Ketukan mengancam.

863 Words
Suara ketukan meja terdengar. Membuat suasana siang ini sedikit mencekam. Antara Aku, Pak Alfan dan juga orang tua Kenzo, siapa lagi jika bukan pak Adiguna. Rupanya tuh bocah ingusan sudah lebih dulu mengadukan kejadian ini pada ayahnya, si gukguk helder. Weleh, punya nyali juga tuh anak melaporkan diriku yang sudah mengalahkan dirinya dalam pertarungan taekwondo. " Siapa nama Anda?" Pak Adiguna mengawali pembicaraan. Dengan nada sedikit kesal, dia bertanya padaku. Nama? Untuk apa? " Anastasya, nama saya Anastasya Pranata. Guru baru yang mengajar di kelas dua bahasa, sekaligus wali kelas," jawabku tegas. Tanpa banyak basa basi, aku menjawab pertanyaannya meski ia hanya menanyakan nama saja padaku. Aku lihat, Pak Adiguna manggut-manggut. Ia seperti paham akan jawaban yang aku berikan tadi. Dan yang bikin aku ilfeel padanya adalah caranya menatap tubuhku dari bagian atas rambut hingga bagian ... Aah, tidak usah di bicarakan lagi, sudah tahu kan ujungnya. Rupanya benar kata Aditya, ayahnya Kenzo itu penjahat kelamin, upsssst! " Jika sudah tidak ada hal lain lagi, bolehkah saya izin pamit dari sini? Kasihan anak-anak, jika ketinggalan mata pelajaran hari ini," ujarku, penuh semangat dan berdedikasi tinggi. Dengan mantap aku bangkit dari tempatku duduk. Namun, dengan cepat tangan pak Adi mencengkal tanganku. Lalu menariknya hingga tubuh kami berdekatan. Eeh, apa-apaan ini?! " Saya belum selesai berbicara, Nona Anastasya. Saya masih ingin Anda tetap di sini," tuturnya memerintah dengan nada tegas. Kemudian ia melirik ke arah Pak Alfan yang sedari tadi lebih banyak diam ketimbang bicara. Padahal dia itu orang yang supel dan bawel, tapi kenapa sekarang melempem ya? Huh, dasar pak Alfan. " Tolong tinggalkan kami berdua pak." Tuh kan, tuh kan ada maunya. Aku memicingkan mataku. Lalu menatap matanya tajam, meminta jawaban atas perintahnya tadi pada pak Alfan dengan meninggalkan aku dengannya. " Tenang saja, aku tidak akan macam-macam dengan Anda, Nona. Jadi, hilangkan fikiran buruk Anda pada saya," Katanya, sambil tersenyum sinis. " Maaf pak, jika memang perlu di bicarakan, katakan saja. Saya tidak mau berlama-lama. Ada dan tidak adanya pak Alfan, tentu rasanya sama saja bukan? Maksudnya, rasa dari kalimat yang akan bapak katakan pada saya nanti," sahutku ketus. " Baiklah, saya akan katakan pada Anda nona Anastasya. Seperti yang Anda ketahui, bahwa Kenzo adalah anak dari pemilik perusahaan besar. Sekaligus pendonor dana terbesar di sekolah ini. Kenzo ingin saya memberikan hukuman pada Anda." " Lalu, apa yang harus saya lakukan? Keluar dari sini? Baiklah, itu yang saya mau, Pak Adiguna. Justru saya sudah mewanti-wanti pada pak Alfan tentang pemecatan saya. Jikalau begitu, saya akan pamit dari sini, namun ijinkan saya berpamitan pada anak didik saya dulu. Agar saya bisa meminta maaf pada mereka. Saya gak mau pergi dengan membawa dendam," tukasku. Mendengar pernyataanku, Pak Alfan menjadi sedih. Sedih karena kehilangan pengajar yang mau mengajar di kelas dua bahasa yang terkenal bandel. " Tunggu! Anda masih bisa mengajar lagi di sekolah ini, asal ...," " Asal apa, Pak?" " Asal Anda mau saya ajak berkencan malam ini." Duar! Bagai petir di siang bolong. Ajakan pak Adiguna sungguh mulia. Menjadikan syarat mutlak demi kepuasan sesaat. Jika aku ini w************n, sudah pasti aku akan tertarik padanya, hartanya, jabatannya. Toh di jadikan isteri simpanan pun tak masalah, namun, aku ini wanita tak terhormat. Karena sejatinya pelakor tetaplah pelakor. Dan akan terlihat hina di mata para wanita. Aku tertawa mendengar syarat mutlak darinya. Sungguh jika dia bukan pak Adiguna, sudah kulumuri mulutnya dengan cabai domba pedas yang pedasnya sampai ke ubun-ubun. " Maaf pak, saya tidak tertarik. Lebih baik saya mengundurkan diri, daripada saya menerima syarat dari bapak. Mari pak, saya pamit undur diri, terima kasih." Aku cepat-cepat bangkit dari tempatku duduk, lalu ku langkahkan kakiku secepat mungkin agar bisa menghilang dari pandangan m***m papanya Kenzo. *** " Apa-apaan ini? Aku di ajak berkencan? Enak saja!" gerutuku kala itu. Sambil kulangkahkan kedua kakiku. Tak tahu mau ke mana langkah kaki ini. Yang pasti aku masih merutuki kelakuan absurd pak Adiguna. " Di bayar tiga ratus juta pun, ogah!" masih merutuki. " Kenapa engga terima aja bu ajakan papa Kenzo?" suara bariton mirip le min ho terdengar di telingaku. Dan saat kutengok asal suara, ternyata itu suara dari Kenzo. Si bocah tengil yang berani melapor pada orang tua. " Jahanam." gumamku terus menggerutu. " Ibu bilang apa?" tanya Kenzo. " Ngapain kamu di luar? Ini kan jam pelajaran, Kenzo?" Aku bertanya, mengalihkan pembicaraan. " Pengen lihat ibu di usir dari sekolah ini," sahutnya dengan santai. Duh bocah gendeng! " Apa?!" " Ibu cantik," gumamnya. " Aku tak suka di puji!" " Lalu apa? Di kencani gitu?" " Kenzo, jaga ucapanmu! Saya ini ibu guru di sekolah kamu ya!" " Tapi, sekarang sudah bukan lagi guru kan, Mrs?" " Terserah." Bocah gendeng tak waras, rupanya sifat tengilnya itu turun temurun dari sifat bapaknya, Pak Adiguna. Dan sifat mesumnya pun sama. Menatap diriku penuh dengan nafsu yang mungkin tak bisa di bendung. " Kenzo, jaga matamu! Saya tidak suka jika kamu menatap saya seperti itu," kataku memulai dengan kata-kata tegas. " Tapi, saya suka pada Anda, Mrs. Gimana dong," tanyanya manja. Sambil meremas tanganku. Terpaksa kutepis tangannya yang menggenggam tanganku. " Jaga batasan. Saya masih guru kamu!" " No, aku tidak bisa, Mrs. Aku tergila-gila padamu," " Aih, bocah gendeng!" kataku, meninggalkan Kenzo sendirian. Dengan hati marah dan bergemuruh. " Mrs Anastasya, aku benar-benar tertarik pada perempuan macam ibu," ujar Kenzo lirih. ***
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD