Ulah Nakal dua bocah.

1424 Words
Sekarang aku sedikit mengerti mengapa murid-murid kelas dua bahasa semuanya tidak bisa di ajak kerjasama. Mereka butuh perhatian dan kasih sayang dari orang tua mereka. Baik itu orangtua kandung maupun orang tua di sekolah, yaitu guru. Mereka mencari pelarian dengan cara seperti itu, namun sayang, dari sekian banyak jumlah pengajar di sekolah itu, mereka tak mampu memahami karakter masing-masing siswa siswi kelas bahasa. Seperti sekarang ini, kasus Adit dan Kenzo. Mereka saling sikut dan menyalahkan. Ini akibat dari perhatian orangtua masing-masing. Ayah Kenzo, yang notabenenya itu mantan playboy tahun delapan puluhan, dan terjadi lagi di masa pubertas kedua. Di umurnya yang menginjak lima puluh tahun, masih doyan selingkuh. Kudu di kasih posprit ini mah, ha ha ha. Balik lagi ke masalah mereka berdua. Aku akan mengambil keputusan bijak mengenai hal ini. Jika tidak kuberikan peringatan, aku takut orang tua Adit tak terima anaknya babak belur seperti ini. Terlebih lagi jika ayahnya sampai tahu jika Kenzo menghajar wajah putranya, dia pasti akan menghajar balik Kenzo, secara dia sudah terlanjur marah pada ayahnya Kenzo. Sungguh pusing aku di buatnya. Kali ini aku harus memutar otakku dan menggunakannya sepintar diriku. " Untuk sekarang ini, apa kalian berdua mau saling bermaaf-maafan?" tanyaku sambil menatap keduanya secara bergantian. " Kan tadi udah, Mrs. Masa harus sekali lagi sih? Lagi pula, Adit yang salah ngatain ayahku penjahat kelamin, masa aku yang harus minta maaf sih? Idih ogaaah," sungut Kenzo berapi-api. " Suruh siapa ayahmu menggoda ibuku? Jika ayahmu tidak menggoda ibuku, tentu aku tidak akan menyebut ayahmu PK," sahut Adit, dengan nada kesal pula. " Aih kamu nih ya ngajak ribut lagi!" bentak Kenzo marah, " Mau kuhajar lagi ya!" Kenzo berdiri di hadapanku, hendak menyerang Adit. Tetapi, aku dengan cepat berdiri di hadapannya. Dengan berkacak pinggang, dan kedua mataku yang aku tajamkan. " Kamu menyerang Adit lagi, berarti kamu harus melawan ibu dulu!" gertakku pada Kenzo. Kutatap tajam kedua bola mata Kenzo, sambil membetulkan letak kaca mata yang sedikit menuruni kedua mataku. " Melawan ibu?" tanya Kenzo, lalu ia tertawa terbahak-bahak. Ia sepertinya meremehkan kata-kataku tadi. " Iya, kita bertarung! Beladiri, taekwondo. Kamu siap?!" Aditya yang sedari tadi mendengar percakapanku dengan Kenzo, ia berusaha mencegah pertarungan itu. Karena aku pasti kalah telak dari Kenzo. Adit menarik lenganku, dan aku menoleh ke arahnya. " Apa? Aku tidak takut pada Kenzo," sahutku. " Jangan, Mrs! Dia jago beladiri dan juga taekwondo," Adit bergumam. " Tuh kamu dengar sendiri kan, Mrs? Aku ini jago taekwondo, dan beladiri, jadi Anda tidak usah lah berani menantangku hanya untuk melindungi anak ingusan macam Aditya." seru Kenzo, mencibir Aditya. Kudekati Kenzo, lalu tersenyum padanya dengan sinis. Ini saatnya aku memberikan pelajaran berharga pada Kenzo. Meskipun dia ahli karate tingkat atas, aku tidak peduli. Kali ini aku sudah hilang rasa kesabaran yang ada di hatiku. Sekaligus ingin membuatnya jera dan berhenti bertingkah aneh dan sok berkuasa. " Kau atau aku