Sebuah rasa datang tanpa sengaja
Mengukir tanpa teraba
Menelusup tanpa aba-aba
Hingga jelas tersentuh dalam jiwa...
***
Sepanjang perjalanan kembali ke Jakarta, Disya diliputi perasaan gugup tak karuan. Hatinya bimbang harus bagaimana bersikap sekarang. Ia bingung atas pengakuan Abrar malam lalu. Rasanya semburan ketidakpercayaan antara nyata atau mimpi, terus meluap dari dasar hatinya. Layaknya lumpur lapindo yang belum kunjung henti. Ia khawatir, perasaannya malah akan semakin melebar. Kemudian menenggelamkan ketidakpastian menjadi sebuah kepastian.
Selagi gadis itu asik melamunkan kejadian semalam. Yang sejujurnya terngiang berulang kali dalam ingatan. Terlebih, saat Abrar dengan berani menciumnya tanpa izin. Wajah Disya menghangat. Ia gadis normal. Tentu saja wajar bila dirinya agak goyah. Seseorang di sampingnya sesekali melirik. Abrar sebenarnya jauh lebih gugup. Namun ia pandai menyembunyikannya.
Pramugari datang melempar senyum manis. Menyuguhkan hidangan untuk disantap para penumpang. Hingga tiba di kursi yang ditempati Abrar dan Disya. Anehnya, sampai sang awak kabin berlalu pun, Disya masih terhenyak seperti orang linglung. Matanya menatap luruh ke bangku depannya.
"Dis, makan dulu," panggil Abrar mengingatkan. Tak mendapat respon apapun. Alhasil Abrar mencolek-colek lengan Disya, sampai akhirnya gadis itu tersentak dan tanpa sadar berteriak lantang.
"KENAPA LO CIUM GUE?!" pekiknya membuat seisi kabin mendongak dan menoleh ke arahnya. Begitu sadar dengan ketidaksengajaan yang ia timbulkan, Disya langsung memalingkan muka. Menutup wajah dengan dua telapak tangan, malu bukan main.
Sementara Abrar garuk kepala sambil mengatakan maaf pada para penumpang lain, atas teriakan Disya yang mengganggu. Ia menarik napas panjang sambil menoleh ke arah Disya. Tanpa sadar senyuman tersungging di bibirnya. Dengan begini pria ini pun sadar akan sesuatu. Bawasanya sejak terdiam, Disya sebetulnya sibuk memikirkannya. Maksudnya memikirkan kegilaannya semalam. Nekat mencium tanpa permisi.
"Kalau lo nggak nyaman, mending bilang. Kan gue bisa pindah pesawat lain. Daripada lo diem-diem bayangin ciuman gue terus," ujarnya berbisik.
Spontan Disya menghadap ke arah Abrar. Gadis itu ingin mengumpat. Menyalahkan Abrar karena mencuri bibirnya. Sayangnya, wajah keduanya malah semakin dekat hampir tiada jarak. Jantung Disya berpacu lebih cepat dari biasanya. Ia mundur.
"Jangan ge-er! Gue nggak lagi mikirin ciuman semalem. Gue cuma kesel karena lo udah curi ciuman pertama gue!" keluh Disya mengungkap sebuah fakta baru. Dua telapak tangannya sontak membekap mulut sendiri. Batinnya merutuk, kenapa ia malah membongkar hal tersebut. Sebab, selama berpacaran dengan Adit, jangankan berbagi bibir, untuk saling pegangan tangan saja susah minta ampun.
Dan benar saja, ucapan sekaligus kejujuran tak disangka itu nyaris membuat lengser lembah hati Abrar yang lama gersang dan kering kerontang. Hujan kebahagiaan baru saja mengguyur deras di dalam sana. Ia tak menyangka bahwa dirinya berhasil mendapatkam ciuman pertama dari Disya. Atau lebih tepatnya mengambil paksa.
"Lo serius?" tanyanya masih sangat kaget.
"Lupain! Jangan bahas soal itu lagi! Awas kalau sampai lo bilang ke siapa-siapa!" ancam Disya sok marah.
"Ya nggak apa sih lo marah-marah gini. Gue sih lebih seneng lihat lo ngomel, daripada mewek bombay," sindirnya jujur.
Disya mendelik tak senang, karena Abrar membahas seolah dirinya gadis paling cengeng sedunia. "Gue bilang jangan dibahas lagi! Atau gue aduin ke kak Gibran nanti," celoteh Disya membawa-bawa nama kakak kesayangannya.
Bukannya takut, alih-alih Abrar malah cuek bebek. Jelas saja ia yakin akan menang. Malah senang kalau Disya melapor. Bisa dipastikan Gibran akan langsung menyuruhnya bertanggung jawab dan menikahi Disya. Khayalan yang selalu jadi bunga tidur terindah bagi Abrar, sang pejuang cinta sejati.
"Ish, ini kenapa ikan salmon sih?!" gerutu Disya menyadari menu di hadapannya. Ia alergi terhadap beberapa jenis ikan. Apapun itu pasti akan menimbulkan gatal-gatal hingga kemerahan di badan. Itu sebabnya ia lebih senang makan sayur atau daging daripada ikan.
Mendengar dumelan Disya, Abrar pun langsung memanggil pramugari dan memesan menu lain untuk Disya. Perhatian Abrar yang biasanya terlihat tak kasat, kini seolah menjadi lebih jelas di mata Disya. Ia sadar, agaknya ia terlalu mementingkan Adit sampai lupa pada sekitaran.
"Oh ya, gue mau ngomong sesuatu." Disya menarik napas sebentar. Mengatur kembang kempis paru-parunya. Baru melanjutkan ucapan. "Mulai sekarang, mending lo fokus perhatiin diri sendiri. Temuin seseorang yang tepat buat lo. Gue minta maaf karena belum bisa terima perasaan lo."
"Nggak masalah. Belum artinya masih ada kesempatan kan buat gue?" Abrar malah menantang balik.
"Tapi gue nggak mau kasih harapan palsu nantinya ke elo. Apalagi sampai jadiin lo pelampiasan doang."
"Nggak masalah juga. Gue ikhlas kok. Siapa tahu dengan begitu, lo malah jadi beneran sayang sama gue." Lagi-lagi jawaban Abrar sungguh di luar nalar Disya.
"Gue nggak nyaman kalau lo terus-terusan kayak gini!"
"Jadi, lo mau gue gimana? Ngejauh?"
Ragu-ragu Disya pun setengah mengangguk. Abrar hanya bisa menelan kecewa dalam-dalam. Sudah terbiasa dengan sakit hati yang ia nikmati seorang diri. Baginya, tidak apa tak bisa memiliki. Asalkan, seseorang yang ia kasihi masih ada di muka bumi.
"Lo tahu nggak, kenapa setiap pagi gue selalu semangat pas natap matahari dari balik jendela?"
Pertanyaan Abrar dibalas gelengan kepala oleh Disya.
"Gue seneng. Perasaan gue jadi hangat. Tiap gue lihat matahari pagi, seolah ada lo di depan gue." Ia menatap Disya lekat-lekat. "Nggak apa lo nolak gue. Ini konsekuensi dari perasaan gue sendiri yang terlalu dalem. Gue terima itu," tukasnya tulus.
Dua bola mata kelabu Abrar memandang terang retina gadis di depannya. Disya tak bisa berkata-kata. Hatinya yang beberapa waktu sempat gelap gulita, sekarang menjadi terang benderang. Hanya saja, ia masih belum sadar. Kabut akibat kekecewaan yang ditorehkan Adit menutup makna sesungguhnya dalam jiwa Disya.
Tiba di bandara yang dituju, keduanya langsung menuju pengambilan bagasi. Abrar asik menghubungi seseorang. Disya manyun tak senang, saat nama Tiara terdengar di telinganya. Mereka menarik koper dan menenteng oleh-oleh menuju area penjemputan. Rupanya sudah ada Tiara, Ines, dan juga Gibran di sana.
Disya langsung memeluk kakak iparnya. "Kak Ines, aku mau tinggal sama Kakak aja ya?"
Dari belakang Rahayu menggetok kepala putri bungsunya. Rupanya ibunda Disya dan Gibran juga ikut datang. "Kamu tinggal sama Bunda! Kakakmu sama kakak iparmu sibuk bikin cucu buat Bunda! Jangan diganggu!" seloroh Rahayu melotot pada anaknya.
Di sebelah, Tiara membantu Abrar membawa bawaan. Disya sempat melirik. Pemandangan mereka tertawa bersama, entah kenapa mengusik ketidaknyamanan dalam perasaan Disya. Gadis itu berlalu bersama ibu, kakak, dan kakak iparnya. Meninggalkan Abrar bersama Tiara yang berjalan berdua di belakang. Hatinya geram dan merutuk tak jelas.
Katanya sayang sama gue! Nyatanya jalan sama cewek lain! Dasar manusia hoax!
Batin Disya emosi sendiri.
Di sisi lain, Abrar dan Tiara tengah mendiskusikan persoalan kantor belakangan. Sampai Tiara penasaran akan sesuatu. Dan mengubah topik pembicaraan mereka.
"Gimana? Ada kemajuan sama Disya?" tanyanya.
"Ditolak."
"Serius?"
Abrar mengangguk mengiyakan. Tiara menepuk-nepuk pundak Abrar, berusaha menguatkan sang sahabat. "Tenang, kan masih ada gue? Kalau lo udah bosen ngejar Disya. Kejar aja gue," celetuknya bergurau. Tak ketinggalan ia melingkarkan tangan di lengan Abrar, pura-pura bermanja ria. Niatnya ingin menghibur gundah gulana Abrar.
Tepat saat itu pula Disya menoleh lagi. Ia berhenti mendadak. Dan memandang horor pada Tiara. "Gatel banget sih jadi cewek!" racaunya tanpa pikir panjang. Matanya menyala-nyala melihat Tiara bergelayut pada Abrar. Lalu beralih menatap Abrar. "Lo juga! Ganjen banget jadi cowok! Semua cewek lo pepet! Dasar cowok manipulatif!" omelnya berpaling pada sosok Abrar.
Gibran dan Ines saling pandang. Rahayu juga bingung. Lebih-lebih Abrar dan Tiara. Mereka tampak terbengong semua.
"Wait. Kenapa lo sensi gue gandengan sama Abrar? Bukannya lo nggak suka sama Abrar? Atau jangan-jangan lo cemburu?" Tiara sigap melempar pertanyaan kilat. Ia sadar akan sesuatu. Sebagai sesama perempuan, jelas bisa dipastikan ada kecemburuan tersirat di wajah emosionil Disya.
"Cemburu?! Gue?! Nggak!" Disya panik. Ia balik badan dan berjalan lebih cepat. Salah tingkah.
=======♡ Really Lover ♡=======
Sekilas sapa_
Maaf sebelumnya kalau ceritaku kurang berkenan di hati kalian. Aku cuma berusaha membangun apa yang ada dalam inspirasiku. Kuharap sih sesuai juga dengan selera kalian. Terimakasih atas waktunya bagi yg sudah mampir ke sini. Terus dukung karya-karyaku dengan komen bermanfaat dan love ya gais. Supaya jadi tambahan semangat buatku. Hehe. Kalian luar biasa!! Uwuwu.
===========================