THREE| Jangan-jangan....

3514 Words
THREE| Jangan-jangan...   Pukul. 04.00 pagi Aku ingin begini… aku ingin begitu… ingin ini itu— “Halo hmmmh?” Tut tut tut. Keci berusaha membuka matanya yang masih mengantuk. Siapa sih yang gangguin tidurnya jam segini? Aku ingin begini… aku ingin begitu… ingin ini  itu— “Halo?” Keci menekan tombol hijau di ponselnya tapi panggilan itu terputus lagi. Ini udah kedua kalinya! Nggak sabar, Keci melotot untuk melihat nama pemanggil yang ada dilayar ponsel. ‘COWOK NYEBELIN’ terpampang jelas disana. Sejak Berry terus-terusan menelponnya, dengan kesal Keci menyimpan nomor  Berry dengan nama itu. Keci nggak tau deh tuh cowok dapat nomornya dari siapa. Padahal, Keci orangnya pemilih dalam segala sesuatu termasuk memilih teman. Jadi, Keci cuma kasih tau nomornya ke orang-orang yang dia kenal baik aja.  Bukan apa-apa, Berry itu kan baru dia kenal, udah gitu nyebelin dan sok cakep pula. “Ih, ngapain sih nih cowok?!” Aku ingin begini… aku ingin begitu… Keci mengubah posisi tidurnya jadi terlentang, seluruh tubuhnya tertutupi selimut. Setelah mengambil nafas dalam, Keci segera menjawab telepon itu. “Heh! Kam—“ Tut. tut. tut. Hffff. Dimatiin lagi. Keci cemberut lalu menyembunyikan ponselnya ke balik bantal. Lagi-lagi nada dan getaran itu membuatnya gemas. “Nyebelin banget sih kamu?!” katanya lalu cepat-cepat menghubungi nomor Berry. Sementara itu di sebuah kamar yang sunyi senyap. Berry tiduran sambil telungkup. Ia terus me-missed call nomor Keci yang didapatnya dari teman sebangku Keci di kelas satu kemaren. Sejak kejadian tadi malam, Berry jadi seneng gangguin Keci. Alasannya sederhana, lucu. “Heh, kamu! Ngapain sih kamu miskol-miskol aku terus?!” bentak Keci di telepon. Berry senyum-senyum lalu mencari posisi enak. “Nggak ada. Suka aja!” “Tau ini jam berapa?!” “Hmm, jam empat?” “Terus ngapain kamu nelpon aku jam segini?!” “Suka aja.” “Nyebelin banget sih kamu?!” “Hihihih, masa?” Grrrr. Keci segera memutus telpon. Nggak berapa lama sms masuk ke ponselnya. Wkwkwkwk :P emang enak digangguin :D Sakit jiwa kamu! Uwuwuwuwuwu :* :D Berry menunggu balasan Keci selama lima belas menit. Nggak dibales? Bener-bener apa banget nih cewek. Cepat-cepat Berry turun dari kamar untuk olahraga di ruang fitness lantai dua rumahnya. *** “KECI!” teriak seorang cowok berambut cokelat acak-acakan sambil mengetuk kamar dengan gantungan bertuliskan ‘KUKI KECI’. Nggak berapa lama, si pemilik kamar nongol dengan balutan baju putih abu-abunya plus raket nyamuk tercintanya. “Apaan, kak?” tanya Keci setelah menutup pintu kamarnya. Cowok bermanik abu-abu itu cemberut. “Buatin sarapan!” “Nggak mau ah! Keci kan harus ke sekolah, ntar telat lagi,” tolak Keci sambil menuruni tangga. Tan merengut. Dia terus mengekori Keci kemanapun. Merasa risih, Keci berbalik dengan bibir mencebik. “Mau sarapan apa?” “Hemm, nasi goreng?” “Yaudah tunggu bentar!” kata Keci lalu meletakkan tas dan raketnya ke atas meja. Tan terus memandangi tubuh mungil adiknya itu dari meja makan. Tiga detik kemudian, dia menarik nafas dalam, semoga setiap kata yang sudah disusunnya dari tadi nggak berantakan setelah diucapkan. “Kata Mama Papa, perjodohan itu jadi loh, Dek...,” Keci berhenti mengaduk-aduk nasi gorengnya. “Masa?” tanyanya lirih. Nyaris saja Tan nggak mendengar karna suara lembut Keci tenggelam bersamaan bunyi nasi di wajan. “Hem, iya. Bulan depan katanya sih kamu sama cowok itu mau dikenalin…,” Keci sama sekali nggak menoleh. Hatinya terasa dicubit-cubit setiap mendengar tentang perjodohan yang katanya sudah direncanakan dari dulu. Bahkan, sampai sekarang nama dan foto cowok itu belum berani dilihatnya. Padahal, amplop itu ada dibawah tumpukan novel-novelnya. “Yaudah,” ucap Keci lalu menyendok nasi dari wajan ke piring. Setelah menaruh piring itu di atas meja, cepat-cepat Keci mengambil tas dan raketnya. “Nggak mau dianter?” “Nggak,” jawaban yang begitu singkat dan ketus. Tan menggigit bibir bawahnya. Lagi-lagi dia hanya bisa menarik nafas dalam. Dia nggak tau kenapa kedua orang tua mereka menjodohkan Keci dengan anak teman mereka. Keci juga masih mau enam belas tahun. Perjalanannya masih terlalu panjang. *** SMA BINTANG TERANG Ctek. Ctek. Cewek-cewek yang berpapasan dengan Keci segera menjauh. Mereka tahu banget gimana kalo seorang Keci beraksi. Nggak jarang mereka kena tabok sama raket nyamuknya. Tapi, sepertinya hari ini cewek itu lagi nggak bersemangat. Kelihatan, cewek itu terus berjalan dengan kepala menunduk dengan bahu terkulai lemas. Bruk. Dia menabrak Berry yang memang sengaja nggak menghindar. Sedari tadi cowok itu memang sudah memerhatikannya. “Pagi-pagi ngelamun. Galau ya?” tanya Berry sambil menggacak-acak rambutnya. “Bukan urusan kamu,” jawab Keci nggak semangat. “Mulai sekarang jadi urusan gue!” Ekh? Keci mengerutkan keningnya lalu menabrak bahu Berry sebelum masuk ke kelas. Diam-diam Keci mengagumi wangi parfum cowok itu. Tlap. Nyaris aja Keci jatuh sewaktu Berry dengan sengaja menginjak ujung sepatunya. Keci memejamkan mata, menarik nafas, lalu memilih diam dan kembali memasang sepatunya. Tlap. Untuk kedua kalinya, sepatu itu terlepas lagi. Dia juga bisa dengar dengan jelas suara tawa Berry yang menyebalkan itu. “Kamu kenapa sih?” kata Keci berusaha sabar. Berry menaikkan satu alisnya diselingi tawa kecil. “Nggak kenapa-kenapa,” “Tapi kamu ngapain injek-injek sepatu aku kayak tadi?” “Hemm, suka aja.” “Nyebelin banget sih kamu?” “Wwuwuwuwu ngambek, jelek tuh liat bibirnya makin dower hahaha!” kata Berry sambil meletin lidah. Keci berbalik dengan hati dongkol, ini masih pagi tapi cowok itu udah cari gara-gara. Cepat-cepat Keci berjalan ke bangkunya lalu meletakkan kepalanya di atas tangannya yang telungkup. Perjodohan… Keci nggak habis pikir kenapa kedua orang tuanya masih aja nekad buat ngejodohin dengan cowok yang sampai hari ini dia nggak tau orangnya. Memang, katanya dia pernah ketemu dengan cowok itu tapi Keci benar-benar lupa orang bahkan namanya. Lamunannya buyar ketika merasa sesuatu menarik-narik rambutnya. Saat Keci mendongak, dilihatnya Berry duduk di sebelahnya dengan cengiran yang seketika membuat Keci muak. “Cowok lo anak