Ketika Takdir Telah Menampakkan Wujudnya

837 Words
Ketika Takdir Telah Menampakkan Wujudnya ‘’kamu mau enggak nikah sama aku?’’ Anak kecil itu kini berani menyatakan cintanya pada anak kecil yang lebih muda darinya, mereka yang masih polos dan tidak mengerti apa apa saling bertukar pembicaraan. ‘’enggak, aku mau nikah sama kakak kamu aja, kamu jelek’’ Setelah mengatakan hal itu, anak laki laki yang tepat berada didepannya menangis dan berlari menuju orang tuanya. ‘’kamu kenapa sayang’’ ‘’dia enggak mau nikah sama aku ma, dia mau nikah sama kakak, dia bilang aku jelek’’ ‘’sayang kamu enggak jelek, kamu tampan sayang’’ ‘’tapi dia lebih memilih kakak’’ Tangis anak laki laki itu masih belum berhenti, ibu dari anak itu bingung harus mengatakan apa lagi. ‘’sayang kamu harus percaya takdir?’’ Kata kata itu membuat anak laki laki itu berhenti menangis, bukan karena ia mengerti akan ucapan ibunya tapi dia malah kebingungan dengan kata kata ibunya. ‘’maksud mama?’’ ‘’kamu akan mengerti sayang’’ *** Aku membolak balikkan tiket kami berdua, memang sebelumnya Raka sudah memesan tiket bioskop dan menyerahkannya padaku agar aku menyimpannya, aku tidak sabar menonton film yang bertema romantis ini dengan kekasihku, senang rasanya bisa berdua menonton film romantis. Aku melirik jam tanganku yang melingkar di pergelangan tangan kananku, ini sudah lebih dari satu jam tapi Raka masih belum datang, aku mencobanya menelvone beberapa kali tapi tidak ada jawaban. ‘’apa Raka lupa?’’ Kekhawatiranku bercampur dengan kekesalan, benarkah Raka lupa dengan kencannya malam ini, tidak biasanya dia seperti ini. Ddrtttt…ddrrtt…. ‘’hallo ma’’ ‘’…’’ ‘’apa?’’ Suara seseorang ditempat lain mengagetkanku dengan pernyataannya ditelephone. ‘’dimana ma’’ ‘’…’’ ‘’aku akan segera kesana ma’’ Aku menutup telephone saat mama mengatakan Raka masuk rumah sakit, apa yang terjadi dengannya, apa flu kemarin membuatnya masuk rumah sakit apakah separah itu? Aku sampai 15 menit kemudian, aku langsung menuju ruangan Raka dirawat. ‘’ma, dimana…’’ ‘’sayang Raka baik baik aja kok, orang tuanya lagi didalam, kamu tunggu disini ya’’ ‘’aku mau ketemu Raka ma’’ ‘’iya sayang sebentar lagi’’ Aku berdiri jauh dari ruangan Raka dirawat tapi aku masih bisa melihat ruangan dimana Raka dirawat. Aku melihat laki laki berseragam putih layaknya seorang dokter dan seorang wanita yang sudah tidak muda lagi keluar dari ruang Raka dirawat, mereka sepertinya orang tua Raka. Memang 3 tahun hubungan kami Raka tidak pernah memperkenalkan aku dengan orang tuanya, Raka selalu mengatakan akan mempertemukanku dengan orang tuanya jika sudah saatnya. Orang tua Raka pergi entah kemana, aku langsung masuk keruangan Raka, aku melihat Raka terbaring lemah dengan jarum infuse yang tertancap dipunggung tangan kanannya. ‘’Raka maafin aku’’ ‘’kamu cantik, maaf aku enggak bisa nepatin janji aku’’ ‘’Raka maafin aku’’ Aku tidak kuat lagi membendung air mataku, seketika pipiku basah dihujani oleh kesedihanku. ‘’Nda jangan nangis, kamu enggak salah kok’’ ‘’kamu harus cepet sembuh Ka’’ Rasa bersalahku semakin besar saat Raka memaksakan untuk kuat dan terus melukiskan senyuman manis dibibirnya. ‘’sayang aku baik baik aja kok, aku enggak lama kok, secepatnya aku udah bisa pulang’’ ‘’beneran?’’ ‘’iya, aku baik baik aja’’ Aku lihat Raka sangat pintar meyakinkanku untuk percaya, aku melihat wajah pucat dan lemas masih tergambar jelas, tapi dia masih mengatakan baik baik saja. Aku memang sengaja tidak menanyakan penyakitnya, aku tidak mau dia khawatir dengan pertanyaanku. Beberapa hari kemudian Raka sudah pulang, aku tidak bisa menemaninya karena aku sekolah, mama dan papa melarangku untuk tidak masuk sekolah mama bilang Raka akan dijemput oleh orang tuanya. ‘’Nda beberapa hari ini kamu kok pulang naik taxi?’’ ‘’Raka lagi sakit Na’’ ‘’sakit?sakit apa’’ Aku mengangkat bahuku dengan tetap pada aktivitasku. ‘’katanya cuman sakit biasa’’ ‘’huhf…syukur deh kalo gitu Nda’’ ‘’tapi dia sempet dilarikan kerumah sakit’’ ‘’loh…katanya cuman sakit biasa, kok sampe dibawa kerumah sakit?’’ ‘’enggak tau deh, tapi hari ini dia udah boleh pulang kok’’ ‘’oh…syukur deh’’ Seminggu berlalu, Raka sudah kembali pulih, aku senang melihatnya bisa kembali beraktivitas seperti biasanya. Raka mengajakku nonton, dia bilang ingin mengganti janjinya dulu yang tidak sempat ia tepati. ‘’filmnya bagus banget, romantis’’ ‘’kamu mau enggak kapan kapan kita nonton lagi?’’ ‘’mau’’ ‘’oke, kapan kapan kita nonton lagi’’ ‘’makasih sayang’’ ***
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD