek yang sama. Adit lagi Adit lagi. Menjenuhkan sekali.
Dengan detail dan rinci akhirnya Disya menceritakan, tentang ketidaksengajaannya bertemu Adit saat sedang jalan-jalan di Big Mall lusa malam lalu. Ketika dirinya asik memilih barang-barang lucu di Miniso, ekor matanya tanpa terduga tertumbuk satu arah. Seorang pria tampak sibuk memilah power bank di rak khusus pajangan benda tersebut. Betapa bahagianya Disya, setelah berbulan-bulan mencari dan menunggu. Bisa melihat wajah yang amat dirindukan lagi adalah sebagian anugrah terindah baginya. Ia mendekati Adit dan menepuk pundak pria itu perlahan. Senyum seindah bulan sabit membumbung di bibirnya.
Pria itu menoleh. Terkesiap beberapa detik, mengetahui keberadaan Disya, mantan kekasih yang ia tinggalkan demi kebaikan sang gadis. Terhalang restu serta kesenjangan sosial adalah dua hal yang memaksa Adit menyudahi hubungan mereka.
"Kamu ke mana aja sih?! Aku cari kamu tahu! Sosmedmu juga udah nggak pernah aktif lagi kutengok," ujar Disya ingin menangis.
"Sejak kapan kamu di sini?"
"Udah hampir setahun."
Adit tampak menarik napas panjang. Kemudian mengembuskannya kuat-kuat. Ia meletakkan barang yang dipegang sejak tadi ke tempat semula. "Gimana kabarmu? Baik?" tanyanya.
Gadis di hadapannya hanya mengangguk singkat. Tanpa peduli sekeliling, langsung direngkuhnya tubuh Adit. Masuk ke pelukan dengan leluasa. Anehnya, tak ada balasan rangkulan dari pria itu. Wajahnya justru terlihat bimbang dan gusar. Ia tidak menolak tapi juga tidak begitu menerima dekapan tersebut. Batinnya gundah gulana.
"Udah nemu yang kamu cari-"
Suara lembut seseorang membuat Disya tersentak dan menjauh dari tubuh Adit. Ia linglung mendapati seorang gadis datang.
"Siapa? Temen kamu ya?" tanya sang gadis berambut panjang terikat menyamping. Raut mukanya mengindikasikan makna tak senang tapi ditahan dalam benak saja. Tetap berusaha bersikap ramah tamah.
"Ehm ... ini kenalin mantanku. Namanya Disya."
"Oh mantanmu."
"Dis, dia anak dari bosku. Namanya Anggun." Tak lupa Adit memperkenalkan juga pada Disya.
"Kalian pacaran?" celetuk Disya tak sabar ingin tahu.
Sementara Adit terdiam, Anggun justru tersenyum malu-malu. "Aku udah bilang suka ke Adit, tapi belum dapat jawaban," katanya tanpa ragu.
"Oh gitu... yaudah, sorry ya ganggu. Aku lanjut belanja lagi." Disya sengaja menjauh.
Sulit dipungkiri betapa hatinya terluka saat itu. Seharusnya ia tak bersikap kekanakan dan berpikir sempit sebelumnya. Mengira pria yang ia cintai masih punya perasaan sama terhadapnya. Bila ingat kata-kata adik Adit, tentang alasan Adit hijrah ke Kalimantan adalah demi mengumpulkan uang untuk modal masa depan bersama Disya. Rasanya naif sekali, bila Disya berharap tak ada perempuan lain masuk dalam hidup Adit, selagi mereka terpisah jarak dan waktu. Nyatanya memang demikian adanya.
Setelah membayar belanjaan di kasir, Disya bergegas pergi dari toko. Berjalan tergesan dengan batin terguncang hebat. Meski belum resmi mereka berdua punya hubungan spesial, tetap saja dari kediaman Adit, cukup membuktikan ada perasaan di hati pria itu untuk perempuan lain. Dan Disya tidak bisa menyalahkan sikap labil mantannya. Ya, benar. Karena status mereka adalah mantan. Ia sadar tidak punya hak untuk marah atau menuntut pada Adit.
Ia mengakhiri cerita singkatnya pada Abrar. Pria itu mengangguk mengerti.
"Artinya mereka masih pedekatean aja kan? Kalau lo mau, lo masih punya kesempatan harusnya sih."
"Kesempatan buat apa? Buat jadi pilihan doang?"
"Ya seenggaknya lo nggak penasaran lagi kalau tahu siapa pilihan Adit."
"Nggak perlu. Gue udah pikirin baik-baik. Nggak akan ngejar dia lagi."
"Yakin?"
Disya mengangguk setengah lesu. "Prinsip gue, cowok boleh punya seribu pilihan cewek. Tapi sebagai cewek yang nggak suka dijadiin pilihan, gue juga berhak buat nolak," katanya memantapkan jiwa raga. "Gue akan belajar ikhlas," ucapnya lagi.
Pria di sampingnya mengulum senyum tipis. Hatinya merekah-rekah bagai musim semi kedatangan bunga bermekaran di sepanjang sudut jalanan. Dikunyahnya klepon dengan hati lapang dan bahagia. Agaknya, sudah tiba waktunya untuk berani maju mengusahakan kesungguhan cintanya.
"Mau balik ke Jakarta?"
"Kerjaan di sini udah kelar ya?"
"Seharusnya kan memang udah. Lagian si Tiara udah berisik banget minta kita cepet balik dan bantu di kantor pusat. Cuma nungguin lo aja berkelana nyariin mantan yang nggak pernah jelas. Ngabisin waktu dan tenaga lo doang kan ujungnya?" cibir Abrar.
"Ish, seneng banget ya lo ngelihat gue menderita gini?!" keluh Disya. Dicomotnya klepon di piring dan memakannya dengan kesal. Rasa manis di lidah belum bisa menghilangkan kepahitan dalam hatinya. "Tiba-tiba gue pengen makan cilok," lanjutnya di sela kunyahan.
"Kebiasaan."
"Apa?"
"Ya lo kebiasaan, kalau lagi sensi atau sedih atau sejenisnya, pasti pelariannya mau makan cilok pedes kan?!" Tebakan Abrar selalu tepat sasaran. Terkadang, ia bisa membaca isi hati Disya. Tapi tidak sebaliknya. Disya adalah sosok gadis yang bila sudah terpaku pada satu tujuan, maka ia akan mengabaikan hal-hal di sekeliling sampai tak peka sama sekali.
"Jatuh cinta berujung patah hati tuh kayak makan cilok pedes. Awalnya aja dikecap enak. Habis itu, di lidah panas, ditelen seret, di perut susah dicerna. Sengsara kan.." seloroh Disya lesu. Argumen yang lumayan benar adanya. Benar bila ia salah jatuh cinta pada orang tak tepat. Perjuangannya tak sebanding dengan sakit batin yang ia terima.
Abrar menatap dalam wajah sendu gadis di sisinya. Ingin sekali memeluk dan memberi kekuatan penuh pada sang pujaan hati. Sayangnya, ia sendiri butuh energi penuh untuk mengentaskan cinta rahasianya. Menjadikannya sebuah perjuangan terang-terangan bukan hal mudah bagi Abrar.
"Boleh gue kasih sedikit saran?"
"Hem?"
"Temui Adit lagi. Ungkapin semua yang pengen lo bilang ke dia sampai lega. Gue yakin, lo bisa melalui semua dengan baik."
"Kenapa lo yakin banget gue bakal baik-baik aja? Gimana kalau nanti gue denger dia bilang udah nggak ada rasa sama gue? Apa nggak makin ancur hati gue?!"
"Setahu gue, Disya yang gue kenal tuh nggak punya rasa takut sama hal-hal kayak gini. Lo tuh takutnya kalau ada di rumah sendirian, mati lampu, dan-"
"Lo mau kasih saran apa ngeledekin gue sih?!" sungut Disya mulai emosi.
Abrar terkekeh. "Iya iya. Solusi buat orang galau macam lo. Satu, hadapi sumber kegalauan. Dua, tumpahin semua sisa-sisa penasaran lo sampai lega. Tiga, move on dari cinta lama yang nggak pernah bisa sama. Empat, terima kenyataan sesusah apapun itu pada mulanya. Lima, buka hati lo. Temuin cowok yang lebih baik dan lebih pantes buat jaga hati lo," selorohnya mengingatkan.
Semua petuah bijak Abrar berusaha Disya cerna dan ingat baik-baik dalam ingatan. Ada benarnya yang dikatakan pria itu. Tak mungkin Disya terus berlarut dalam problematika masa lalu yang tiada kunjung usai. Ia harus berani menerima segala konsekuensi bila ingin bangkit dari keterpurukan dan kecewa yang ia bangun dari harapannya sendiri.
"Gue heran sama elo, kenapa lo masih jomblo sampai sekarang?"
Pertanyaan mendadak Disya membuat Abrar menelan saliva susah payah. "Lo nanya apa nyindir apa ngejek nih?" dumelnya tak terima.
"Ya siapa tahu aja lo memilih jones bukan karena ngenes sebenernya. Tapi karena lo belok ke jalan yang salah," celoteh Disya tanpa peduli muka Abrar berubah masam.
"Asal lo tahu ya, gue jomblo bukan karena belok tahu!"
"Terus karena apa? Nggak ada yang mau sama lo ya? Wajar sih, lo aja ngeselin banget!"
"Ini mah namanya air s**u dibalas air tuba. Udah dikasih saran baik-baik, eh malah gue dibilang ngeselin. Dasar."
"Makanya cari pacar sana. Biar gue nggak salah paham mikir lo nggak suka cewek," ucap Disya tak acuh.
Abrar mengelus d**a seraya beristighfar. Ingin sekali ia teriakan sekencang-kencangnya. Alasan dirinya masih sendiri adalah Disya. Tentu saja ia hanya berani membatin saja.
"Nanti kalau lo tahu siapa yang gue taksir, yang ada lo bisa spot jantung."
"Oh ya? Sayangnya, gue nggak terlalu pengen tahu tuh." Disya bangkit dan berlalu masuk ke dalam rumah. Meninggalkan Abrar dengan muka tertekuk sebal.
"Astaghfirullah. Dosa apa gue di masa lalu? Sampai harus jatuh cinta sama makhluk super resek dan super nggak peka kayak Disya!" gumamnya bermonolog.
=======♡ Really Lover ♡=======
Sekilas sapa_
Yuk, bantu vote dengan cara tap love dan dukung diriku selalu kalau kalian suka cerita2kuh. Hehe. Jangan sungkan komennya juga ya buat tambahan semangat diriku garap naskah ini. Uwuwu. Tererengkyu gais. #semangat #senyum #sehatselalu
================