bc

Arca Bayangan Kekuasaan

book_age16+
0
FOLLOW
1K
READ
dark
mafia
like
intro-logo
Blurb

ARCA: BAYANGAN KEKUASAAN

Di balik gemerlap Kota Vardania, ada dunia yang tidak pernah terlihat oleh masyarakat biasa.

Korupsi, pencucian uang, perdagangan manusia, dan perebutan kekuasaan bukanlah kejahatan yang berdiri sendiri. Semuanya terhubung dalam sebuah jaringan besar yang bekerja dalam diam.

Di tengah dunia itu hidup seorang pria bernama Arca, 29 tahun.

Tidak ada yang mengenalnya sebagai orang penting. Ia hanya seorang pekerja kasar yang setiap hari berjuang untuk bertahan hidup.

Namun di balik penampilannya yang sederhana, Arca memiliki kemampuan membaca keadaan, menyusun strategi, mengumpulkan informasi, dan bertarung ketika keadaan memaksanya.

Arca percaya bahwa dunia tidak seharusnya berjalan seperti ini.

Ia ingin mengubahnya.

Semuanya bermula ketika Arca melihat sesuatu yang seharusnya tidak pernah ia lihat di tempat kerjanya.

Satu kejadian kecil membawanya pada sebuah simbol misterius: V.

Dari simbol itu, Arca perlahan menemukan jejak sebuah jaringan yang jauh lebih besar daripada yang pernah ia bayangkan.

Semakin dalam ia mencari kebenaran, semakin jelas bahwa orang-orang yang memiliki kekuasaan tidak selalu berada di depan layar.

Ada tangan-tangan yang bekerja dari balik bayangan.

Dan ketika Arca mulai mengusik kepentingan mereka, hidupnya berubah.

Ia harus memilih:

tetap menjadi orang biasa yang menyaksikan dunia dari kejauhan, atau berdiri melawan sistem yang mungkin jauh lebih kuat darinya.

Namun Arca belum mengetahui satu hal.

Dalam perang melawan kekuasaan, musuh terbesar bukan selalu orang yang berdiri di depanmu.

Terkadang, musuh berada di sampingmu.

chap-preview
Free preview
Pekerja Kasar
BAB 1 PEKERJA KASAR Pukul lima lewat tiga puluh pagi. Langit di atas Kota Vardania masih berwarna kelabu ketika Arca membuka mata. Suara kendaraan dari jalan utama terdengar samar dari balik jendela kecil kamarnya. Vardania sudah mulai bergerak. Kota itu selalu seperti itu. Orang-orang bangun untuk bekerja. Sebagian mengejar kehidupan yang lebih baik. Sebagian lagi sudah memiliki segalanya, tetapi masih menginginkan lebih. Arca duduk di tepi kasur. Kamarnya sederhana. Sebuah lemari tua, meja kecil, kipas angin yang berputar lambat, dan beberapa pakaian kerja yang tergantung di dinding. Tidak ada barang mahal. Tidak ada kemewahan. Tetapi Arca tidak pernah terlalu mempermasalahkannya. Ia mengambil sepatu kerja yang sudah mulai rusak. Sebelum mengenakannya, matanya berhenti pada sebuah foto kecil di atas meja. Foto keluarganya. Arca mengambilnya. Menatap beberapa detik. Lalu mengembalikannya. “Suatu hari nanti.” Hanya dua kata. Setelah itu dia pergi. Pukul tujuh pagi. Arca sudah berada di proyek pembangunan kawasan timur Vardania. Pekerjaannya sederhana. Berat, kotor, dan melelahkan. Mengangkat besi. Memindahkan semen. Membawa material dari satu tempat ke tempat lain. Tidak ada yang istimewa dari pekerjaannya. Setidaknya begitu yang dilihat orang lain. Arca tidak keberatan dianggap biasa. Justru dia menyukainya. Semakin sedikit orang memperhatikannya, semakin mudah baginya memperhatikan dunia di sekelilingnya. Ia hafal siapa yang datang paling pagi. Siapa yang sering meninggalkan lokasi. Truk mana yang membawa material. Dan siapa yang terlalu sering berbicara dengan mandor. Bukan karena dia curiga kepada semua orang. Arca hanya terbiasa memperhatikan. Menjelang siang, sebuah truk hitam masuk melalui pintu belakang proyek. Arca yang sedang membawa besi berhenti sejenak. Truk itu tidak memiliki logo perusahaan. Plat nomornya sebagian tertutup lumpur. Dua pria turun. Mereka tidak menggunakan pakaian pekerja. Arca memperhatikan. Satu pria membuka pintu belakang. Pria lainnya berdiri mengawasi sekitar. Arca tidak mendekat. Dia hanya mengingat wajah mereka. Kemudian kembali bekerja. Beberapa jam kemudian, Arca melihat seorang pekerja muda bernama Daren berjalan menuju gudang. Daren terlihat gelisah. Seorang pria menghampirinya. Mereka berbicara. Daren beberapa kali menggeleng. Pria itu kemudian menarik lengannya. Arca meletakkan barang yang sedang dibawanya. Dia berjalan mendekat. “Hei.” Pria itu menoleh. “Ada masalah?” “Pergi bekerja.” Arca melihat Daren. “Dia tidak mau ikut.” “Itu bukan urusanmu.” Arca diam. Dia tidak suka ikut campur urusan orang lain. Tetapi ada sesuatu dalam tatapan Daren. Ketakutan. Arca mengenal tatapan itu. Tatapan seseorang yang merasa tidak punya pilihan. “Lepaskan dia.” Pria itu tertawa kecil. “Kau pikir kau siapa?” Arca tidak menjawab. Dia hanya berdiri. Pria itu mendorong dadanya. Arca mundur satu langkah. Tidak membalas. Bukan karena takut. Dia sedang berpikir. Di belakang pria itu ada tumpukan material. Di sebelah kanan ada pintu gudang. Beberapa pekerja berada tidak jauh dari mereka. Ada kamera keamanan di atas tiang. Arca melihat semuanya. Kemudian dia berkata pelan, “Kalau kau menyentuh dia lagi, aku akan panggil mandor.” Pria itu tersenyum. “Silakan.” Kemudian dia pergi bersama Daren. Arca berdiri diam. Ada sesuatu yang tidak beres. Sore hari. Arca melihat Daren kembali bekerja. Namun wajah pemuda itu berbeda. Arca menghampirinya. “Daren.” Daren menoleh. “Ya?” “Pagi tadi mereka mau membawamu ke mana?” Daren terdiam. “Tidak ada apa-apa.” “Kau yakin?” Daren mengangguk. Kemudian pergi. Arca tidak mengejarnya. Dia tahu kapan seseorang tidak ingin berbicara. Tetapi sebelum kembali bekerja, Arca melihat sesuatu di tanah. Sebuah kartu kecil. Ia mengambilnya. Tidak ada nama. Hanya sebuah simbol: V Arca membalik kartu tersebut. Kosong. Ia memasukkan kartu itu ke dalam sakunya. Malam tiba. Para pekerja mulai meninggalkan proyek. Arca berjalan sendirian menuju halte. Namun sebelum keluar dari gerbang, dia berhenti. Ada sesuatu yang membuatnya menoleh. Sebuah mobil hitam terparkir di seberang jalan. Kacanya gelap. Tidak bergerak. Arca menatapnya beberapa saat. Kemudian mobil itu pergi perlahan. Arca mengerutkan kening. Ia tidak tahu siapa yang berada di dalamnya. Beberapa menit kemudian, Arca tiba di halte. Ia duduk sendirian. Tangannya masuk ke dalam saku dan menyentuh kartu kecil yang ditemukan tadi. V. Entah kenapa, simbol itu membuatnya tidak nyaman. Ia mengeluarkan kartu tersebut sekali lagi. Di bawah cahaya lampu halte yang redup, Arca memperhatikannya lebih dekat. Tidak ada apa-apa. Hanya simbol V. Namun ketika ia hendak memasukkannya kembali... ponselnya bergetar. Satu pesan masuk. Nomor tidak dikenal. Arca membuka pesan itu. Hanya ada tiga kata. JANGAN PERCAYA SIAPA PUN. Arca menatap layar. Pesan berikutnya masuk. Kali ini hanya berupa sebuah foto. Foto dirinya. Diambil dari kejauhan. Foto itu memperlihatkan Arca sedang berbicara dengan Daren sore tadi. Arca langsung berdiri. Ia melihat ke sekeliling halte. Tidak ada siapa-siapa. Jalanan hampir kosong. Ponselnya kembali bergetar. Pesan ketiga muncul. KAMI SUDAH MELIHATMU. Arca tidak bergerak. Untuk pertama kalinya malam itu, wajahnya berubah serius. Bukan karena takut. Karena satu pertanyaan muncul di kepalanya. Siapa yang mengambil foto itu? Lalu ponselnya bergetar sekali lagi. Sebuah pesan terakhir. TANYAKAN KEPADA DAREN TENTANG 417. Arca membaca angka itu berulang kali. 417. Dia belum pernah mendengar angka tersebut dari Daren. Atau... mungkin Daren memang pernah mengatakannya. Arca mencoba mengingat percakapan mereka. Tidak ada. Dia memasukkan ponsel ke saku. Kemudian berjalan meninggalkan halte. Di seberang jalan, jauh di balik kaca sebuah mobil yang terparkir dalam gelap, sepasang mata mengawasinya. Seseorang membuka sebuah berkas. Di halaman pertama hanya tertulis: ARCA Di bawahnya: 29 tahun. Pekerja kasar. Tidak memiliki koneksi politik. Tidak memiliki organisasi. Orang itu membaca catatan terakhir. Lalu berhenti. “Kemampuan observasi: jauh di atas rata-rata.” Berkas itu ditutup. Seseorang di dalam mobil bertanya, “Apakah dia tahu?” Suara lain menjawab dari kursi belakang. “Belum.” “Lalu kenapa kita mengawasinya?” Hening beberapa detik. Kemudian terdengar jawaban pelan. “Karena dia melihat sesuatu yang seharusnya tidak dia lihat.” Mobil itu perlahan meninggalkan tempat tersebut. Namun sebelum menghilang di tikungan, kamera di dalam mobil menampilkan satu gambar terakhir. Bukan wajah Arca. Bukan wajah Daren. Melainkan sebuah simbol yang sama dengan kartu di saku Arca. V. Dan tepat di bawahnya terdapat sebuah angka: 417. Apa yang selanjutnya Arca lakukan tetap disini teman teman selanjutanya kita di bab 2 yaaa kalau kalian penasaran tetap stay di novel ini yaaaa.... Pakah Arca bertemu dengan seseorang apakah arca akan mencari nomer itu kita tunggu di bab bab selanjutnya Terim kasih sudah membaca novel saya selalu dalam lindungan pencipta ya kalian semua bye bye lest go

editor-pick
Dreame-Editor's pick

bc

Kuliah Malam Bersama Dosen Hot

read
156.5K
bc

Gairah Lama Kembali Membakar

read
4.2K
bc

NIKAH??? BOHONGAN???!!!

read
3.3K
bc

Putri Haram Konglomerat untuk Tuan Muda Cacat

read
17.1K
bc

Orang Ketiga

read
36.8K
bc

B̶u̶k̶a̶n̶ Pilihan Hatimu

read
114.3K
bc

Babysitter Canduku

read
20.1K

Scan code to download app

download_iosApp Store
google icon
Google Play
Facebook