yang akan kalah?" cibirku. Dan senyuman itu masih mengembang di bibir manisku. " Anda benaran akan melawan Kenzo, Mrs?" tanya Adit, penuh kecemasan. " Ya, kamu mau ikut? Mari, kita pergi ke lapangan basket sekarang!" " Dan jika ibu dapat mengalahkan kamu, Kenzo. Kamu harus menuruti apa yang ibu perintahkan dan jangan ada bantahan apapun!" Itulah ultimatum dariku untuk Kenzo. Meski aku tak yakin aku akan bisa mengalahkan Kenzo, tetapi aku tidak ingin masalah ini menjadi panjang. Biarlah jika aku yang akan di keluarkan dari sekolah ini, aku tak perduli. " Silahkan, itu yang aku inginkan Mrs, bersiap-siaplah untuk kalah telak dariku. Dan jika aku yang menang, Anda harus siap aku jadikan kekasihku. Nanti malam kita akan mulai berkencan di sebuah hotel ternama milik ayahku. Kau pasti akan suka itu, Mrs." Suara tertawaan Kenzo membuatku seperti ingin menampar wajahnya. Namun, aku lebih mengurungkan niatku itu, karena aku akan melampiaskan kekesalanku ini padanya nanti di lapangan basket. *** Semua mata saling bertatapan satu sama lain. Begitu banyak murid-murid yang melihat adegan adu beladiriku dengan Kenzo. Dan yang terjadi saat ini, aku sedang berdiri saling berhadapan dengan murid tengilku bernama Kenzo adiputera. Senyuman penuh kemenangan tersembul di kedua pipi Kenzo. Pasalnya ia telah membayangkan kemenangan tanpa arti. Membayangkan jika aku kalah dan menjadi kekasihnya. Cih! Di bayar berapa juta pun aku tak mau jadi kekasih Kenzo. Bocah ingusan yang masih bau kencur! Najis. " Kau siap, Mrs? Mari kita mulai!" Dan pertarungan itu di mulai. Semua siswa dan siswi di sekolah ini mulai mengelu-elukan nama Kenzo. Tak sedikit teriakan semangat untuk Kenzo. Karena selain wajahnya yang tampan, Kenzo itu ketua osis di sekolah ini. Dan juga ketua tim basket dan jago beladiri. Semua itu ia kuasai. Pantas saja, postur tubuhnya begitu kekar dan kuat. Aku harus bisa menjaga keseimbangan tubuhku jangan sampai oleng. Satu tendangan melayang ke arahku. Aku terjatuh cukup jauh. Semua yang melihat berteriak. " Mrs. Anastasya!" pekik pak Alfan, kepala sekolah di sekolah menengah satu Cianjur ini. Ia tergopoh-gopoh menghampiriku. Lalu membantuku berdiri tegak. " Ibu gak apa-apa?" tanyanya panik. Aku tersenyum, " Tidak apa-apa, Pak. Tenang saja, saya sedang berusaha mengalah sama Kenzo. Biarkan dia menang di awal. Dan kalah di akhir." " Loh, jadi Mrs. Anastasya jago beladiri toh?" tanya pak Alfan. Tubuhnya yang kurus menatapku tak percaya. " Iya," jawabku singkat. Kupegang pundaknya, lalu tersenyum manis pada pak Alfan, kepala sekolah. " Jika ayahnya Kenzo tahu, bagaimana dengan karier Anda di sekolah ini, Mrs?" tanya pak Alfan lagi. " Ya saya harus out dari sekolah ini, bukan?" kataku lalu pergi meninggalkan pak Alfan sendirian. Sambil menggelengkan kepala, pak Alfan berusaha sebijak mungkin bertindak jika nanti ayahnya Kenzo marah padanya. Dia tahu, begitu besar rasa sayang pak Adiguna pada Kenzo. Tidak ada yang berani menantang Kenzo, kecuali guru baru di sekolah ini. Yaitu aku, Mrs Anastasya. Pertarungan pun di mulai kembali. Kali ini aku harus bisa mengalahkan Kenzo. Agar bisa membuat Kenzo lebih menuruti perintahku dan tidak akan merasa sok jagoan di sekolah ini. " Sudahlah Mrs, jangan sok jago. Tadi saja, Anda sudah kalah telak. Ayolah, kita sudahi saja pertarungan ini," cibir Kenzo. " Kenzo, jangan kurang ajar kamu sama bu Anastasya!" sahut pak Opi, guru taekwondo di sekolah ini. Ya ampun, ada pak Opi. Dia kan salah satu murid di grup taekwondo. Dan hampir di tiap pertemuan, aku selalu mengalahkan dia. " Kenapa, Pak? Kenapa Anda takut dengan Mrs Anastasya?" tanya Kenzo, penasaran. " Dia salah satu murid taekwondo yang jago. Kamu tak akan bisa melawan dia, percaya sama saya," katanya memberi ultimatum khusus kejadian. Kenzo tertawa terbahak-bahak. Ia sama sekali tidak mengindahkan nasihat guru taekwondonya. Ia hanya berfikir, baru saja aku di kalahkan olehnya. " Pak Opi, maaf jika pak Opi tahu tentang saya, cukup nanti saja di bahasnya. Sekarang biarkan saya memberi pelajaran padanya dulu!" Kata-kataku membuat Kenzo marah. Lalu di mulailah lagi pertarungan sengit antara aku dan Kenzo. *** Kenzo berkali-kali merutuki kekalahannya. Ia mungkin malu saat aku berhasil mengalahkan dirinya pada pertarungan sengit itu. Tubuhnya yang lemah kehabisan tenaga, membuatku lebih cepat mengimbangi kekuatan tubuhku dan berhasil menekuk sikut Kenzo dari beberapa sudut, yang akhirnya membuat Kenzo kalah dan hilang tenaga. Aku tahu ini akan menjadi awal yang indah, sekaligus awal yang buruk. Aku bisa mengalahkan Kenzo, dan dia pasti menuruti semua perintahku tanpa terkecuali. Aku ulurkan tangan kananku. Meraih tangan kekar milik Kenzo. Lalu menariknya hingga ia bisa berdiri tegak. " Kau kalah, Kenzo. Dan yang harus kamu lakukan adalah menuruti apa yang ibu katakan tadi, sesuai perjanjian kita." Aku berusaha tenang dalam berbicara kali ini. " Aku tidak akan mau menuruti perintah siapapun! Termasuk pada perintahmu, Mrs Anastasya," ujarnya geram. " Terserah! Mau mengeluarkan aku dari sekolah ini pun silahkan! Aku tak peduli. Karena itu memang mauku, keluar dari sekolah ini!" gertakku padanya. " Anda akan aku laporkan pada Ayah! Dan terima akibatnya nanti, Mrs!" ujarnya marah, lalu pergi dari lapangan basket. Aku menggelengkan kepalaku. Tak habis fikir dengan jalan fikiran Kenzo. Dia yang menantang namun, di saat kalah, dia malah uring-uringan gak jelas. Gaje banget ya Kenzo. " Tuh kan Bu, saya bilang juga apa. Ibu gak mau dengar sih ucapan saya," sungut Pak Afan. Ia cukup gemes dengan tindakanku tadi yang ingin melawan Kenzo. " Apapun yang saya lakukan, ini semua karena ingin membuatnya menjadi lelaki yang baik, Pak. Tapi, jika memang Kenzo tidak bisa berubah, saya pun hanya bisa mengangkat tangan. Dan jika perlu, saya angkat kaki juga dari sini," gumamku. " Semoga saja pak Adiguna tidak bertindak gegabah ya, Bu." " Semoga saja sih iya. Saya mengharapkan pemecatan saya, Pak." Aku langsung pergi meninggalkan pak Alfan. Yang melongo tanpa dosa saat mendengar ucapanku tadi. " Anda guru yang berbeda dari yang lain, Bu Anastasya. Saya akan pertahankan Anda di sekolah ini. Sekolah ini butuh guru yang berani seperti Anda." gumam pak Alfan, lalu tersenyum manis. ***
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD