"Khay, masih pusing, Nduk? Ayo cepat ajak suamimu sarapan. Abbah dan Ummah tunggu di meja makan, ya." Suara ketukan disertai kalimat Ummah terdengar dari balik pintu kamar. "Iya Ummah, Khay sama Mas Aksa segera menyusul," sahut Khayra dari dalam. "Mas, gimana nyampein berita ini ke Abbah dan Ummah?" Khayra jadi bingung sendiri. Malah tidak tahu harus bagaimana menjelaskan kabar bahagia ini pada kedua orangtuanya. Ada rasa bimbang menggelayut di hati. "Ya, tinggal bilang saja Khay. Nanti biar saya saja yang cerita ke Abbah dan Ummah. Pasti mereka senang dengar kabar ini." "Mas, aku malah kepikiran hal lain." Raut Khayra berubah sendu. Aksa berusaha membaca airmuka istrinya. Bisa menangkap sorot cemas di kedua mata Khayra. "Kepikiran apa, Sayang? Ingat lho, di sini sekarang ada kehi

