Falling In Love

1228 Words
Aku membuka pintu flatku, kulihat lampu lampu sudah dipadamkan. Pasti Kania sudah tidur. Apa yang kuharapkan? Aku pulang hampir jam 3 subuh. Kania pasti sudah tidur. Aku merutuki diriku sendiri. Aku langsung mandi, walau air dingin menusuk hingga ke tulangku tapi aku terus tersenyum mengingat perlakuan Theo kepadaku. Dia sangat manis dan misterius. Setelah mandi aku berjalan masuk ke kamar. Kamarku terletak bersebelahan dengan kamar Kania. Aku nyalakan lampu kamarku dan segera merebahkan badanku ke atas kasur single bed milikku. Pikiranku terus berkelana mengingat Theo. Bagaimana bisa ada manusia sesempurna dia? Aku pasti berbohong bila kukatakan aku tidak menyukainya semua wanita waras pasti akan langsung suka dengan ketampanannya itu apalagi mata birunya. “Aku sangat mengenalmu Evangeline Kathyline Esmeralda Antonio..” Perkataan Theo kembali mengusikku, siapa dia? Dia bilang dia kenal aku saat aku masih di California? Tapi aku sama sekali tidak mengingatnya. Aku tidak memiliki teman setampan dia. Orang tertampan yang kukenal di California hanyalah James. Aku menggigit bibirku dan memeluk gulingku erat, aku sudah berlari sepanjang hidupku, mencoba berbagai cara agar tidak bertemu lagi dengan orang orang dari masa laluku, tapi kenapa sekarang mereka datang satu persatu? ************************************************** Kania menatapku yang baru saja keluar dari kamar. Dia sedang duduk di sofa usang ruang televisi yang bersatu dengan ruang tamu kami. Ya aku baru bangun tidur. Aku lihat jam menunjukkan jam 12 siang. Bagus, ini adalah pertama kalinya dalam sejarah aku bangun sesiang ini. "Hai Kathy? Bagaimana pengalamanmu kemarin?" Kania menatapku. Mendapat pertanyaan itu, aku jadi teringat kejadian kemarin, ketika Theo menyelamatkanku dan ketika dia mengantarku pulang. Wajahku serasa memanas dan aku begitu bersemangat. Aku langsung duduk di sebelah Kania dengan muka berbinar binar. "Kau kenapa?" Kania mengerutkan keningnya menatapku. "Aku menemukan pangeranku Kania" "Laki laki dengan kuda putih?" Kania semakin mengerutkan keningnya. Aku menganggukan kepalaku kuat,"Ya Kania, aku bertemu dengannya" Aku lalu menceritakan pengalamanku di ranch kemarin. Dari awal pertemuanku dengan Tomy hingga Theo yang mengantarkanku pulang. Kania menatapku tersenyum,"Kamu serius? Kukira selama ini kamu akan menjadi perawan tua mengingat pangeran impianmu itu, astaga Kathy aku ikut berbahagia untukmu" Aku memeluk Kania. Ya Kania adalah sahabat yang paling mengerti aku. Kania melepaskan pelukanku. Aku agak kesal dengan kelakuannya tapi dia menampakkan muka serius. Aku jadi agak waswas dia kenapa? "Kamu bilang dia sudah mengenalmu sejak kamu masih di california?" "Iya", aku mengangguk. "Entahlah Kathy, hal itu mengusikku. Kamu harus hati hati dengannya." Aku mengiggit bibirku, Kania benar. Hal itu juga mengusikku. Jika saja bisa aku tidak mau bertemu lagi dengan orang orang dari masa laluku. “Aku takut kalau dia adalah salah satu anak di SMA mu dulu yang sempat kamu tindas", Kania menyentuh lenganku. Pikiranku kembali melayang ke masa senior highschool ku di California. Di sana aku adalah primadona sekolah. Wajahku membuatku menjadi pusat perhatian sekolah belum lagi kekayaan keluargaku. Aku juga tergolong siswi paling pintar di angkatanku. Tidak ada yang tidak mengenal Eve. Aku sering bergonta ganti kekasih sesering aku membeli pakaian branded. Dan aku juga sering menindas orang orang yang kuanggap menjijikan. Banyak yang menjadi korbanku. Dulu dengan semua title yang melekat padaku membuat sifatku sangat buruk. Tidak jarang ada siswa atau siswi alin yang bahkan sampai pindah sekolah atau harus menjalani terapi karena perbuatanku. Aku memang tidak pernah menyerang mereka secara fisik, tapi aku menggunakan serangan psikis. Dan aku sama sekali tidak mengingat Theo jika dia memang adalah salah satu korbanku. Yang paling kuingat sebagai salah satu korbanku adalah Lyra. Dia perempuan berambut pirang dengan kulit yang terlalu putih dan badan yang sangat indah. Aku iri dengan bentuk badannya yang sempurna. Tapi dia memiliki satu kekurangan. Giginya sangat tidak rapi apalagi gigi depannya yang membuatnya seperti tikus. Hal itu yang selalu menjadikannya objek lolucon di sekolah. Rat Girl itu sebutan kami untuknya. "Kathy kau mulai lagi. Harus berapa kali kukatakan aku tidak suka bila kamu melamun seperti itu," Kania berdecak kesal padaku. Aku hanya meringis,"Maaf" “Aku sudah meminta ijin pada Jeslyn agar kau cuti hari ini." Aku menyeringai dan kembali memeluk Kania,”Kamu sahabat terbaikku” ************************************************** Aku menghabiskan hari dengan membersihkan flat kami, dari siang hingga sore. Aku merebahkan badanku di sofa ruang tamu. Dan mulai memejamkan mata, aku lelah. Teng Tong Suara bel mengusikku. Kulihat jam menunjukkan jam 5 sore. Pasti bukan Kania, dia sedang bekerja. Jessica? Pasti bukan hari ini jadwal dia pergi ke pusat kebugaran tubuh. Aku melangkahkan kaki membuka pintu utama. Saat kubuka, aku mengangakan mulutku. Itu Theo. Aku mengucek ngucek mataku ternyata benar Theo dengan baju santai kaos oblong biru dan celana pendek tiga perempat dia terlihat santai dan tampan. Dia tersenyum padaku. "Hai Eve?" "Theo?" Theo terkekeh kecil melihat ekspresiku. Aku masih merasa mimpi laki laki di depanku ini Theo,”Apa ini benar kamu?” Theo tersenyum kecil,”Kamu mau terus bertanya seperti itu atau kamu mau membiarkan tamumu masuk?” Aku merasa wajahku kembali memerah, kenapa aku kembali berlaku bodoh? Aku membuka pintuku semakin lebar dan membiarkan Theo masuk. Theo melangkahkan kakinya masuk ke dalam flatku dan menatap flat kecilku, aku bersyukur karena tadi aku sempat bersih bersih. Theo mengambil duduk di salah satu sofa dan tersenyum padaku,”Kamu tidak akan menawarkan tamumu minum?” “Oh..” Sialan! Aku segera menutup pintu dan berjalan ke dekatnya,”Kamu mau minum apa?” “Teh hangat boleh?” Aku mengangguk, musim sudah mulai menginjak musim gugur, tentu saja udara mulai dingin, aku harus mulai membeli minuman hangat. Aku berjalan ke dapur yang menyatu dengan ruang tamu lalu membuat dua gelas teh hangat. Aku lalu membawanya ke ruang tamu. Dan kembali merasakan tatapannya yang begitu intens membuatku merasa gugup. Aku menunduk di sampingnya dan menaruh segelas teh di meja depannya, karena lenganku yang bergetar, aku tidak sengaja menumpahkan sebagian isinya ke sepatu Theo. “Ya Tuhan! Theo maafkan aku!” Aku berusaha mengelap sepatu Theo, tapi lengan Theo menghentikanku, jarak wajah kami sekarang benar benar dekat, aku terjebak di dalam iris biru yang seindah lautan, aku bisa melihat pantulan diriku di sana. “Eve”, harus mint tercium indraku, Theo menyebut namaku dengan begitu menggoda, membuat jantungku berdebat dengan sangat cepat. Perlahan Theo mendekatkan wajahnya padaku, dan entah kenapa aku menutup mataku. Ketika hidung kami bersentuhan, aku merasa jantungku jantuh ke lantai dan tidak lama kemudian, bibir kami bersentuhan. Theo mendiamkan bibirnya di depan bibirku bersentuhan, seolah menunggu jawabanku. Ketika aku membuka bibirku kecil, Theo melumat bibirku dengan lembut atas bawah bergantian. Perasaan hangat menjalar di hatiku, menyebarkan gelenyar aneh pada tubuhku. Aku merasa kakiku seperti jelly, tapi Theo seperti menyadarinya. Dia meraihku dan menaruhku di pangkuannya. Theo memperdalam ciuman kami dan ketika kami kehabisan nafas, dia melepaskannya dengan lembut. Theo menyatukan kening kami dan kami berbagi udara. “Tadi itu luar biasa”, Theo tersenyum miring membuat wajahku semakin memanas. Aku telah jatuh cinta. ************************************************** "Tuan? Tuan James hendak bertemu dengan anda" kata seorang pelayan wanita membungkukan badannya ke arah tuan besar mereka "Suruh masuk", Sang Tuan tidak mengalihkan pandangannya dari hamparan kebun dari jendela ruang kerja di rumahnyanya. Tidak lama kemudian terdengar pintu kembali diketuk dan terbuka. Masuklah seorang laki laki berwajah eropa yang tampan dengan rambut pirang yang terlihat lembut jatuh menyentuh keningnya. "Kau akan pergi lagi ke makam itu?" James memecah keheningan di antara mereka. “Dia adalah kunci dari semuanya" "Aku ikut”, James menawarkan dirinya, ada yang harus dia bicarakan sepulang dari makam. Sang tuan menyalakan rokoknya dan berjalan mendahului sahabatnya.
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD