
Aku tahu dia terlarang.
Aku tahu aku seharusnya menjaga jarak.
Tapi semakin keras aku mencoba menjauh dari Reino White, semakin sulit mengabaikan perasaan yang tumbuh di antara kami.
Dia adalah tunangan ibuku.
Seorang CEO sukses yang tampaknya memiliki segalanya—kekayaan, kekuasaan, dan pesona yang mampu membuat siapa pun jatuh hati.
Sayangnya, wanita yang dia pilih adalah ibuku.
Aku menyaksikan ibuku menikmati semua yang Reino berikan sambil diam-diam menghancurkan hati pria itu sedikit demi sedikit. Dan aku adalah satu-satunya yang melihat bagaimana senyum sempurnanya menyembunyikan luka yang tidak pernah dia tunjukkan kepada dunia.
Awalnya aku hanya merasa kasihan.
Lalu aku mulai memahaminya.
Dan tanpa sadar, aku mulai menunggunya.
Menunggu pesan singkatnya.
Menunggu suaranya.
Menunggu tatapan yang seharusnya tidak berarti apa-apa, tetapi selalu membuat jantungku berdetak terlalu cepat.
Aku membenci perasaan itu.
Karena Adrian bukan untukku.
Dia milik ibuku.
Setidaknya sampai hari ketika semuanya hancur.
Beberapa minggu sebelum pernikahan mereka, ibuku menghilang bersama pria lain, meninggalkan Reino di tengah skandal dan pengkhianatan yang menghancurkan hidupnya.
Aku pikir itu akan menjadi akhir dari segalanya.
Aku salah.
Karena setelah ibuku pergi, tidak ada lagi alasan bagi kami untuk berpura-pura bahwa tidak ada sesuatu yang terjadi di antara kami.
Dan ketika Reino mulai menatapku bukan sebagai putri tunangannya, melainkan sebagai seorang wanita yang diinginkannya...
Aku sadar bahwa aku sedang jatuh terlalu dalam.
Pada pria yang tidak boleh kucintai.
Pada pria yang hampir menjadi keluargaku.
Pada pria yang bisa menghancurkan seluruh hidupku hanya dengan satu sentuhan.
Dia adalah kesalahan terbesar yang pernah kuinginkan.
Dan kali ini, aku tidak yakin ingin melarikan diri.

