Namun, di balik itu semua. Mayangsari adalah ibu yang baik terhadap anaknya. Bahkan dengan sabar dia berhenti dalam setiap seks yang sudah di bakar hingga kembali ke titik awal! Demi mengangkat telepon pengasuh sang anak.
Dia yang terbaik dari semua anak asuhan papi Rojali! Setiap tamu harus menerima satu syarat. Tidak marah ketika dirinya harus stop dalam kondisi apapun saat anaknya menangis, dan pengasuhnya tidak tahu harus melakukan apa. Baru saja semalan Rangga Admajaya bersama Mayangsari, hatinya sangat merasa nyaman. Mayangsari tidak terbawa perasaan, selain itu dia juga bisa menjadi tempat Rangga Admajaya berkeluh kesah. Dia tidak menggurui, tapi mendengarkan dengan baik.
“Aku ingin ASI itu, Bebeh,”
“Hahahaaa, Pria manja,” ejek Mayangsari.
Saat ini, Rangga Admajaya sudah menegang. Dia tidak bisa menahan dirinya karena aksi Mayangsari. “Aku akan keluar,” ucap Rangga Admajaya sambil meringis.
“Kau gila! Hahahaaa,.” Mayangsari tertawa terbahak-bahak.
Puas dengan apa yang dia lakukannya bersama Mayangsari. Pria itu keluar dari bathtub dan melanjutkan acara mandi-mandinya dengan air hangat yang mengalir dari shower. Besok ada rapat, dia tidak bisa santai! Atau Riyanti akan kembali memanggil petinggi perusahaan dan mencoba menghancurkan dirinya.
Hah, Rangga Admajaya menarik napas dan besandar pada dinding dengan tubuhn polosnya. Dia tidak tahu jika Riyanti sebodoh itu! Mencari masalah dengannya sama dengan mati. Dia pikir karena Papanya menjadikan wanita ular itu seorang direktur, maka dia tidak bau sampah lagi? Bodoh sekali!
Brag
Terdengar sesuatu terjatuh dengan kuat. Rangga Admajaya mempercepat mandinya dan keluar! Hm, dasar sampah! Bisa-bisanya dia masih tidur di saat terjatuh seperti ini. Apa dia benar-benar tidak punya malu, atau dia memang kelelahan? Pria itu berjalan mendekatinya.
Kau lumayan bersih dan imut. Tapi sayang kau lahir dari sampah! Tampaknya kau harus menjadi korban atas apa yang ibumu lakukan. Tapi Nona, aku rasa ibumu itu cukup gila! Apa dia akan membiarkan kamu, atau dia akan membantumu? Aku akan memutuskan apa yang aku lakukan setelah melihat sikapnya padamu! Ucap Rangga Admajaya sambil menyampingkan poni rambut di dahi Faranisa.
Tergeletak di lantai dengan mulut ternganga. Gadis itu benar-benar sangat lelah dan lapar. Mungkin dirinya tidak akan bangun dua hari dua malam. Lagipula, ini adalah perjalan jauh yang pertama kali dia lakukan seorang diri. Rasanya tubuh gadis itu remuk redam. Jangankan suara bisikan, suara ledakan pun mungkin Faranisa tetap tidak akan bangun. Sangat lelah dan mengantuk, itulah yang di rasakannya.
“Ayah,” suara Faranisa terdengar lirih saat Rangga Admajaya meraba bibir gadis itu dengan telunjuknya. “Ayah, aku harus bagaimana? Apa ibu akan menerimaku, ayah,?”
“Ck!” Rangga Admajaya berdecak dan mengumpat saat dirinya sempat terdiam sejenak karena melihat wajah dan mendengar suara penuh putus asa yang di keluarkan wanita itu.
Rangga Admajaya menarik napasnya dalam, lalu dia berdiri dari posisinya. Dia mengambil ponsel kembali dan menghubungi seseorang. “Dhenia, tolong siapkan gaun seukuran dirimu, aku ingin di kirimkan secepatnya. Untuk gadis berusia sembilan belas tahun.”
“Siap, bos!” jawabnya.
Sampai kapan aku begini? Kamvret banget sih bos! Bisa-bisanya dia main sama anak di umur belasan, rutuk Dhenia dengan kesal sambil mengetik pesan singkat untuk memesan pakaian yang di inginkan Bosnya Rangga Admajaya Admajaya.
Bukan hal baru bagi Dhenia melakukan pekerjaan ini, tapi dia tidak pernah melihat bos besar itu main dengan anak belasan. Padahal dia sangat mengagumi semua sikap cerdas dan berwibawa pria itu. Yah, tidak ada yang tahu jika Rangga Admajaya memiliki tingkah minus, hanya beberapa orang! Termasuk Dhenia di dalamnya.
“Kau stres lagi karena bos gila itu?”
“Beb, kamu juga anak buahnya! Kamu lihat aksi bos kita itu. Apa selama ini dia pernah main dengan wanita belasan?”
Dhenia menarik napasnya penat dan jatuh ke pangkuan pria yang tengah sibuk di depan komputernya. Pria itu memiliki lima monitor di depanya. Semuanya adalah media yang harus dia bungkam karena kelakuan si Bos yang tertangkap kamera.
“Kalau enggak ada si bos, kita enggak akan bisa seperti ini.”
Wanita itu mengangguk! “Yeah, lagi pula kita bekerja keras, dan itu tidak mudah!” jawabnya lagi sambil mengambil seorang bayi laki-laki yang sudah terbangun.
Sambil memberi anaknya s**u formula, Dhenia menatap kembali sang suami. Pria yang lebih dahulu bekerja dengan Tuan Rangga Admajaya itu sangat patuh dan tekun. Dia bukan hanya patner kerja, pria itu juga teman Tuan Rangga Admajaya sejak dia duduk di bangku sekolah menengah pertama.
Saling percaya dan melindungi adalah moto kedua pria tersebut. Dhenia yang menjadi asisten pribadi Tuan Rangga Admajaya sejak tiga tahun yang lalu tersebut benar-benar jatuh cinta pada pria bernama Addison Rafsan.
“Anak kita sudah tidur, apa kau masih ingin memberinya minum s**u?” Addison tersenyum simpul pada istrinya Dhenia.