Hati manusia itu ibarat seperti sebuah terumbu karang
Sekeras apapun
Bila sudah tenggelam terlalu dalam
Suatu saat, pasti akan melunak juga...
***
Di kediaman rumah utama keluarga besar Rakabumi, Rahayu sedang duduk santai minum teh di dekat kolam renang. Wanita paruh baya yang masih tampak sehat dan cantik itu sesekali membolak-balik buku bacaannya. Putrinya datang menghampiri. Disya baru bangun tidur, matanya masih mirip mata panda. Sebab beberapa hari belakangan ia memang kurang bisa tidur dengan nyenyak.
Gadis yang mengenakan piama warna merah jambu berlogo LV itu mengucek mata. Bibirnya menguap khas orang menahan kantuk. Kalau saja bukan karena ibunya cerewet menyuruhnya turun untuk bicara, pasti ia akan memilih melanjutkan mimpi indah, yang jarang ia dapatkan beberapa hari ini. Mungkin akibat penat melanda atau sakit hati yang belum kunjung reda juga.
"Anak perawan jam segini masih tidur. Apa nggak dislepet orang itu nanti jodohmu?" sindir Rahayu dengan nada datar.
"Berarti belum jodoh dong Bun. Masih banyak jodoh-jodoh lain yang siap menerima Disya apa adanya," balas sang anak sembarangan.
"Besok malam Arif mau ke sini. Anak itu lagi di Jakarta untuk urusan bisnis katanya. Terus, mau mampir ke rumah."
Perasaan Disya mulai tak enak. Mendengar ibunya menyebut salah satu nama pria tak asing di telinga Disya. Arif adalah anak dari sahabat Rahayu di Jogja. Dulu pernah hendak dijodohkan dengan Disya. Tapi jelas saja Disya yang memang hobi kabur-kaburan tak jelas, menolak dengan tegas. Mana mungkin gadis super pemberontak sepertinya mau menerima dengan pasrah dan mudah akan hal demikian.
"Apa hubungannya sama Disya? Bun, Disya udah gede ya. Nggak mau disamain kayak Situ Nurhaliza yang dipaksa nikah sama Datuk Maringgih," selorohnya percaya diri. Padahal ia salah sebut nama Siti Nurbaya.
"Siti Nurhaliza? Kamu kira penyanyi negara tetangga apa?" dumel ibunya sambil geleng kepala. "Pokoknya besok kamu di rumah aja. Jangan ke mana-mana. Temui Arif. Minimal ajak makan malam atau temani jalan-jalan selagi di Jakarta."
Bibir Disya hampir melontarkan kalimat lagi, namun Rahayu menimpali lebih dulu. "Apa? Mau melawan Bunda? Mau dikutuk jadi anak kodok? Hah?"
Nyali Disya lumayan menciut. Ia kesal. "Bun, Disya berhak memilih. Lihat itu kak Laras, pernikahannya nggak langgeng dan malah berantakan kan? Bunda harus lebih kondusif dong sama anak. Masa mau memaksakan kehendak terus sih," celotehnya gantian setengah menasihati ibunya. Memang Disya paling susah diajak bicara. Untungnya Rahayu sudah antisipasi, guna menanggulangi penolakan macam ini.
Wanita tiga anak itu spontan pasang ekspresi memelas. Satu tangan ia urutkan ke kepala. Wajahnya dibuat-buat mirip orang sakit. "Aduh, kamu bikin darah tinggi Bunda kumat. Kayaknya kamu senang Bunda masuk rumah sakit lagi ya?" ucapnya mengeluarkan jurus andalan. Mumpung Disya belum ambil langkah seribu dengan kabur dari rumah. Ia pun berencana pura-pura sakit agar putri bungsunya menurut.
Benar saja, sebandel-bandelnya Disya sering membantah dan sesuka hati, ia paling tidak tega melihat orang tua atau keluarganya tak berdaya. Terlebih ibunya memang sudah mulai berumur. Beberapa waktu lalu juga Rahayu baru kembali dari rawat inap di rumah sakit, karena penyakit darah tingginya yang mendadak kambuh. Disya sampai rela bolak-balik Samarinda-Jakarta untuk menjenguk sang ibunda.
"Kepala Bunda selalu sakit tiap kamu nggak nurut. Bunda ini sudah sepuh, Nak."
"Iya iya. Besok Disya ajak makan dah itu si Arif!" Akhirnya Disya mengalah walau setengah hati.
Ia lekas memanggil asisten rumah tangga untuk menyiapkan obat milik ibunya. Kemudian berlalu kembali ke kamar. Sepanjang jalan gadis berambut pendek sepundak itu menggerutu tak karuan. Katanya, ia berharap lahir sebagai anak laki-laki agar tak banyak aturan dari ibunya.
Sementara itu di tempat lain, Abrar baru tiba di kantor dan mulai mengecek pekerjaan. Sekarang ia menempati posisi bagian personalia. Tak tanggung, ia menjabat langsung dan merangkap sebagai kepala HRD di kantor pusat, juga Store Manager di supermarket cabang pusat. Memang tidak bisa dipungkiri, kecekatan dan ide-ide brilian seorang Abrar selalu dapat pujian manis dari para dewan direksi utama.
"Masih di sini?" sapa Tiara baru masuk ke ruangan Abrar. Seharusnya Abrar langsung ke supermarket, tapi entah kenapa ia mampir dulu ke kantor.
"Iya. Mau ngecek beberapa berkas. Mungkin bakal gue bawa ke kantor sana."
"Besok Disya mulai kerja juga kan di sana? Anak itu ditawarin jabatan tinggi malah pilih jadi karyawan biasa. Luar biasa selera lo."
"Sayangnya, gue bukan selera dia." Abrar agak sensi. Bila ingat tentang penolakan Disya kemarin, rasanya ada batu besar mengganjal di ubun-ubun Abrar sekarang. Berat dan penat sekali.
"Lo kurang makan Indomie kali. Makanya belom bisa jadi seleranya," canda Tiara.
"Jangan pikirin gue. Kayaknya gue udah mulai pasrah. Nyokap neken terus minta gue cepet nikah. Hampir stres gue tiap kali terima telepon dari kampung. Pertanyaannya cuma seputaran mana calon mantu, mana calon istri. Bosen banget gue."
Tiara mesem. "Sama gue aja gimana? Udah seminggu loh gue free. Cowok-cowok sini ngebosenin banget. Maunya grepe-grepe doang. Belom ada yang berani ajakin nikah," curhatnya.
"Kalau gue sama elo, bumi bisa gonjang-ganjing nanti. Kita tuh ibarat klepon versus pancake. Tahu bedanya?"
Tiara menggeleng bingung.
"Gue kuno. Lo modern. Gue setia lo mendua di mana-mana. Apa kata dunia?" tukas Abrar. Sebenarnya niatnya hanya bergurau saja. Siapa sangka hal tersebut malah menohok perasaan Tiara. Gadis itu membuang napas sebal.
"Gini-gini gue masih virgin ya. Pikiran boleh modern. Tapi budaya gue masih zaman dulu. Gue sama kayak kalian. No married no sex."
Setelah bicara, Tiara pun pergi dengan tampang super duper emosi. Niatnya menghibur Abrar malah ia yang kena tusukan tajam di jantung. Padahal, Abrar tidak membahas ke arah sana. Maklum saja, agaknya Tiara tengah sensitif akibat sedang datang bulan.
Panggilan telepon mengalihkan fokus Abrar pada layar laptop. Dan memaksanya beralih ke ponsel. Ada nama Disya tertera jelas. Ia memicing heran. Ia kira gadis itu benar-benar memintanya menjauh. Ternyata malah duluan menghubungi. Jiwa Abrar yang gamang pun percaya diri kembali.
"Halo! Lama banget sih angkat telepon! Kalau jemuran, mungkin udah keburu basah kuyub kena hujan!" cerocos Disya tanpa salam, tanpa permulaan.
Abrar mengusap kuping sebentar. Kemudian menegur Disya. "Biasakan ucap salam dulu bisa? Lo pikir kuping gue aula drama apa?" protesnya.
"Assalam'mualaikum..." Disya menarik napas pendek. Ia butuh bantuan Abrar, artinya harus baik-baik pada pria ini.
"Wa'alaikumsalam ... kenapa? Kangen sama gue? Atau sama bibir gue yang manis dan ekslusif ini?" goda Abrar sumringah. Pasalnya, ia serasa dapat angin segar sekarang. Jarang-jarang Disya langsung mengikuti instruksinya macam barusan.
"Sekali lagi lo bahas, gue laporin ke polisi! Ngeselin!"
"Kenapa nggak lo laporin aja ke Bunda? Atau ke bos Gibran? Biar kita cepet dinikahkan gitu," celoteh Abrar santai. Ia senang sekali membuat Disya meluap-luap. Membayangkan ekspresinya saja pasti lucu dan menggemaskan.
"Ngarep! Ogah! Biar pun cogan cuma tinggal lo doang di bumi. Gue akan pikir panjang buat jadiin lo suami."
"Wow. Berarti lo mengakui dong kalau gue masuk spesies jajaran cogan?" Abrar menang telak.
Disya kelabakan. "Bukan! Pokoknya gue nggak bakal naksir lo! Titik!" serunya.
"Oh ya? Yakin? Gimana kalau gue tantangin lo. Dalam tiga bulan, kalau lo nggak bisa suka sama gue, lo boleh minta apapun ke gue."
Disya menimbang sejenak. Ia tak suka diremehkan. Meski mulanya ia was-was. "Boleh! Siapa takut!" balasnya sok yakin.
"Tapi, kalau lo suka sama gue lo harus mau jadi istri gue."
Jantung Disya rasanya hampir melompat dari kungkungan. Ia sendiri bingung kenapa debaran terasa menghebat dalam dadanya. Tubuhnya memanas seperti ada sengatan matahari menerpa dirinya.
"Halo? Gimana? Berani nggak?" Suara Abrar membangunkan pikiran senyap Disya. Dengan sedikit tergagap ia pun menyetujui.
"Gue juga punya syarat. Lo harus bantuin gue terbebas dari niat Bunda, buat jodohin gue sama si Arif!"
Gantian Abrar kaget. "Lo mau dijodohin lagi sama itu cowok?!" pekiknya tak terima.
Disya mencibir. "Cemburu ya? Makanya bantuin gue. Sebagai gantinya, lo gue traktir makan enak deh."
"Traktiran makan terlalu murah buat pertolongan gue."
"Jadi, lo maunya apa?"
"Janji sama gue. Lo nggak bakal nangisin cowok lain lagi. Air mata lo itu terlalu mahal buat gue. Bisa?"
Runtuh. Pertahanan Disya untuk menjaga hatinya tetap dalam batasan semakin tak terkendali. Jiwanya bagai dihujani taburan bunga matahari. Tanpa sadar, sebuah senyum simpul terlukis menghias bibir ranumnya.
Apakah ia sudah mulai terjerat pesona seorang Abrar Surendra Randanu?
=======♡ Really Lover ♡=======
Sekilas sapa_
Abaikan jika masih ada tipo merajalela ya gais. #peace
Btw, aku selalu berterimakasih atas komen kalian yang bikin aku makin semangat garap naskah. Tap love juga. Makasih. Tetap semangat dan semoga sehat selalu ya gais. ^^
============================