Bab 4. Saling mengancam

1065 Words
Seorang gadis cantik dengan pakaian modis dan fashionablle baru saja menginjakan kaki di pelataran rumah sederhana. Dia melepas kaca mata hitam yang bertengger di hidung mancungnya, lalu menyimpan kaca mata itu di atas kepala. Tok tok tok Dia mengetuk pintu berulang kali, tapi yang punya rumah tidak kunjung membuka pintu. Dengan malas dia mendorong pintu itu sampai terbuka lebar. Tidak sopan memang, tapi itu sudah menjadi kebiasannya selama ini. "Hei, siapa di situ?" Suara Rindi terdengar dari arah dapur. "Huh, akhirnya keluar juga penghuni rumah. Aku kira sudah kosong ini rumah." Dengusnya sambil mengedarkan pandangan, tersenyum saat mendapati tata letak peraobatnya masih sama sejak ia tinggalkan dulu. "MUTIA!" Rindi yang baru muncul dari arah dapur berterik heboh. Tanpa sungkan, Rindi berlari dan menubruk tubuh tinggi milik adiknya Dio ini. "Se-sak." Mutia memukul tangan Rindi yang memeluk lehernya terlalu erat. Rindi nyengir, lalu perlahan dia mengurai pelukannya. "Kapan kamu sampai di Indonesia?" Bukannya menjawab, Mutia malah mendengus sinis sambil membuang wajah. Dia melempar koper yang tadi dia bawa ke atas kursi kayu, lalu melangkah msuk ke dalam kamar Rindi. Rindi tidak marah dengan kelakuan Mutia yang seperti memusuhinya, dia malah cengengesan sambil mengikuti Mutia masuk ke dalam kamarnya setelah mengambil koper milik Mutia. "Mas Dio sudah kaya robot saja bila itu berhubungan dengan kamu. Dasar, bucin kampret! Lagi enak-enak kuliah di Kanada, masa malah di suruh balik dan tinggal di rumah kamu selama tiga bulan. Ngeselin banget sih kalian berdua." Mutia manyun percis seperti bebek. Dia gedeg abis pada kakaknya itu. Kalau saja bukan Kakaknya yang membiyayai kuliahnya di Kanada, mana mau dia menuruti perintahnya yang tak berprikeadikan. "Manyun saja. Sudah, terima saja nasibmu!" Rindi menjawab tanpa merasa bersalah. Dia mulai sibuk mengeluarkan baju dan barang lainnya dari koper dan menyimpannya pada lemari pakaian miliknya. Mutia menatap penasaran ke arah Rindi, "kamu balikan sama kakak saya?" Rindi melirik singkat Mutia yang kini mencondongkan tubuhnya. "Tidak." "Lalu, kenapa sikap mas Dio seperti orang yang sudah balikan saja? Atau jangan-jangan kamu memang belum bercerai dari laki-laki kampret si Faisal itu?" Dio memang sudah menceritkan padanya soal perceraian Rindi dan Faisal termasuk kematian Putri. "Kami bercerai, sekarang lagi masa idah. Tiga bulan lagi saya resmi menjanda." Jelas Rindi membuat Mutia mengangguk paham. "Pantas saja mas Dio menyuruhku untuk tinggal di sini tiga bulan. Rupanya dia takut kamu digondol laki-laki lain lagi. Dasar laki-laki posesif!" Mutia mencibir kakanya itu. Rindi teratawa, dia menggeleng pelan. "Dari dulu saya tuh suka banget lihat perseturuan kamu dan mas Dio. Kalian lucu, ada saja hal yang kalian pertengkarkan." Mutia mendelik sinis, "mana ada ceritanya seorang Farida Mutiara dan mas Dio lucu. Aku yang cerewet ngeluarin ucapan beribu-ribu kata sampai bibir ini mengeluarkan busa, eh malah ditanggapain hm, hm, hm, saja. Mas Dio dinginnya sudah kelewatan, hanya sama kamu saja dia bisa hangat dan banyak ekspresi." "Jangan gitu! Mas Dio itu sayang sama kamu, cuma ya mungkin caranya saja yang begitu." Rindi menanggapi santai ocehan Mutia. Mutia merebahkan tubuhnya di atas ranjang milik Rindi yang hanya muat untuk dua orang itu. "Bu Ratih sama Pak Ikhsan ke mana? Sepi amat ini rumah." "Ibu nyusul bapak ke ladang yang sudah satu minggu ini jaga jagung, soalnya banyak burung di sana." Rindi menimpali. "Oh, pantas saja." "Tidur saja, Mutia. Biar barangmu saya yang bereskan." Rindi memberi saran yang langsung diangguki Mutia karena memang matanya sudah berat sekali. Tidak lama terdengar dengkuran halus memanandakan Mutia sudah benar-benar masuk ke alam mimpinya. Rindi segera menyeleseikan pekerjaannya, lalu pergi ke dapur untuk membuat masak yang nanti untuk makannya dengan Mutia. Namun, gedoran pintu mengganggu akrivitasnya membuat Ribdi mau tidak mau melihat siapa orang yang sudah berlaku tidak sopan itu. Saat pintu di buka, terpangpanglah wajah bengis Faisal yang menatapnya marah. "Ada apa?" Rindi bertanya santai. Dia sama sekali tidak terganggu dengan sorot tajam Faisla untuknya. "Mana sisa uang penjualan rumah itu?" Lagi-lagi masalah uang hasil penjualan rumah. Rindi menghembuskan napas lelah. "Gak ada." "Jangan bohong! Cepat berikan! Kalau tidak saya bakar rumah kamu ini," ancamnya tak main-main. Bukannya takut, Rindi malah menyandarkan punggungnya pada kusen pintu dengan menampilkan ekspresi malas. "Ini yang saya tidak sukai dari kamu. Selain malasnya minta ampun dan kecanduan akan game online, kamu juga pemarah, pengancam, dan pemaksa. Beruntung sekali saya dapat lepas dari kamu. Mungkin kesalahan terbesarku adalah menuruti keinginan Ibu dan bapakku dulu untuk dijodohkan denganmu." "Jangan malah banyak bicara, mana uang itu?" Faisal menyodorkan uangnya. "Gak ada saya bilang." "Saya bakar beneran rumah kamu," Faisal murka, dia menendang pot bunga yang ada di samping kirinya sampai pecah. "Berani kamu bakar rumah ibu saya, saya balas bakar rumah ibu dan bapak kamu, Mas." Rindi balik mengancam. Dia tidak akan takut kalau sampai Faisal benar-benar membakar rumah ini, toh dia punya uang hasil penjualan rumahnya yang dia tinggali saat masih jadi istri Faisal. Sebaliknya, Faisal pasti takut kalau rumah itu Rindi bakar karena hanya rumah itu satu-satunya harta yang keluarganya punya. "Berani kamu lakuin itu!" Faisal menggeram murka. Emosinya sangat tidak stabil. Faisal banyak pikiran, selain masalah perceraiannya dengan Rindi, dia juga tertekan dengan masalah biaya rumah sakit ayahnya. "Loh, kenapa harus takut? Harta saya lebih banyak dari Mas. kalau kamu bakar rumah ini, saya masih bisa bangun lagi. Lah, kalau rumah Mas saya bakar, apa bisa Mas membangunnya lagi?" Rindi tertawa lepas. Sengaja mencemoh dan meledek ketidak bergunaan Faisal walau untuk bertanggung jawab pada dirinya sendiri. "Dasar wanita tidak tahu diri! Sekali lagi saya akan tanya, mana uang itu?" "Gak. Ada." Rindi menekan setiap katanya sengaja untuk menegaskan. Terlampau dikuasi amarah, Faisal mengangkat tamgannya hendak memukul Rindi. Namun, sebuah tumit kaki terlebih dahulu membentur dahinya hingga Faisal terlempar ke samling sejauh dua meter. Rindi bahkan sampai bertepuk tangan. Dia menatap kagus si atlit taekwando yang beraksi tepat di depan matanya. "Keren," Rindi mengacungkan kedua jempolnya ke depan. "Mati, kou!" Faisal berdiri dan langsung menyerang. Namun, lagi-lagi seranganya dengan mudah dibaca sehingga dapat dipatahkan hanya dengan sekali tendangan maut mengenai perutnya. Faisal kembali terlempar dan kali ini lebih jauh dari yang pertama. Bukan main marahnya sekarang Faisal, dia menatap bengis perempuan bergaya feminim. Namun, bertingkah tomboy di depannya ini. Setelah meludah sembarangan, Faisal memasang kuda-kuda bersiap menyerang kembali. Kali ini sasaran Faisal adalah wajah menyebalkan pemukukulnya dan Hap, kepalan tangan Faisal dengan mudah ditangkapnya. Faisal menjerit saat tangannya berputar hampir berlawanan arah seiring pelintiran dari sipenangkis. "Apa kamu masih belum menyerah," nada sombong itu membawa jejak puas saat melihat lawannya tak bisa berkutik lagi. ***
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD