White Horse

1821 Words
Aku menatap bayanganku di cermin sekali lagi. Kaos putih dengan celana jeans panjang navy dipadu dengan sneaker putih. Rambutku kuikat ponytail. Aku cukup puas dengan penampilanku sekarang. Sesuai janji kami kemarin, minggu ini Aku dan Jessica akan mengunjungi pacuan kuda milik Theo. Aku mengambil jaket denimku dan mengenakannya. Aku siap.  "Waw kau sangat cantik Kathy" Kania yang baru pulang dari shift tambahannya melihatku terpana.   "Terimakasih Kania", aku tersenyum lebar. "Pulang jam berapa?" Kania merebahkan badannya ke sofa dan menatapku. "Entahlah kamu tidur saja duluan saja".  teng tong  Aku mendengar suara bel, aku mohon pamit pada Kania dan berjalan ke arah pintu dan membukanya. Aku mengangakan mulutku menatap penampilan Jessica. Dia sangat cantik seperti model pemotretan edisi koboi. Kemeja kotak kotak coklat tua dimasukkan ke dalam celana pensil jeans navy. Celananya dimasukan ke dalam sepatu knee boot hitam dengan heels rata. Rambutnya yang ikal dibiarkan terurai dipermanis dengan topi koboi coklat tua yang sangat modis. Sekali lagi aku merasa percaya diriku jatuh ke titik terendah.   "Ayo Kathy. Aku tidak mau sampai yang lain menunggu", Jessica menarik tanganku keluar dari flat.  "Bye Kania", Teriaknya sebelum kami menuruni tangga.   **************************************************  Kami tiba di sebuah ranch yang sangat luas dengan sebuah istal yang panjang. Sebuah villa besar juga terlihat kokoh berdiri angkuh di belakang istal. Mataku menatap bayangan Tomy yang cukup tampan dengan kaos abu dan celana pendek serta sneaker birunya. Dia terlihat santai dan nyaman dengan pakaiannya. Dia tersenyum melihat kami dan segera mendekat. Dia berdiri di antara aku dan Jessica. Dia lalu menyelipkan tangannya ke pinggang kami,"Aku senang kalian datang. Ini ranch milik Theo. Kata Theo kalian bebas memilih kuda untuk ditunggangi".   "Yeay aku sudah lama tidak berkuda." Jessica terlihat sangat bersemangat. Jessica mengedarkan pandangannya dan kembali pada Tomy,"Di mana Theo?"  "Di dalam istal, kau sana saja sekalian pilih kudanya. Theo sangat pandai dalam memilih kuda".   Jessica melompat lompat seperti anak kecil dan segera berlari ke arah istal.   "Ayo",Tomy menarik tanganku ke sebuah tempat duduk kayu di pinggir lapangan berkuda. Kami duduk di sana.  "Siapa saja yang datang?" Aku mencoba membuka perbincangan. "Emm, kata Jemy hanya Theo, Franco dan pasangannya."  "Siapa Franco?" Tomy mengedikan dagunya ke arah lapangan, di sana ada dua orang yang sedang duduk di atas seekor kuda,"Itu Franco dan Vanie"  "Ayo aku carikan kuda untukmu", Tomy berdiri dan tersenyum padaku, dia mengulurkan sebelah tangannya dan aku menjawabnya.  Kami berjalan ke arah istal. Kami melihat banyak kuda yang cantik dan gagah, terpisah dalam sekat sekat. Tomy mengajakku ke arah seekor kuda yang cantik dan gagah berwarna hitam. Tomy mendekati kuda itu dan mengelus kepalanya dengan lembut. "Hai Black sudah lama kita tidak bertemu. Apa kamu merindukanku?" Kuda itu mengikik tampak senang dengan kehadiran Tomy  "Ini Black, kuda kesayanganku", Tomy memperkenalkan kami. "Hai Black", kataku mengelus kuda Tomy. Black mengikik tampak senang dengan perkenalan kami. Apa dia yang akan kutunggangi?  "Itu bisa kau pakai untuk kau tunggangi Kathy" Tomy menunjuk ke arah kuda di depan kandang Black yang terlihat gagah dan sombong. Warnanya coklat muda. Rambutnya panjang indah.   "Namanya Star"   Aku mendekati kuda itu dan mengelusnya lembut. Tapi sialnya kuda itu seperti enggan kusentuh dasar kuda sombong. Sangat berbeda dengan Black. Kenapa Tomy tidak memberikan Black saja? Tomy mendekatiku dan memberikan alat alat untuk menjaga keamanan dalam berkuda. Dia juga memakaikan alat alat untuk ditunggangi kepada si sombong Star. "Kamu bawalah Star keluar. Aku akan membawa Black"  Tomy menuntun Black dengan anggun dan cantiknya. Sedangkan aku menggiring ehm maksudku menarik Star keluar.  Saat aku sudah mencapai lapangan, kulihat Theo sedang menaiki seekor kuda putih dengan anggunnya. Dia memakai kaos hitam dan celana khaki dipadukan dengan boot hitam. Kaca mata coklat membingkai matanya. Sungguh disayangkan aku jadi tidak bisa memandang mata indahnya. Lalu kulihat Jessica sedang menaiki kuda coklat bersebelahan dengan Theo. Mereka tampak sangat akrab dan serasi. Hati kecilku terasa dicubit, menyadari bahwa aku cemburu. Bug   Aku merasa menabrak sesuatu hingga aku jatuh terduduk. Sial ini pasti akibat kebiasaan burukku melamun. Aku menggosok gosok pantatku dan mulai berdiri aku melirik ke arah kuda sombong itu, dia menatap angkuh dan meremehkan padaku. Sialan ingin sekali aku jadikan kuda sombong itu sate untuk makan malam.   Aku lalu menengokkan kepalaku kepada orang telah kutabrak. Seperti deja vu aku mencoba mengingat di mana aku bertemu dengan laki laki di depanku ini. Iris abunya memandang terkejut padaku. Wajah tampannya mengingatkanku pada patung adonis dewa yunani rambut pirangnya tertiup angin membuatnya tambah tampan. Sosok itu lalu memegang pipiku.   "Eve?"  Deg   Nama itu. Itu adalah panggilanku dulu sebelum malapetaka itu datang. Aku mengerjapkan mataku "Ini benar kau Eve?"  Laki laki itu langsung mengambil lenganku dan menggenggamnya erat,"Ya Tuhan Eve, terimakasih Tuhan, kita bisa bertemu lagi".   "Kau siapa?" Aku melepaskan lenganku lembut. Aku memiliki ingatan yang buruk. "Kau lupa padaku? Aku James Calligan. Jemy tetanggamu di California."   Aku membulatkan mataku. James? Laki laki ini adalah tetanggaku saat aku masih tinggal di California. Dia lebih tua dariku 5 tahun. Menurutku dia adalah laki laki tertampan di daerah Kaltavia perumahan mewah tempatku tinggal dulu.  "Hey? Eve? Kau melamun?" Jemy menggerakkan tangannya di depan mukaku. Mukaku langsung memanas.  "Jemy? Aku tidak menyangka akan bertemu denganmu di sini" Aku tersenyum kecil.  "Adikku kuliah di sini" Aku jadi ingat kata kata Jessica saat kemarin malam,"Kau tidak pernah cerita padaku punya adik"  "Aku punya satu Tomy .Thomas Calligan"   Bagaimana aku bisa tidak tahu nama lengkap Tomy? Bodoh!   "Kau bergabunglah dulu dengan yang lain aku akan mengambil kudaku dulu"  Aku tersenyum dan kembali menarik si kuda sombong ke arah yang lain sedang berkumpul. Tatapanku bertemu dengan Theo. Dia sudah melepaskan kaca matanya. Matanya menatap tajam padaku. Apa aku melakukan kesalahan? **************************************************  Jemy sudah bergabung bersama kami dia menaiki kuda putih dengan corak hitam yang cantik. Aku mulai menunggangi kuda sombong ini. Aku jauh tertinggal di belakang. Yang lain sudah jauh di depan dengan kuda mereka. Bahkan Jessica sedang asik bersama Theo. Aku mengepak ngepak p****t kuda sombong ini,"Ayolah star kita jauh tertinggal kau ini lelet sekali"  Tapi kuda ini malah semakin sulit kuatur. Karena kesal, aku menepak p****t kuda ini dengan sangat keras. Ops sepertinya aku kelepasan. Kuda ini mengikik keras dan segera berlari cepat. Aku sangat takut. Aku memeluk leher kuda ini dengan kencang.   "TOLONG!" teriakku nyaring.  "Kathy" aku bisa mendengar teriakan Jessica yang memekakan telinga.  "Tolong!"   Aku lalu memalingkan kepalaku ke belakang. Aku melihat Jemy memacu kudanya cepat mencoba mendekatiku.   "Jemy" teriakku. Tiba tiba hembusan angin kencang terasa di sebelah kiriku. Aku memalingkan mukaku ke arah kiri. Mataku langsung berhadapan dengan iris sebiru laut yang menyorot tajam.  "Theo" bisikku tidak percaya  "Pegang tanganku",Katanya dengan tegas. Kudanya berpacu sama kencangnya dengan kudaku. kami sejajar sekarang.  "Aku takut"  "Hey lihat mataku. Percaya padaku."   Aku menatap dua bola mata biru itu. Entah mengapa aku langsung percaya padanya. Hatiku menyuruhku untuk mengikuti katanya.   "Eve"  Aku membalikkan kepalaku ke arah kanan di sana sudah ada Jemy mengulurkan tangannya. Entahlah tapi aku langsung menyambut uluran tangan Theo. Theo langsung menarikku ke arah kudanya. Aku langsung terduduk di belakangnya. Karena masih takut aku memeluknya erat. Aku menutup mataku erat. Aku mencium wangi coklat, tembakau dan citrus memenuhi indra penciumanku. Aku menyukai wangi tubuh Theo. Kuda Theo pun berhenti. Aku masih memeluk punggungnya. Saat kurasakan usapan pelan di bahu kiriku. Aku mulai membuka mataku. Dan bisa kulihat Jemy menatapku cemas,"Kau tidak apa apa?"  Aku menggelengkan kepalaku kuat dan membenamkannya kembali ke punggung Theo,"Eve"   Aku terperangah dengan panggilan itu. Panggilan itu keluar dari bibir orang yang sedang kupeluk sekarang. Aku melepaskan pelukanku. Theo langsung menoleh badannya dan balas memelukku,"Ini sudah selesai". Aku menganggukan kepalaku. Theo lalu melepas pelukannya.   "Kudanya gimana?"  "Biar penjaga ranch yang mencari star"  Jessica, Tomy, Franco dan Vanie menghampiri kami.  "Oh God, kau tidak apa apa?" Tanya Jessica khawatir padaku aku hanya menganggukan kepalaku.  "Kau tidak bisa berkuda?" Tomy menatapku tidak percaya.   Aku menggelengkan kepalaku,"Kenapa kau tidak bilang, Kathy aku minta maaf aku tidak tahu"  Aku mau menjawab, tapi aku masih terkejut dengan apa yang terjadi padaku tadi. Kurasa Theo melihat ekspresiku. "Kita kembali ke Vila", Theo berucap dengan tegas. Aku menemukan pangeranku. Antheo Arsheta Alaric  **************************************************  Aku merapatkan jaket yang kupakai. Udara yang dingin terasa menusuk di kulitku. Aku sekarang berada di teras villa besar milik Theo. Aku duduk di kursi kayu sambil memegang coklat panas. Aku memutuskan butuh waktu untuk diriku sendiri . Aku tidak bergabung dengan Jessica dan yang lain. Mereka mengadakan pesta kecil. Aku benci dengan semua hal berbau pesta, karena mengingatkanku pada sosokku yang dulu. Si ratu pesta. Aku tertawa kecil menyadari nasibku sekarang. Sangat berbeda.   "Hey apa yang membuatmu tertawa?"   Aku memalingkan mukaku ke arah suara itu dengan kaget. Aku bertatapan dengan sepasang iris biru yang kupuja itu.   "Theo", Aku tersenyum pada laki laki itu. Theo sangat tampan malam ini. Cahaya rembulan membuatnya sungguh menawan. Dia memakai sweater coklat yang terlihat nyaman dan sederhana. Ah dia sangat sempurna.  "Apa yang kau tertawakan?" Theo berjalan mendekat dan duduk di sampingku. "Emm tidak, hanya pikiran konyolku saja. Kenapa kau tidak bersama yang lain?" Aku menoleh menatap Theo yang masih menatapku. Jarak wajah kami sangat dekat, membuatku bisa merasa wajahku memanas. Aku mengalihkan pandanganku.   "Aku hanya ingin bersamamu"  Tadi dia bilang apa? Theo langsung tergelak melihat ekspresiku sepertinya.   "Kenapa kamu jadi begitu berbeda Eve?"   Nama itu lagi, aku menoleh pada Theo dan menatap iris birunya,"Kenapa kau memanggilku Eve?"  Theo terdiam. Dia hanya menatapku, perlahan senyuman kecil terbentuk di bibirnya,"Aku mengenalmu Evangeline Kathyline Esmeralda Antonio. Mungkin kau lupa, tapi aku pernah tinggal di California. Itu sebabnya aku mengenalmu Eve, itu juga alasan aku bisa bersahabat dengan Jemy. Lagi pula semua hal tentang dirimu dan keluargamu sulit untuk tidak diingat."  Deg  Aku merasa jantungku berdetak semakin cepat. Salah satu orang dari masa laluku. Itu alasan mengapa aku seperti familier dengan wajah tampannya. Tapi aku sama sekali tidak mengingatnya siapa dia?  "Hey? Kamu melamun Eve?"  "Ah? Tidak"  Theo tersenyum menatapku.   "Kamu tidak mengingatku" Aku mengigit bibirku,"Maaf" "Jangan minta maaf, itu wajar. Dulu aku bukan siapa siapa. itu alasan mengapa seorang Eve tidak mengenalku."  Aku merasa semakin tidak nyaman, siapa laki laki ini? Theo lalu mengusap lembut kepalaku dan tersenyum. Aku terhipnotis kembali dengan matanya dan senyumnya.   "Ayo kita pulang"  Aku terperangah mendengar pernyataan Theo,"Tapi, Jessica?"  "Aku sudah mengatakan pada Jemy dan Jessica kalau kau perlu pulang dan aku yang akan mengantarkanmu."  Aku merasakan kupu kupu di perutku sedang menari tango sekarang. Aku diantar oleh Theo? Berduaan dengan Theo di satu mobil. Wajahku kembali memenas.  Theo berdiri di hadapanku dan menarikku ke pelukannya,"Kau kedinginan"   Theo terus memelukku menuju sebuah mobil sport mewah berwarna putih. Aku tau mobil itu McLaren F1 . Ya Tuhan, sebenarnya seberapa kaya Antheo Arsheta Alaric ini? Setiap hal yang berkaitan dengannya pasti tidak akan jauh dari kata MAHAL dan KAYA. Aku semakin merasa seperti butiran debu.  Theo memasukkanku ke bangku penumpang dia lalu duduk di bangku kemudi. Kami meninggalkan arena ranch ini menuju flatku. Aku bingung sebenarnya dari mana dia tau rumahku tanpa kuberitahu?  "Kau tidurlah sekarang sudah hampir subuh. Kau ijin saja besok untuk tidak bekerja"  Oke ini semakin aneh dari mana dia tau semua soal diriku?  
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD