6. Kedatangan Donatan

1246 Words
... Nayna Pov ... Dasar laki laki berengsek, bisa bisanya dia mempermainkanku. Memangnya dia kira aku tidak bisa melawannya? Hahaahaha kasihan sekali kamu Kiko!. Ah aku punya panggilan baru untuknya, 'Si Kiko'. Bagaimana cocok bukan untuk lelaki lenje menyebalkan seperti dirinya? Aku menghentakkan kakiku kesal, sedangkan temanku Chika hanya menatapnya dengan kekehan tiada henti dari mulut wanita itu. Aku mencebikkan bibirku kesal, apa bagi Chika itu sebuah lelucon yang patut ditertawakan? "Eh kok malah kamu ketawain sih!" Ucapku kesal. Chika masih saja tertawa dengan memegangi perutnya. "Bwahaha sumpah Nay, tadi konyol banget," jawabnya sambil terkekeh. Aku memukul lengannya dengan keras hingga dia berhenti tertawa. "Rasakan tuh, ketawa aja mulu," aku menjulurkan lidahku kearahnya dan langsung melenggang pergi untuk segera kembali pulang. "Heiiii kamu mau kemana??" Teriak Chika memanggilku. Aku menoleh, "Aku cabut duluan," teriakku melambaikan tangan kearahnya. Ah aku sampai lupa berpamitan dengan si empunya acara. Aku mengambil ponsel milikku dan mengetik sesuatu untuk Diana. Sorry Di , aku pulang duluan. Happy Birthday yaa ;) Aku melempar ponselku ke kursi penumpang dan langsung melajukan mobilku kembali ke rumah. * Terik matahari yang menerobos jendela kamarku membuatku menyerngit. Aishhhh siapa sih yang membuka kordennya sepagu ini. Kan tadi aku bisa tidur jam dua dini hari. Pasti kerjaan mommy nih !!!!!!! "Mommy pleaseeeeee Nay masih ngantuk, tadi Nay tidur jam dua," rengekku tanpa membuka mata. Aku mengubah posisi tidurku dan menelungkupkan wajahku di bawah bantal berharap sinar menyilaukan itu tidak menerobos masuk ke mataku. " Ekhmm," suara deheman itu membuatku membuka mata karena terkejut. Hei itu suara ??? Appaa !!!! Aku langsung bangkit dari tidurku , "Appaaaaaaaa," pekikku meloncat dari atas tempat tidurku langsung memeluk Appa sangat erat. Appa terkekeh geli melihatku, beliau membalas pelukanku dan mencium puncak kepalaku dengan sayang. "Kamu masih sama, tidak suka bangun pagi padahal masih lajang," ucap Appa disertai kekehan khasnya. "Ih Appa kan tau kalau Nay memang begitu," kataku sambil cemberut kearah Appa. "Hahaha, sudah sana kamu mandi. Bau liurmu sangat menyengat," kata Appa membuat mataku melotot. "Apppaaaaaaaaaaaa!!" teriakku kesal hingga suaraku memenuhi seantero kamarku. * ... Author Pov ... Setelah mandi dan memakai hot pants berwarna putih ditambah T-shirt kelonggaran kesukaannya, Nayna turun sambil menguncir kuda rambutnya yang panjang. Wanita itu menebarkan senyum bahagianya melihat keluarganya berkumpul di depannya. "Morning semua," sapa Nayna kepada semua keluarganya yang sedang bersantai di ruang keluarga. "Siang sayang bukan morning lagi, sekarang sudah jam sebelas," ucap Tiya Vereneden mengoreksi kata-kata Nayna. Nayna hanya menyengir dan langsung duduk diantara Amma dan juga Valeria. "Ammaaaaa, Nayna kangen tauk," ucap Nayna manja memeluk Tiya yang sedang tersenyum lembut kepada Nayna, tangannya yang mulai keriput itu mengelus punggung Nayna dengan sayang. "Amma juga sayang, bahkan kami saking tidak kuatnya kangen denganmu langsung kemari," ucapnya. "Oh ya? Amma Appa, Nayna mau ke California lagi bersama kalian," ucap Nayna membuat semua orang itu menatap Nayna tak percaya. Bahkan kini Sisil menatap anaknya dengan tajam. "Apaaa? Tidak..tidak, mommy tidak akan mengizinkanmu meninggalkan rumah ini lagi," kata Sisil sambil melotot kearah Nayna. Entah kenapa Nayna sangat tidak betah berada di Indonesia padahal seluruh keluarganya ada di sana. Mungkin dalam diri Nayna terdapat jiwa si bolang yang suka berpetualang. "Bunda juga tidak akan mengizinkanmu Queenayna!" kata Viona dengan berkacak pinggang. Wanita itu datang membawa satu nampan cake coklat untuk suguhan perbincangan ringan keluarganya. Nayna hanya merengut kesal kearah Sisil dan Viona. Wanita itu lalu mendekati Nata dan Racka meminta mereka untuk memihaknya. "Daddy, ayahh," rengek Nayna duduk di tengah-tengah mereka berdua. "Noo!" jawab Nata dan Racka berbarengan. Mata Nayna terbelalak, kenapa semua orang sepertinya menentang dirinya. "Ah kalian mah gitu, Nayna di sini tidak melakukan apa-apa. Makan, tidur, jalan, nanti bisa gemuk Naynaa tuh. Kalau di Cafilornia kan Nayna bisa ikut mengecek perkebunan dan peternakan kita di sana." gerutu Nayna menekuk wajahnya kesal. "Lah memangnya kamu mau ngapain?" tanya Varo bingung. "Entahlah, mungkin kayak di California. Bermain di pantai, ngecek peternakan dan-" jawab Nayna terhenti. "Berkencan," lanjut Reivan menyahut jawaban cucunya. "Berkencan? Dengan siapa?" Pekik semua keluarga menatap Nayna penasaran karena selama ini wanita itu tidak pernah membahas perihal lelaki kepada mereka. "Siapa kekasihmu Nay?" Tanya Nata yang memang sangat overprotektif kepada putrinya sejak dulu. "Dari keluarga mana? Apa kebangsaannya?" Lanjut Sisil melipat tangannya ke depan d**a. Reivan yang menyadari kesalahannya langsung menengahi mereka semua. "Dia anak yang baik, daddy sudah sering bertemu dengan dia. Tapi dia bukan berasal dari keluarga seperti kita. Pekerjaannya juga sudah mapan, kalian tenang saja," jawab Reivan membela cucu kesayangannya. Reivan menyesal dulu pernah meminta Sisil menggugurkan Nayna saat itu. "Kapan-kapan bawa dia kemari," ucap Nata diangguki Nayna. Mereka saling berbincang banyak hal. "Bagaimana kalau kamu bantu-bantu di perusahaan keluarga sayang? Kasihan mommymu menghandle semuanya sendiri," Tanya Reivan. Nata juga sibuk mengurusi perusahaan Dirga Company. Jadi hanya Sisil yang bekerja keras bersama para jajaran direksi untuk menguatkan perusahaan di tengah maraknya perusahaan-perusahaan baru yang bermunculan. "Iya mommy kuwalahan di kantor," ucap Sisil membenarkan usulan daddynya. "Kerja di perusahaan keluarga kita?" Tanya Nayna dengan tatapan malas. Dia belum siap untuk ikut terjun ke dunia bisnis yang sangat memusingkan kepalanya. "Aku nggak mau kerja di perusahaan kita mommy, terlalu besar aku belum siap," jawab Nayna. "Kak Nay aneh banget," cibir Valeria. Nayna langsung menerjang Valeri hingga Valeri kesakitan. "Awww Kak Nay sakit," ringis Valeri saat tubuh Nayna menggelutnya. Semua orang hanya menggelengkan kepalanya melihat Nayna dan Valeri yang selalu saja bertengkar Ting tong ... ting tong. "Biar Varo yang buka," ucap Varo. Varo berdiri dan berjalan membuka pintu utama. Lelaki itu menyerngit melihat sosok berbadan tegap layaknya atlit berdiri di depannya dengan senyum menawan. "Cari siapa ya?" Tanya Devaro. Varo sendiri bingung, wajah seperti orang luar apakah mengerti bahasa Indonesia? "Saya mencari Ay, maksud saya Queenayna," ucap laki laki itu mengoreksi. Varo menatap laki laki itu dengan tatapan aneh, 'Jangan-jangan dia pacarnya Nayna?' batinnya Varo saat melihat rambut coklat gelap milik lelaki itu. "Silahkan masuk dulu, saya panggilkan Nayna," jawab Varo diangguki lelaki itu. Varo menghampiri keluarganya, dia menatap Nayna. "Nay dicari bule tuh," ucap Varo membuat semua orang menatapnya. "Bule ?" Tanya mereka semua penasaran. Nayna langsung berjalan menuju ruang tamunya dengan penasaran tingkat tinggi. "Maaf anda mencari saya ?" Tanya Nayna memicingkan matanya. "Apakah kamu tidak merindukanku Ay ?" Nayna terbelalak melihat kekasihnya berdiri dengan nyata di depannya. Ini suatu kejutan yang sangat luar biasa bagi Nayna. "Donatan????" pekik Nayna dengan mata berbinar bahagia. Tak butuh waktu lama mereka langsung saling berpelukan, melepaskan kerinduan mereka yang berpisah selama tiga bulan lamanya karena pekerjaan lelaki itu. "Aku merindukanmu Do," lirih Nayna memeluk lelaki itu dengan erat. "Aku juga Ay, aku sangat-sangat merindukanmu," jawab Donatan mengelus puncak kepala Nayna dengan lembut. Nayna menatap lelaki itu dengan bahagia tidak menyangka jika Donatan benar-benar berani datang menemuinya di Indonesia. "Ayo aku kenalkan pada keluargaku, Appa dan Amma juga di sini," ucap Nayna. Nayna menarik tangan Donatan hingga didepan keluarganya. Mereka semua menatap Nayna dan Donatan dengan tanda tanya besar ???? Apa arti pegangan tangan yang Nayna dan Donatan? Sedangkan Donatan hanya menatap mereka dan tersenyum kaku. Ini pertama kalinya dia bertemu dengan keluarga kekasihnya. Apalagi mereka berasal dari keluarga kaya raya. "Nak Donatan?" Panggil Reivan tersenyum kearah lelaki itu. Donatan membalas sapaan itu dengan membungkukkan punggungnya tanda memberi salam. "Appa," jawab Donatan kembali. Nayna mengajak Donatan mendekat kearah keluarganya. "Semuanya, kenalkan dia ini Donatan kekasih Nayna," ucap Nayna tersenyum bangga karena kekasihnya berani datang ke rumah keluarganya tanpa dia minta sebelumnya. Donatan tersenyum menyapa semua orang. Namun berbeda dengan lelaki itu, keluarga Nayna di sana menatap Donatan dengan tatapan yang tidak bisa diartikan.
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD