Awal yang menegangkan.

1510 Words
" Oke kali ini cukup sampai di sini dulu perkenalan kita. Coba buka buku mata pelajaran bahasa sastra. Oh iya, apakah ada tugas kemarin?" Kataku, mengawali tugas harian mengajar di kelas baru yang tadi sempat ada insiden kecil. Tiga puluh delapan murid dua bahasa dengan kompak membuka tas mereka masing-masing lalu mengambil buku catatan, buku tugas dan buku materi pelajaran bahasa sastra. Ini sebuah awal yang cukup menegangkan buatku, dan juga awal yang membahagiakan. Karena selain mereka bandel, di balik itu semua, mereka masih bisa kompak jika dalam hal kegiatan belajar mengajar. Ini satu sisi yang positif menurutku. Karena aku tidak harus memakai nada yang berurat saat menyuruh siswa siswi membuka buku pelajaran. Dengan hati-hati, aku menjelaskan panjang lebar materi yang ada di buku utama. Yaitu tentang prosa. Aku tulis semua yang paling penting di papan tulis. Lalu setelah itu aku jelaskan satu persatu. " Ada yang tahu apa itu prosa?" tanyaku, pada akhir penjelasanku mengenai prosa. Mudah-mudahan mereka semua tahu apa itu prosa. Akan tetapi, mereka semua berdiam diri. Mereka sepertinya kurang tahu mengenai prosa. Apalagi ada prosa lama dan prosa baru, tentunya itu akan menyita waktu mereka untuk mencari tahu definisinya. " Belum pada tahu ya? Oke, kali ini saya akan menjelaskannya lagi ya? Dengarkan baik-baik ya? " Prosa adalah suatu jenis tulisan yang dibedakan dengan puisi karena variasi ritme yang dimilikinya lebih besar, serta bahasanya yang lebih sesuai dengan arti leksikalnya. Kata prosa berasal dari bahasa Latin prosa yang artinya terus terang. Jenis tulisan prosa biasanya digunakan untuk mendeskripsikan suatu fakta atau ide. Karenanya, prosa dapat digunakan untuk surat kabar, majalah, novel, ensiklopedia, surat, serta berbagai jenis media lainnya. Prosa juga dibagi dalam dua bagian, yaitu prosa lama dan prosa baru, prosa lama adalah prosa bahasa indonesia yang belum terpengaruhi budaya barat, dan prosa baru ialah prosa yang dikarang bebas tanpa aturan apa pun. Apakah kalian sudah paham?" Aku menjelaskan panjang kali lebar tentang prosa pada mereka. Kulihat mereka manggut-manggut tanda mereka sangat paham apa yang aku jelaskan. " Kalau aku cinta kamu, apa itu termasuk prosa, Mrs?" celetuk Kenzo. Dengan wajah tengilnya. Mencoba ramah dengan kata-kata tak sopan padaku. Membuat teman sekelasnya tertawa bahagia karena ulah dari kata-katanya itu. Aku mencoba tersenyum padanya, menahan segala rasa di hati. Cukup! Cukup aku bersabar dulu kali ini. Lain kali, dia akan kuberikan pelajaran tentang tata krama pada orang yang lebih tua dari usianya. " Itu bukan prosa, sayang. Tetapi, itu adalah ungkapan perasaan yang di tujukan kepada seseorang. Dan tidak ada hubungannya dengan materi yang ibu jelaskan tadi, paham kan Kenzo?" jelasku padanya. Dengan bibir senyum merekah. " Cieee, di panggil Sayang," celetuk salah seorang siswi. Rupanya sangat cantik, tapi sayang, tingkahnya menyebalkan. Sekali lagi, aku jadi bahan olok-olok mereka. Awas saja ya! Aku akan membuat kalian bertekuk lutut pada perintahku! " Ibu memanggil Kenzo dengan sebutan sayang bukan tanpa alasan yang slengean ya? Itu tandanya berarti ibu sangat menyayangi Kenzo sebagai anak didik ibu. Bukan ada alasan lain selain itu, pahamkan Ti-ara?" jelasku lagi dengan nada penekanan pada Tiara. " Cinta juga ga apa kan, Mrs?" ujar Kenzo, nyeleneh. Benar-benar deh nih anak. " Huuuuuuuu ...," suara protes dari yang lain, terdengar gaduh di kelas. Aku hanya bisa menggelengkan kepalaku. Kuyakin ini akan menjadi panjang. " Sudah, sudah! Sekarang ibu akan kasih soal pada kalian. Coba buat satu contoh prosa. Bisa menjadi cerpen, hikayat dan sebagainya. Yang penting termasuk dalam prosa lama ya?" tukasku cepat. " Siaaaaap ... Mrs Anastasya yang cantiiik ...," sahut semua murid di kelas dua bahasa dengan riang gembira. Dan semuanya mengerjakan apa yang aku perintahkan. Aku tersenyum puas, ternyata mudah mengajar di kelas ini. Sepertinya aku akan betah mengajar di kelas ini. Semoga saja. *** Matahari siang itu begitu terik menyinari bumi. Seakan-akan seluruh makhluk yang hidup di bumi sedang berada di dalam oven pemanggang kue. Begitu juga dengan yang aku alami. Seluruh bagian bajuku basah akibat panas yang begitu menyengat siang ini. Jam dua belas tepat tengah siang hari.padahal ini sudah waktunya untuk siap-siap pergi dari sekolah. Tugasku mengajar hari ini sudah selesai, dan bel sekolah pun sudah berbunyi sepuluh kali. Itu menandakan bahwa pelajaran telah selesai dan seluruh murid di sekolah ini di perbolehkan pulang ke rumah masing-masing. Aku melangkahkan kedua kakiku dengan langkah santai. Tanpa beban berarti. Aku lulus pada hari pertama masuk ke sekolah ini lalu mengajar dan menghajar satu murid yang memang ucapannya kurang di ajar. Seluruh murid selain dari kelas dua bahasa, mereka menyapaku dan saling bertegur sapa ramah. Senyuman manis mengembang di kedua bibir mereka yang tersenyum padaku. Mungkin hanya kelas dua bahasa saja yang murid-muridnya bertindak sesuka hati. Atau apakah mungkin pengaruh buruk yang di ciptakan Kenzo kepada yang lain? Bisa jadi bukan? Aku terus berspekulasi seperti itu pada murid yang bernama Kenzo Adiputera. Terbayang-bayang pula wajahnya saat menatap diriku dengan penuh nafsu. Kenzo seorang murid yang sangat tampan. Ia berjenis kelamin laki-laki. Dan ciri khasnya itu terdapat jakun di antara lehernya. Tubuhnya yang tinggi, bak seorang atlet bola basket ternama. Lalu kedua matanya yang bulat besar berwarna cokelat menyala, membuat bentuk wajahnya terlihat sempurna. Di tambah lesung pipit di kedua pipinya. Dia adalah pemuda yang sangat tampan. Mungkin idola di sekolah. Eeh, kok aku jadi memikirkan Kenzo. Kurang kerjaan banget ya kamu Anastasya. Please jaga fikiranmu agar tetap waras dan patuh pada peraturan tata krama ke hati-hatian, hahay. " Siang Mrs. Boleh saya antar Mrs pulang?" Suara bariton itu. Suara khas milik Kenzo. Aku hafal suaranya. Karena tadi sewaktu di kelas, aku tak henti-hentinya beradu argumen dengan Kenzo. " Tidak usah! Saya bisa pulang sendiri," jawabku ketus menolak ajakannya untuk pulang bersama menaiki motornya yang besar. Macam motor ninja xx king x. Masih terus berjalan, dia ikuti langkah gontaiku dengan mensejajarkan langkah kendaraannya dengan langkah kakiku, pelan. Aku berhenti, lalu kubalikkan tubuhku menghadap tubuhnya yang berada di atas jok motor ninja xx king x miliknya. " Berhenti mengikuti saya! Dan jaga tata kramamu, Kenzo!" hardikku. Menatap tajam padanya. Sementara itu, dia tersenyum. ' Sial, malah tersenyum seperti itu lagi,' gerutuku dalam hati. " Oke bu guru cantik tapi galak. Aku tidak akan mengganggu ibu lagi. Tetapi yang jelas, aku hanya ingin mengantar ibu pulang ke rumah. Hanya itu, masa gak boleh," ucapnya berbasa basi. Ada banyak cara untuk mendapatkan sesuatu. Dan itu sudah dilakukan Kenzo padaku. Dia kira hatiku akan luluh jika ia mendekatiku serta merayunya sebagai sebab akibat agar aku luluh padanya. Tak semudah itu Ferguso! Lawanmu kali ini adalah aku. Anastasya Pranata. Seorang wanita yang kuat, bukan wanita lemah. Pandai berkarate dan juga beladiri, so, jangan sampai kamu terlewat batas, jika tidak ingin aku menyikutmu dari arah kiri kanan, atas bawah. " Tolong jaga sikapmu, Kenzo! Saya ini gurumu, wali kelasmu. Jadi gunakan sopan santunmu pada guru. Maaf, saya harus segera pergi." sahutku, lalu kusegerakan langkahku dengan cepat. Pergi meninggalkan Kenzo yang diam sambil memperhatikan bajuku yang basah dan nampak begitu menggoda hasratnya. " Mrs. Anastasya, i love you," gumamnya, tersenyum. *** Di rumah. Ku hempaskan tubuhku di sofa, setelah aku sampai pulang ke rumah. Hari ini benar-benar menyita waktu dan tenagaku. Serta menyita otakku yang terus berfikir mengalahkan keegoisan dari para anak didikku. Kuhembuskan berkali-kali nafasku dengan kasar. Kulipat wajahku dengan mimik cemberut, lalu ku usap wajahku yang penuh peluh dengan tanganku. Saat mengingat kejadian tadi pagi di sekolah. " Sudah bertemu dengan Kenzo?" tanya kakakku saat itu. Aku tengah duduk di sofa empuk milik ibu. Ya, aku dan kak Afifah memang tinggal satu rumah dengan ibu. Bukan tanpa alasan, itu di karenakan kondisi ibu yang sudah sepuh, di usia senjanya saat ini menginjak usia enam puluh sembilan tahun. Usia tua yang cukup rapuh bila di jalani dengan kesendirian. Ayah kandung kami telah tiada satu tahun yang lalu. Akibat insiden diriku dengan Kenichi. Mantan suamiku yang berselingkuh di depan mataku. Gara-gara dirinya, ayahku meregang nyawa. Kondisi jantung yang kurang stabil menjadi pemicunya. Dan akibatnya ayah menghembuskan nafas terakhirnya di rumah sakit sayang, kota Cianjur. " Iya," jawabku sekenanya. Kupasang raut wajah kesal pada kak Afifah. Berharap dia akan menyarankan aku berhenti mengajar di kelas dua bahasa. Kak Afifah tersenyum, lalu duduk di sampingku sambil menggendong bayi mungilnya yang lucu dan menggemaskan. " Kakak yakin kamu bisa merubah Kenzo menjadi anak penurut," ucapnya sambil mengelus pipi merah merekah bayi kecilnya itu. " Kakak saja tidak bisa, bagaimana denganku? Aku angkat tangan loh kak." Kataku, sambil mengambil bayinya dari pelukan hangat kak Afifah. Dengan cepat, kak Afifah menepis tanganku. Gerakannya cepat, dan hampir saja aku meringis. " Kak Afifah, pelit!" gerutuku, ku manyunkan bibirku sesenti. Mencibir kakakku yang pelit. " Tanganmu kotor, Ana. Tubuhmu penuh keringat. Itu bau dan banyak bakteri. Coba ganti dulu bajumu. Jika perlu kamu mandi, baru bisa menggendong ponakanmu yang lucu ini," tegurnya. Aku hanya bisa tersenyum cengengesan tanpa dosa. Benar juga kata kak Afifah, aku harus ganti baju dulu. Bajuku kotor dan berkeringat, tak baik jika bayi yang kulitnya sensitif menyentuh banyak bakteri. Aku tante yang dzolim dong ya, hi hi hi. " Pokoknya, aku mau out dari sekolah itu, Kak. Capek dan juga makan hati mulu," kataku, sambil melengos pergi. " Anastasya," pekik Kak Afifah tanpa sadar. Dan membuat bayi kecilnya terbangun lalu menangis kencang. Bersambung. ***
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD