Aksa termenung duduk di tebir teras ndalem. Ekor matanya mengamati setiap tamu Abbah yang hadir untuk menghaturkan salam takzia. Aksa hanya menyalami sepintas, tidak ingin ikut ke dalam obrolan. Batinnya masih terlalu sakit apabila ingatannya terus saja berkelebat tentang Rania. Apalagi setiap tamu yang hadir tanpa sadar selalu mengulik kenangan akan Rania.
"Sa, yang ikhlas ya, Nak." Ibu menghampiri, usap lembut bahu Aksa untuk tenangkan. Ibu tahu jika anak laki-lakinya sedang terluka.
"Insya Allah, Bu. Doain Aksa ya, Bu."
"Ibu pasti selalu doakan, Nak. Yang penting kamunya juga harus ikhlas."
"Ibu di sini aja ya, Aksa ingin dekat-dekat sama ibu," ujar Aksa tiba-tiba. Entah, dia sendiri heran kenapa rasanya tidak mau jauh dari ibu. Aksa merasa takut jika ibu juga akan meninggalkan-nya seperti Rania.
"Ayah bilang nanti sore bakda ashar ingin kembali ke Surabaya. Ada pekerjaan yang menunggu, Nak. Lagipula kasihan Bu Dinar dan Shila, sendirian di rumah." Ibu berkilah.
Entah kenapa Aksa rasanya berat sekali harus melepas ibu kembali ke Surabaya. Rasa takut kehilangan seperti Rania yang telah meninggalkannya untuk selamanya.
"Apa tidak bisa ditunda, Bu? Aksa benar-benar khawatir sama ibu."
Ibu elus lembut pundak Aksa guna tenangkan putranya, "Ibu harus ikut ayah, Nak. Kamu yang tabah ya, yang bar ikhlaskan semuanya. Pesan ibu cuma satu, bagaimanapun keadaan kamu, jangan pernah tinggalkan shalatmu, Nak."
Aksa makin tak karuan mendengar nasihat ibu. Baru sebentar hubungannya dengan ibu membaik, ibu banyak mengajarkan tentang hal kebaikan.
Bakda ashar dan setelah salat berjamaah di masjid, ayah dan ibu pamit kembali ke Surabaya. Aksa antar sampai ke depan gerbang pesantren. Hatinya berat melepas kepergian ibu. Pelukan hangat serta kecupan kasih sayang tidak lupa Aksa urai pada Ibu, juga lantunan kalimat agar ibu selamat sampai tujuan.
Aksa untuk pertama kali menapakkan kaki di kamar Rania. Abbah dan ummah menyuruhnya menempati kamar Rania. Kamar yang sekiranya akan dia tempati bersama mendiang Rania, di sana Aksa kuliti setiap sudut ruang pribadi almarhum istrinya tersebut. Di dinding ada foto Rania berukuran 20 R terpampang, Aksa lama pandangi foto tersebut dengan decak kagum dan buncah rindu. Rania terlihat cantik sekali, mengenakan abaya berwarna hitam, senada dengan kerudungnya. Senyumnya memancar damai.
Aksa rebahkan badan di ranjang, sekadar hilangkan penat yang melanda sejak kemarin. Teringat satu hal, Aksa keluarkan sesuatu dari tas ransel. Benda yang kemarin Abbah berikan sesaat setelah pemakaman Rania usai. Aksa langsung tegakkan badan kembali, mulai fokus dengan benda di tangan. Amplop seukuran sedang bewarna putih, Aksa sobek ujungnya guna keluarkan isinya.
Teruntuk calon suamiku, Mas Aksa. Assalamualaikum warahmatullahi Wabarakatuh ...
Mungkin, saat membaca surat ini aku sudah pergi jauh dari dunia.
Mas, seperti yang sudah kita sepakati sebelum pernikahan kita. Bahwa syarat mutlak aku mau terima pinanganmu adalah kamu juga harus mau terima adikku sebagai penggantimu kelak saat aku tidak lagi di sisimu.
Khayra Aulia Walidain, namanya cantik ya, Mas. Secantik akhlak dan parasnya. Aku menjamin kalau ku tidak akan menyesal telah terima syaratku.
Maafkan aku yang harus pergi mendahului. Doaku selalu semoga kamu selalu Istiqomah, bahagia selalu. Perpisahan, cepat atau lambat pasti akan terjadi, namun satu yang harus kamu tahu. Aku mencintaimu saat kamu memintaku jadi istrimu. Cinta yang akan kubawa sampai pada keabadian.
Kalau Mas Aksa juga mencintaiku, maka aku cuma minta, ikhlaskan kepergianku. Jalani hidup seperti biasa. Kamu harus tetap semangat.
Aksa tak kuasa titikkan airmata. Begitu lembut dan santunnya kalimat Rania membuatnya merasakan haru sekaligus nyeri di ulu hati. Belum sempat Aksa belai pipinya yang gembil dan kemerahan saat tersenyum malu. Belum sempat kedua tangannya rengkuh Rania serta membisikkan kalimat-kalimat cinta dari dasar hati.
Khayra. Nama yang telah menganggu ketenangan Aksa saat ini. Kenapa harus ada nama lain, padahal Aksa ingin terus merengkuh bayang Rania dalam ingatan.
Aksa belum bertemu dengan gadis bernama Khayra tersebut. Hanya saja Abbah sempat cerita jika Khayra sedang perjalanan menuju ke pesantren ini. Aksa juga mendengar cerita dari Abbah, jika Khayra yang mereka anggap sebagai anak sendiri merupakan putri almarhum kerabat Abbah. Kedua orangtua Khayra pergi untuk selamanya dalam sebuah kecelakaan, karena itu Abbah ddan ummah mengambil alih pengasuhan Khayra.
Lamat-lamat lantunan surah Al Kahfi terdengar syahduh di tengah malam ini. Hujan rintik-rintik di luar keluarkan hawa dingin melumat tulang. Aksa tidak tahu tertidur jam berapa di kamar Rania ini. Yang dia ingat hanya, sesaat sebelum merebahkan diri Aksa sempat tunaikan salat isya di kamar ini.
Suara ketukan pintu cukup keras menggugah Aksa dari tidur pulasnya. Suara Gufron di depan pintu memanggil-manggil dengan cukup kencang.
"Kang Aksa, assalamualaikum Kang."
"Wa'alaikumussalam, bentar Guf." Aksa beranjak dari kasur, sejurus membuka pintu. Gufron berdiri tepat di depannya dengan raut yang sulit diartikan.
"Ada apa, Guf? Sepertinya sangat penting sekali?" Aksa mengucek kedua mata, sejurus melirik arloji yang dikenakan. Pukul 24. 30, masih sangat larut malam untuk membangunkan tahajjud.
"Anu, Kang. Ada kabar kurang enak."
Wajah Gufron terlihat pucat saat sampaikan pada Aksa.
"Kabar kurang enak?" Aksa kernyitkan dahinya, bingung.
"Anu-Kang, mobil orangtua Kang Aksa mengalami kecelakaan di tol."
Hati Aksa mencelos. Bibirnya kelu untuk beberapa saat.
"I-ibu ...." Aksa langsung meraih ponsel dan dompet di nakas, sejurus melengang. Gufron mengikuti dari belakang.
"Aksa ...." Abbah sudah menunggu di ruang tamu ndalem.
"Bah, apa benar kalau mobil ayah dan ibu kecelakaan?" Aksa masih mencari jawaban lain. Barangkali Gufron salah memberi info.
Abbah diam tidak menjawab pertanyaan Aksa. Dari raut wajah Abbah menyiratkan kesungguhan. Dalam hati Aksa hanya terbayang keadaan ibu. Bagaimana ibu sekarang. Apa baik-baik saja. Aksa benar-benar cemas tak terarah.
"Pergilah dengan Gufron, jangan menyetir sendiri, biar Gufron yang bawa mobilnya. Nanti Abbah akan menyusul."
"Baik, Bah."
Aksa cepat melangkah, rasnaya sudah tidak sabar ingin memastikan kalau ibu baik-baik saja.
Gufron membawa mobil dengan kecepatan yang lumayan. Berkali-kali Aksa menegur agar Gufron mempercepat laju kendaraan yang mereka tumpangi.
"Sabar, Kang. Mending Kang Aksa banyak doa sama berpikir yang baik-baik," tutur Gufron memperingatkan. Pasalnya dia sendiri mulai ikut cemas melihat Aksa yang tidak tenang. Padahal menyetir membutuhkan konsentrasi yang tajam.
Sampai di parkiran RSUD dr. Darsono, Aksa langsung berlari menuju bangsal instalasi gawat darurat.
"Suster, pasien korban kecelakaan di tol?" Tanyanya dengan napas ngos-ngosan.
"Sudah dibawah ke ruang operasi. Ada pendarahan di otak. Maaf, Mas siapanya pasien? Bisa ikut saya sebentar untuk kepentingan administrasi?"
"Sus, siapa yang dibawa ke ruang operasi? Laki-laki apa perempuan?"
"Laki-laki, Pak."
Aksa embuskan napas lega. Kalau ayah yang dibawa ke ruang operasi, berarti keadaan ibu baik-baik saja. Mungkin sekarang sedang di ruang perawatan.
"Itu ayah saya, Sus. Kalau ayah saya yang masuk ruang operasi, berarti ibu saya pasti di ruang perawatan kan, Sus?"
Suster berbaju hijau itu terdiam sejenak. Aksa makin tidak sabar menunggu jawabannya.
"Suster?"
"Yang kecelakaan di tol, satu bapak-bapak selamat dan luka parah, sekarang sedang di ruang operasi. Sedang satu lagi seorang ibu ..." Suara suster menjeda.
"Satu lagi seorang perempuan. Itu ibu saya, Sus."
"Satu lagi ibu-ibu, beliau tidak selamat, Mas. Waktu dibawa ke sini denyut nadi sudah tidak teraba. Waktu kematian pukul setengah dua belas." Penjelasan suster ibarat lemparan di ulu hati Aksa.
Lelaki itu merosot ke lantai. Batinnya mencelos mendengar kabar yang disampaikan suster.
"Nggak mungkin. Ibu saya pasti selamat. Ibu nggak mungkin pergi secepat ini!" Aksa meraung terduduk di lantai bangsal rumah sakit. Kedua tangan menjambak rambutnya sendiri seolah tidak ingin mempercayai ucapan suster. Gufron setengah berlari dari arah parkiran. Langsung hampiri Aksa yang sedang histeris.
"Kang yang sabar. Istighfar, Kang."
Aksa tergugu. Tangisnya pecah saat ini. Gufron masih terus coba tenangkan Aksa.
Rasanya masih tidak percaya. Padahal tadi siang Aksa masih rasakan pelukan ibu. Dekap hangatnya, bisikan kasih sayangnya. Juga nasihat-nasihat yang selalu ibu tuturkan.
Rasanya baru kemarin Aksa memperbaiki hubungannya dengan ibu. Belum puas rasanya meniti bakti pada sang ibu. Hati Aksa hancur, terasa menjadi kepingan-kepingan kecil tak bermakna.
Ibu. Salah satu pintu datangnya keberkahan. Lewat doa-doanya, lewat cinta kasihnya. Sekarang, hilang sudah satu pintu keberkahan itu.
Aksa masih terus memukul dirinya sendiri. Firasatnya menjadi nyata, bahwa sejak tadi siang perasaan sudah tidak enak saat ibu pamit pergi.
"Kang, sabar ya. Ikhlaskan ibu."
Gumaman Gufron tidak bereaksi apapun. Tidak segampang berucap. Ikhlas memang mudah diucap, tapi berat jika dijalani. d**a Aksa kembang-kempis menahan sesak yang meruangi hati.
***
Sayyi meremas kertas tebal yang ada di tangan. Saking kuatnya genggaman dalam kedua tangannya sampai terlihat memerah. Ingin rasanya Sayyi merenyuk, lalu membuangnya ke tempat yang jauh. Batin Sayyi benar-benar telah sakit. Kertas yang ada padanya tak lain secarik undangan pernikahan Adnan dengan gadis pilihan ibunya.
Sayyi menangis dalam diam. Lebih dari itu, batinnya merasakan kedukaan. Kenapa dia harus sesedih saat ini, layaknya separuh jiwanya telah pergi.
"Maafkan Mas, Dek. Ibu tidak mau menunggu lagi. Saat Mas katakan bahwa Dek Sayyi masih ingin lanjutkan kuliah, ibu sangat sedih. Semakin hari ibu bertambah tua, Mas harapan satu-satunya ibu-ingin segera memiliki menantu lalu menimang cucu. Kemarin ibu mengajak Mas ke Kalianda. Mas kita ibu mengajak silaturahim ke rumah saudara kami. Ternyata ibu mendatangi rumah Pak Haji Aswan-guru ngaji Mas waktu kecil. Niat ibu melamar Sofia, putri Pak Haji Aswan. Ternyata lamaran ibu langsung diterima. Dan aku ..., Aku tidak bisa menolak keinginan ibu, Dek."
Sayyi masih mengingat dengan jelas setiap kalimat penjelasan Adnan. Sayyi tidak bisa apa-apa lagi. Marah pada Adnan juga bukan hak-nya, sebab semua terjadi atas pilihannya sendiri. Andai ibu tidak menyuruhnya melanjutkan kuliah kebidanan. Andai kemarin ibu memberinya restu menerima pinangan Adnan.
Mohon doa restu
Adnan Izzaldin
&
Aya Sofia
Mata Sayyi memburam saat sekali lagi membaca dua nama yang tertera di sampul undangan berwarna cokelat tersebut.
Dia tidak menyangka bahwa kisah yang belum dimulai itu kini telah kandas. Menyisakan perih tak berkesudahan di hati.
Malam makin larut. Bumi seolah membeku, sunyi. Remang cahaya rembulan juga sirna tertelan mendung hitam. Tinggal menunggu waktu, badai hujan akan guyur semesta.
Layaknya hujan yang disertai Guntur. Selepasnya akan muncul gurat pelangi.
Sayyi harap, setelah duka dalam hati, akan bahagia yang menanti di luar sana.
************Bersambung************
Wah, Mbak Khayra sebentar lagi go publik nih.