Terkadang,
kita dihadapkan pada dua pilihan dan kenyataan
Bertahan atau pergi
Menerima atau tidak
Semua hanya tentang keberanian dan waktu yang akan menjelaskan
Bahwa setiap rasa
Selalu ada masanya
***
Sore itu cuaca lumayan cerah. Disya duduk santai sambil sesekali menyedot minuman dingin dalam gelas plastiknya. Satu tangan lainnya lihai bermain ponsel. Hingga seseorang menghampiri, barulah ia mengunci layar ponselnya. Kemudian mendongak. Menatap Adit yang datang dengan membawakan seikat bunga matahari serta mawar putih. Itu bunga kesukaan Disya.
"Maaf ya lama. Aku mampir ambil ini dulu tadi. Buat kamu," katanya seraya menyerahkan buket bunga bawaannya pada Disya. Gadis itu menerima dengan perasaan kembali meronta-ronta. Hanya beberapa saat. Ia menaruh kembali bunga di atas meja seolah tak peduli.
Entah sampai kapan Disya mampu menghapuskan bayangan Adit, ia tak tahu. Gadis ini terlalu mudah berubah-ubah pikiran bila sudah berkaitan dengan Adit. Bisa saja kemarin ia mengatakan ingin berhenti, tapi hari ini lain lagi. Namun, kalimat Abrar membayang dalam ingatan Disya. Ia tersadar akan sesuatu. Bahwa tak bisa selamanya ia kalah pada perasaan. Ada saat ia juga harus menenggelamkan cintanya sampai tiada terlihat. Menyisakan ketegaran serta keberanian untuk melawan hasrat yang menyiksa batin selama ini. Sadar bila cintanya terlalu berharga untuk dipermainkan oleh pria, yang tak layak ia usahakan demi dimiliki.
"Mau ngomong apa? Aku nggak punya banyak waktu," celoteh Disya menekan hatinya mati-matian. Dalam jiwa ia mengingatkan, jangan sampai terjebak lagi pada kesalahan sama. Mempercayai Adit bukanlah hal baru, dan bukan hal yang membuatnya bahagia.
"Aku nggak ada hubungan lebih sama Anggun. Bagiku, dia itu cewek baik dan perhatian. Aku cuma menghargai hal itu. Nggak lebih."
Disya tersenyum sinis. "Ya itu kan hobi kamu. Selalu rajin menghargai tindakan serta sikap cewek lain. Tapi, nggak pernah bisa menghargai perjuanganku," tukasnya lugas.
Kalimat tersebut tentu saja berhasil menohok sanubari pria di hadapannya. Adit menyadari Disya mulai kesal padanya. Sayangnya, ia pun masih belum berani mengambil keputusan. Sejujurnya, pria itu mulai nyaman berada di dekat Anggun. Meski tanpa status, ia tak bisa berbohong jika ada sedikit rasa mulai tumbuh dalam hatinya. Lalu, kehadiran Disya yang tiba-tiba sekali, mengembalikan perasaan lama yang sempat tertahan sesak. Di satu sisi ia tak mau kehilangan Disya lagi. Di sisi lain, ia juga merasa tak tega pada Anggun. Ia tahu gadis itu menaruh harapan padanya. Rasa kasihan rupanya malah menutup sebagian belas kasih sayangnya pada Disya.
Adit setengah tertunduk. Karbondioksida ia lenguhkan ke udara tak kasat. Berharap penatnya lekas sirna. "Aku minta maaf. Jujur, aku masih bingung. Awalnya niatku ke sini memang cuma mau mengadu nasib. Pengen kumpulin uang buat masa depan kita. Tapi-"
"Tapi kamu malah kebablasan kan? Niat awalmu berubah jadi kelewatan. Kamu nggak berubah kayaknya, Dit. Masih sama seperti dulu."
"Maksud kamu?"
"Ya kamu tetap Adit yang selalu care sama orang lain. Berlebihan malah. Sayangnya, you don't care about me!"
Lagi-lagi ucapan Disya menghantam jantung Adit. Gadis yang mulanya selalu menerima dirinya, kini berbalik tiga ratus enam puluh derajat. Perangai Disya sudah terbilang tidak biasa baginya.
Seseorang di kursi belakang Disya tampak tersenyum tipis. Abrar selalu ada di mana pun Disya berada. Ia tak bisa membiarkan gadis itu pergi sendirian. Khawatir bila seisi resto porak-poranda bila sampai Disya menangis atau mengamuk bila sampai sakit hati lagi nanti. Ia bukan mata-mata seperti James Bond. Abrar mengikuti Disya atas izin langsung dari sang gadis. Alasannya sangat sederhana, mau makan di tempat yang sama.
"Aku kasih kamu satu kesempatan terakhir, Dit. Kita benar-benar selesai atau kamu nikahi aku?"
Tantangan Disya kali ini sukses memborbardir relung hati Abrar. Ia terbatuk sambil memukul-mukul d**a bidangnya. Pria itu tak terima, jika akhirnya Disya bersama laki-laki lain. Ia bangkit berdiri. Tangannya mengepal seolah hendak melayangkan sebuah tinju Mike Tyson. Tatapan mata pengunjung justru mengintimidasi Abrar. Seakan mengatakan agar jangan berisik. Alhasil, pria itu pun berlalu ke luar tanpa sepatah kata pun. Disya hanya sempat menoleh sebentar. Masih belum sadar soal kemarahan Abrar. Ralat, kecemburuan maksudnya.
"Aku belum bisa memutuskan sekarang, Dis. Tolong kamu mengerti. Kasih aku waktu. Aku harus pikirkan matang-matang pilihan terbaik buat kita."
"What? Buat kita kamu bilang? Buat kamu kali. Dasar egois!"
"Dis. Please?"
Di situ Disya sadar terhadap maksud Adit. Pria itu minta waktu untuk menentukan pilihan. Karena mungkin ada keraguan pada hatinya sekarang. Disya tampak murung sebentar. Kemudian kembali memaksakan senyum dan mengatakan sesuatu.
"Kamu nggak perlu repot-repot buang energi dan waktu untuk berpikir. Karena mulai sekarang, kamu cuma punya satu pilihan."
Adit bingung dengan maksud kata-kata Disya barusan. Ia mengira kalau Disya masih sebucin dulu dan mengharapkan Adit hanya memilih Disya.
"Disya, tolong pahami aku sebentar lagi. Aku butuh waktu. Tolong jangan egois," katanya percaya diri.
Namun, Disya malah tertawa pelan. Ia makin miris pada diri sendiri. Kenapa pernah mengejar seseorang sepengecut Adit.
"Kenapa aku egois? Kan aku yang mundur mulai dari sekarang. Artinya, kamu bebas memilih Anggun jadi penjaga hatimu. Kurang pengertian apa lagi aku? Hah?!"
Seketika Adit terdiam. Hatinya mulai galau dan takut kehilangan Disya. Bibirnya terkunci rapat tak mampu berucap apapun. Memandang wajah mantan kekasihnya yang kini terlihat sangat serius. Adit kira Disya masih sama. Tak mungkin rela melepaskan dirinya dan akan terus bersamanya.
Nyatanya, gadis berkaus putih dengan blazer kuning itu akhirnya memilih pergi. Berjalan begitu saja meninggalkan Adit. Juga bunga yang ia bawa.
Di saat Disya telah berlalu, Adit terpekur. Teringat kenangan mereka waktu masih bersama dulu. Disya yang lucu, menggemaskan, manja, bucin, apa adanya. Berhasil membuat Adit mengulum senyum. Samar-samar perutnya tergelitik manja. Merasakan sebuah sensasi perasaan yang lama telah kembali ke permukaan.
"Ternyata kamu sudah lebih dewasa dari sebelumnya," gumamnya bangga.
Ponselnya bergetar, ada telepon masuk dari Anggun di sana.
"Gimana? Berhasil misinya?" tanya suara di seberang panggilang.
"Kemungkinan berhasil."
"Kok gitu? Pastinya gimana?"
"Belum tahu. Seenggaknya aku tahu kalau dia udah nggak kekanakan lagi."
"Oh gitu? Kamu bakal balik ke dia?" Nada bicara Anggun berubah agak lesu.
"Masih kupikirkan. Kenapa?"
"Nggak pa-pa sih."
"Yakin? Kamu ikhlas?"
Anggun menarik napas dalam. Embusannya terdengar perlahan. "Aku kan cuma perantara, bukan siapa-siapa buat kamu."
Adit terhenyak. Awalnya ia hanya meminta bantuan Anggun untuk memberi masukan tentang hubungannya dengan Disya. Akhirnya, ia malah terjebak dengan perhatian gadis tersebut yang terang-terangan menyimpan rasa padanya.
Sementara itu di parkiran mobil, Abrar menunggu sambil melipat dua tangan di d**a. Melihat Disya datang sambil manyun, ia bisa menangkap ada yang tak beres.
"Gimana rasanya balikan? Kok manyun?" sindirnya sarkastis.
"Apanya balikan?! Cowok nggak jelas gitu! Mending dibuang ke sungai Mahakam aja! Gue mau cari yang baru! Dan pastinya harus lebih baik!" pekik Disya menggebu-gebu meluapkan emosi.
"Gimana kalau nggak usah dicari lagi?"
"Maksud lo? Nunggu datang sendiri gitu?"
"Bukan. Maksud gue lo nggak usah kelabakan nyari cowok lain lagi. Gue boleh daftar?"
Sejenak Disya meneliti, raut wajah Abrar tampak berbeda dari biasanya. Beberapa detik berselang, gadis ini malah mengomel tak jelas dan meminta Abrar segera membuka pintu mobil.
"Gue tahu niat lo cuma mau menghibur. Thanks. But, bercandaan lo kayak gitu nggak perlu diulangin lagi. Gue nggak suka," seloroh Disya usai keduanya masuk mobil dan duduk di kursi masing-masing.
Abrar menarik senyum kecewa. "Kalau cowok lain yang bilang, apa lo akan suka?" tanyanya datar.
Disya tak sempat menimpali. Nada lagu BTS lebih dulu menggema. Buru-buru ia mengangkat telepon dari Asti. Obrolan keduanya membuat Disya mengabaikan Abrar untuk kesekian kali. Pria itu hanya mampu menahan retakan dalam dadanya. Ketika sadar, perasaannya masih terdampar di kepulauan tak berbalas.
Dalam perjalanan pulang, Abrar teringat sebuah kilasan balik tentang mereka berdua.
Saat itu seorang pelanggan menghina Abrar. Mengatakan bila tak akan ada gadis yang mau berpacaran, apalagi sampai menikah dengan seorang sekelas Abrar. Di sana ada Disya yang memang langganan beli cilok.
"Abang cilok ganteng juga kok kalau dilihat-lihat. Nanti udah gede, aku mau sih jadi istrinya." Disya menyahut.
Si pembeli lain yang merupakan tetangga gang mengejek sinis. "Ih, kamu mau? Nanti tiap hari dikasih makan cilok terus? Orang tuamu susah payah sekolahin dan biayain ksmu, eh kamu nggak dibahagiain karena suamimu kekurangan? Aku sih ogah lah yaw!"
"Heh! Memangnya kita tahu bakal jadi apa nanti si abang cilok kalau udah besar?! Siapa tahu dia lebih beruntung dari kita nasibnya. Jadi bos besar mungkin. Ingat ya, roda kehidupan itu berputar terus tahu! Yang sekarang lagi di bawah, siapa tahu ke depannya jadi berbalik di atas!" bela Disya tak mau kalah. Ia tak suka ada orang lain ditindas apalagi direndahkan begitu.
Benar saja, si pembeli bermulut pedas pun pergi dengan kesal setelah mendapat jajanannya. Sedangkan Disya menyeringai dan menjulurkan lidah penuh kemenangan. "Huu! Dasar mulut lamis!" ledeknya.
Abrar tersenyum. "Memangnya kamu mau sama tukang cilok kayak aku?" tanyanya penasaran.
"Ehm, bukan status tukang ciloknya yang jadi masalah. Tapi, bisa jadi cowok setia nggak nantinya?"
"Kamu kecil-kecil pinter banget ngomong ya."
"Loh aku udah kelas tiga SMP. Siapa bilang anak kecil lagi?!" Disya mendengkus sebal. Bibirnya mengerucut meniup poni depan. "Lagian, diejek kayak gitu jangan diem aja dong! Bales!"
"Ngapain dibales? Nanti dia malah nggak mau beli cilok lagi di sini. Pelanggan adalah raja dan ratu."
"Raja dan ratu kok omongannya tajem kayak pisau dapur gitu!"
Abrar terbahak.
Lamunannya buyar ketika Disya menepuk keras pundak Abrar. Mobil mereka hampir saja menyerempet mobil lain. Untung berhasil dihalau Disya dengan mengambil alih kemudi sebentar.
"Lo mikirin apaan sih?! Meleng gitu! Perasaan gue yang patah hati, kenapa jadi lo yang galau sih?!" omel Disya.
Ia kembali duduk tenang di kursinya setelah Abrar membenarkan kemudi setir dan fokus ke jalanan di depan sana.
"Nyetir mobil aja oleng, gimana mau dapetin jodoh? Yang ada diserempet orang mulu ntar lo!" kata Disya.
"Daripada lo, udah jalan lurus tetep aja ketikung cewek lain kan?" balas Abrar tak mau kalah.
Disya langsung terdiam seribu bahasa. Kesal. "Ngeselin lo!" umpatnya. Namun tidak dipungkiri, ucapan Abrar memang ada benarnya juga.
=======♡ Really Lover ♡=======
Sekilas sapa_
Maapkan kalau masih ada tipo berkeliaran ya gais. #peace
Thanks buat yg udah mampir dan komen juga love. Semoga sehat selalu buat kita semua.
============================