Hari kedua mengajar.

2464 Words
" Ana, apa kamu betah mengajar di kelas kakakmu mengajar, Nak?" suara Ibuku mengalun syahdu. Suara lembutnya itu membuatku makin menyayangi ibuku. Bagiku, ibuku adalah segalanya di dunia ini setelah ayah tiada. Inilah yang membuatku cukup dekat dengan ibu. " Betah tidak betah sih, Bu." awalan yang bagus menyahut kalimat yang di lontarkan ibuku pagi ini. Mumpung tidak ada kak Afifah di meja makan. Jadi aku bisa leluasa mengadu pada ibu. " Loh kok bisa, Nak? Murid-muridnya pada susah diatur ya?" tanya Ibuku. Matanya terus mengarah pada roti di tangannya. " Hem," jawabku singkat padat dan jelas. " Sabar aja ya? Lama-lama juga akan terbiasa dengan sikap murid-murid di kelas itu," ujar Ibuku santai. Mungkin ia belum pernah bertemu dengan murid-murid didikan kak Afifah. Yang Sembilan puluh sembilan persen tak bisa di ajak damai. " Ya, aku akan mencoba bersabar, Ibu cantik," kataku merayu. Mencoba memeluk pinggang ibuku yang mulai menggelambir itu. " Hust! Jangan manja!" tegur ibuku, menepis tangan nakalku yang berusaha memeluk tubuhnya. " Ibu gak sayang lagi padaku ya?" sungutku sedikit kesal. " Iih, nih anak tingkah lakunya mirip anak paud," ujar Ibuku, menyentil hidung kecilku yang mancung beberapa senti ke depan. " Au, sakit, Bu," Aku meringis, mengelus hidungku yang memerah akibat sentuhan ibu. " Gimana kamu bisa mendidik murid-murid, jikalau kamunya masih manja-manjaan kayak tadi," Cibir Ibuku. Hahay, telak deh. Aku di skak matt oleh ibu. Ibu benar, aku tidak boleh manja. Nanti yang ada aku kalah dengan murid-muridku yang pada dewasa, eeh terlanjur dewasa. " Lalu, apa yang harus aku lakukan, Bu? Mereka pandai berbicara yang tidak sopan padaku. Bingung aku di buatnya," gerutuku. Mengunyah roti buatan ibu yang lezat tiada tandingan. " Kuncinya cuma satu, sabar. Itu yang utama. Setelah itu, telusuri bagaimana mereka bisa bersikap seperti itu. Dan kamu harus bisa berbaur di tengah-tengah mereka. Masuk, dan anggap saja mereka itu para adik-adikmu, bukan para anak didikmu, paham?" Ibuku memberi wejangan padaku. Hem ternyata bagus juga wejangannya ibu. Akan kupratekkan nanti di sekolah. " Cepat, makanannya di habiskan! Jangan sampai kamu terlambat ke sekolah." Ibu oh ibu, kata-katamu itu adalah benar. Dan akupun harus mengikuti nasehat dari kata-katamu, Ibu. *** Ingin kuurungkan langkah kakiku saat diri ini mendekat di sekolah itu. Hampir tiga puluh detik aku berdiam diri di gerbang sekolah pagi ini. Lengkap dengan baju dinas yang kupakai. Baju atasan kemeja berwarna merah muda, berbalut blazer hitam dan di padukan dengan celana panjang hitam. Tak lupa ku pakai sepatu ketz berwarna merah muda juga, agar terlihat nyambung dari pakaian yang kupakai hari ini. Dan rambut bergelombangku yang berwarna cokelat keemasan merah ini kubiarkan tergerai indah menghiasi kepalaku. Tak lupa pula, bagian wajah, kuhias senatural mungkin agar tak ada lagi laki-laki yang berani menggodaku. Dan murid laki-laki itu yang bernama Kenzo, tak lagi merayuku dengan kata-kata mautnya. " Pagi bu," suara sapaan terdengar olehku. Beberapa murid sekolah yang sudah datang ke sekolahan menyapaku dengan sangat sopan. Pasti dia murid kelas Ipa ataupun murid kelas Ips. Ya secara kan yang muridnya lebih kompeten bandelnya hadir di kelas dua bahasa, kelas binaan kak Afifah. " Pagi juga anak-anak. Ayo masuk, jangan di luar gerbang sekolah ya," Aku menyahut sapaan mereka. Kusunggingkan senyuman mautku pada murid di sekolah ini. Mereka mencoba membalas senyumanku. " Lalu, ibu sendiri sedang apa di luar gerbang sekolah?" salah satu siswi di sekolah ini bertanya. Ia mencoba menerka apa yang akan kulakukan di gerbang sekolah. Tubuhku pun berada di luar gerbang, sambil menatap arah gedung sekolah di hadapanku. Mendengar pertanyaan darinya, aku urungkan niat gugupku itu. Aku tidak boleh terlihat kikuk di depan murid-murid sekolah ini yang terkenal pintar. Pintar mencari kesalahan orang lain, hi hi hi. " Sedang menatap sekolah ini. Ibu ingin melihat megahnya gedung sekolah di mana ibu mengajar saat ini. Lalu ibu mau selfi di depan gedungnya dari sini," Kataku mengubah alasan. Agar terkesan aku cinta sekolah ini. " Oh gitu, tak kirain ibu enggan masuk ke sekolah lagi. Karena takut di bully sama Kenzo," cibir Siswi yang kedua. Sebentar-sebentar, bukankah itu ... Itukan Mutiara Jiwa, murid kelas dua bahasa. OMG, matilah aku! " Kamu Mutiara bukan, murid kelas dua bahasa?" tanyaku penuh ragu. Dia mengangguk cepat. Diiringi senyuman manisnya. Aah, dia memang manis. Meski warna kulitnya sawo matang, akan tetapi ada aura kecantikan terpancar dari wajahnya. Ya jelas atuh cantik, wong Tiaranya juga berdandan memakai bedak, eye liner, maskara dan juga lipmatte. Jelas cantik sekali, iya kan? Eeeh, kok dandan? Ini mau niat sekolah, apa niat cari jodoh sih? Aku malah menggelengkan kepalaku berkali-kali melihat tingkah laku murid-murid di sekolah ini. " Ayo kita masuk! Sebentar lagi bel sekolah berbunyi. Jangan sampai kalian telat masuk kelas ya? Nanti kalian di hukum sama guru BP di sini," kataku mengajak mereka masuk ke dalam sekolah. Aku raih tangan siswi yang mengajakku berbicara tadi. Berusaha akrab pada mereka. Itu adalah tugasku yang kedua hari ini. Niat tadi ingin balik lagi, jadi buyar deh gara-gara di sindir si Mutiara Jiwa. gumamku dalam hati. Kulangkahkan kakiku menuju ruangan guru. Tempat dimana para guru berkumpul, saling ghibah satu sama lain. Untungnya aku berangkat pagi-pagi sekali, jadi bebas melenggang poco-poco deh, hi hi hi. *** " Pagi bu Anastasa yang cantik," Suara bariton lemah lembut mengalun indah di telingaku. Suara khas ke bapakkan menyapaku saat berada di ruangan guru. Waktu itu aku sedang memeriksa jadwal mengajarku untuk hari ini, hari selasa. Namun, aku lebih banyak diam tidak membalas sapaannya. Terlebih lagi dia menyebutku dengan sebutan nama Anastasa, bukan Anastasya. Kurang satu kan beda nama beda arti. " Bu," panggilnya lagi, karena aku tidak membalas sapaannya. " Hem," jawabku, singkat padat dan jelas. Kali ini ku dongakkan wajahku agar menatap wajah lelaki itu. Penasaran banget dia karena tidak kurespon. " Ibu cantik sedang apa?" tanyanya kemudian. Merasa kuperhatikan. " Bapak tidak lihat saya sedang ngapain? Harusnya bapak tahu dong saya sedang apa?" jawabku slebor. Pertanyaan sopan, kujawab slengean. Ah, bodo amat lah ya. " Iiih, ibu ini. Saya kan cuma basa basi loh bu, eeh malah di jawabnya ketus gitu." Sebuah ungkapan kekecewaan yang dalam padaku karena jawabanku yang ketus dan saklek padanya. Aku mendelik ke arahnya. Lalu aku menatap ke arah guru berjenis kelamin laki-laki itu. Sebisa mungkin aku mengakrabkan diri dengannya. Tak apalah, yang penting aku tidak di kata guru songong. " Habisnya pak guru aneh. Sudah tahu saya sedang duduk, malah balik bertanya," Kataku. Kubereskan rambutku yang bergelombang ini. Terlihat cantik bukan. " Saya kan cuma basa basi, Bu. Lagian bu Anastasa orangnya kaku ya? Agak gimana gitu ya," ujarnya sambil menerka-nerka, siapa aku. Aku ya aku, tidak ingin di samakan dengan yang lain. Dan tidak ingin pula menjadi bahan olokan di sekolah ini. Bukan tipeku. " Lagian nama saya juga bukan Anastasa, Ba-paak. Nama saya Anastasya. A-n-a-s-t-a-s-y-a." Aku menjabarkan namaku dengan menyebut satu huruf yang tertera di namaku. Lalu kuserahkan pin namaku di atas meja. Agar guru laki-laki itu tidak lagi salah ucap namaku. Guru laki-laki itu nampak cengengesan. Dan ia terlihat kikuk di hadapanku. " Ya maafkeun saya Bu, saya kan tidak tahu. Nama ibu ternyata ribet juga ya?" ujarnya, sambil menggaruk-garuk kepalanya, padahal tidak terasa gatal loh. " Engga juga kok pak, nama saya biasa saja." sahutku, tak lama kemudian bel sekolah pun berbunyi. Tanda pelajaran pertama di mulai. Dan aku pun bersiap-siap masuk ke kelas dua bahasa. Mengajar mata pelajaran bahasa Indonesia. " Good luck ya Bu," kata guru laki-laki itu. Sambil tersenyum manis padaku. Aih, cari sensasi saja kamu pak guru. *** Diruang kelas dua bahasa terdengar suara kegaduhan yang nyata saat kedua kakiku melangkah cepat ke kelas itu. Pemandangan yang luar biasa gaduh. Semua murid kelas dua bahasa termasuk murid kelas tiga bahasa pun ikut hadir dalam kegaduhan itu. Aku menarik nafasku, lalu menghembuskannya kasar. Pagi-pagi sekali aku sudah di suguhkan pemandangan yang seperti ini. Ini pasti ulah Kenzo. Murid terbandel di kelas ini. Kudekati siswa yang sedang berkelahi itu. Ternyata benar, Kenzo sedang menindih tubuh temannya, lalu menghajar tubuhnya yang hampir babak belur. Kutarik lengan Kenzo berharap aku memisahkan perkelahian ini. Namun, tanpa sadar, Kenzo menepis tanganku dan akupun terjungkal ke lantai. Gubrak! Akupun terjatuh. Suaranya begitu nyaring karena aku menabrak kursi dan meja di dekatku. " Aaah!" jerit para siswi di kelas dua bahasa. Ada yang menutup mulutnya dengan tangan, dan ada pula yang menutup matanya dengan tangan. Mereka teekejut saat aku terpental akibat dorongan tangan Kenzo. Aku bangkit dan berdiri tergopoh-gopoh. Badanku serasa remuk akibat jatuh di dorong tadi oleh Kenzo. Aku berusaha berdiri seimbang dengan memegang bagian ujung meja menggunakan jari jemariku. Kenzo menatap ke arahku. Ia terlihat panik dan sedikit terkejut ketika melihatku terjatuh di lantai. " Ibu gak apa-apa kan?" tanya Kenzo panik. Dan langsung menuju ke arahku. " Kamu ini apa-apaan sih? Ini masih pagi loh Kenzo, tidak seharusnya kamu memulai kegaduhan ini!" Aku menegur padanya. Sambil menatap sorot matanya dengan tatapan mataku yang tajam. " Dia duluan bu yang mulai. Dia sebut ayahku penjahat kelamin. Siapa yang tidak emosi mendengarnya kan, Bu?" tutur Kenzo, memberikan penjelasan