Aku menatap bayanganku di cermin. Mungkin benar kata pepatah uang tidak pernah bohong. Gaun dan sepatu ini sangat pas denganku. Sangat cantik. Sangat menawan. Sangat berkelas. Dan juga sangat mahal. Pakaian ini mengingatkanku pada Evangeline Kathyline Esmeralda Antonio yang dulu. Mahal.
"Ayo kita harus cepat aku tidak mau terlambat"
Jessica menarik tanganku mengikutinya masuk ke dalam mobilnya. Jalanku agak kesulitan dengan sepatu hitam mahal dengan tinggi 12 cm ini.
**************************************************
Kami memasuki Insom club and cafe. Tempat ini sangat glamour, gila dan juga gelap. Wangi alkohol dan rokok tercium pekat di tempat ini. Lagu yang mengalun sangat memekakan telinga. Bahkan mungkin bisa membuat tuli orang tuli. Tunggu apa yang tadi aku katakan?
"Hai pretty"
Tommy yang melihat kedatangan kami langsung datang dan mengecup pipi Jessica. Jessica tertawa dan membalas mengecup pipi Tommy. Tommy sangat tampan malam ini, dia adalah pria popular di kampus dengan kekayaan dan ketampanannya tentu saja. Tapi menurutku dia mengingatkanku pada patrick film spongebob. Dia tampan tapi minus otak, mengingat dia memutuskan hubungannya dengan Jessica, sang primadona kampus.
"Kamu sangat cantic Jessica"
Jessica terkekeh,”Kapan aku tidak tampil cantik?"
Tommy melirik padaku,"Siapa dia?" Dia menatapku dari atas sampai bawah lalu memberikan smirk dan tersenyum menggoda, uh aku tidak suka Tommy.
“Kamu tidak mengenalnya? Seriusan?” Jessica tampak terkejut dan menatapku lalu Tommy berulang kali. Yap itulah Jessica selalu mendramatisir keadaan.
"Tapi aku belum pernah melihat perempuan secantik dia di kampus."
Jessica tersenyum misterius ke arahku,"Tommy, ini Kathy anak desain fashion. Sahabatku"
Tommy melongo dengan wajah bloonnya ke arahku. Aku jadi berfikir apa kata fansnya di kampus bila melihat muka idolanya seperti ini?
“Kamu pasti bercanda! Kathy? Maksudmu Evangeline Kathyline?"
"Yap"
"Your so damn hot!” Tommy langsung memeluk dan menghirup aromaku. Aku jengah dengan perlakuannya. Bila tidak ingat dia adalah tuan rumahnya ingin sekali aku menjitaknya meski sekali, em dua kali.
Tommy melepas pelukannya dan langsung menggandengku dan Jessica ke arah lantai dansa, membelah kerumunan lalu ke bagian sofa sofa yang dipisah dengan semacam tali pembatas dan dijaga dua orang pria berbadan kerbau. Ketika Tommy mendekat, para pria itu mengangguk dan membuka tali mempersilahkan kami masuk. Tommy membawaku ke sofa di ujung dan kami lalu duduk sambil berbincang ria. Maksudku Jessica dan Tommy berbincang ria dan kadang aku mengikuti. Jessica memesan chivas dan Tommy memesan tequilla. Sedangkan aku? Aku memesan orange juice. Jangan tertawakan aku, karena bila Jessica terlalu mabuk pasti aku yang harus mengendarai mobil.
“Aku tingga dulu ya", Jessica mengambil tasnya dan berdiri.
“Kamu mau ke mana?” Tommy bertanya sambil mengambil cocktailnya.
“Berburu”, Jessica menyeringai, Jessica lalu mengedipkan sebelah matanya padaku dan pergi berlalu. Aku berbincang dengan Tommy. Harus kuakui Tommy orang yang menyenangkan di luar sosoknya yang arogan, playboy, dan sombong.
Jessica pergi sudah agak lama aku jadi khawatir padanya. Tommy pun sudah pergi, dia bilang mau mencari perempuan cih dasar playboy. Saat aku hendak mencari Jessica, Jessica datang dengan seorang laki laki yang ehm sangat hot dan tampan menurutku tolong garis bawahi kata SANGAT. Rambutnya coklat tua kontras dengan kulitnya yang putih. Rahangnya yang tegas mempertampan bentuk wajahnya. Hidungnya sangat mancung bahkan sempurna membuatku minder. Matanya yang biru menatapku seperti terkejut dan dingin? Mungkin aku salah lihat, lupakan saja. Kalau Tommy mengingatkanku pada patrick, pria di depanku ini mengingatkanku pada patung adonis dewa yunani. Aku tidak bisa mengalihkan pandanganku. Tapi, entah kenapa wajahnya terasa familiar.
"Kathy sayang, perkenalkan Theo. Theo ini sahabatku yang tadi kuceritakan,"Jessica mengedipkan sebelah matanya padaku.
Aku tersenyum mengulurkan tanganku,"Evangeline Kathyline, kamu bisa memanggilku Kathy."
Laki laki tampan itu tersenyum padaku. Jantungku seperti berhenti berdetak, entah kenapa laki laki ini begitu familiar, seolah olah sedang bernostalgia dengan kenangan lama, tapi siapa? Aku tersenyum, mungkin hanya khayalanku. Dengan wajah seperti itu, siapa yang bisa melupakannya?
"Antheo Arsheta Alaric, kamu bisa memanggilku Theo"
Laki laki itu menjabat tanganku
Drrt Drrt
Kurasakan seperti ada elektrik menjalar dari tanganku ke seluruh tubuhku. Kurasakan seperti ada kupu kupu berterbangan di perutku.
Ya Tuhan apa yang terjadi padaku?
Kami melepaskan tangan kami.
"Jessica, Kathy aku mohon maaf aku harus pergi sekarang. Kuharap kita bisa bertemu lagi." Theo tersenyum pada kami, setelah kami membalas salamnya, Theo pun melangkahkan kakinya menjauhi kami. Aku masih menatap kepergiannya hingga menghilang dari pandanganku.
“Ya Tuhan Kathy, aku jatuh cinta"
Dan kata kata Jessica sukses membuat kupu kupu yang tadi berterbangan di perutku mati seketika.
**************************************************
Kania tertawa terpingkal pingkal mendengarkan ceritaku soal pengalamanku kemaren. Hari ini aku dan Kania kabagian shift 2 di cafe jadi kami bisa agak santai pagi harinya.
"Kau itu lucu Kathy, bukannya dulu kau terbiasa dengan semua barang mewah? Kenapa ekspresimu seperti menerima bom nuklir untuk ulang tahun ke tujuh belasmu?"
"Itu dulu Kania, sebelum semuanya terjadi. Lagian dulu aku terbiasa menggunakan uang orang tuaku bukan menyusahkan orang lain. Lagian ayahku selalu mengajariku untuk tidak menyusahkan orang lain."
"Tapi kamu menyusahkan aku" Kania melirik padaku dan kembali menonton entah apa itu di televisi.
"Kamu itu pengecualian Kania.”Aku bergabung di samping Kania, memeluk tubuh mungil Kania.
Kania Yasmin adalah teman satu flatku. Kami bertemu saat aku melamar pekerjaan di cafe rose. Dia juga yang menawarkanku tinggal di flatnya, jadi uang sewanya bisa kami bagi dua.
Aku melepaskan pelukanku.
Kania meninggalkan tontonan tidak jelas di televisi dan memusatkan perhatiannya padaku,"Bagaimana skripsimu?"
"Entahlah aku bingung menyusunnya". Aku jujur mengenai ini, dosen pembimbingku adalah orang paling sibuk yang pernah hidup, bagaimana bisa dia selalu sibuk dan hanya menyempatkan membimbingku satu jam seminggu?
Kania menggelengkan kepalanya,”Biar kubantu, ambil draftmu”
**************************************************
Aku sedang duduk melamun di meja cafe dekat jendela. Hari ini cafe cukup sepi hanya ada empat orang tamu di cafe ini sekarang. Kulihat jam tangan di tanganku menunjukkan pukul 9 malam. Satu jam lagi cafe tutup.
"Kathyyyy"
Suara cempreng itu menggangu lamunanku. Aku melihat siapa yang datang ternyata Jessica. Apa yang dilakukan anak itu jam segini? Jessica lalu duduk di depanku.
"Apa yang kau lakukan jam segini Jessica? Orang tuamu tidak mencarimu?"
"Ah tenanglah Kathy, aku sudah bilang pada momy hari ini akan menginap di tempatmu"
"Apa?" Uh uh ini tidak baik.
"Kau tidak memperbolehkanku menginap?" Jessica memandangku dengan mata yang membulat dan memelas, siapa yang bisa menolaknya?
Aku mulai mengingat flatku sekarang, well tempat itu cukup besar untuk kami, karena tidak terlalu banyak barang. Dengan keadaan Jessica tidak akan membuat sumpek tapi tetap saja apa Kania akan setuju? Kania tidak pernah menyukai Jessica, Kania bilang Jessica sangat ribut dan berisik. Mereka adalah pribadi yang sangat bertolak belakang, jika Jessica meledak ledak maka Kania sangat dingin.
“Kathy” Jessica menatap ku dengan puppy eyesnya, kenapa ada orang yang bisa sesempurna Jessica? Aku tidak mungkin bisa menolaknya.
"Baiklah kau boleh menginap"
“Yeay, aku mencintaimu Kathy, kita akan bergosip sepanjang malam"
Ini akan menjadi malam yang panjang.
**************************************************
Kania menatapku dengan pandangan : jelaskan padaku semuanya. Aku menghela nafas berat. Kania selain dingin, dia juga ratu tega. Dia pernah tidak berbicara padaku selama tiga bulan penuh dan mengabaikanku sama sekali hanya karena aku pernah lupa mengabarinya kalau aku tidak akan pulang dan aku tidak sengaja membawa dua duanya kunci falt. Alhasil, Kania tidur di depan pintu sepanjang malam, sedangkan aku menginap di rumah Jessica yang serba mewah.
Aku kembali menggoreng telur. Kania menyenggol lenganku,"Kathy"
"Maafkan aku, Jessica bilang ada hal yang ingin dia ceritakan, aku tidak bisa menolaknya"
Kania menggelengkan kepalanya,"Sikap tidak enakan mu itu suatu hari akan membawamu ke dalam masalah Kathy".
Kania berulang kali mengingatkanku mengenai itu,”Iya aku tahu, maaf”
“Ck!” Kania berdecak,”Berhenti minta maaf untuk hal yang tidak salah yang kamu lakukan, biarkan si cempreng itu semalam di sini, besok pagi, dia harus sudah angkat kaki”
Aku tersenyum,”Baiklah”. Lihatkan? Kania itu ratu tega, aku tidak akan terkejut jika besok pagi jika Jessica masih di sini, Kania akan menyeretnya ke luar flat.
Aku mengangkat omelette dan menaruhnya ke dalam dua piring. Aku lalu membawanya ke ruang tengah yang menyatu dengan ruang tamu. Kulihat Jessica sedang menonton sambil sesekali tertawa.
"Untukmu",Aku menyerahkan omelette padanya. Jessica tersenyum sumringah dan langsung menyantapnya.
"Kathy? Aku sangaaaattt bahagia. Tebak kenapa."
"Emm, kenapa?"
"Tadi aku bertemu dengan Kaka Tommy. Kau tau Ka Jemy?"
Aku berusaha mengingat ingat tapi memang aku tidak pernah bertemu dengan si terkenal kakaknya Tommy ini,"Tidak. "
"Kau belum pernah bertemu dengannya?"
"Belum", Aku menggeleng
"Ya Tuhan Kathy. Kau harus bertemu dengannya dia adalah laki laki yang sangaaat tampan. Dan jangan lupakan mapan. Jika melihatnya aku berani bertaruh, tipe pria idamanmu akan berubah."
"Jadi apa pokok pembicaraan kita sekarang?"
"Ya intinya, Aku bertemu dengannya di starbucks dan dia langsung mengenaliku sebagai mantan adiknya. Menyebalkan. Aku diajak minum bersamanya. Katanya dia sedang menunggu sahabatnya. Dan tebak Kathy siapa sahabatnya?"
Aku memasukkan satu sendok omelette ke mulutku dan mengunyahnya,”Aku tidak tahu”
"Antheo Arsheta Alaric. Saat dia masuk semua mata seolah terpesona padanya. Mata birunya itu membuatku sesak nafas. Dia duduk tepat di depanku. Kami berbincang dan bercanda. Aku cukup bangga karena semua mata memandang iri padaku karena aku bisa duduk dengan para laki laki tampan seperti model pakaian dalam calvin klein.”
Aku mengernyit melihat ekspresi Jessica, jelas bukan sebuah ekspresi yang bisa ditampilkan pada anak di bawah umur.
“Dan kau tahu Kathy? Ternyata Theo adalah owner perusahaan berlian Alaric"
Ohok
Aku tersedak dan terbatuk batuk. Jessica segera menepuk nepuk punggungku dan memberikanku minum. Owner perusahaan berlian? Dia pasti sangat kaya aku merasa seperti upik abu.
“Kamu baik baik saja?”
Aku mengangguk dan berterimakasih lalu menaruh kembali gelasku di meja.
"Oiya dan bukan itu saja, dia owner hotel dan resort Alaric yang terkenal di eropa dan America terutama di Hawaii itu. Tapi katanya resortnya juga ada di Bali. Kamu tahu aku selalu ingin pergi ke sana, Bali itu surganya dunia."
Oke, bunuh aku sekarang. Jika tadi aku bilang aku seperti upik abu lupakanlah sekarang aku merasa seperti butiran debu. Theo sangat jauh dari jangkauanku.
"Oiya, dia mengajak kita ke pacuan kuda miliknya akhir minggu ini. Di sana mereka, Tommy dan beberapa sahabatnya akan datang katanya. Lumayan Kathy cuci mata. Kau harus ikut oke"
Apa aku bisa menolak tawaran Jessica? Tidak pernah bisa.