FOUR| Fall in

1746 Words
FOUR| Fall in... “Sebenarnya gue nggak tau harus gimana jelasinnya sama Mama Papa gue. Keci kan masih enam belas tahun. Rencana mereka, tamat sekolah nanti Keci langsung mau dinikahin. Parah nggak sih?” curhat Tan malam itu di teras rumah. Setelah makan malam tadi, dia mengajak Berry mengobrol. Awalnya, Tan nggak suka lihat Berry dekat-dekat ama Keci. Tapi sepertinya, Berry nggak seburuk yang dia pikirkan. Dan fakta baru, setelah mengenal Berry, cowok itu ternyata asik juga. Humoris. “Hem, Keci tau nggak siapa cowok yang mau dijodohin sama dia?” tanya Berry. “Hemm,” Tan menggaruk-garuk dagunya, ”kayaknya dia belum tau dan sepertinya… nggak mau tau.” “Namanya dia juga nggak tau?” Entah kenapa Berry jadi begitu penasaran. “Keci nggak pernah cerita apa-apa ke gue. Kayaknya sih belum… kenapa?” Tan menatap Berry yang terlihat tegang. Dan, kenapa kok Berry terkesan ingin tahu banget? “Lo sendiri… tau nggak orangnya?” “Nggak juga. Ntar juga tau kok, kan bulan depan mereka mau dikenalin gitu. Kenapa sih lo? Kepo banget. Eh, jangan-jangan lo suka lagi sama adek gue, iya, kan? Ngaku nggak?!” todong Tan dengan alis naik turun. Berry tergelak sambil memainkan kunci motornya. “Apaan sih lo. Selera gue tinggi—“ “Lo ngejek adek gue pendek nih ceritanya? Haaah?!” Tan segera menjambak-jambak rambut Berry dengan gemas sampai Berry ngakak. Bukannya kesakitan, Berry malah tertawa senang.   Di ambang pintu, Keci memerhatikan keduanya dengan senyum lebar. Ternyata, Berry anaknya baik juga. Ya, walaupun sampai sekarang Keci nggak tau apa maksud Berry mengganggunya. Naksir? Ck! Keci menggeleng-geleng. Nggak mungkinlah Berry naksir cewek kayak dia! Secara, Berry itu cakep dan eksis di sekolah. Kalaupun memang Berry punya maksud lain, pastilah itu hanya untuk hiburannya doang. Atau Berry orangnya memang begitu? Keci sendiri nggak yakin, tapi semoga aja cowok itu nggak punya maksud macam-macam dengannya. *** “Besok mau nggak gue jemput?” tanya Berry hati-hati. Keci mengedip bingung, barusan Berry bilang mau jemput dia? Beneren? Kok Keci seneng dengernya. Ah, tapi harus jual mahal dulu dong! Kadang-kadang Berry ini kan susah ditebak anaknya. Dan kenapa Berry mau menjemputnya? Nah, loh? Ada udang dibalik batu kah ini? “Nggak usah. Aku bisa naik bus kok,” Keci malah menyesal setelah menjawab seperti itu. “Kok gitu sih? Gue yang ngajak loh! Berry Aberial. Abang paling ganteng di SMA Bintang Terang!” tukas Berry, benar-benar nggak nyangka ajakannya akan ditolak. “Kok marah? Suka-suka dong. Lagian kenapa juga kamu harus jemput aku?” tanya Keci mulai kesal. Berry ini, benar-benar membingungkan. Kadang bisa jadi manis, kadang juga nyebelin. “Biar aja yang penting tetap cakep. Nggak mau tau pokoknya besok gue jemput!” Keci mengerucutkan bibirnya. Tapi, setelah Berry menghilang di balik pagar rumahnya yang menjulang tinggi, dia tersenyum malu-malu sampe-sampe Tan cengo dibuatnya. “Kamu kenapa senyum-senyum sendiri. Ih, sakit jiwa…,” kata Tan sambil menunjuk-nunjuk wajah adiknya yang merona merah. “Ih, apaan sih. Biasa aja kok orang senyum…,” kata Keci malu-malu. “Jangan-jangan...?” Tan menyipitkan mata curiga. Sebelum asumsi kakaknya terbukti benar, Keci langsung ambil langkah seribu kembali ke kamarnya. *** Keci tidur terlentang sambil bolak-balik mengecek ponsel yang sedari tadi digenggamnnya seolah menunggu. Dan sepertinya dia memang menunggu. Baik itu getaran ponselnya, bunyi ponselnya yang menandakan ada pesan maupun panggilan yang masuk. Tumben, tumben dan tumben. Dari tadi kata-kata itulah yang keluar dari bibir mungilnya yang sesekali cemberut. “Ih, kok gue malah nungguin dia sih? Emangnya gue siapanya sampe-sampe harus di telpon atau di-sms?” gumamnya lalu menyembunyikan ponsel itu ke balik bantal. Drrrrt…aku ingin begini… aku ingin— “Halo?” jawab Keci cepat lalu mengambil posisi duduk. Seketika jantungnya pun berdetak nggak karuan. Aneh banget, kenapa dia jadi merasa kayak gini sih? “Lo belum tidur?” tanya Berry di seberang sana. Keci meremas bantal gulingnya gemas. Ya ampun, kenapa suara Berry malah bikin dia gregetan gini sih? “Belum. Kamu… dimana?” “Di hatimuuu.” Buuuz. s****n banget Berry! Keci merasa darahnya berdesir saat mendengar ucapan gombal itu. “Hemm, serius nih…,” Keci sengaja membuat suaranya terkesan bete. “Haha, gue di kamar nih. Kok lo belum tidur?” “Hem, iya nih mau tidur.” Hmmf. Kok malah kata-kata itu yang keluar. “Oh, yaudah. Met tidur ya, mimpi indah. Jangan lupa, besok gue jemput.” “Iya, kamu juga.” “Juga apa nih?” “Met tidur, mimpi indah…” Hening sesaat. Keci melihat ponselnya, belum terputus tapi kok nggak ada suara. “Halo?” “Iya, gue denger pendek.” Klik. Setelah memutuskan panggilan, Keci menjerit tertahan sambil menutup mukanya dengan bantal dan terduduk saat mulai sesak napas. Berry ngucapin selamat tidur untuknya? Pake embel-embel mimpi indah pula. Keci memegang dadanya, di kamar yang cuma diterangi lampu berwarna pelangi ini, hanya terdengar hembusan nafas dan detak jantungnya. Jangan-jangan…. Sementara itu, di kamarnya, Berry nggak bosan-bosan menatap foto Keci yang tadi diam-diam diambilnya dari laci kamar Mamanya. Ada suatu perasaan yang Berry nggak ngerti. Perasaan itu hadir setiap kali ada di dekat Keci. Mungkin memang terlalu cepat. Tapi, siapa yang bisa menolak datangnya cinta? Berry bahkan masih mencari-cari jawaban dari pertanyaan kenapa dan apa yang terjadi padanya. Apa benar ini cinta atau hanya sekedar rasa suka? Tapi… apa benar, Keci yang menjadi alasannya tersenyum detik ini? Niat awal dia hanya ingin mengenal karakter Keci yang nantinya akan jadi kakak iparnya. Niat awal dia cuma sekedar iseng aja gangguin cewek itu. Dan awalnya, dia hanya mau tau apa Keci pantas untuk menjadi teman hidup seorang Keenan? Dan jawabannya, sangat pantas. Keci itu baik, pinter, dan… cantik. Satu senyuman terakhir pun di bawanya tidur untuk menemani mimpi indahnya. *** Kacau. Gimana nih? Keci merasa semua barang-barangnya jelek banget. Biasanya juga dia pede-pede aja pakai tas yang koyak bagian talinya. Padahal ini tas kesayangan dan paling favorit. Tapi pas dipakai kok dia kelihatan kayak… gembel? Keci membongkar isi lemarinya untuk mencari kaos kaki baru yang dibelinya setahun yang lalu tapi nggak pernah dipakai. “Ya ampun yang ini kusam banget deh!” keluhnya sewaktu melihat kaos kaki yang sering dipakainya ke sekolah. Jadilah Keci mencari-cari kaos kaki itu sekarang. Ntah kenapa dia ingin terlihat bersih dan cantik hari ini. Mungkin penyebabnya Berry, tapi Keci malu mengakuinya. “Ci, ngapain kamu? Tumben lama amat turunnya?”panggil Tan sambil mengetuk-ngetuk pintu kamarnya. “Ya, bentar, Kak!” teriak Keci sambil menyeka keringat yang mengalir di dahinya. Capek karna barang yang dicari nggak ketemu. Mungkin pulang sekolah nanti dia harus cari kaos kaki baru, atau tas baru sekalian. “Buruan. Berry udah nungguin tuh dari tadi!” “Hah?!” Grudak gruduk grudak brak bukh! Akibat melompati dua anak tangga sekaligus, Keci terpeleset dengan posisi telungkup. “Kamu kenapa? Hahahha!” dengan tidak sopannya Tan malah tertawa terbahak-bahak. “Malah ketawa ih! Bukannya bantuin!” Keci mencibir sambil bangkit. “Yeh, tuh bisa kan bangun sendiri. Ciyeee, yang dijemput pacar baruuu aseek cikidaw cikidaw aweu aweu!” goda Tan sambil menggoyangkan bokongnya ke kanan dan ke kiri. Keci hanya mendesis lalu cepat-cepat berlari ke luar rumah. “Kamu… beneren jemput aku?” tegur Keci pada Berry yang sedang duduk di atas motor gedenya. Berry melepas earphone-nya lalu tersenyum pada Keci. “Pria sejati selalu menepati janji, kikuk, kikuk!” kata Berry sambil memainkan alisnya. “Ih, apaan kikuk kikuk?” “Jadi maunya apa? Cikidaw cikidaw?!” “Apalah Berry. Hmmm,” Keci senyum malu-malu sambil memilin-milin dasi abu-abunya. “Eh, tumben nggak bawa raket nyamuk?” “Ya ampun!” Keci menepuk jidatnya. Bisa-bisanya dia lupa dengan barang yang wajib dibawanya ke mana-mana. Tapi baru saja Keci mau beranjak, tangan Berry menahannya. “Ntar kita telat loh. Besok  aja ya?” mohonnya dengan senyum terbaik. Seperti terhipnotis, Keci dengan gampangnya menurut. Padahal, sejak SD, tak sehari pun dia lewatkan tanpa di temani raket nyamuk tercinta. Sepertinya, Berry mulai mengalihkan dunianya. *** Hari ini, Berry dan Keci kelihatan akrab banget. Mereka pergi ke kantin bareng, makan bareng, dan hebohnya Berry menyuapi Keci. Keci sendiri nggak percaya waktu Berry memintanya untuk membuka mulut. Memang sih dia mau-mau aja. Dan sewaktu Berry mangap minta disuapin, Keci benar-benar grogi campur senang. Belum lagi mereka ditonton banyak orang. Waktu belajar juga, Berry nggak lagi mengganggunya. Berry bahkan meminta Keci mengajarinya tentang tugas yang baru diterangkan guru ke depan beberapa menit yang lalu. “Kan tadi udah dijelasin sama Pak Omes,” kata Keci sambil mencoret-coret kertas  yang sudah dipenuhi rumus-rumus fisika. “Iya, tapi gue pengennya diajari dengan cinta, kikuk kikuk,” goda Berry lagi. Gemas karna menurutnya ekspresi Berry itu unyu, Keci mencoret pipi Berry dengan bolpoinnya. Pertengkaran kecil pun terjadi. Berry menoel-noel pipi chubby Keci, dia juga mengacak-ngacak rambutnya yang lembut dan wangi. Lelah, Berry menyandarkan kepalanya di bahu Keci. Terang aja itu membuat teman sekelas mereka menjerit heboh, apalagi bagian cewek-cewek bohai yang naksir berat sama Berry. Patah deh tuh hati. Deg. Keci bisa merasakan getaran itu lagi. Perasaan ini, cinta kah? Berry memejamkan matanya, merasakan angin yang masuk dari kaca jendela yang terbuka sedikit. Untung saja Pak Omes sedang keluar. Kalau bisa lama-lama sampe jam istirahat tuh guru nggak nongol-nongol, harapnya. Sekalipun dia tampak begitu tenang, namun di lubuk hatinya yang terdalam, ada rasa bersalah yang begitu besar. Kak, boleh nggak gue rebut Keci dari lo? Di tempat berbeda pada waktu yang sama.... “Jadi, kamu setuju nih ceritanya, Kak?” Keenan menggigit bibir bawahnya, foto-foto Keci yang dijadikannya wallpaper membuatnya tak mampu mengalihkan pandangan barang sedetikpun. Tersadar suara dari telepon yang ada dikupingnya teriak-teriak, Keenan dengan cepat menjawab. “Setuju, Ma.” “Alhamdulillah. Bulan depan kamu harus pulang, ya?” “Kebetulan Keenan bulan ini lagi libur. Boleh kan Keenan pulang bulan ini?” “Boleh laaaah, Sayaaaang! Berry pasti seneng nih dengar kamu mau pulang lebih cepat! Asik asikkkk!” “Hehehe, oke Mamaku sayang. Muah!” “Muuuah sayang.” Klik. Keenan tersenyum lebar sambil menghempaskan tubuhnya ke kasur yang empuk. Agaknya dia benar-benar nggak sabar menunggu dua minggu lagi. 14 hari itu nggak lama kok.  Meskipun hatinya meminta untuk datang lebih cepat, tapi dia yakin semua akan baik-baik saja. Dengan senyum yang masih terukir manis di wajahnya, Keenan mengirim pesan ke f*******: Keci. You can fall from the sky, you can fall from a tree, but the best way to fall is... in love with me...*just kidding ;)
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD