Kalau 'ku mati, kau juga mati. Bila tak ada cinta sehidup semati.
Jiah, itu lagu ciptaan siapa sih? Kenapa liriknya tidak bersahabat begini. Di saat aku dan Kenzo sedang berhadap-hadapan dan bocah gendeng itu malah menatap wajahku sambil tersenyum tanpa kutahu modus selanjutnya dari senyuman jeleknya itu, Upst.
" Lagunya manis ya, Mrs? Upst!" katanya mengawali pembicaraan.
Aku hanya diam sambil menyeruput jus jeruk yang kupesan lima menit yang lalu. Sambil mengerlingkan kedua bola mataku ke kanan dan ke kiri. Tak sanggup jika melihat mata nakal Kenzo yang sedang menatap wajahku.
" Mrs, kau sudah lihat kan jika aku sudah berkata, pasti ayah akan menemui Anda, betul bukan, Mrs?" celotehnya sambil tersenyum senang.
Nih bocah memang tengilnya kebangetan. Belum 'ku smackdown kali ya ni bocah, biar otaknya tidak geser.
" Ya, terus saya harus apa, Ken-zo?" Aku terpaksa menyahut perkataannya. Tidak mau aku kalah telak darinya. Enak saja sudah di pecat, malah jadi babunya anak manja.
" Jadi kekasihku," jawabnya singkat.
Astaga! pekikku dalam hati.
Nih bocah benar-benar dalam pengaruh dunia perpeletan apa? Kok ngebet amat sama perempuan yang namanya Anastasya? Apa coba kelebihan yang ada pada Anastasya? Kaku iya, garing iya. Gak ada bagus-bagusnya kan, terus gak ada manis-manisnya, ha ha ha kok jadi iklan Le Mineril sih
" Kalau Anda tidak menjawab, berarti itu tandanya Anda setuju," tukasnya secepat kilat memberi ultimatum padaku.
" Eeh, nih bocah somplak. Aku belum memberi keputusan, enak banget kasih peringatan gak jelas." gerutuku dalam hati.
Aku menghela nafas panjang, lalu menghembuskannya kasar. Seketika otakku berdenyut. Pusing seperti ada burung yang berterbangan di atasnya.
" Kenzo, kamu tidak pantas menjalin hubungan dengan saya. Saya ini gurumu, dan akan selalu menjadi gurumu, paham bukan?" kataku menjelaskan.
" Tapi kan, Mrs, Anda bukan lagi guru di sekolah itu. Jadi, aku ini bukan muridmu lagi." sahutnya dengan enteng.
Saat aku melihat raut wajah tengilnya, ingin rasanya aku mengacak-acak rambutnya yang gondrong itu. Menyebalkan sekali kamu Kenzo.
" Usia saya dan usiamu juga jauh berbeda. Saya dua puluh tiga tahun, sedangkan kamu masih berusia tujuh belas juga belum, iya kan?" jelasku pada Kenzo.
Lagi-lagi Kenzo menganggap perkataanku sebagai lelucon.
" Tak peduli, yang penting aku sudah bisa menghasilkan a******i," ujarnya, santai.
Kutepuk jidatku. Aku tidak menyangka, anak seusia Kenzo sudah tahu arti a******i, dan dengan lantang mengatakan itu pada lawan jenis. Kemana kah para orang tua? Sehingga mempunyai seorang anak macam Kenzo?
" Kenzo! Jaga ucapanmu! Jika kamu masih saja seperti ini, jangan harap bisa bertemu lagi dengan saya!" Aku tak ingin berlama-lama untuk berada di dekatnya. Membuatku mual dan ingin menampar wajahnya.
Tetapi, jika aku menampar wajahnya, pasti dia berulah lagi. Dan aku akan di penjara setelah ini. Uh menyebalkan.
Kenzo meraih tanganku. Menarikku untuk segera duduk kembali di kursi yang kududuki sebelumnya.
" Jaga batasanmu, Kenzo! Saya ini lebih tua darimu. Dan saya juga berbeda jenis kelamin denganmu. Tak pantas jika kamu berkata seperti itu pada saya, yang jelas-jelas saya membenci itu." Aku berkata tegas padanya. Biarlah, biar ia mengerti batasan-batasan yang tidak boleh ia langgar.
" Aku berkata yang sebetulnya kok. Dan memang benar kan ucapanku tadi?" jawabnya tanpa merasa bersalah.
" Oke kalau begitu, ijinkan saya untuk pulang. Ini sudah malam, tak baik jika perempuan berada di luar sampai tengah malam."
Aku segera bangkit dan pergi dari hadapannya. Dia benar-benar murid yang kurang ajar menurut pandanganku.
Aku benar-benar di liputi rasa amarah padanya. Percuma bicara pada lelaki yang sudah di hiasi nafsu. Sulit dan mungkin aku akan terjebak.
***
Hujan turun di saat aku sedang menunggu mobil jemputan yang sebelumnya aku pesan melalui aplikasi online. Sudah setengah jam aku menunggu di halte bus. Dan mobil jemputan belum datang juga. Ada sedikit rasa kesal, di saat aku butuh tumpangan, tak ada satupun yang datang menghampiriku.
Tak lama kemudian, dari kejauhan di jalan raya yang sudah lengang karena jam menunjukkan pukul sebelas malam di tambah hujan deras. Aku melihat seseorang mengendarai motor besarnya. Laku berhenti tepat di halte bus.
" Sial! Bocah gendeng itu lagi." gerutuku memaki.
" Naik, Mrs. Aku antar Mrs Anastasya pulang." ujar Kenzo, suaranya tertutup helmet yang di gunakannya.
" Tidak usah, sudah mau di jemput mobil jemputan!" Aku menolak halus.
" Ini sudah malam loh, Mrs. Jangan menolak permintaanku kali ini. Please," ujar Kenzo, memohon dengan kedua telapak tangan di satukan seperti memohon.
Kemudian, ia turun dari motor besarnya menghampiriku lalu menarik tanganku agar aku ikut dengannya pulang menaiki motor kesayangannya.
Aku yang kesal, marah, menjadi tak bisa berkutik saat Kenzo menyuruhku untuk ikut serta di motornya. Tak apalah, gratis dan juga aku ingin merasakan air hujan tengah malam, hi hi hi.
Kenzo pun melajukan motornya. Sebelumnya ia menyerahkan jaket kulit yang di pakainya untuk kupakai di tubuhku.
" Pakai jaketku, Mrs. Biar Anda tidak masuk angin," katanya dengan nada dingin. Mungkin ia masih marah padaku, eeeh.
Aku hanya mengangguk, lalu menuruti perintahnya. Dan motorpun pergi di tengah hujan deras yang membasahi bumi.
.
.
" Yang, gimana kita pulang? Hujan deras loh," Suaraku yang mungkin terdengar kecil oleh Kenichi, di antara suara derasnya air hujan.
" Tenang, kamu pakai jaketku ya? Biar kamu gak kedinginan," timpal Kenichi.
" Tapi, nanti kamu sakit loh, 'yang." kataku lugas.
" Demi kamu, aku rela kok." Kenichi menyentuh hidung mancungku dengan lembut.
" Iih, Ayaaaang," sahutku sambil memukul pelan d**a Kenichi.
Kenichi tersenyum senang, lalu memakaikan jaketnya ke tubuhku.
Kenangan itu terngiang kembali dalam ingatanku. Kenangan tiga tahun yang lalu, di saat usia pernikahanku dengannya baru saja di mulai.
Tak terasa air mataku mengalir bersama tetesan air hujan yang lebat. Dan tidak ada yang tahu jika aku sedang bersedih.
Kenapa Kenzo mengingatkanku pada mantan suamiku? Apakah Kenzo jodoh yang Tuhan kirimkan padaku sebagai bentuk dari pengganti suamiku yang dulu gagal?
" Mrs, kenapa tidak memegang Kenzo? Nanti jatuh loh," Kenzo berteriak.
" Ibu bisa menahan." sahutku sambil berteriak.
Dan dengan cekatan, Kenzo menarik tanganku agar aku memeluk tubuhnya. Aku terpekik. Kaget sekaligus teringat kembali kenangan ketika bersama Kenichi. Dan sempurna lah tangisku, pecah. Aku sesenggukan. Hal ini membuat Kenzo menyadari tangisanku.
Di berhentikannya motor besar miliknya, lalu ia menoleh kearahku. Kenzo terkejut saat melihat diriku menangis.
" Anda menangis?" tanya Kenzo, panik.
Aku masih sesenggukan. Mencoba menahan tangisku.
" Kenapa?" tanyanya, lalu memeluk tubuhku.
" Maafkan Kenzo, Mrs. Kenzo memang kurang ajar sama Anda, Mrs." Kenzo meracau. Ia merasa tidak enak saat melihat diriku menangis.
" Kamu tidak salah, Kenzo. Saya hanya teringat masa lalu," jawabku sekenanya.
" Masa lalu? Dengan siapa?" Kini malah Kenzo yang penasaran.
" Dengan mantan suami," kataku, sambil menghapus sisa-sisa air mata di pipi.
" Jadi karena itu Anda menangis? Dan karena itu pula, Anda menolak cinta Kenzo, Mrs?"
Kali ini aku hanya bisa diam, sambil merasakan hangatnya tubuh Kenzo di tengah hujan deras dan angin kencang malam ini. Di sini, di depan rumah Kenzo.
Bersambung.
***