padaku. " Benar itu Adit?" kedua mataku menoleh ke arah murid yang tadi di hajar oleh Kenzo. Wajahnya penuh luka lebam akibat pukulan yang di layangkan oleh Kenzo. Murid yang di ketahui bernama Adit itu tertunduk malu. Entah malu karena apa, aku tak tahu. Yang jelas dia tertunduk seperti menyesali perbuatannya itu. Anggukan kecil tercipta dari gerakan di kepala Adit. Iya mengakuinya tanpa kata-kata sedikit pun. Aku paham arti gestur tubuhnya itu. Kuhempaskan nafasku yang terasa sesak itu. Pagi ini di sambut kejadian yang memusingkan untukku. " Kenapa?" tanyaku lagi. Kusilangkan kedua tanganku di dadaku. Masih menatap tajam Adit yang tertunduk lemah di hadapanku. " Ayahnya Kenzo ...," tuturnya tersendat. Ia seperti tengah mengumpulkan keberanian untuk berbicara. Seakan-akan takut untuk berkata-kata. " Memangnya kenapa dengan ayah Kenzo, Dit?" tanya salah satu murid di kelas ini. " Ssssst!" Aku menutup mulutku dengan satu jari telunjukku. Agar yang lain tidak ikut campur ke dalam urusan Kenzo dan Aditya. Murid lelaki itu pun diam. Ia tidak berani lagi untuk ikut lebih jauh lagi. Takut aku marah dan masalah jadi panjang. " Maaf, Mrs." lirihnya. " Tidak seharusnya pakai cara kekerasan macam ini bukan?" Aku menegur mereka yang berbuat salah. " Tapikan Bu, Adit itu menghina ayahku. Dan aku tidak suka jika ada orang yang menghina ayahku," ujar Kenzo, kesal. Ia rupanya tidak terima atas ucapan Adit yang menjudge ayahnya seorang PK ( Penjahat kelamin ). " Iya ibu tahu. Sudah kalian saling bermaafan dulu. Nanti kita sambung lagi jika pelajaran selesai. Ayo ayo, bubar! Dan masuk ke kelas masing-masing. Yang kelas tiga bahasa, ayo masuk ke kelas kalian!" Aku memerintahkan pada siswa siswi yang berkerumun di kelas tiga bahasa. Tepat di depan pintu kelas dua bahasa, nampak seorang guru laki-laki muda yang masih tampan. Ia menatap tajam ke arah Kenzo, Adit dan juga diriku. Lalu guru laki-laki itu memasuki kelas dua bahasa dan menegur Kenzo dan Adit. " Ikut saya ke ruang BP sekarang juga!" perintahnya dengan nada tajam. Sambil jemarinya membetulkan letak kacamata yang di pakainya. " Tapi pak, kami sudah saling memaafkan. Betul kan, Dit?" ujar Kenzo. Langsung menyikut lengan Adit yang sedari tadi lebih memilih diam. Adit segera menanggapi Kenzo. Ia mengganggukkan kepalanya dengan cepat sebanyak tiga kali. " Tidak usah banyak alasan! Jelas-jelas kalian tadi berkelahi. Dan menyebabkan guru baru kalian terjungkal. Masih banyak mengelak saya ajak ke ruang BP," ujarnya bernada ketus. " Iya pak, itu tidak sengaja," ujar Kenzo lirih. " Saya tidak mau dengar berbagai macam alasan! Cepat ikut saya!" lagi-lagi guru laki-laki itu memerintah kepada Kenzo dan juga Adit. Nampaknya ia mulai marah atas penolakan Kenzo dan juga Adit. Aku memegang lengan Kenzo. Dan menggenggamnya. Berharap Kenzo paham akan genggaman tangannya. Akhirnya dengan berat hati, Kenzo dan Aditya mengikuti ajakan guru BP. Mereka mengikuti langkah kaki guru BP itu. " Nanti ibu menyusul anak-anak." Kuucapkan kata itu untuk membuat Kenzo dan Adit tidak tertekan akan tindakan guru BP yang nampak sudah sangat kesal. *** Brak! Suara gebrakan meja terdengar nyaring sempurna di dalam ruangan. Ternyata itu suara meja yang benar-benar di pukul oleh guru BP. " Entah harus bagaimana lagi bapak katakan pada kalian berdua. Terlebih kamu, Kenzo. Kamu itu murid terbandel di sekolah ini. Tiap hari ada saja ulah kamu yang bikin jengkel para guru." Guru laki-laki itu nampak memijat-mijat kepalanya. Terasa penat dirasakan olehnya saat ini. Mengingat sikap Kenzo yang terlampau bandel. Ini sudah ke seratus kalinya Kenzo di panggil ke ruang BP. Entah itu perkelahian, atau pun hal lain yang membuatnya di panggil oleh guru BP lagi. Aku memasuki ruangan BP. Dan kulihat semua tegang. Tak terkecuali Kenzo. Raut wajahnya nampak seperti biasa-biasa saja. Mungkin karena sudah berkali-kali di panggil ke ruangan ini. " Selamat pagi, Pak," ucapku memberi sapaan pada guru BP tersebut. " Masuklah bu, mari ikut gabung dalam memberi hukuman untuk Kenzo dan Aditya," serunya sambil melambaikan tangan kanannya. " Terima kasih pak. Saya cuma mau ngobrol sama Kenzo dan juga Adit. Boleh saya bicara bertiga dengan mereka Pak,?" tanyaku meminta izin pada guru BP itu. " Baiklah bu, saya ijinkan. Akan tetapi, saran saya, jangan terlalu memanjakan mereka. Nanti mereka jadi ngelunjak," ujarnya ketus. " Terima kasih pak atas kesediaan waktunya untuk mengijinkan saya berbicara bertiga dengan anak didik saya secara pribadi." " Ya ya ya, silahkan saja. Saya ijin keluar ruangan dulu. Jika sudah selesai, hubungi saya di ruang guru," tukasnya, lalu pergi meninggalkan kami bertiga. Kenzo menatap ke arahku. Ia seperti ingin meminta penjelasan padaku, kenapa aku ingin berbicara dengannya dan juga Adit. " Apa?" kataku, sinis. " Yaaah, ngegas deh," sahut Kenzo sambil mengerlingkan kedua matanya dengan malas. Dan yang kulakukan hanyalah menjitak kepala. Aku gemes sekali dengan tingkah lakunya itu. Ya, dia muridku. Anak didik di kelasku dan aku wali kelasnya dan yang bertanggung jawab ketika ada kegaduhan yang di buat oleh anak didikku ini. " Kenapa kamu berkata bahwa ayahnya Kenzo itu PK?" akhirnya aku bertanya pada Adit. Ada rasa penasaran di dalam hatiku. Sebenarnya siapa ayah Kenzo? Dan apa yang dilakukan ayahnya Kenzo, sampai-sampai Adit berkata seperti itu. " Ayahnya Kenzo menghancurkan rumah tangga orang tuaku, Mrs." suara Adit yang pelan itu terdengar juga olehku. Bagaimana mungkin bila ayahnya Kenzo berbuat sekeji itu pada keluarga Aditya. Tega merampas kebahagiaan keutuhan rumah tangga orang lain tanpa memikirkan dampak akibat dari ulahnya itu. Mungkin inilah dampak buruknya. " Maksudnya bagaimana?" tanyaku, seolah-olah tidak mengerti. Ingin mendapatkan jawaban yang rinci. " Dia menggoda ibuku, Mrs. Dan ayahku marah akan hal itu." jelasnya. Menahan rasa di hatinya saat ini. Telah terjadi pertengkaran hebat di dalam keluarga besar Aditya. Ayah dan ibunya bertengkar dan ini menyebabkan keguncangan di dalam hati Aditya. Sehingga ia tidak menerima keadaan ini. Dan menyerang Kenzo. Adit menceritakan semuanya. Dari awal sampai akhir. Aku dan Kenzo hanya menjadi pendengar yang baik. Sebenarnya, Kenzo tidak bisa menahan amarahnya saat ia mendengar cerita dari Adit, akan tetapi aku yang sudah sigap melarang Kenzo melakukan hal yang tidak boleh ia lakukan. Yaitu memukul Aditya. ***
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD