Setelah Itomi dan Nakano berdiskusi pengganti model terbaru saat ini. Nakano segera menyuruh para fotografer untuk membuat moment menyebalkan bagi Hana Yunanda. Anako sudah di hubungi oleh Itomi langsung acc karena banyak property busananya rusak. Anako bahkan merasa kesal karena photoshoot dihasilkan tidak memuaskan. Hana memang cantik tapi dia kurang profesional bahkan membuat semua orang merepotkan dengan banyaknya permintaan.
"Moshi-moshi, Oniichan.apa rencanamu selanjutnya?" kata Anako disebrang sana dia sedang berada di apartemennya.
"Aku akan berusaha membuatnya merusak dan angkat kaki dari acara pemotretan." kata Itomi drngan tegas.
"Jujur sajah rencanamu lebih baik Oniichan, " ujar anako kegirangan dia lelah menghadapi bernagai macam masalah dengan Hana Yunanda banyak gaun rusak akibat ulahnya.
Pagi yang cerah memasuki ruangan kerja Itomi dia sudah mempersiapkan segalanya. Nakano sudah menyiapkan berkas yang harus ditandatangani oleh Hana Yunanada.
" Apakah ada yang perlu ditambah di bagian ini Itomi?" tanya Nakano untuk sekian kalinya.
"aku rasa kamu harus menambahkan dendanya,"kata Itomi menyeringai senang.
"Baiklah, apa perlu kita buat perjanjian tidak bisa menuntut kepada perusahaan kita atas sikapnketidak profesionalnya?" ujar Nakano mengetik sisa berkas akan diserahkan olehnya kepada Itomi.
"Aku rasa cukup dengan ini sajah " lanjut itomi dengan perasaan senang.
"Ngomong-ngomong Otosan-Mu menghubungiku katanya minggu depan kau akan di Jodohkan dengan anak aalah satu kolegamya,namanya Mimi Susane," jelas Nakano kepada Itomi kaget.
"Haish baru berumur 30 tahun, Otosan selalu ikut campur dengan urusan pribadiku." seloroh Itomi drngan nada kesal.
"Siapkan dirimu Bro,kau tidak mau dijodohkan segera cari teman kencan atau bahkan calon istri," ujar Nakano berlalu meninggalkan Itomi diruanganya, karena dia mau membuat print out naskah kerja tadi.
Itomi merasa kesal dan berusaha untuk tetap tenang hari ini di harus menyingkirkan biang masalah dikantornya dulu, baru berfikir cara menghindari perjodohan dengan Mimi Susane.
Di sisi lain Sonoko hari ini berangkat dengan kerja muka ceria. Dia tidak.menyangka Windi memberitahu dia akan mengambil gambar Sonoko lebih banyak untuk mengganti Hana di bagian Brand Ambasador.
"Bi,i aku berangkat kerja dulu yah,"ujar sonoko kepada bibi ana sambil tersenyum.
" Aku rasa ada berita gembira hari ini yah Sonoko,"timpal bibi ana dengan nada senang dengan apa diraakan keponakannya itu
.
" Syukurlah kalau memang ada hal baik, jangan lupa beritahu nenek dan orang tuamu," kata nenek Sonoko menegaskan.
"Baik, tapi kayaknya belum saat aku beritahu lagi pula baru.mendengar bwrita gembiranya hari ini," kata Sonoko riang dan.menyambar sandwich buatan nenek tercinta.
Suara ketekuan pintu membuat semuanyang berada di ruang makan menjadi diam. Bibi Ana juga kaget karena tidak biasanya ada yang mengetuknpintu sepagi ini telatnya 1 minggu terakhir ini.
Sonoko berinisiatif membuka pintu rumah neneknya itu dengan senang hati.
"Paket neng, atas nama Ana Marlinda, buket bunganya,mohon di terima," ujar kurir itu memberikan biket bunga dengan bentuk hati kepada Sonoko.
"Masih tidak ada nama pengirimnya yah,bang?" seloroh Sonoko dengan antusias.
"Yah,kita mah kurir kirim paket buket gini ngak tahu siapa neng, wajahnya ajah ngak pernah saya lihat ditoko kami, cuman kabarnya dia teman owner toko bunga kami," seloroh kurir itu dan memberikan buku bukti barang sudah diterima pihak penerima dan menyodorkannya pada Sonoko.
"yah, si abang ngak seru ini, tapi baiklah kalau ada gosip lagi tentang si pengirim bunga kasih tahu yah bang, ini tips buat abangnya," seraya memberikan uang terimakasih kepada kurir itu dan Sonoko menutup kembali pintu rumahnya.
Setekah masuk kembali Sonoko meletakkan buket bunga itu diruang tamu. Sonoko kembali kemeja makan dengan hati riang dan menggoda bibinya lagi.
"Pakeg Buket seprti biasa berwarna pink dan merah berbentuk hati, akh abangnya payah nih infonya sedikit," seloroh Sonoko sambil menarik kursi dekat dengan bibinya.
"Pakai acara rahasia-rahasia segala memang anak muda jaman sekarang aneh. Nenekmu sajah dikasih suarat cinta oleh kakek dibubuhkan namanya.Ini malah ngak dikasih tahu namanya siapa. Asal jangan Gunawan ajah yang ngirim paket itu kekamu,Na. Mama ngak akan terima dia jadi menantu mama ingat itu,Na." ketus Nenek Sonoko dengan penuh harap.
"Iyah, barangkali memang bukan dia,ma. Aku juga ngak mau berhubungan dengan Gunawan apalagi keluarganya selalu merendahkan kita.Aku sajah tidak pernah memberintahu latar belakang keluarga kita sesunguhnya,"ujar Bibi Ana yang nampak kesal.
"Tak usah dipusingkan,bi. Lagopula orang bodoh meninggalkan bibi." seloroh Sonoko terbawa suasana.
"Makan makananmu ini nenek buatkan bekal makan siang hari ini ada udang mayones dan brokoli kesuakaanmu. Nenek berikan jus buah stawbery kesukaanmu yah,"kata Nenek Sonoko sambil merapihkan bekal yang akan dia berikan.pada cucu tercintanya.
"Ma, aku juga mau jangan diberikan pada Sonoko semua nanti saiang aku makan apa," seloroh bibi ana merajuk kepada mamanya.
"Ini punyamu dan ingat jangan termakan omongan laki-laki seperti Gunawan lagi. Cukup kau diperdaya sekali." kata nenek Sonoko dengan tegas.
"Baik,ma.Ayo Sonoko kita berangkat. Aku tidak mau telat pak Alvian pasti sudah menunggu meeting hari ini amat penting," seloroh Bibi Ana lagi dengan cepat menyambar kotak bekal dan Kunci mobilnya diberada diruang tamu.
"Baik, ini sudah selasai, Nenek aku berangkat dulu yah," kata Sonoko aambil berlalu meninggalkan riang makan dan berlari kecil kearah ruang tamu, kemudian menutup pintu rumah neneknya dengan kunci.
Kemudian setelah dimobil Sonoko kembali meledek bibinya.
"Wah, Bibi sekarang pakai parfum apa harum sekali," seloroh Sonoko menggoda bibinya.
"Aku pakai parfum biasanya," dusta Bibi Ana menyembunyikan sesuatu.
"Benarkah, hem. Aku rasa kau jatuh cinta bibi." mukamu memerah sekarang seperti kepiting rebus.
"Akh, benarkah apakah terlihat jelas? aku bingung dengan sikap Alvian dia sangat aneh belakangan ini"ujar Bibi Ana kepada Sonoko dengan raut muka serius.
"Owh,ayolah, aneh seprti apa memangnya bi?" kata Sonoko bingung.
"Dia selalu menanyakan apakah ada kurir kirim paket setiap hari akhir-akhir ini," curiga bibi Ana pada Alvian.
" Aku rasa aku tahu siapa mengirim bibi buket sekarang ini, cinta bibi tidak beetepuk sebelah tangan sepertinya. Masih butuh 1 pembuktian sih," ujar Sonoko dengan semangat dan membisikan sesuatu kepada bibinya.
"Baiklah, akan aku coba semoga berhasil." ujar bibi Ana senang.
Sonokopun turun setelah sampai di tempat kerjanya. Hari ini pasti akan melelahkan mengingat jadwal pemotretam diberikan padat sekali. Windi dan imelda sudah menunggu diruangannya untuk melakukan make up dengan mereka berdua. Tidak berapa lama kemudian terdengar suara gaduh berasal dari ruangan sebelah.
"Aku Hana Yunanda kau tahu, aku cantik seksi dan banyak penggemar kenapa kau melakukan seperti ini mau cari mati?" kata Hana sedang memarahi fotografernya.
" Ini Perintah Nona dari Ceo kami langsung Tuan Itomi," seloroh sang fotografer jengkel.
" Apa-apaan pakian kalian berikan lusuh semua kau tidak lihat dan apa kau buta,ini tidak layak untu aku pakai, aku fotoshoot bukan untuk jadi gembel. Kau juga sebagian bagian desain busana masa tidak bisa memberikan aku busana pakian yang indah seprti minggu lalau," ujar Hana dengan nada jengkel.
" Kau bukan bos kami yah camkan itu, Anako.menyuruhku untuk memberikan busana pakian itu. Karena ulah konyolmu membuat semua pakaian yang.bagus kemarin menjadi rusak. Kami.masih membutuhkan waktu membenarkannya," seloroh Nanami bagian desain busana dengan.kesal.
"Kalian bekerjasama untuk membuatku kesal. Apa-apaan perusahaan ini, aku ini model ambasadornya." titah Hana Yunanda berteriak seperti orang gila.
" Owh ayolah, jangan berkerumumun" ujar salah satu staf seraya mengusir rekan-rekan lainnya.
"Panggilkan Itomi dia harus bertanggung jawab," ujar Hana kesal setengah mati.
" Aish, Wanita ini selalu merepotkan, kami akan panggil dia, tapi kau harus tahu bisa memangil bos kami artinya mencari mati," seloroh Nanami mengingatkan Hana.
"Bodo amat aku tidak terima dengan perlakuan kalian," ujar Hana nampak mukanya merah karena marah.
Nakano dihubungi oleh Nanami segara memberitahu Itomi. Itomi tentu sajah senang dengan perilaku Hana. Rencananya Itomi sangat mulus Hana memang berbakat dalam mengali lubangnya sendiri. Star syndrom dideritanya memang sudah ditaraf rata-rata.
" Ada apa, kenapa kau memanggilku kesini aku ini bosmu ingat," kata Itomi dengan nada tegas.
"Hoy, ayolah ini keadaan darurat semua photoshoot tidak sesuau dengan keinginanku," kata Hana jujur.
" Kauntahu saat kau tanda tangan kontrak kerja artinya kau harus mengikuti semua perintah aku berikan." kata Itomi memndominasi.
" Aturan perusahaan kalian aneh, bayangkan sajah aku cantik dan seksi harus menggunakan pakaian lusuh tadi untuk photoshoot?apakah kau buta Tuan hey, bangunlah?"kata Hana Mengeretaknya.
"Kau berani sekali memangil Bosmu dengan kata-kata seperti itu,"Hardik Nakano kesal.
"Kau bukan bosnya,Dia bosnya,"kata Hana sambil menunjuk Itomi.
"Hentikan sekarang, Tanda tangan suratbperjanjian ini dan jangan pernah muncul lagi di kantorku," kata Itomi kepada Hana Yunada dengan tegas.
"Dengan senang Hati Tuan Bodoh,"kata Hana Yunanda dengan ceoat menandatnganinya.
" Nakano, bawa dia keluar dan seret dia sekarang juga." kata Itomi dengan tegas.
" Kalian semua keluar dari sini, tidak ada tontonan lahi," kata Nakano sambil menyeret Hana Yunanda.
"Setan kalian semeua tunggu pembalasanku, Terutama kau Itomi kamu menyebalkan,"kata Hana Yunanda sambil berlalu dan meninggalkan kantor itu sendiri.
"Lanjutkan pemoteratannya jangan ada kesalahan, satu lagi bawa kertas tadi keruanganku Nakano ini perintah,"kata Itomi dan berjalan menuju ruangannya kembali.
Photoshoot tetap dilanjutkan dengan model barunya Sonoko. Fotografer sangatnouas begitu juga para make up artis karena Sonoko bisa siajak kerjsama. Hasil foto tersebut dapat dicetak minggu depan.