10. Gadis Bermata Jelita

1238 Words
Khayra Aulia Walidain, nama yang terasa asing di telinga Aksa. Meski sudah beberapa kali mendengar dari bibir Rania. Namun Aksa sangat tidak berharap untuk bertemu dengan gadis itu. Sayangnya Aksa sudah terjerat oleh hutang janji yang wajib dia tepati. Amanah terakhir Rania yang mengatakan jika tiba saatnya Rania pergi, maka Aksa harus bersedia untuk meminang adik semata wayangnya, Khayra. Aksa masih enggan membuka hati. Buatnya cinta itu cuma ada satu, dan hatinya telah terisi penuh oleh Rania. Mana mungkin perasaan bisa bergeser dengan cepat hanya dalam hitungan hari. Bagi Aksa komitmen adalah wajib dijaga. Dia ingin cintanya abadi bersemayam dalam sanubari. Nyatanya takdir telah mengajarkan bahwa sehebat apapun rencana manusia, tetap Allah sebagai penentu akhirnya. "Mas Aksa, aku mau cerita tentang Khayra. Dia adikku satu-satunya. Sebenarnya kami ini sepupu, karena sejak kecil Khayra sudah tinggal bersamaku Abbah-ummah, makanya aku lebih suka menyebutnya adik. Kamu pasti akan jatuh cinta saat bertemu dengannya nanti." Aksa menghela napas kala teringat kalimat Rania. Lihat saja, gadis yang waktu itu sedianya akan dinikahi malah bercerita tentang perempuan lain. Aksa tidak habis pikir. Apa perasaan Rania tidak perih harus membagi cintanya. "Cintai dan perlakukan Khayra sama seperti Mas mencintaiku. Janji ya, Mas." Lagi, telinga Aksa berdengung rasanya jika suara Rania terngiang kembali. Aksa menerima permintaan Rania, semata hanya ingin melihat binar di mata perempuan yang dicinta itu tidak akan redup. Tanah kuburan almarhum ibu masih basah, dan Abbah datang membawa kabar serta seorang gadis di hadapan Aksa. Sore yang sejuk oleh guyuran hujan. Embus sepoi angin terpa wajah siapapun. Kala duduk di tebir teras salami setiap tamu yang datang sampaikan salam takzia, kedua netra Aksa bersinggungan dengan gadis asing yang baru dia lihat. Tidak bohong, binar mata si gadis memancar cerah. Tuturnya anggun dan lemah lembut. Persis Rania. Hanya wajah mereka yang berbeda. Rania memiliki mata yang cekung, maniknya bundar, hitam legam. Sedang Khayra bermata cokelat dan agak sipit. Kontras dengan kulitnya yang putih ibarat pualam. Jelita sekali, selaras dengan postur tubuh yang tidak tinggi, tidak juga mungil. "Abbah, terima kasih sudah datang." "Abbah tidak perlu menjelaskan lagi, kamu pasti sudah paham maksud kedatangan Abbah ke sini, Aksa." Aksa mengangguk patuh. "Bakda isya ini Abbah sendiri yang akan nikahkan kalian. Lebih cepat lebih baik. Amanah harus dilaksanakan. Kamu tidak keberatan kan, Aksa?" Kalimat Abbah ibarat tancapan paku di hati Aksa. Jika boleh jujur, agak berat Aksa terima pernikahan keduanya ini. "Insya Allah, Abbah. Saya siap." "Khayra, bagaimana Nduk?" "Khay ikut Abbah saja, pilihan Abbah Khay yakin itu yang terbaik." Gadis itu menunduk dengan kedua pipi membias rona merah. Aksa meliriknya sekilas. Rasanya masih tidak percaya bahwa dalam kurun waktu yang berdekatan dia akan melaksanakan ijab qobul untuk kedua kalinya. *** Bakda isya, seperti kata Abbah, bahwa ini akan menjadi hari sakral kedua kalinya untuk Aksa. Khayra didampingi Bu Nyai sudah didandani layaknya pengantin. Gamis berwarna putih s**u dengan aksen renda serta hijab senada sudah membungkus tubuh ramping serta kepalanya. Tidak ketinggalan polesan make up natural sapu permukaan wajah cantik Khayra. Menambah kesan ayu tapi tidak berlebihan. Pak penghulu sudah datang, Abbah menjadi wali nikah Khayra, sedang untuk saksi ada beberapa santri kepercayaan Abbah yang ikut serta datang. Gus Ammar serta sang istri ikut hadir di acara akad sederhana ini. "Saya terima nikah dan kawinnya Khayra Aulia Walidain binti almarhum Aulia Walidain dengan mas kawin tersebut tunai." Para saksi dan semua merapal kata 'sah' Sah sudah Aksa dan Khayra sebagai suami-istri sekarang. Tidak ada desir apapun saat Khayra mengambil tangan Aksa untuk dia kecup sebagai bakti pertamanya seorang istri. Pun dengan Aksa, tidak ada kecupan di kening Khayra. Hanya bacaan doa kebaikan serta tangan Aksa yang menyentuh ubun-ubun Khayra. Acara berlangsung sangat sakral dan khidmat. Usai pembacaan khutbah nikah, dilanjut sungkem pada Abbah dan Bu Nyai. Khayra menitikan air mata saat Abbah memberi wejangan serta nasihat. Usai acara rombongan Abbah langsung pamit pulang ke Pacitan. Rumah Aksa masih ramai hilir mudik tamu datang untuk takzia. Bakda isya juga diadakan tahlil untuk almarhum ibu Aksa. Khayra memasuki kamar yang ditunjukkan Aksa. Gadis itu memutar pandangan mengitari seantero ruang pribadinya kini. "Pakailah kamar ini. Sementara saya masih ingin sendiri, kamu paham, kan?" Ucapan Aksa merasuk dalam otak Khayra. Dia mengangguk paham saat lelaki yang baru menjadi suaminya itu memintanya tidur di kamar terpisah. Khayra tahu betul bahwa duka masih selimuti hati sang suami. Khayra segera tanggalkan semua aksesoris yang melekat di hijab dan tubuhnya, sejurus segera memasuki kamar mandi guna mengguyur badannya yang terasa gerah. Khayra rebahkan badan di ranjang usai tunaikan salat Isya. Jam mengarah ke pukul 21.00, sudah satu jam Khayra berbaring, tapi matanya belum bisa terpejam sempurna. Bohong rasanya jika Khayra tidak mengharapkan sedikit perhatian Aksa. Mungkin sekadar mengucapkan selamat tidur, atau membawakan sesuatu untuk Khayra makan. Perutnya terasa keroncongan, siang tadi hanya makan sedikit kue karena sibuk menerima ucapan tamu yang datang takzia sekalian memberi ucapan doa selamat. Khayra putuskan keluar kamar karena tenggorokannya terasa kering. Lewati ruang tengah, mata Khayra membeliak saksikan Aksa tidur miring di sofa tunggal. Khayra menekuk kaki, bersimpuh di dekat sofa, tangannya terulur sentuh bahu Aksa, agak ragu, tapi dia beranikan diri, "Mas, bangun, kenapa tidur di sini?" Ucapnya pelan. Aksa hanya geliatkan tubuh, tanpa membuka mata. Khayra sekali lagi menepuk kecil lengan Aksa, berharap lelaki itu akan merespon lebih. "Kenapa mengganggu! Saya ini lelah, baru bisa istirahat!" Sentak Aksa saat matanya terbuka lebar. Khayra terkesiap. Kaget dengan kalimat tendensius lelaki yang baru beberapa jam menjadi suaminya itu. Khayra menelan salivanya sendiri, sesak diam-diam himpit hatinya. Kenapa Aksa harus berucap sekadar itu. Padahal niatnya baik, hanya ingin bangunkan agar Aksa bisa tidur dengan nyaman di ranjang kamarnya. Aksa langsung menegakkan tubuh dalam posisi duduk. Wajahnya menyiratkan sesal karena telah tidak sengaja membentak Khayra, "Maaf!" Cuma itu yang meluncur dari bibirnya. "Aku yang minta maaf, Mas, nggak semestinya ganggu tidur kamu." Khayra yang dalam posisi sudah berdiri hendak berbalik tinggalkan Aksa, tapi lelaki itu menahan. "Ada yang ingin saya bicarakan sebentar. Duduklah!" Perintahnya. Khayra menurut, dia duduk di sebelah Aksa agak berjarak. Ada keheningan sejenak sebelum Aksa mulai membuka suara. "Apa yang ingin Mas Aksa bicarakan?" Khayra beranikan bertanya duluan. "Seperti yang kamu tahu, kita menikah karena saya harus menjalankan wasiat Rania. Jadi, saya harap kamu tidak menaruh harapan lebih untuk saat ini. Apalagi saya masih dalam kondisi berduka. Dua perempuan yang paling berarti dalam hidup saya harus pergi dalam kurun waktu bersamaan." "Aku paham Mas. Kamu tidak usah khawatir. Dari awal aku udah tahu bakal kayak gini." Khayra tertawa lirih. Sejak awal Rania memintanya menggantikan sebagai istri Aksa, Khayra sudah mengerti pasti ini akan sulit. Mana bisa dengan cepat mengubah perasaan seseorang. Pasti butuh waktu dan kesabaran. Rania selalu meyakinkan bahwa Khayra adalah perempuan terbaik yang akan mendampingi Aksa. Meski awalnya ragu, tapi karena rasa cinta Khayra pada sang kakak, dia rela menikahi Aksa. "Maafkan saya, Khayra." "Mas tidak perlu minta maaf. Aku cuma minta satu hal." "Apa itu?" "Biarkan aku menjalankan tugas sebagai layaknya seorang istri. Jangan salah paham Mas, yang aku maksud tugas seorang istri adalah memenuhi semua kebutuhan kamu, kecuali..." Khayra jeda kalimatnya. "Ya, silakan. Kamu bebas mengurus rumah ini. Silakan lalukan apapun yang menurut kamu benar. Kecuali mendekati saya. Paham?!" Khayra membalas ucapan Aksa dengan anggukan kecil. Dia sudah tahu bahwa Aksa pasti akan mengatakan hal ini. Tidak masalah baginya. Rania pernah memberi nasihat, bahwa cinta itu bisa tumbuh seiring berjalannya waktu. Dan, Khayra berjanji kalau suatu saat dia akan bisa menaklukkan hati Aksa. ******Ketika Cinta Bersanding******* Bersambung ....
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD