bc

Falling for My Mother's Fiancé

book_age16+
8
FOLLOW
1K
READ
forbidden
HE
powerful
boss
single mother
drama
bxg
city
like
intro-logo
Blurb

Aku tahu dia terlarang.

Aku tahu aku seharusnya menjaga jarak.

Tapi semakin keras aku mencoba menjauh dari Reino White, semakin sulit mengabaikan perasaan yang tumbuh di antara kami.

Dia adalah tunangan ibuku.

Seorang CEO sukses yang tampaknya memiliki segalanya—kekayaan, kekuasaan, dan pesona yang mampu membuat siapa pun jatuh hati.

Sayangnya, wanita yang dia pilih adalah ibuku.

Aku menyaksikan ibuku menikmati semua yang Reino berikan sambil diam-diam menghancurkan hati pria itu sedikit demi sedikit. Dan aku adalah satu-satunya yang melihat bagaimana senyum sempurnanya menyembunyikan luka yang tidak pernah dia tunjukkan kepada dunia.

Awalnya aku hanya merasa kasihan.

Lalu aku mulai memahaminya.

Dan tanpa sadar, aku mulai menunggunya.

Menunggu pesan singkatnya.

Menunggu suaranya.

Menunggu tatapan yang seharusnya tidak berarti apa-apa, tetapi selalu membuat jantungku berdetak terlalu cepat.

Aku membenci perasaan itu.

Karena Adrian bukan untukku.

Dia milik ibuku.

Setidaknya sampai hari ketika semuanya hancur.

Beberapa minggu sebelum pernikahan mereka, ibuku menghilang bersama pria lain, meninggalkan Reino di tengah skandal dan pengkhianatan yang menghancurkan hidupnya.

Aku pikir itu akan menjadi akhir dari segalanya.

Aku salah.

Karena setelah ibuku pergi, tidak ada lagi alasan bagi kami untuk berpura-pura bahwa tidak ada sesuatu yang terjadi di antara kami.

Dan ketika Reino mulai menatapku bukan sebagai putri tunangannya, melainkan sebagai seorang wanita yang diinginkannya...

Aku sadar bahwa aku sedang jatuh terlalu dalam.

Pada pria yang tidak boleh kucintai.

Pada pria yang hampir menjadi keluargaku.

Pada pria yang bisa menghancurkan seluruh hidupku hanya dengan satu sentuhan.

Dia adalah kesalahan terbesar yang pernah kuinginkan.

Dan kali ini, aku tidak yakin ingin melarikan diri.

chap-preview
Free preview
Pria yang Memiliki Segalanya
Reino _ Lampu di ruang kerjaku tidak pernah benar-benar padam. Aku tidak pernah menyukai ruangan yang gelap. Bukan karena takut pada kegelapan, tetapi karena gelap membuat pikiranku bekerja lebih keras daripada yang seharusnya. Di hadapanku, layar laptop masih menampilkan laporan perkembangan proyek resort terbaru di Uluwatu. Angka, grafik, dan proyeksi keuntungan memenuhi layar. Biasanya, semua itu cukup membuatku lupa pada dunia di luar pekerjaanku. White Group tidak pernah benar-benar memberiku kesempatan untuk berhenti berpikir. Sebagai CEO, setiap keputusan yang kuambil bisa menentukan nasib ratusan orang yang bekerja di bawahku. Selama bertahun-tahun aku membiasakan diri hidup dengan jadwal yang nyaris tanpa celah. Pagi dimulai dengan rapat, siang diisi kunjungan proyek, malam berakhir di ruang kerja seperti sekarang. Banyak orang menganggap hidupku sempurna. Mereka melihat angka-angka keberhasilan, hotel-hotel mewah yang berdiri di berbagai kota, dan daftar penghargaan yang terus bertambah setiap tahun. Mereka tidak pernah melihat berapa banyak hal yang harus kukorbankan untuk sampai di titik ini. Malam ini tidak. Aku membaca baris yang sama untuk ketiga kalinya. Tetap tidak masuk. Ponsel di atas meja bergetar pelan. Satu notifikasi masuk. Aku membiarkannya beberapa detik. Tidak semua hal harus segera mendapat perhatianku. Namun akhirnya tanganku tetap meraih ponsel itu. Layar menyala. Beberapa pesan singkat muncul. *Nyonya Sabrina Maurene sudah mengkonfirmasi mengenai persiapan Gala Dinner untuk beberapa Hari Lagi. *Nyonya juga memesan tempat makan siang untuk besok untuk menyambut Nona Michelle Maurene. Aku mengernyit pelan. Michelle Maurene. Nama itu terdengar asing. Aku mencoba mengingat. Lalu samar-samar terlintas satu percakapan beberapa minggu lalu. Sabrina pernah menyebutkan bahwa ia memiliki seorang putri yang sedang menyelesaikan studinya di England. Hanya itu. Tidak lebih. Aku bahkan tidak pernah bertanya lebih jauh. Sejak pertama kali kami menjalin hubungan, Aku meminta Sabrina untuk tinggal bersamaku. Sabrina memiliki kehidupan yang bebas sebelum bersamaku, dia sangat menyukai pesta besar, keramaian, bahkan kehidupan orang-orang atas seperti kalangan kami. Pertemuan kami sendiri terjadi tanpa sengaja di sebuah acara amal di Jakarta hampir dua tahun lalu. Di tengah ruangan yang dipenuhi para pengusaha, pejabat, dan selebritas, Sabrina menjadi satu-satunya orang yang datang menghampiriku tanpa membawa proposal kerja sama ataupun kepentingan bisnis. Ia hanya mengajakku berbincang. Sejak malam itu, kehidupanku perlahan berubah. Aku yang terbiasa pulang ke rumah kosong mulai terbiasa menemukan seseorang yang menungguku. Mungkin itu sebabnya aku begitu mudah mempercayainya. Walaupun itu terkadang sangat berseberangan denganku yang lebih menyukai ketenangan. Bagiku, kehidupan pribadi Sabrina adalah batas yang tidak pernah ingin kulewati. Hubungan kami sudah cukup rumit tanpa harus melibatkan orang lain. Terlebih keluarganya. Orang Tuanya. Atau bahkan mantan suami nya yang dia tidak pernah ingin membahasnya. Aku memang sangat mencintai Sabrina, bagiku dia seperti obat yang membuatku terus kecanduan. Usia kami terpaut cukup jauh, tetapi perbedaan itu tidak pernah benar-benar kupedulikan. Sabrina mampu menghidupkan suasana yang selama ini terasa terlalu sunyi dalam hidupku. Ia memenuhi rumah dengan tawa, musik, dan tamu-tamu yang datang silih berganti. Kadang aku merasa lelah menghadapi dunianya yang begitu ramai, tetapi melihatnya tersenyum selalu cukup membuatku berpikir bahwa semua itu sepadan. Barangkali cinta memang sering kali membuat seseorang berkompromi dengan hal-hal yang sebelumnya tidak pernah ia sukai. Bahkan seperti sebuah sinar yang membuat kepenatanku dikantor terobati saat pulang kerumah. Aku kembali membaca pesan itu. Tidak ada informasi tambahan. Tidak ada alasan mengapa asistenku merasa perlu memberitahukan hal tersebut kepadaku. Aku hampir menghapusnya. Namun jariku berhenti tepat sebelum menyentuh layar. Kenapa? Aku sendiri tidak tahu. Mungkin hanya karena aku tidak suka meninggalkan sesuatu yang belum kupahami. Atau mungkin karena untuk pertama kalinya, sebuah nama yang bahkan belum pernah kutemui berhasil mengalihkan fokusku dari pekerjaanku. Aku mengunci layar ponsel. Jam dinding di sudut ruangan menunjukkan hampir pukul sembilan malam. Biasanya pada jam seperti ini aku sudah berada di rumah, menikmati makan malam sederhana bersama Sabrina sebelum kembali membaca beberapa dokumen yang belum selesai. Rutinitas itu terdengar membosankan bagi banyak orang. Bagiku justru sebaliknya. Setelah bertahun-tahun hidup sendirian, memiliki seseorang untuk diajak pulang terasa seperti kemewahan yang tidak bisa dibeli dengan uang sebanyak apa pun. Ruangan kembali sunyi. Sunyi selalu menjadi teman terbaikku. Tidak pernah menuntut. Tidak pernah berbohong. Aku bersandar pada kursi kerja, membiarkan pandanganku jatuh ke jendela besar yang menghadap laut. Malam di Bali terlihat damai. Lampu-lampu vila di kejauhan memantulkan cahaya ke permukaan air yang tenang. Pemandangan seperti ini biasanya cukup membuat pikiranku kembali teratur. Namun malam ini ada sesuatu yang terasa sedikit bergeser. "Ini bukan urusanmu." Aku mengucapkannya dalam hati. Tegas. Dingin. Seolah kalimat itu mampu mengembalikan semuanya seperti semula. Aku kembali membuka laporan proyek. Proyek resort di Uluwatu seharusnya menjadi fokus utamaku minggu ini. Nilai investasinya mencapai ratusan miliar rupiah, melibatkan investor dari Singapura dan Jepang yang sangat detail terhadap setiap perkembangan. Besok pagi aku harus menghadiri rapat bersama para arsitek sebelum bertemu calon investor baru di Nusa Dua. Jadwalku padat, nyaris tanpa ruang untuk memikirkan hal-hal di luar pekerjaan. Itulah sebabnya aku heran ketika satu nama yang bahkan belum pernah kulihat wajahnya mampu mengganggu konsentrasiku selama beberapa menit. Baris pertama. Baris kedua. Tetap tidak ada yang masuk ke kepalaku. Aku mengembuskan napas pelan, lalu menutup laptop. Gerakanku selalu terukur. Aku tidak pernah menyukai kekacauan. Segala sesuatu memiliki tempatnya masing-masing. Termasuk pikiranku. Aku berjalan menuju meja bar kecil di sudut ruangan. Lalu menuang segelas air. Namun gelas itu hanya berada di tanganku tanpa benar-benar kuminum. Pantulan wajahku terlihat samar di permukaan kaca. Tenang… Tidak menunjukkan apa pun. Seperti yang selalu kulatih selama bertahun-tahun. Orang-orang mengenalku sebagai pria yang sulit ditebak. Mereka sering mengatakan aku terlalu dingin. Terlalu tenang. Terlalu sulit dibaca. Aku tidak pernah berusaha membantah anggapan itu. Dalam dunia bisnis, emosi adalah kelemahan yang paling mudah dimanfaatkan. Semakin sedikit orang mengetahui apa yang kupikirkan, semakin kecil kesempatan mereka menggunakannya untuk melawanku. Kebiasaan itu akhirnya terbawa sampai ke kehidupan pribadiku. Bahkan Sabrina beberapa kali mengatakan bahwa wajahku selalu tampak sama, entah aku sedang bahagia, marah, ataupun kecewa. Mereka menganggap ketenanganku sebagai kepercayaan diri. Padahal sebenarnya, aku hanya tidak pernah membiarkan siapa pun melihat apa yang terjadi di dalam kepalaku. Aku akhirnya meneguk air itu perlahan. Dingin. Jernih. Tidak banyak membantu. Nama itu kembali melintas begitu saja. Namun Aku mengabaikannya, karena aku tau kebiasaan Sabrina yang selalu ingin menjadi pusat perhatian bagi semua orang. Aku kembali menaruh gelas itu ketempat semula. Presisi… dan sangat rapi. Kebiasaan yang selalu membuatku merasa semuanya masih berada dalam kendaliku. Sebelum kembali ke meja kerja, pandanganku singgah sekali lagi pada layar ponsel yang kini gelap. Aku mengirimkan pesan singkat kepada Sabrina. Tidak ada alasan khusus aku mengirim pesan itu. Aku hanya tahu Sabrina selalu menyukai hal-hal sederhana seperti ucapan selamat pagi, kabar singkat, atau kalimat "aku akan segera pulang". Ia pernah berkata bahwa perhatian kecil jauh lebih berarti daripada hadiah mahal. Mungkin itu satu-satunya kebiasaan darinya yang dengan mudah kupelajari. *Aku akan segera pulang, Love you. Beberapa detik kemudian layar kembali gelap. Aku tidak tahu bahwa di balik satu pesan sederhana itu, hidupku sedang berjalan menuju sesuatu yang tidak pernah kurencanakan.

editor-pick
Dreame-Editor's pick

bc

Unscentable

read
2.0M
bc

He's an Alpha: She doesn't Care

read
767.0K
bc

Claimed by the Biker Giant

read
1.9M
bc

Holiday Hockey Tale: The Icebreaker's Impasse

read
994.0K
bc

A Warrior's Second Chance

read
368.1K
bc

Not just, the Beta

read
353.0K
bc

The Broken Wolf

read
1.2M

Scan code to download app

download_iosApp Store
google icon
Google Play
Facebook