Bocah gendeng, kujuluki ia dengan sebutan itu. Bocah manja yang tidak tahu apa yang di lakukan adalah salah. Dan selalu ingin benar dan merasa menang. Itulah Kenzo Adiputera. Anak dari pasangan Adiguna dan Puteri Winangsih.
Ia di besarkan dari keluarga berada yang di mana ayah dan ibunya tidak paham artinya mendidik. Yang mereka tahu hanya sebuah pekerjaan, jabatan dan harta.
Kenzo pun di besarkan oleh kasih sayang kakek dan neneknya yang tidak bisa memberikan wejangan tentang tata krama dan sopan santun. Yang penting kehidupan Kenzo terjamin, sudah cukup untuk mereka bahagia.
Adiguna mempunya empat orang anak yang ketiganya sudah sukses dan menempuh perjalanan baru. Dua laki-laki dan dua perempuan, itulah jenis kelamin dari empat orang anak-anaknya pak Adiguna.
Sedangkan Kenzo, anak terbungsu dan termanja di rumah. Segala apapun itu harus terpenuhi, jika tidak, Kenzo akan melayangkan somasi pada mereka yang tidak menurutinya.
Seperti hari ini, aku yang menolak perasaannya. Aku harus rela di keluarkan dari sekolah. Padahal jika di fikirkan, tidak mungkin jika guru dan murid saling jatuh cinta, benar kan itu.
Bagaimana pun juga, sekeras apapun juga, aku akan tetap menolak perasaannya terhadapku.
Kenzo, pria yang tampan. Meski ia baru berusia tujuh belas tahun. Sedangkan aku ini apalah. Aku seorang wanita berstatus janda tanpa anak. Janda muda yang harus rela kehilangan seseorang yang di cintai di rebut oleh wanita lain.
Rasanya memang sakit, namun, ada kebahagiaan tersendiri saat aku memilih meninggalkan mantan suamiku di ambil orang. Aku bisa bergerak bebas tanpa ada yang mengatur kehidupanku. Ya meski aku masih bisa merasakan kesedihan saat sedang sendiri. Rasanya itu seperti Anda memakan nasi tapi tanpa lauk, itulah hambar.
" Kamu serius di pecat, An?" tanya Bibi Ine, saat berkunjung ke rumah ibu. Hendak melihat ponakannya yang lucu dan imut.
" Iya, hebatkan, Bi," jawabku bangga.
Ya elah, di pecat aja bangga.
" Apanya yang hebat? Justru malu," sahut Kak Afifah. Dari dalam kamar, sehabis menyusui si kecil yang lucu.
" Ish, nyambung aja nih kak Afifah," sungutku kesal. Namun, mata masih fokus pada layar televisi.
" Sudah tahu jangan gegabah, masih aja engga di dengar. Ya gitu tuh jadinya. Buat apa coba bisa beladiri, kalau gak bisa merubah sifat anak didik jadi lebih baik," sungut kak Afifah.
Rupanya ia marah karena aku menantang Kenzo untuk bertarung denganku.
" Males ah. Aku lagi gak mood berdebat," jawabku, ketus. Kutinggikan volume televisi.
" Ye, si Ana emang gitu, Bi," ujar Kak Afifah, kesal.
" Sudah, sudah jangan pada berantem. Masa cuma gara-gara anak ingusan, kakak adek jadi pada perang mulut, ga malu apa?" ibu datang tiba-tiba, lalu ia melerai keduanya. Aku dan kak Afifah.
" Lagian kamu, ngapain juga pakai ngadu taekwondo. Jelas lah dia kalah, wong gurunya juga kamu kalahkan terus," sambung ibuku, ia berkata ketus.
Jiah, malah melebar ini mah.
" Suka-suka atuh, Bu. Ibu dan kak Afifah kan gak tahu masalahnya gimana. Please jangan bikin aku tambah jengkel." Lagi, aku lagi-lagi harus berdebat dengan mereka. Menjelaskan pada orang tua ya gitu, harus berulang kali.
" Ya harusnya kamu bisa menahan sabar. Toh kalau kamu sabar pasti masih bisa mengajar di sana, kamu gak jadi pengangguran." Celetuk ibuku.
" Jadi, ibu keberatan aku tinggal di sini jika aku tidak bekerja?" Aku menatap dalam mata ibuku. Ada sedikit rasa kecewa di hatiku saat kata-kata itu terucap dari bibir ibuku.
" Bukan gitu, Nak," sanggah ibuku.
" Lalu apa? Ya kalau emang ibu merasa keberatan, oke aku akan keluar dari rumah ibu hari ini juga!" kataku dengan nada membentak ibu.
Ibu dan kakakku serta bi Ine terkejut mendengar ucapanku itu. Mereka tidak pernah menyangka jika aku akan berbuat senekat ini. Pergi malam-malam dari rumah.
" Ana, kamu jangan kayak anak paud. Ana!" Ibuku terus memanggil namaku. Namun aku, terus saja pergi, melangkahkan kedua kakiku dengan cepat. Pergi dari rumah ibu, mencari pendamaian hati.
***
" Gara-gara bocah gendeng, aku jadi di omelin ibu dan kak Afifah." gumamku. Kuhela nafasku, lalu menghembuskan kasar.
Menatap langit hitam malam ini. Langit yang penuh bintang, malam ini langitnya begitu cerah.
Aku malam ini berada diluar rumah. Bertaburkan bintang-bintang di langit.
Cetung!
Suara notifikasi benda pipih berwujud kotak berdering tiga kali. Ada pesan masuk di layar notifikasi ponselku. Sebuah pesan dari Ibu, kak Afifah dan ... Kenzo.
Tunggu, tahu dari mana ia nomor pribadiku? Dari kak Afifah, pak Alfan atau ...
[ Angkat teleponku, Mrs. ] Kenzo.
Itulah isi pesan yang di kirim Kenzo pada nomor ponselku.
Belum lagi aku sempat membalas, tiba-tiba Kenzo meneleponku.
Dengan berat hati, aku terima telepon darinya.
" Apa?" tanyaku pada Kenzo, dengan nada marah.
" Anda di mana, Mrs?"
" Apa pedulimu, Kenzo?"
" Aku ingin bertemu denganmu, Mrs."
" No!"
" Ayolah, Mrs."
Terdengar suara rayuan maut Kenzo.
" No, Kenzo, No!"
" Ya sudah, jika itu maumu. Aku akan tetap mencari di mana Anda berada saat ini," ujarnya. Dan telepon pun terputus.
Nah kan, nah. Benar bukan? Kenzo itu bocah gendeng yang benar-benar gendeng. Dia selalu memaksa kehendaknya. Dan jika seseorang itu menolak, dia akan terus memaksa hingga seseorang itu berkata iya.
***