mana?” pertanyaan itu membuat Keci menengok Berry dengan kerutan halus di dahi. “Aku nggak punya cowok,” jawab Keci sambil menggeleng pelan. “Bohong aja. Terus, kenapa pagi-pagi udah ngelamun? Diselingkuhin? Berantem? Putus?” Keci berusaha menahan sabar. “Bukan urusan kamu!” “Kan gue udah bilang, sekarang, apapun urusan lo jadi urusan gue!” “Kok gitu?” “Yaudahlah ya, iya-in aja apa kata gue,” jawab Berry cuek. “Mulai hari ini juga, lo harus ngerjain semua tugas sekolah gue!” “Loh? Kenapa gitu?” tanya Keci sambil mengawasi seekor nyamuk yang terbang di sekitar kepala Berry. “Suka aja, hahah.” Ctek. Berry bungkam waktu raket nyamuk Keci mendarat di jidatnya. “Aku nggak mau!” “Duh!” Berry mengusap-usap jidatnya, segera disitanya raket nyamuk itu ke dalam laci mejanya. “Harus mau!” “Apaan sih kamu?!” Keci merengut dan mendecak pasrah. “Apanya yang apaan?” Keci memejamkan matanya, mehanan emosi yang terus dipancing Berry. Keci benar-benar nggak ngerti kenapa cowok itu sepertinya berusaha mencari kesalahannya. Bukan itu aja, di jam pelajaran—seperti sekarang—Berry masih aja memancing emosinya. “Jangan goyang-goyang dong!” kata Keci pada Berry yang menggoyang-goyangkan pijakan meja dengan kakinya. Alhasil, Keci nggak bisa nulis dan kalaupun dia nulis, yang ada hasilnya tercoret-coret. “Kan asik digoyang!” balas Berry sambil memainkan kedua alisnya. Keci mendecak lalu mencubit lengan Berry dengan kesal. “Aku mau nulis nih! Kamu iseng banget sama aku,” cibir Keci lalu kembali menoleh pada papan tulis. “Cubitan lo sakit banget sih?!” Berry meringis kesakitan sambil mengusap lengannya yang tadi dicubit Keci. Cewek itu membeo dengan bibir monyong. Iseng, Berry mencoret pipi Keci dengan bolpoin. “Berry!” bentak Keci sambil cemberut. “Jangan ganggu kenapa? Orang lagi belajar nih!” Seisi kelas langsung menoleh pada mereka dengan penuh tanda tanya. Berry bersiul lalu pura-pura mencatat saat Bu Rit menatapnya. Hmmff. Kenapa sih harus sebangku ama cowok nyebelin kayak gini?! Berry mencoret-coret bukunya dengan kata-kata lalu menyodorkannya pada Keci. Ntar pulang ama gue ya :D Keci melirik Berry yang nyengir padanya. “Nggak mau tau, harus mau!” bisik Berry ke telinganya.  Ntah itu hanya perasaan Keci saja tapi yang jelas bisikan itu sempat membuat jantungnya berdebar-debar. *** “Ci,” Arimbi, teman sebangkunya dulu—sekarang duduk di kelas dua IPA 2—merangkul pundak Keci yang setinggi bahunya dengan akrab. “Kangen banget sebangku ama lo nih! Gimana kelas barunya? Asik, ya, gue dengar lo sebangku ama kak Berry ya?” cecar Arimbi semangat. Belum sempat Keci menjawab, segerombolan cewek berlarian ke arahnya. “Keciiii! Lo sebangku ya ama kak Berry? Sumpah? Apa banget sih loooo!” “Aaaaaaaa ngiri deh gueeee!” “Aaaaaaaa mauuuu dong sebangku ama Kak Berry!” Keci memicingkan matanya, sebelum menjawab dia menarik nafas dalam-dalam lalu menghebuskannya perlahan dan mulai… “Ih, gue benci banget ama tuh cowok! Nggak ngerti deh kenapa dia selalu gangguin gue! Masa nih ya, waktu gue chatting sama dia di f*******:—“ “Lo chattingan sama Kak Berry?!” pekik Nadya kaget. “Iya, nyebelin deh pokoknya udah gitu ya dia nelpon-nelpon gue—“ “Lo ditelpon sama Kak Berry? Ya ampun! Beruntung banget sih lo, Ci! Gue mau dong di telpon sama cowok kece kayak dia mauuuu!” kesepuluh temannya mulai heboh. Selama ini yang mereka tahu Berry milih-milih dalam berteman, baik itu didunia nyata mau pun di dunia maya. Semua temannya pasti cewek-cewek eksis dan nggak kudet. Dan apaaa? Keci bahkan di telpon Berry. Sampai detik ini mereka nggak pernah bisa dapat nomor cowok itu. Betapa beruntungnya Keci, pikir mereka. “Dicariin dari tadi nggak taunya disini!” suara itu membuat Keci dan teman-temannya menoleh ke sumber suara. Berry berdiri dengan kedua tangan dimasukkan ke dalam saku celana. Kancing seragam sekolahnya dibiarkan terbuka, mengekspos dadanya karna nggak memakai baju dalam. “Nya-nyariin siapa, kak?” tanya Melodi mewakili pertanyaan semua teman-temannya. “Tuh, si pendek!” katanya sambil menunjuk Keci. “Hmmmf!” Keci cemberut, Berry nyengir. Keci melotot, Berry mengedip lucu. “Yuk ah,  ikut gue!” Berry menarik pergelangan tangan Keci. Di belakang, teman-teman Keci heboh sambil jambak-jambakan. “Mau kemana?” tanya Keci sambil berusaha menarik tangannya dari genggaman Berry. “Ke kelaslah!” jawab Berry agak ketus. Duh, kadang-kadang Keci nggak ngerti dengan sikap cowok ini yang selalu berubah-ubah. Labil. “Oh, ya, gue denger lo mau dijodohin, ya?” Tap. Keci mengerem langkahnya. Berry sendiri mengutuk kebodohannya. Duh, kenapa bisa keceplosan sih? Sekarang cewek itu menatapnya tak berkedip. “Kamu, tau dari siapa?” tanya Keci lirih. Berry menggigit bibir bawahnya. Mampus! Akting deh akting! Berry pura-pura tertawa keras tanpa menoleh pada Keci yang masih menatapnya penuh tanda tanya. “Eh, emang bener? Padahal gue nanyanya iseng loh!” kata Berry tertawa garing. Keci meremas jari-jari Berry yang masih menggenggamnya. “Hu… hu… hueee!” Keci langsung mewek sambil menundukkan kepalanya dalam-dalam. Berry panik dong, cepat-cepat dia menarik Keci masuk ke dalam kelas yang kebetulan sepi. “Kok nangis, sih?” “Aku nggak  mau dijodohiiiiiiin!” pekik Keci sambil menjambak rambut Berry. “Aduuuuh!” Berry mengusap-usap ubun-ubunnya dengan bibir mencebik. “Hueeee… aku nggak mauuuu!” Keci menarik cairan bening yang keluar dari hidungnya. Berry celingukan, sementara saat ia berusaha menarik tangannya Keci semakin kuat meremas jarinya. Akhirnya, Berry hanya bisa diam sambil memandangi Keci yang terisak-isak. “Kalo cowok itu cakep, lo mau?” “Nggak!” Keci menggeleng cepat. “Hmmm, tajir?” “Nggak juga!” “Hemm, sixpack?” “Nggak jugaaaa!” tangisan Keci makin kejer, membuat Berry jadi panik sendiri. “Kalo dia mirip kayak gue?” tanya Berry untuk kesekian kalinya. Keci diam, mendongak untuk melihat wajah  Berry lekat-lekat. “Nggak mau juga! Pokoknya aku nggak mau dijodohin ama orang yang nggak aku kenal!” “Makanya kenalan dulu ama tuh orang kali aja lo jadinya naksir! Masalah pelajaran boleh deh pinter, tapi masalah kek gini, minus! Makanya, jangan jadi jomblo mulu!” ejek Berry dibarengi tawa setannya. Keci menggeram lalu menjambak rambut Berry lagi. “Nyebelin banget kamu!” “Wuwuwuwuwuwu cikidaw cikidaw!” Berry menekuk kedua telapak tangannya seperti moncong lalu menggerakannya maju mundur ke wajah Keci. “Iiiih!” dengan sebal Keci menginjak kaki cowok itu lalu pergi. “Aduh! Sakit woi!” “Rasain!” *** Berry menajamkan penglihatannya sewaktu melihat Keci berlari ngebut ke depan gerbang. Setelah tiba di dekat seorang cowok yang duduk di atas motor gedenya, dia menghentakkan kakinya kesal sambil menunjuk-nunjuk Berry. Begh! Itu pasti pacarnya? Pikir Berry geram. Pembohong banget, katanya nggak punya pacar! Berry jadi kesal sendiri. Cepat-cepat dia menggas motornya lalu berhenti satu meter di depan Keci dan cowok yang belum dikenalnya itu. “Katanya mau pulang bareng gue?!” kata Berry dengan tampang nggak bersahabat, sekilas dia melihat cowok itu. Lumayanlah selera si pendek, pikirnya. “Aku nggak ngomong gitu!” balas Keci ketus. Ekh? Di depan cowoknya berani banget galakin gue? Berry tersenyum setan. Gimanapun Keci itukan calon kakak iparnya, jadi sebisa mungkin nggak boleh ada satupun cowok yang deket-deket Keci. “Jadi gitu? Kamu udah nggak sayang lagi sama aku?” tanya Berry lalu mematikan mesin motornya. Hidung Keci ngembang mendengar ucapan Berry. “Huh?” “Waktu itu kamu bilang cuma aku satu-satunya lelaki dihati kamu. Ini buktinya apa? Kamu mempermainkan aku, sungguh kejam!" “Ekh?” “Pacar?” tanya cowok berjaket hijau itu sambil meneliti wajah Berry.. “Iya, bahkan gue calon Ayah dari anak yang bakalan di kandung Keci,”  jawab Berry sambil memainkan alisnya. “Iiih,” Keci mundur, merapat ke motor merah di sebelahnya. “Bener ini pacar kamu? Kok kamu nggak pernah bilang kalo kamu punya pacar sama kakak?” “Hah? Kakak?!” Berry menjerit kaget.  Tan mengangguk mantap. Kini giliran dia menatap Berry nggak bersahabat. “Gue Tan. Lo siapa sih? Beneren pacar adek gue? Setahu gue, Keci nggak pernah pacaran!” Berry nyengir, malu, kesal, semua campur jadi satu. Dia melirik Keci yang ngakak sambil nunjuk-nunjuk mukanya. “Ya… yaudahlah ya, gue cabut dulu, bye!” Bruuum!!! Berry ngebut sambil memukul-mukul helm yang dikenakannya. “Duh, begok deh gue serius begok banget!” *** Rumah Keci… “Jadi, itu cowok yang kamu ceritain kemaren, Ci?” tanya Tan setelah melepas sepatunya. “Iya, kak! Nyebelin banget orangnya. Nggak tau deh kenapa. Dia kepo banget sama Keci,” jawab Keci sebelum naik ke kamarnya. “Cakep loh. Hati-hati ajaaaa, lama-lama jadi cintaaaa hahaha.” Keci hanya mendecak mendengar teriakan kakaknya itu. Segera dia merebahkan tubuh ke tempat tidur untuk membuka social media yang menjadi satu-satunya hiburan untuknya. Termasuk f*******:, yang paling sering dia gunakan. Hai? :) Keci mengerutkan kening waktu chat itu tiba-tiba muncul. Keenan. Cowok itu lagi. Keci tersenyum lalu membalas. Hai juga kak. Baru pulang sekolah, ya? Iya, nih kak… Gimana sekolahnya hari ini? Ada yang nyebelin lagi? Keci terkekeh. Nih cowok tahu aja deh. Iya… orang yang kemaren juga… Oh, kamu sekelas sama adek aku loh… :D Hmm? Gue, eh pake apa nih bagusnya? Aku aja, ya? Jadi, aku punya adek, cakep, tapi rada ini, nakal udah gitu sok cakep pula. Dia sekelas sama kamu katanya :D kamu SMA Bintang Terang kelas 3 IPA 1 kan? Keci memicing, mencoba menggambar sosok yang dideskripsikan Keenan. Hemm? Oh, iya benar kak. Namanya siapa kalo boleh tau kak? * “Apa, Ber?” suara diseberang sana menyahut setelah menunggu empat detik. Berry melempar tasnya ke sembarang tempat. “Lo lagi ngapain, kak?” “Nih lagi chat—yaah mati pula!” Berry menaikkan sebelah alisnya mendengar keluhan kakaknya. “Apanya yang mati?” “Laptop gue. Minta dibanting nih, dari kemaren suka mati-mati sendiri. Lo baru pulang sekolah, ya?” “Hahah, beli barulah. Yoiii, hemp… kak—” “Ber, ntar lagi nelpon lagi, ya. Gue harus buru-buru benerin laptop gue nih, tugas numpuk!” “Yeh, yaudah deh. Muah!” “Muaah,” “Najis nggak sih?” “Najislah!” “Yaudah,” “Yaudah.” “Muah.” “Muah.” Klik. Telpon terputus. Berry tersenyum. Betapa rindunya dia dengan cowok itu. Cowok yang selalu bisa diandalkan baik senang maupun susah. Sayang sekali kalau pada akhirnya Keenan harus menyambung sekolahnya keluar negeri. Berry jadi nggak sabar menunggu kepulangan kakak tersayangnya itu. Rasanya, sudah terlalu lama mereka nggak tertawa bareng dengan tangan saling merangkul. Atau, membuat keributan kecil di meja makan. Atau lagi menganggu Mama Papa yang lagi nonton atau lagi mesra-mesraan. Hmff. Beruntung banget siapapun yang nantinya menjadi istri Keenan. Cowok itu bisa jadi pelindung dan sangat menghargai apa yang dimilikinya juga begitu sayang dengan keluarganya. Ting. Ingat Keenan, ingat Keci. Berry segera menghubungi nomor Keci dan bersiap melontarkan kata-kata yang pastinya bikin cewek itu kesal setengah mati. “Halo?” “Ngapain lo pendek? Tugas gue udah dikerjain kan?” “Tugas kamu?” tanya Keci tanpa mau melepas pandangannya dari layar laptopnya. Orang yang ditunggu tak kunjung membalas pesannya. Offline pula. Alih-alih Keci memilih mematikan laptopnya lalu menjangkau tasnya yang ada didekat kakinya. “Iya, liat aja di tas lo pasti ada buku gue. Kerjain ye?” “Hah?” Keci merogoh tasnya, dari delapan buku yang dia bawa terselip buku dengan sampul cokelat koyak-koyak. Di kotak namanya tertulis ‘BERRY GANTENG’. Asssddgfjshk. Keci membolak-balik isi buku itu. Kosong melompong. “Kok buku kamu bisa ada sama aku sih? Terus, ini nggak pernah diisi, ya?” “Yaudahlah yaaa, ikutin aja apa kata gue!” “Enak aja! Nggak mau! Kamu pikir kamu siapa nyuruh-nyuruh aku?!” “Eh, kok nyolot sih? Bibirnya biasa aja dong!” Keci cemberut lalu memutuskan pembicaraan dengan menekan tombol merah sekuat tenaga. Nggak peduli kalo tombol itu bakalan jebol. Dan kapan sih Berry memasukkan bukunya ke tas Keci? Pake acara nyuruh dia yang ngerjain tugas pula. Keci meremas gulingnya dengan gemas. Nyebelin banget sumpah. Dua jam kemudian… “Udah dikerjain belom???” Keci menjauhkan ponselnya dari telinga. “Belom dan nggak bakalan dikerjain!” “Oh, ya? Kalo gitu bukain pintu rumah lo dong. Tamu mau masuk nih!” Hah??? Keci, yang masih memakai seragam sekolahnya segera turun menuju pintu depan. Benar saja cowok itu berdiri di depan pintu dengan kedua tangan bersilang di d**a. Dia juga memakai earphone merah, kakinya bergerak mengetuk-ngetuk lantai. “Ada perlu apa?” tanya Keci setelah membuka pintu rumahnya. “Ngerjain tugas bareng!” “Huh?” *** “Keciiii!!! Kamu dimanaaaaaaa?!” teriak Tan sambil menuruni tangga. Langkahnya berhenti di ruang tamu waktu melihat Keci duduk berhadapan dengan Berry. Cowok yang tadi siang, juga orang yang sama yang diceritain Keci kemarin. “Hai, kak?” sapa Berry santai, seolah kejadian tadi siang bukan apa-apa dan yaudahlah ya. “Hai,” sahut Tan ragu-ragu. “Ci, masakin kakak apa kek, laper loh ini,” pinta Tan dengan muka memelas. Keci melengos lalu beralih pada Berry, berharap cowok itu segera angkat kaki. Tapi yang ada Berry tersenyum unyu padanya. “Eh, gue jago masak loh! Mau gue bantuin nggaaaaak?” Mendengar itu Keci hanya bisa mengerjap. Antara bingung tapi juga penasaran? Nah loh! Bahkan saat dia terus memerhatikan cara Berry memotong sayuran, sudut-sudut bibirnya tertarik ke atas. “Kamu belajar masak dari siapa?” “Dari Mama. Gue satu keluarga jago masak loh!” kata Berry bangga. Memang benar, mereka semua jago masak. Akibat nggak ada adek perempuan, jadi kalo Mama-Papa sibuk bekerja, mau nggak mau baik dia maupun Keenan masak sendiri untuk makan sendiri ataupun untuk semuanya. “Keren banget. Kak Tan nggak bisa, padahal udah diajarin Mama. Udah gitu bisanya masak mie instan doang hihihi,” “Ngomongin gue makin pendek loh!” sambung Tan yang kebetulan lewat. Keci dan Berry saling pandang lalu terkikik. “Kamu bisa masak kue juga nggak?” “Bisa dong. Apa aja gue bisa. Cakep iya, pinter masak iya, terus apalagi, ya?” “Nyebelin?” “Hahaha, nggak juga tuh!” “Iya dong. Kamu nyebelin banget. Sok cakep!” “Emang gue cakep, kan?” Berry bertanya sambil menunjukkan senyum terbaiknya. Keci mendadak gelagapan, sorot mata Berry seolah mampu menembus jantungnya. Keheningan membuat keduanya jadi kikuk. Grogi, Berry memotong wortel tapi tiba-tiba dia menjerit sewaktu tangannya kegores pisau. “Aw! Aduh! Mamaaa daraaaah!” pekik Berry dengan wajah pucat sambil mengacungkan telunjuknya. Darah mengalir dari kulitnya yang tergores pisau. Seketika lututnya terasa lemas. Berry nggak kuat lihat darah, meskipun itu darahnya sendiri. “Ya ampun kok bisa kena sih kamu?” tanya Keci kalem lalu menghisap darah yang keluar dari jari Berry. Bukan rasa denyut dijarinya yang membuat Berry terdiam, tapi saat jari-jari mungil nan lembut milik Kecilah yang membuatnya bungkam. Sentuhan itu seperti listrik yang memberi getaran pada sendi-sendinya. Bukan sakit namun terasa hangat. “Hahahaha, hahahah!” setelah menarik bibirnya dari telunjuk Berry, Keci malah tertawa terbahak-bahak. “Lo kenapa?” “Keinget muka kamu yang tadi. Lucu banget, kamu takut lihat darah ya, Ber? Hahaha!” Keci menepuk-nepuk d**a bidang Berry hingga cowok itu lupa mengedipkan mata. Ntah kenapa dia merasa suka mendengar dan melihat bagaimana cara Keci tertawa lepas. Ya ampun, kenapa malah dia jantungan gini? Jangan bilang kalau...
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD