5. Bertemu Machiko

952 Words
Queenayna menghentikan mobil mewah otomatisnya yang berwarna putih mengkilap itu di depan rumah berhalaman luas di tengah-tengah perkotaan. Dinnnn dinnn , dia mengklakson agar security membukakan gerbang untuknya. Setelah pintu terbuka, Nay melajukan mobilnya di pekarangan rumah yang dari luar terlihat sepi itu. "Pub pindah huh," dengus Nay saat dia memasuki rumah megah itu disambut music jedag jedug yang menulikan telinganya. Nayna tersenyum saat melihat Chika sedang menata cake dengan serius. "Ladies," goda Nay membuat Chika menoleh. Chika membelalakkan matanya, mulutnya menganga seperti melihat setan "Enn..Nay?" Pekiknya menatap lebar Nayna. Nayna langsung membekap mulut Chika agar tidak berteriak. "Husttt kau ini selalu saja berteriak, memangnya kamu tidak malu dilihat banyak tamu yang datang hah?" cibir Nayna mendengus kesal dengan kelakuan temannya yang suka sekali berteriak. Chika menyengir kuda dan dia langsung memeluk Nay erat. Sudah lama sekali mereka tidak bertemu seperti ini. "Sumpahh gue kangen binggou ama elooo Nay," ucap Chika dengan matanya berbinar bahagia. "Iye iye gue juga kengen ama elo kok, Ekafi mana?" Tanya Nayna mencari sosok wanita yang suka sekali bergonta-ganti pasangan itu. "Yaelah Nay, Eka mah sedang cari mangsa lah. Elo kan tau gimana temen kite si Ekafi itu," ucap Chika tersenyum mengedipkan matanya kearah Nayna. "Dia nggak berubah yah, tetep aja mainin lelaki," ucap Nayna diangguki Chika. Nay mengedarkan pandangannya mencari Diana yang menjadi ratu pesta untuk malam ini. "Chika ikut gue ke Diana yok, gue takut nih nglewatin banyak lelaki beringas itu," ucap Nayna bergidik ngeri melihat banyak pasangan muda mudi b******u ria di depannya. "Ayo gue anterin." Mereka melewati kumpulan lelaki yang menatap mereka lapar. Pesona yang dimiliki Nay bahkan tidak ada yang bisa mengelak paras sempurna wanita itu. Sedangkan Chika dia pramugari di sebuah maskapai penerbangan dengan tubuh ideal berhidung mancung apalagi bibirnya berwarna merah 'ngrempelo ati' kata orang jawa. Nayna menepuk bahu Diana membuat wanita itu berbalik dan melempar asal kado yang ada di tangannya. Wanita itu berhambur memeluk Nay erat. Beruntung sekali Chika sigap menangkap bingkisan kado tersebut. "Aaaa Naynaaaa gue kangen tauk sama elo," pekik Diana membuat semua tamu undangan menatap mereka. Eka yang sedang berbincang dengan salah satu mangsanya pun langsung menuju mereka dan ikut memeluk Nayna. Mereka bertiga berpelukan dengan teriakan histeris mereka saking bahagianya melihat Nayna kembali ke Indonesia. "Hei kalian mau membunuhku?" Ucap Nay membuat mereka berdua melepaskan pelukannya pada Nayna. "Iya iyaa princessnya Corlyn dikangenin kita kagak mau," cibir Eka membuat Nay memukul bahunya pelan. "Mana nih kadoku?" Tanya Diana yang tidak lupa menagih kado dari sahabatnya itu. "Iya mana oleh-oleh kita? Elo ngilang tahun-tahunan masa nggak ada oleh-oleh buat kita," kata Ekafi diangguki Chika dan Diana. Nay terkikik geli dengan sindiran yang diberikan ketiga sahabatnya. "Iya aku ada kok kalian tenang aja. Eh Maudi hanya titip kado aja buat kamu. Dia masih ada kontrak dengan perusahan Grandpaku," jelas Nayna. "Yah nggak lengkap deh," jawab Chika. * Semua sudah larut dalam pesta itu, Eka sudah menghilang entah kemana karena dia adalah penganut one night stand. Sedangkan Chika dengan setia berada di samping Nayna duduk di pinggir kolam renang yang sudah disediakan kursi rotan dengan meja jamuan yang memiliki lebar kurang lebih satu meter. Pandangan Nayna jatuh pada seorang lelaki yang sedang duduk dikerubungi lima wanita sekaligus. Wahh lelaki itu seperti makanan yang tengah dikerubungi lalat. "Ngapain dia di sini?" desis Nayna menatap lelaki itu dari jauh. Mendengar desisan Nayna, Chika mengikuti arah pandang wanita itu. "Lo mengenal Machiko?" Tanya Chika membuat Nayna menoleh. Nayna mengangguk, "Keponakan uncle dan auntyku," jawab Nayna. "Ooow .. dia sangat tampan, sukses dan juga digilai banyak wanita," ucap Chika membuat Nayna bergidik ngeri. Digilai banyak wanita? Sehebat apa lelaki itu sampai banyak wanita yang menggilainya? "Oh ya? Baiklah mungkin kita akan bersenang-senang sedikit malam ini," jawab Nayna langsung berdiri dari duduknya. Chika menatap Nayna penasaran, mau melakukan apa wanita itu kira-kira? Nayna berjalan dengan angkuhnya menuju kerumunan di depannya. "Baby, apakah kamu keturunan dari keluarga Kusuma dan William?" Tanya wanita berpakaian merah menyala itu. "Honey maukah kamu jadi pacarku?" Tanya wanita dengan gaun minim seakan kekurangan bahan tersebut. Nayna hanya mendengus mendengarkan ucapan para wanita itu diiringi desahan-desahan dari mereka yang nampaknya sengaja memancing hormon lelaki itu. "Permisi," ucap Nay sedikit keras membuat mereka menoleh. Machiko kaget saat melihat Nayna berada di pesta kekasih sahabatnya. Chiko datang ke sana karena undangan dari sahabatnya. "Permisi saya ingin menemui suami saya," ucap Nay dengan suara lantang. Suami? Siapa? Wanita-wanita itu menatap Nay meremehkan, rupanya mereka tidak tau siapa Nayna. Nayna bahkan punya kuasa untuk menyeret mereka semua dari acara ini. "Aduh sayang katanya tadi ambil minum kok malah disini sama tante-tante sih. Kamu nggak kasihan sama aku yang pegel berdiri terus nungguin kamu? Aku kan nggak boleh capek takut kandunganku kenapa-napa," kata Nay langsung duduk di pangkuan Chiko sambil mengelus perutnya yang rata. Para wanita itu langsung bubar dengan sendirinya melihat Nayna yang duduk di pangkuan Chiko tanpa mendapat penolakan sama sekali. Tidak seperti sikap yang Chiko tunjukkan kepada mereka saat hendak merayu lelaki itu. Nayna merasa puas bisa mengusir para wanita keganjenan itu. Nayna mendengus kesal saat merasakan Chiko menghirup aroma tubuhnya. Nayna segera berdiri dari pangkuan Chiko. Saat Nay hendak berdiri, Chiko justru mengeratkan pelukannya pada pinggang wanita itu. "Lepasin enggak?" Nay melotot kearah Chico yang sedang tersenyum menggoda kearah Nayna. "Gimana kabar dedek bayi sayang?" Goda Chico membuat wajah Nayna memerah menahan malu. "Dedek bayi apaan sih! Tadi aku.. aku.. ah bodo amat, minggirr!" Nay yang gugup langsung menginjak kaki Chiko hingga Chiko mengerang kesakitan. "Arghhh kenapa wanita itu selalu saja menginjak kakiku," ringis Chiko sambil menatap Nay yang berlari meninggalkannya. Chika terbahak melihat aksi gila Nayna. Kelakuan Nayma memang tidak pernah berubah, selalu tengil dan juga menyebalkan. "Aku tidak bisa membayangkan jika mereka jadi pasangan," kekeh wanita itu membayangkannya.
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD