bc

Istri Kontrak Sang CEO Dingin

book_age18+
39
FOLLOW
1K
READ
dark
contract marriage
HE
forced
opposites attract
friends to lovers
arranged marriage
single mother
heir/heiress
drama
sweet
bxg
city
office/work place
assistant
wild
like
intro-logo
Blurb

“Menikah dengannya adalah kesalahan terbesarku atau mungkin takdir terbaikku.”Ara hanya punya dua pilihan, Menyaksikan perusahaan keluarganya bangkrut, atau menikah dengan Dimas Pratama, CEO muda yang terkenal dingin, tegas, dan tak pernah memberi ruang untuk cinta.Pernikahan mereka hanyalah sebuah kontrak hitam di atas putih berlaku selama satu tahun. Tak ada janji manis, tak ada sentuhan penuh kasih. Ara hanyalah ‘istri di atas kertas’ yang diatur untuk menghadiri acara-acara penting demi menjaga reputasi sang suami di hadapan publik.Namun, semakin lama hidup di bawah atap yang sama, Ara mulai menemukan sisi Dimas yang tak pernah dilihat orang lain: luka masa lalu yang tersembunyi, tatapan yang terlalu lama berhenti di matanya, dan perlindungan diam-diam yang membuat hatinya bergetar.Masalahnya, waktu mereka terbatas. Kontrak akan berakhir dalam hitungan bulan.Lalu, bagaimana jika hati mereka sudah saling terikat saat perjanjian harus diputuskan?Apakah cinta mampu melawan sebuah kontrak?

chap-preview
Free preview
Tanda Tangan yang Mengikat
Hujan sore itu jatuh deras, menghantam jendela kaca besar ruang tamu keluarga Pradana. Aroma kopi yang dingin di cangkir menggantung di udara, nyaris tak tersentuh sejak tadi pagi. Ara duduk mematung di sofa, matanya terpaku pada surat yang diletakkan di meja. Surat itu bukan sekadar tumpukan kertas itu adalah vonis. Vonis yang bisa menyelamatkan atau menghancurkan seluruh hidupnya. “Ara,” suara ayahnya terdengar berat, seperti memikul beban yang tak kasat mata. Lelaki paruh baya itu duduk di seberang, wajahnya tampak sepuluh tahun lebih tua hanya dalam semalam. “Kita tidak punya waktu lagi. Perusahaan kita akan kehilangan semuanya dalam hitungan minggu.” Ara menggenggam ujung roknya erat-erat. “Ayah, aku aku bisa mencari cara lain. Mungkin kita bisa menjual aset yang-” “Semua sudah kita jual,” potong ayahnya, nada suaranya tajam namun penuh putus asa. “Yang tersisa hanya satu jalan. Dimas Pratama bersedia membantu, tapi dia punya syarat.” Ara sudah tahu apa yang akan keluar dari mulut ayahnya. Bahkan sebelum kata-kata itu diucapkan, jantungnya sudah berdegup tak beraturan. “Kau harus menikah dengannya.” Kata-kata itu menggema di kepalanya. Menikah. Dengan seorang pria yang bahkan belum pernah ia temui. Ara menelan ludah. “Kenapa kenapa harus aku?” “Karena dia tidak percaya pada siapa pun di keluarga kita kecuali kau,” jawab sang ayah. “Dia menganggapmu bersih. Tidak terlibat dalam masalah bisnis. Dan dia bilang itu akan menguntungkan citranya di media.” Ara menunduk, menatap jemarinya yang saling meremas. Pernikahan… bukan karena cinta, bukan karena takdir, melainkan kontrak. “Pikirkan, Ara,” ayahnya melanjutkan, suaranya melembut. “Kita akan kehilangan segalanya kalau kau menolak. Semua karyawan yang bekerja puluhan tahun akan kehilangan pekerjaan.” Bibir Ara bergetar. Ia ingin marah, ingin berteriak, tapi setiap bayangan pekerja pabrik yang mengandalkan perusahaan itu membuatnya terdiam. Keesokan harinya, langit Jakarta masih diselimuti awan kelabu ketika Ara tiba di gedung megah Pratama Corp. Mobil hitam yang menjemputnya berhenti tepat di depan lobi marmer berkilau. Pintu lift terbuka di lantai tertinggi. Aroma parfum maskulin samar-samar tercium ketika ia melangkah keluar. Sekretaris berpakaian rapi menyambutnya dan membawanya menuju sebuah ruangan luas dengan dinding kaca yang menghadap ke panorama kota. Dimas Pratama berdiri membelakangi pintu, menatap keluar jendela. Tubuhnya tinggi, tegap, dibalut setelan jas hitam yang sempurna. Ia berbalik perlahan, memperlihatkan wajah yang tampan namun dingin. Tatapan matanya tajam, seperti bisa menembus pikiran siapa pun yang ada di depannya. “Silakan duduk,” ucapnya singkat, tanpa senyum. Ara duduk, mencoba menjaga wibawanya, meski tangannya dingin. Dimas mengambil map hitam di meja, lalu mengeluarkan beberapa lembar dokumen. “Ini kontrak pernikahan kita. Berlaku selama satu tahun. Semua syarat tertulis di sini.” Ara menatap lembaran itu. Ada puluhan pasal, semuanya terdengar bisnis. Tidak ada satu pun kata yang menyiratkan hubungan emosional. Bahkan soal tempat tinggal dan keuangan pun diatur dengan detail. “Tidak ada perubahan?” tanya Ara pelan. “Tidak ada,” jawab Dimas tegas. “Kecuali kau ingin membatalkan sekarang. Tapi kalau kau membatalkan, aku anggap negosiasi kita selesai.” Nada suaranya membuat bulu kuduk Ara meremang. Ia tahu, sekali ia menolak, bukan hanya keluarganya yang hancur namun juga ratusan karyawan. “Kenapa aku?” akhirnya Ara memberanikan diri bertanya. Dimas menatapnya lama, tatapannya dingin namun penuh perhitungan. “Karena kau tidak akan jatuh cinta padaku. Dan aku tidak akan jatuh cinta padamu. Itu membuat semuanya lebih sederhana.” Ara hampir tertawa pahit. “Bagaimana kau bisa yakin?” “Karena aku tidak punya hati untuk dicintai lagi,” jawabnya datar, lalu menggeser pena ke arahnya. Diam-diam, kata-kata itu menusuk hati Ara. Namun ia menahan diri, mengalihkan pandangan pada kertas di depannya. Tangannya sedikit gemetar ketika ia mengambil pena. Setiap tarikan tinta di kertas itu seperti mengikatnya pada masa depan yang tak pernah ia bayangkan. Begitu ia selesai menandatangani, Dimas mengambil kontrak itu, memeriksanya singkat, lalu menaruhnya kembali di map. Ia berdiri, menatap Ara dari atas. “Mulai besok, kau adalah istriku. Tapi, ” Ia menunduk sedikit, suaranya dingin, nyaris seperti bisikan yang menusuk. “Jangan pernah berharap aku akan mencintaimu.” Kata-kata itu menutup semua kemungkinan yang mungkin muncul di benak Ara. Ia hanya bisa tersenyum tipis, menyembunyikan gejolak di dadanya. Dalam hati, ia berjanji pada dirinya sendiri: jika ini permainan, ia akan memainkannya dengan caranya sendiri. Ara masih duduk di kursi kulit hitam yang empuk itu, meski sebenarnya kursi itu terasa seperti jerat. Suara detak jarum jam di dinding terdengar jelas di tengah hening yang kaku. Dimas sudah kembali duduk, jemarinya mengetuk pelan meja kaca, seolah menunggu sesuatu. Tatapannya tak pernah lepas dari Ara. “Mulai besok, kita akan menjadi pasangan yang diperhatikan media. Ada aturan yang harus kau ikuti,” ucapnya. Ara menegakkan tubuh. “Aturan?” Dimas menggeser satu lembar kertas lain. “Tidak ada hubungan pribadi yang melibatkan perasaan. Tidak ada pembahasan tentang masa lalu masing-masing. Dan kita akan tidur di kamar terpisah.” Ara menelan ludah. “Itu semua sudah termasuk di kontrak ini?” “Sudah.” Kata-katanya tajam, seperti tidak memberi ruang untuk protes.Ara menunduk, memperhatikan tanda tangan mereka yang kini berdampingan di bawah pasal-pasal yang dingin. Tinta hitam itu terasa seperti belenggu. Saat Ara keluar dari ruangan itu, langkahnya terasa berat. Sekretaris Dimas, wanita berambut bob dengan kacamata tipis, mengantarnya sampai lift. “Selamat datang di keluarga Pratama, Bu Ara,” katanya sambil tersenyum tipis. Tapi ada nada aneh di suaranya campuran basa-basi dan peringatan tersembunyi. Pintu lift tertutup, dan untuk pertama kalinya sejak pagi, Ara menghela napas panjang. Apa yang baru saja ia lakukan? Sore itu, Ara duduk di kursi belakang mobil hitam yang disediakan Dimas. Jakarta di luar kaca jendela tetap sibuk seperti biasa, tapi dunia Ara seakan berhenti. Bayangan wajah ayahnya muncul di benaknya. Senyum lega yang muncul ketika Ara berkata “Ya” semalam. Senyum itu seperti pelipur lara dan sekaligus pengingat bahwa keputusan ini bukan untuk dirinya sendiri. Tapi tetap saja, hatinya bertanya-tanya siapa sebenarnya Dimas Pratama? Lelaki itu seperti tembok tinggi, dingin, dan rapat. Tidak ada celah untuk sekadar menerka isi hatinya. Malamnya, Ara duduk di balkon apartemennya. Angin malam membawa aroma hujan yang tersisa. Ia membuka kontrak yang tadi dibawa pulang, matanya menelusuri setiap pasal. Ada bagian yang membuatnya terdiam lebih lama: “Kontrak dapat diakhiri sewaktu-waktu apabila salah satu pihak terlibat hubungan emosional di luar pernikahan ini.” Ara memejamkan mata. Jadi ini bukan sekadar pernikahan tanpa cinta, tapi juga pernikahan yang melarang cinta itu tumbuh di tempat lain. Sebuah ironi. Keesokan paginya, Ara kembali ke gedung Pratama Corp untuk sesi foto resmi yang diatur tim media Dimas. Gaun putih sederhana sudah disiapkan, begitu juga setelan jas untuk Dimas. Studio foto di lantai 20 dipenuhi lampu sorot dan fotografer yang sibuk mengatur angle. Ara berdiri di samping Dimas, jarak mereka diatur agar terlihat harmonis di kamera. “Bisa lebih dekat sedikit, Pak Dimas? Peluk pinggangnya,” instruksi fotografer terdengar. Dimas menoleh sekilas, lalu meletakkan tangan di pinggang Ara. Sentuhan itu dingin, seperti sekadar formalitas. Ara tersenyum ke arah kamera, meski dalam hati ia merasa seperti sedang memainkan peran di panggung teater. Setelah beberapa kali jepretan, Dimas membisikkannya pelan, “Ingat, ini hanya untuk media. Jangan membacanya terlalu jauh.” Ara menoleh, menatap mata pria itu. Ada sesuatu di sana entah itu peringatan atau perlindungan. Ia tak tahu pasti. Sesi foto selesai, dan mereka berjalan keluar studio. Beberapa staf menunduk hormat saat pasangan baru itu lewat. Di dalam lift, hanya ada mereka berdua. Keheningan terasa lebih berat daripada percakapan apa pun. Ara akhirnya memecah diam. “Apa kau selalu bersikap seperti ini pada semua orang?” Dimas mengangkat alis. “Seperti ini?” “Dingin. Seperti tidak peduli.” Dimas menatapnya singkat, lalu memalingkan wajah. “Itu membuat hidup lebih sederhana. Tidak ada ekspektasi. Tidak ada kekecewaan.” Ara hampir bertanya lagi, tapi pintu lift terbuka, dan ia tahu percakapan itu berakhir di situ. Sore itu, Ara kembali ke rumah untuk mempersiapkan pernikahan sipil yang akan digelar esok hari. Semua serba cepat gaun, undangan, lokasi. Namun yang paling membuatnya resah adalah pikiran tentang bagaimana hidupnya akan berubah total hanya dalam hitungan jam. Ia berdiri di depan cermin, memandangi dirinya sendiri. Wajah itu masih wajah Ara yang sama, tapi matanya kini menyimpan sesuatu yang baru. Ketakutan, mungkin. Atau tekad? Sambil memegang kontrak itu di tangannya, Ara menarik napas panjang. Mulai besok, ia akan menjadi istri seorang pria yang mengaku tak punya hati untuk dicintai. Tapi dalam hati kecilnya, Ara tahu tidak ada tembok yang benar-benar tak bisa runtuh. Dan ia bertekad, jika ini adalah permainan, maka ia akan memainkannya sampai akhir.

editor-pick
Dreame-Editor's pick

bc

Hati Yang Tersakiti

read
9.6K
bc

DIHAMILI PAKSA Duda Mafia Anak 1

read
48.0K
bc

Pawang Cinta CEO Playboy

read
3.8K
bc

Menikah, Karena Tak Sengaja Hamil

read
1.6K
bc

Mantan Sugar Baby

read
8.9K
bc

The CEO's Little Wife

read
686.5K
bc

Pak Bos Duda Jadi Jodohku

read
34.4K

Scan code to download app

download_iosApp Store
google icon
Google Play
Facebook