Bab 3. Labrakan Faisal

1204 Words
Rindi yang sudah sampai ke rumah ibunya dengaan diantar Dio langsung mengetuk pintu rumah itu. Setelah menunggu beberapa saat, ibunya keluar dengan wajah sembab. Mungkin sama sedihnya seperti Rindi karena baru saja ditinggal cucu satu-satunya. Ratih, ibu Rindi cukup terkejut dengan kedatangan anaknya itu. Dia kira Rindi masih akan terus menangis karena baru saja kehilangan Putri, tapi kenapa sekarang malah berdiri di depan rumahnya sambil membawa koper besar? Ratih menyipitkan mata begitu melihat laki-laki yang berdiri di belakang Rindi. Itu Dio, manatan kekasih Rindi dulu sebelum Rindi dijodohkan dengan Faisal. "Rindi, kenapa kamu kemari?" Ratih bertanya penasaran. Perasaannya mendadak tidak enak, tapi walau begitu ia masih berharap tidak terjadi apa-apa pada pernikahan putrinya ini. "Rindi pulang ke rumah ibu." Rindi tersenyum simpul, kesedihan masih terlihat jelas pada sorot matanya. Ratih menatap anaknya tidak paham, "kenapa? Apa kamu sebegitu sedihnya ditinggal Putri? Nak, janganlah terlalu berlarut dalam kesedihan! Coba ikhlaskan Putri! Putri sudah damai di alam sana." Rindi mengangguk mengerti, "Rindi memang sudah ikhlas Bu. Rindi pulang bukan karena itu, tapi karena memang sekarang Rindi dan mas Faisal sudah bercerai." "Astagfirullah," Ratih mengusap dadanya pelan. "Kenapa bisa begitu?" Senyum Rindi semakin sayu, tapi tetap menjelaskan pada sang ibu dengan hati-hati. "Karena Rindi merasa sudah tidak ada lagi yang perlu dipertahankan dari pernikahan ini. Ibu tahu sendiri kelakuannya mas Faisal selama ini seperti apa. Putri sudah meninggal, lalu apa lagi yang memberatkan Rindi untuk minta pisah dari mas Faisal?" "Iya, Ibu tahu. Sekarang lebih baik kita bicaranya di dalam, tidak enak nanti kalau ada warga yang lihat. Mari Nak Dio masuk!" Ratih mempersilahkan Dio agar ikut masuk ke rumah sederhananya. "Jadi gimana sekarang jadinya?" Ratih bertanya kembali setah menyajikan teh di depan Dio. Sedangkan Rindi, dia masuk ke dalam kamarnya guna menyimpan koper. Rindi keluar dari kamar, "ya, gak gimana-gimana Bu. Rindi cerai, memangnya harus gimana lagi?" "Lalu kenapa bisa kamu pulang diantar Nak Dio?" Ratih bertanya penasaran. Dia berharap dugaannya salah. Walau sudah jelas terlihat, tapi Ratih terap mengusir perasangka buruk itu. "Rindi yang minta tolong dijemput oleh mas Dio, Bu." Rindi menjawab agak takut. Ibunya ini walau tidak pernah marah. Namun, kata-katanya selalu tegas dan tidak akan membenarkan apa yang menurutnya salah dan tentu saja saat ini dia pulang diantar Dio merupakan kesalahan karena statusnya saaat masih ada dalam masa idah daari Faisal. "Kenapa kamu lakuin itu, Rindi? Apa yang akan orang lain katakan nanti bila melihat kalian bersama." Ratih memandang anaknya penuh tuntutan. Dia tidak habis pikir, kenapa Rindi sampai berbuat hal yang memicu kesalah pahaman para tetangga. Rindi menunduk merasa bersalah. "Maaf, Bu." Ratih menghela nafas perlahan, mengalihkan perhatiannya pada laki-laki kalem dan ia tahu tidak pernah banyak bicara dari dulu. "Sudah! Sebelumnya Ibu minta maaf Nak Dio, tapi sebaiknya Nak Dio sekarang pulanglah! Jangan temui Rindi sampai masa idahnya selesai." Dio hanya terdiam, tidak berniat mengiyakan ataupun menolak selama Rindi belum memerintahkan apapun padanya. Dio menoleh ke arah Rindi. Setelah mendapat anggukan dari Rindi, barulah Dio kembali menatap Ratih lalu menganggukan kepala. "Baik." Setelah pamit, Dio keluar dari rumah Rindi dengan tenang. Namun, baru saja dia keluar, dia sudah dihadapkan dengan Faisal yang menatapnya tajam. Faisal membuang wajah begitu Dio balik menatapnya dalam diam, lalu dia menggedor rumah Rindi dengan kuat. "RINDI, RINDI, keluar kamu!" Tidak lama Rindi dan Ratih sama-sama keluar. Rindi sudah menduga, cepat atau lambat mantan suaminya ini akan mendatangi rumahnya, jadi saat ini dia sama sekali tidak terkejut lagi. Berbeda dengan Rindi, Ratih terkejut luar biasa. Bagaimana bisa menantu yang selama ini dia kenal tidak pernah berani meninggikan suara, apalgi membentak dan teriak-teriak seperti sekarang datang dengan wajah marahnya. "Ada apa, Nak Faisal?" Ratih bertanya setelah kekagetannya sedikit mereda. Faisal menatap Rindi penuh kebencian, "mana uang hasil penjualan rumah beserta barang-barang di dalamnya? Dasar wanita tidak tahu diri, kamu jual rumah dan isinya tanpa sepengetahuanku." Rindi kembali masuk ke dalam rumah, tidak lama dia kembali dengan amplop di tangannya. Dia menyodorkan amplop itu ke depan Faisal, "nih." Faisal merebutnya kasar. Setelah menghitung isinya, Faisal kembali melotot. "Kenapa cuma 15 juta? Hasil penjualan rumah dan isinya itu sangat besar, kemana semua uang itu?" Rindi melipat tangan di depan d**a, "kamu tanya uang itu ke mana? Ya, uang itu saya simpanlah. Memangnya harus aku ke manain uang itu?" "Cepat berikan semua uang itu, Rindi!" Faisal membentak marah. "Nak Faisal, coba bicaranya pelan-pelan! Tetangga sudah pada lihatin, nanti mereka salah paham lagi." Ratih berusaha menurunkan emosi mantan menantunya ini sambil melihat sekeliling yang memang benar sudah banyak orang menonton dan saling bisik. "Biar saja mereka tahu kalau kelakuan si Rindi ini memang gak benar. Sekalian saja dia digosipin buruk, saya gak peduli." Faisal mendecih sinis. Dia malah bersyukur banyak orang yang menonton aksi labraknya saat ini, biar mereka tahu kelakuan Rindi yang menurutnya sangat kurang ajar dan tidak tahu malu. "Ibu, biar saja." Rindi menggeleng ke arah ibunya yang hendak kembali mengucapkan sesuatu pada Faisal. "Tapi," Ratih akhirnya diam. Dia yakin putrinya ini tidak akan merusak nama baiknya sendiri. "Bagus, sekarang kamu sudah tahu bukan kalau kelakuanmu itu sangat tidak tahu malu. Jadi, sekarang cepat berikan semua uang itu!" Faisal menyerungai sinis karena dia merasa telah menang kali ini. "Saya tidak mau." Rindi menjawab santai. "Berani kamu," Faisal melayangkan tangan hendak menampar Rindi. Namun, tangannya malah ditangkap dan langsung dipelintir hingga dia menjerit kesakitan. "Sekarang kamu mau apa, Mas Faisal?" Rindi menyeringai sinis saat Dio tepat waktu menahan tangan Faisal. Kilat matanya memancar menyorot Faisal tak peduli. Ratih yang berdiri di sampingnya bahkan bergidig karena baru kali ini dia melihat putrinya tidak seramah ini. "Lepas!" Faisal mendesis kesal pada Dio. Dio melirik pada Rindi, setelah mendapat anggukan barulah Dio melepaskan pelintirannya membuat Faisal jatuh terjerembab ke tanah. "Awas kalian!" Faisal pergi, tapi sebelum itu dia kembali lagi untuk mengambil uang 15 juta yang tertinggal. Setelah itu barulah pergi tanpa menoleh lagi ke belakang, tapi diam-diam mendesis sinis sambil mengusap pergelangan tangannya yang sakit. "Rindi, kenapa kamu jual rumah itu?" Ratih bertanya heran. Banyak sekali kejutan yang Rindi bawa saat ini. "Rumah itu Rindi beli dari penjualan sawah milik kita. Isi perabotnya juga, lalu kenapa Rindi tidak boleh menjualnya? Sudah bagus Rindi mau ngasih mas Faisal uang 15 juta itu, karena mas Faisal kan emang tidak pernah membantu apapun mengenai rumah dan isinya saat itu." Rindi menjelaskan maksud dia menjual rumah. Dia tidak mau ibunya salah paham akan maksudnya. Kalau dia tidak menjualnya sekaranga, lalu kapan? Nunggu dijual Faisal dulu? "Sudah! Ibu pusing mikirin permasalahan kamu. Sekarang lebih baik Ibu masuk, mau istirahat." Sebelum masuk, Ratih menoleh dulu pada Dio, "dan kamu Nak Dio, ingat! Sebelum Rindi selesai masa idah, jangan berani menemuinya! Ibu lakukan ini demi kebaikan kalian berdua." Lalu Datih masuk ke dalam rumah meninggalka Rindi bersama Dio dan orang-orang yang menonton. "Sekarang apa?" Dio bertanya. "Sekarang kamu pulang! Turuti apa kata ibu!" Rindi berucap pelan. Namun, senyum kecil yang dia perlihatkan, sudah lebih dari cukup untuk membuat Dio menurutinya. "Baiklah, saya pulang. Nanti saya kirim Mutia ke sini untuk memantaumu karena saya tidak bisa melakuaknnya." Dio berucap santai, berbeda dengan Rindi yang melotot horor. "Hei," Rindi memanggil Dio yang sudah melangkah pergi. Namun, panggilannya tidak direspon. Rindi hanya bisa menepuk jidat, pasti nanti Mutia akan memarahinya karena sudah dipaksa pulang dari Kanada oleh Dio. "Mas Dio benar-benar." ***
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD