Bab.3 - Sebelah Hati

1287 Words
Biasanya, kita dihadapkan pada masalah untuk dua hal Mencari jalan keluar Dan juga menemukan sebuah hikmah... *** Di luar sedang hujan gerimis. Abrar duduk di salah satu bangku kantin sambil sibuk menekan-nekan layar ponsel. Asik membalas pesan masuk dari beberapa rekan, tidak ketinggalan pesan dari sang bos besar. Seseorang datang dengan wajah manyun dan super kesal. Pria itu menoleh sebentar, menatap Disya yang baru mendudukkan diri di kursi depannya. Mukanya benar-benar kuyu sekali, khas gadis patah hati bercampur dilematis. "Itu muka apa kemoceng? Kusut banget kayak habis bersihin debu gudang setahun," ujar Abrar setengah meledek. Disya hanya melirik sebentar dengan mata menyala. Kemudian redup perlahan. Jika sudah demikian, ada olokkan tanpa balasan, maka bisa dipastikan bahwa gadis ini tengah dilanda kegalauan akut. Abrar hanya membuang napas sebal. Ia tahu, yang dipikirkan Disya tak lain tak bukan tentunya Adit seorang. "Cowok yang beneran sayang itu berjuang buat bikin ceweknya bahagia. Bukan malah terus-terusan bikin ceweknya sakit hati. Itu namanya senasib sama Ribas, sebelah hati," ocehnya menyebut salah satu penyanyi dan judul lagu lawas yang pernah tenar dulu. "Ngeledek aja mulu. Seneng kan lo lihat gue ngenes gini?! Jadi, lo ada temennya!" "Negatif thingking aja terus sama gue. Orang ngasih tahu baik-baik dibilang ngeledek. Yaudah gue diem aja." "Lo mana ngerti perasaan gue! Lo kan cowok.  Tahunya cuma ego doang! Mana paham soal hati!" Disya nyeletuk sengit. Tiap kali kesal, pelampiasan mutlak adalah Abrar. Entah bagaimana mulanya keduanya sering terlibat cek cok sengit macam ini. Abrar menyendok kuah sayur asem dalam mangkok. Kemudian menyeruputnya perlahan. Ia juga mengunyah nasi dan tempe goreng yang sejak tadi dinikmati lidahnya. "Lo tuh cantik, pinter, pemberani, mandiri, dan adiknya bos. Kurang apa?" Gadis di depan Abrar mendelik keheranan. Tak mengerti arah pertanyaan Abrar barusan. Namun, sejenak Disya kaget, baru kali ini Abrar memujinya demikian. Bahkan ditambahi kata cantik. Perempuan mana pun pasti tersipu walau hanya sedikit. "Maksud lo? Apa hubungannya?" "Ya, lo harusnya menikmati hidup. Lebih bersyukur dengan apa yang Maha Kuasa kasih. Bukan malah nyia-nyiain waktu nggak jelas, cuma ngejar satu cowok. Mending kalau tuh cowok setara perjuangin lo balik. Tapi, kalau cuma hobi bikin emosi dan sakit hati, untuk apa lo pertahanin? Untuk apa lo pikirin? Hidup terlalu berharga Dis. Buang waktu hanya karena orang yang suka nyakitin, itu terlalu childish." Petuah Abrar panjang lebar. Tak ada sahutan lagi dari Disya. Gadis itu terpekur, mengalihkan pandangan ke arah rintikan hujan di luar sana. Pikirannya menelaah ulang rekapan kenangan tentang sang mantan. Memang makin dikhayalkan malah makin menyakitkan. Senyumnya tiada lagi terkembang seperti saat jatuh cinta pertama kali pada Adit. Ia bahkan tak menemukan sejauh mana Adit mengusahakan dirinya agar bersama. Faktanya, Disya seakan dihadapkan pada kenyataan, kalau dirinya hanya berjuang seorang diri. Terus berlari menghampiri seseorang. Namun, ia ditelantarkan jauh ke lubang ketidakpastian. Dan kali ini, ia sependapat pada nasihat Abrar. Hidupnya terlalu berharga bila dihabiskan untuk mengejar pria yang sebelah hati. "Menurut lo, gue akan baik-baik aja tanpa dia?" Pertanyaan ambigu terlontar dari bibir berpoles lipstik pink segar milik Disya. Abrar tertawa sampai tersedak. Gadis yang konyol sekali. Begitu menurutnya. "Gue tanya sama lo Dis. Selama lo udahan sama mantan lo itu, lo masih bisa makan kan? Masih bisa kerja kan? Masih bisa ketawa-ketiwi ngobrol sama temen kan? Masih bisa belanja kan? Masih bisa menghirup udara kan?" Ia memberuntun Disya dengan tumpukan pertanyaan. Gadis yang diajak bicara mendengkus sebal. Semua benar. Ia bisa menjalani hari-hari biasa meski tanpa kehadiran Adit. Toh mereka berdua hanya memiliki status, bukan memiliki raga masing-masing. Terlebih, kini keduanya telah berlabel mantan kekasih. Tentunya Disya tak berhak merindukan atau bahkan mengeluhkan pria tersebut. Walau sejatinya, hatinya masih gamang bukan kepalang. Selagi Disya sibuk melamun, Abrar menyuapkan makanan ke mulut sang gadis. Tanpa sadar Disya membuka mulut spontan. Lalu memakan suapan dari pria di depannya. Ia ingin mengomel. Tapi tak jadi. Sebab rasa gurih dan sedap makanan lebih unggul menguasai dirinya. Perutnya yang kelaparan tak mampu mengelak, ia butuh asupan makan. Dengan sigap Disya merebut piring Abrar dan menyantap isinya. Abrar geleng kepala. Ia terpaksa memesan ulang makanan. Bukan untuk dirinya, melainkan untuk Disya. Abrar sudah kenyang hanya melihat gadis yang ia cintai diam-diam akhirnya mau makan dengan lahap. "Makan yang banyak. Belakangan kurus banget. Gue bisa kena tegur bunda nanti pas kita balik ke Jakarta, anaknya jadi kerempeng nyaingin papan triplek," celetuk Abrar sambil menyodorkan minuman pada Disya. "Kurus dari mana? Ini namanya langsing singset tahu! Body itu penting! Biar nggak keberatan gue angkat barang atau menjalani hidup. Beban di pundak udah terlalu berat." "Di pundak apa di hati?" "Dua-duanya sih." Percakapan keduanya terjeda, ketika suara riuh seseorang menghampiri mereka. Ujo adalah karyawan yang lumayan dekat dengan Abrar selama di Samarinda. Ia menunjukkan sebuah video di Youtube yang berhasil memiliki banyak penonton. Itu adalah akun yang Disya buat setahun lalu. Di sana ia membuat konten tentang film pendek. "Lihat ini Bos! Banyak yang komen minta dilanjutin!" oceh Ujo menggebu-gebu. Ada sebuah tayangan di mana Disya membuat reka adegan tentang kisah asmaranya bersama Adit. Sekelebat bayang  terbersit dan memunculkan sebuah ide di kepalanya. Mengingat kejadian tempo lalu. Ia jadi punya inspirasi dadakan. Apalagi tema pelakor belakangan tengah marak diperbincangkan. Beberapa waktu sebelumnya, Disya sempat  mengunggah curhatan pendek berdurasi sepuluh menit lebih sedikit. Di situ ia menceritakan kronologi perjuangannya dan kisahnya mengejar pacar pertama. Ia juga mengatakan, film pendek yang pernah diunggah sebenarnya terinspirasi dari kisah nyatanya sendiri. Tak ketinggalan Disya juga mencurahkan kekecewaannya. Saat berhasil bertemu pria yang dicari, ia dihadapkan pada situasi tak menyenangkan. Yaitu saat ia sadar sudah ada perempuan lain di hati pacar pertamanya. Ralat, mantan pacar. Mengetahui kontennya mendadak banyak peminat, Disya merasa ia punya peluang untuk bangkit dari keterpurukan. Ia akan berusaha melupakan Adit dengan caranya sendiri. Atau mungkin, justru malah membalas lukanya itu. Buru-buru ia menyingkir dan menghubungi seseorang. "Halo, As? Lo bisa bantuin gue lagi nggak?" "Soal Youtube lo kan? Gue tahu lo pasti bakal balik berkarya lagi!" "Lo bantu hubungi yang lain ya? Gue akan bikin skrip barunya." "Siap! Ntar lo kirim aja. Biar gue yang garap di sini. Tapi, inget bayarannya double ya Bu Bos?" Asti terkekeh di seberang panggilan. Ia adalah sahabat sekaligus tim kreatif yang sering membantu Disya membuat konten. Disya ini hanya penulis dan pemilik akun. Selebihnya yang sering mengelola adalah Asti. Karena dari awal Asti lah yang punya ide tersebut. Katanya, kisah cinta Disya cukup dramatis untuk didokumentasikan. Telepon diakhiri. Disya tersenyum lebar. Ia punya sebuah rencana yang belum orang ketahui. Hingga ponselnya bergetar beberapa kali. Ada pesan masuk dari nomor tak dikenal. Disya mengerutkan kening. Ia tahu siapa pengirim pesan. "Dis? Lo ngapain?" Abrar datang menepuk pundak Disya. "Lo bilang kan hidup terlalu berharga buat sesuatu yang nggak penting. So, gue mau buat sesuatu itu jadi penting." Giliran Abrar tak memahami maksud ucapan Disya barusan. "Kesambet sayur asem lo ya?" ledeknya. Disya mengibas rambut sebahunya. Lalu mengedipkan satu mata. Hampir saja jantung Abrar copot dari tempatnya. Gadis itu benar-benar sukses menggetarkan batin seorang Abrar Surendra Randanu. Pria dengan sejuta nasihat asmara, tapi minim praktek untuk diri sendiri. "Perasaan gue kok nggak enak ya?" gumam Abrar punya firasat tak baik. Sontak sebuah lingkaran tangan bergelayut manja di lengan Abrar. Disya memulai aksi terselubung. "Bantuin gue ya?" "Bantuin apaan?!" Abrar protes, terus berusaha melepas pegangan tangan Disya. Bisa-bisa pingsan di tempat ia kalau kelamaan bersentuhan dengan pujaan hati terpendamnya ini. Buru-buru Abrar mengantisipasi dengan jaga jarak. Namanya juga jomblo sejati. Biasanya pria akan senang mendapat kesempatan begini. Lain hal dengan Abrar, ia justru keringat dingin menahan gugup. Untung tak ada yang sadar. Pria ini pandai memanipulasi keadaan. Dirinya terlihat cuek bebek di depan orang. Padahal dalam hati kelabakan bukan kepalang. "Nanti juga lo tahu. Harus bantuin pokoknya! Titik!" ucap Disya menampilkan senyum semanis permen kapas. Sayangnya, ada yang mencurigakan dari senyum tersebut. Dan Abrar belum bisa memprediksi sedikit pun.  =======♡ Really Lover ♡======= Sekilas sapa_ Yuhuuuu, akhirnya kisah Abrar dan Disya up juga gais.  Abaikan bila ada tipo melanglangbuana ya gais. Harap maklumilah kekhilapan dirikuh. #ditimpukmasal #peace  Kuy, merapat. Ditunggu komen dan dukungan kalian. Aku selalu semangat kalau kalian juga semangat. Eyakkkk.  Sehat sehat selalu ya gais. Uwuwu.  ===========================
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD