Bab. 5 - Sebuah Pengakuan

1557 Words
Diam memang terkadang ada baiknya Namun, terlalu lama diam dan menyimpan perasaan juga akan jadi tidak baik... *** Selang seminggu berlalu, di rumah Disya sibuk mengepak barang untuk kembali ke Jakarta. Ia sudah memutuskan untuk tidak menaruh harapan lagi pada pacar pertamanya. Prinsipnya harus dipegang erat. Tak boleh hatinya luka hanya karena menjadi sebuah pilihan belaka. Gadis itu belajar dewasa dan menerima keadaan. Bila takdir pasti punya jalan terbaik. Zahra, anak dari pemilik rumah yang disewa membantunya. "Aku bakal kesepian kalau nggak ada ikam, Dis," ujar Zahra dengan sedikit logat Banjar yang lumayan kental terdengar. "Nggak ada Bang Abrar juga kok kesannya rumah bakal hampa ya, dia kan happy virus," lanjutnya lagi. "Kan ada suamimu udah balik." "Beda gitu rasanya." Keduanya pun larut dalam kesibukan, sembari sesekali mengulas kisah lama. Awal mula Zahra dan sang adik, Azhar diharuskan ikut tinggal di rumah milik ibunya yang tak terpakai sebelumnya ini. Dikarenakan ada teguran dari pihak penjaga dan pengelola perumahan, sebab tidak diperbolehkan dua orang belum menikah menetap satu rumah. Alhasil, mau tak mau Zahra dan sang adik ikut tinggal di sana. Sambil menunggu suami Zahra kembali dari dinas luar daerah. Untunglah kepindahan sang suami kembali ke Samarinda akhirnya disetujui oleh atasannya. Suara panggilan memaksa keduanya berhenti sekejap. Zahra berlalu menghampiri suaminya. Sementara Abrar baru datang dan berdiri di ambang pintu kamar Disya. "Makan yuk? Lo kan belum makan dari siang," ajaknya. "Males. Duluan aja. Besok pesawat kita berangkat pagi. Mana sempet ngecek ulang barang bawaan. Gue mau kelarin ini dulu." Pria itu tahu, Disya hanya beralasan saja. Seorang gadis yang lama ia kenal macam Disya mudah sekali ditebak. Pasti tak jauh dari persoalan hati. "Patah hati itu wajar. Anggap aja proses naik pangkat. Ibarat kata, orang ditatar dulu biar lebih strong. Supaya besok berani ngadepin hal yang lebih ekstream lagi." Nasihat Abrar sambil melipat dua tangan di d**a. "Ngomong enak ya, nggak perlu nelen sakitnya!" kesal Disya sambil menutup kopernya dengan kasar. "Kalau lo tahu rasanya sakit hati gimana,  mungkin Yang Kuasa lagi ngingetin, siapa tahu ada seseorang yang tanpa sadar lo patahin hatinya. Lo kecawain, lo sakitin. Manusia nggak ada yang sempurna. Semua pernah salah." "Maksud lo?" Disya menautkan alis bingung. Abrar hanya mengangkat bahu cuek. Padahal ia sedang berusaha menyindir sang gadis berkaus putih di depannya, yang tak pernah peka pada perasaan Abrar. "Lo yakin nggak mau makan? Padahal gue udah capek-capek bikinin cilok kesukaan lo." Seketika ekspresi Disya berubah melunak. Pantas saja hidungnya agak mengendus aroma wangi daun bawang yang khas untuk campuran cilok. Maklum saja, kamarnya paling dekat dengan dapur dan ruang makan.   "Tumben lo baik ke gue. Ada angin apa?" "Tiap hari juga gue baik kali. Cuma elonya aja  pasang kacamata kuda. Nggak mau nengok kanan kiri. Lurus aja ke depan. Yang dilihat cuma si cecunguk resek," dumelnya panjang lebar. Ia pun beranjak pergi dari sana. Cepat-cepat Disya mengekori langkah Abrar. Keduanya pun makan malam bersama. Zahra sudah kembali ke kamarnya duluan bersama sang suami. Adiknya juga sudah masuk kamar. Hanya tinggal Disya menekuni makanan di atas meja. Melahap beberapa menu yang terhidang khusus untuk dirinya. Ada sayur labu siam, tempe mendoan, cilok pedas manis spesial, dan lain sebagainya. Semua adalah hasil kreasi olahan tangan cemerlang Abrar. Pria serba bisa, serba guna, dan setia tentunya. Meski sering menelan kepahitan akibat gadis yang ia sukai belum juga menunjukkan rasa sama. Ia tetap teguh menjaga gumpalan jantungnya, demi melindungi cinta pertama sekaligus gadis impiannya untuk tetap merekahkan senyum. Begitu selesai, keduanya berniat kembali ke kamar. Saat itu lah Abrar tahu Disya menahan sesuatu dalam dirinya. Mimik wajah suram tergambar nyata di wajah Disya. Hingga membuat Abrar terpaksa terjaga sepanjang malam. Suara isakan tangis sayup terdengar dari dalam kamar yang ditempati Disya. Kamar mereka tepat bersebelahan. Dari balkon saja bisa terdengar suara, sebab Disya menangis di luar. Bukan di dalam kamar. Abrar tak tahan lagi. Ia menatap jam di dinding, sudah hampir pukul dua belas malam. Ia berinisiatif melompat menuju balkon kamar Disya. Napasnya menghela penat. Tampak seorang gadis terkejut. Disya mengangkat muka, masih terjongkok dengan dua tangan bersandar di atas lutut. Segera dihapusnya lelehan air mata di pipi. Malu, jika tak bisa disembunyikan lagi perih batinnya. Berpura-pura baik-baik saja tentu sangat menyulitkan. "Gue nggak masalah ya kalau lo nangis karena jatuh dari sepeda. Atau berantem sama temen. Atau apalah. Asal bukan nangisin cowok sialan itu mulu!" Suara Abrar berkilat tegas. Gemuruh guntur kalah mengerikan dari tatapan mata pria ini sekarang. "Lo tahu nggak sih?! Bertahun-tahun gue nunggu lo peka! Nunggu lo sadar! Nunggu hati lo kebuka! Walaupun bukan buat gue, seenggaknya jangan lo buat nempatin cowok b******k yang lo kejar mati-matian tapi no respect sama lo!" pekiknya lagi. Geram makin menjadi-menjadi. Berharap Disya sadar akan ketulusan sesungguhnya. Disya semakin dilematis. Kepalanya terlalu berat untuk mengartikan semua maksud ucapak Abrar barusan. Ia tersentak dalam tanya tanpa jawab. Abrar ikut berjongkok di hadapan Disya. Memandang wajah kuyu sang gadis dengan amat iba. Untuk pertama kali dalam hidup Disya, ada sesuatu tentang Abrar berhasil menggetarkan relung jiwanya. "Lo nggak tahu sakitnya! Lo nggak pernah jatuh cinta! Lo nggak paham rasanya!" ujar Disya frustrasi. "Gue tahu." "Nggak! Lo nggak tahu! Jangan sok tahu-" Kalimat Disya terkunci. Sesuatu tak terduga baru saja terjadi. Bibir Abrar lebih cepat membungkam bibir Disya hingga tak berkutik sedikit pun. Malam itu sebuah ciuman manis menjadi jalan awal atas terbongkarnya sebuah rasa. Namun, satu hati belum yakin akan kebenaran yang sesungguhnya. Sedangkan hati yang lain, makin tak kuasa membendung luapan emosi kasih sayangnya yang lama terkungkung. Wajah keduanya sedikit menjauh. Abrar membelai rambut Disya penuh pengertian. Keteduhan di bola matanya sanggup menyusup hingga mengetuk pintu hati Disya yang berulang kali merana. Amarahnya teredam sempurna. Berubah menjadi gugup bercampur tak menentu. Denyut nadinya menguat seakan tak mampu mengelak sesuatu. "Lo itu terlalu berharga buat gue. Air mata lo adalah berlian yang harus gue jaga supaya nggak tumpah sia-sia. Please Dis, ikhlasin. Buka hati lo buat orang yang lebih pantas dan berhak." "Kenapa? Kenapa lo cium gue?" Abrar menghela napas pendek. Kemudian membuangnya perlahan. "Tadi lo bilang kan, kalau gue nggak tahu rasanya sakit hati? Karena menurut lo, gue nggak pernah jatuh cinta. Lo yang nggak tahu rasanya jadi gue. Menunggu nggak sebercanda ini Dis. Perasaan gue bukan ayunan yang bisa lo tarik dan lo lempar gitu aja." Ungkapan Abrar tak kunjung dimengerti oleh Disya. "Maksud lo?" tanyanya polos. Dalam d**a sudah meronta-ronta tak karuan. "Lo pikir aja sendiri. Sekarang semua terserah lo. Mau nangis selamanya kek, mau ngejar si cecunguk terus kek, mau apa kek. Itu pilihan lo sendiri. Sakit juga lo sendiri kan yang nanggung!" katanya kesal. "Gue pikir lo bisa melewati masalah ini, tapi kayaknya hati lo nggak serius buat bangkit dari kenyataan. Kemarin-kemarin aja lo sok kuat, sok tegar, sok bikin konten buat nutupin kerapuhan. Sekarang lo nangis kejer kayak gini," lanjutnya emosi. Ia berdiri, tapi Disya meraih tangan Abrar sampai menoleh kembali. "Jawab dulu pertanyaan gue. Kenapa lo cium gue sembarangan? Lo ambil kesempatan dalam-" Lagi-lagi Disya belum sempat mengusaikan perkataan. Abrar lebih dulu menjawab. "Gue suka sama elo. Ralat, gue sayang sama elo. Sayang banget." Singkat, padat, jelas. Tiga kata yang menggambarkan ungkapan Abrar tersebut. Hening. Kebekuan menyergap dinding hati Disya. Tak lama kehangatan menjalar, memecahkan batu es dalam dirinya. Seolah ada lelehan rasa yang tengah mencair dari kutubnya. Gadis itu mendadak tergugu tak bersuara. "Jangan terlalu dipikirin. Gue minta maaf udah kurang ajar barusan. Asal lo tahu Dis, kadang kita bisa lihat jelas bulan di atas langit sana. Tapi nggak bisa lihat ada bintang lebih terang di dekat kita. Matahari. Lo itu matahari buat gue. Gue bisa lihat lo, tapi lo nggak." Sekali lagi Disya terhenyak. Batinnya benar-benar dibuat merinding oleh ungkapan  Abrar yang menurutnya sangat tiba-tiba. "Tapi, gue kira lo benci sama gue-" "Itu perkiraan lo doang kan?" "Sejak kapan?" lirih Disya masih menahan kaget. Abrar mengulum senyum hambar. "Menurut lo?" Tanpa menjawab dengan jelas, empat mata mereka bertemu pandang dalam satu garis lurus. Semilir angin menelisik epidermis keduanya, menghantarkan hawa dingin yang nyata. Namun, pertemuan retina mereka dalam satu tatapan sama, telah memberi makna baru. Hangat. Sangat hangat. Disya tertunduk tak berdaya. Abrar tahu artinya. Gadis itu belum melupakan cintanya sendiri. Sama halnya seperti Abrar, yang tak mampu mengenyahkan sayangnya untuk Disya. "Gue nggak bisa..." ucap Disya pelan hampir tak terdengar. Batin Abrar remuk. Ia tahu akan dapat jawaban begini. "Gue tahu. Gue nggak minta lo balas perasaan gue. Yang gue pengen, cukup lo bahagia dan selalu tersenyum. Itu lebih dari cukup buat gue. Karena tiap kali lo nangis, hati gue merasa bersalah banget." Abrar kembali berjongkok. Mengusap sisa lelehan tangis di pipi Disya. "Sekarang lo tidur. Besok kita harus cabut pagi. Istirahatin jiwa dan raga lo. Nangis boleh, tapi jangan pernah putus asa untuk move on. Gue yakin, Disya yang gue kenal, adalah seorang Disya yang paling tangguh," ucapnya seraya mengacak poni depan sang gadis. Membuat pipi Disya merona merah. "Apaan sih." Disya pun berdiri dan masuk kamar. Sementara Abrar hanya bisa menelan cinta yang lama bertepuk sebelah tangan. "Gue harap lo selalu baik-baik aja..." gumamnya bermonolog. Di balik pintu kamar. Disya menekan d**a berkali-kali. Debaran hebat baru saja terjadi. "Gue kenapa deg-degan gini?!" rutuknya waspada. Jemarinya menyentuh bibirnya sendiri. Teringat ciuman kilat Abrar beberapa saat lalu. Bimbang pun datang menghampiri tanpa permisi. =======♡ Really Lover ♡======= Sekilas sapa_ Makin pada geregetan gak sama dua sejoli ini? Kira-kira Disya bakal gimana ya besok? Kuy, ditunggu komennya. Hehe. Makasih semuanya. Sehat-sehat selalu ya gais. Tetap semangat!! ==============================
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD