Dua
Untuk Pertama Kalinya Aku Menatapmu
***
‘’Nda kamu enggak kumpul di aula, lombanya udah dimulai’’
‘’Kamu duluan aja Ris, ntar aku nyusul’’
‘’Ok’’
Aku kembali berjalan menujut suatu tempat.
‘’Nda kamu mau kemana?kamu enggak mau ke aula?’’
‘’Nana aku capek, mungkin aku nyusul nanti aja, kamu duluan aja deh’’
‘’Beneran?ya udah aku ke aula dulu ya, aku mau liatin kakak ganteng, bye’’
Aku berjalan menuju kelasku, menaiki anak tangga ini satu persatu hingga aku sampai dikelas tercintaku.
Setidaknya hari ini aku bisa sendirian disini didalam kelas ku, sepi sunyi, tentram dan da…
‘’Hahaha…’’
Brak…fikiran tenangku hilang seketika ketika aku mendengar suara tawa yang keras dan sepertinya aku kenal itu suara siapa. Suara yang benar benar tidak aku inginkan kedatangannya.
‘’Beneran Za?’’
‘’Yaiyalah, padahal aku cuman senyum sama dia, eh...dianya kegirangan’’
‘’Ini baru namanya Reza’’
Prediksiku benar, dia cowok yang paling aku benci sedunia, aku bingung kenapa dia bisa disini. Aku mulai sembunyi di balik pintu kelas dan mendengarkan apa yang dibicarakan oleh kelompok cowok sok itu.
Namaya Reza kakak ganteng yang disebut sebut cowok paling perfect disekolah ini, dia memiliki teman dekat yang bisa dibilang semua teman dekatnya adalah OSIS dan menurut cewek sini mereka semua cakep dan perfect.
Aku mulai mendengarkan apa yang mereka bicarakan dari balik pintu kelasku, aku mulai sedikit emosi ketika mendengar perbincangan mereka yang sudah mempermainkan semua cewek disini.
‘’emang ya semua cewek disini udah jatuh cinta sama kamu’’
‘’kalian tenang aja, aku juga akan bagi semua cewek disini kekalian tapi ingat bagian aku harus lebih banyak’’
‘’hahaha’’
Suara tawa mereka semakin keras seraya perbincangan mereka semakin jauh.
Drrrtttt….drrrttt….
To : Nanda
From : Nana
kamu dimana?
Wali kelas kita nyariin kamu,
kamu cepetan ke aula ya, aku tunggu.
Arrggghh...kenapa dalam situasi seperti ini, haruskah aku keluar dari kelas ini, tapi cowok nyebelin itu masih ada di depan kelasku.
Aku mulai mengumpulkan keberanianku untuk membuka pintu dan keluar dari kelas ini untuk segera menuju aula.
Ceklek…
Akhirnya aku bisa membuka pintu dan mulai berjalan cepat dan menghiraukan mereka semua.
‘’Hey’’
Jalanku terhenti ketika Reza menarik lengan tanganku.
‘’Lepas’’
‘’Ngapaian kamu di dalam kelas, kamu enggak ke aula?’’
‘’Lepas’’
Aku mencoba melepaskan genggaman tangannya dari lenganku, tapi rasanya aku tidak kuat melawan tenaga laki laki.
‘’Jawab pertanyaanku’’
‘’Enggak, aku lagi males, lepas’’
‘’Kamu enggak suka aku…’’
‘’Enggak, lepas’’jawab aku sebelum dia mengatakan hal yang menjijikan.
‘’Za kayaknya dia enggak suka sama kamu’’ucap salah satu temannya yang sontak membuat aku terkejut.
‘’Beneran?’’
‘’Lepas atau aku akan teriak’’
‘’Kamu sadar enggak sih, kalo kamu teriak kamu akan dapet masalah yang lebih besar’’
‘’masalah besar???apa maksudnya’’pikirku kebingungan.
‘’lepasin’’
‘’Za kayanya dia murid kelas X ipa 1 deh?’’sambung Rian salah satu sahabat Reza.
‘’Iya deh, kayanya aku juga pernah liat nih cewek’’Fery mendukung.
‘’Udah Za lepasin aja lagian dia enggak terlalu cantik’’
‘’Heh!!apa maksud kamu, emang cewek cuman bisa dilihat dari fisik aja’’
‘’Iya, emang kenapa, ada masalah’’sambung Reza lagi yang membuat emosiku bertambah tinggi.
‘’Dasar cowok gesrek, lepasin’’
‘’Wah…nih cewek udah mulai berani rupanya’’ucap Reza yang masih mengenggam erat lengan tanganku.
Aku tidak tau harus berbuat apa lagi agar cowok nyebelin ini mau melepaskan genggaman tanggannya dari lengan tanganku, sekarang rasanya lengan tanganku sudah terasa sakit sekali.
Drrrtttt….drrrttt….
Oh tuhan terimakasih, akhirnya aku tertolong dengan suara handphone milik Reza.
‘’Halo, siapa?’’