Rindi hanya menatap datar Faisal yang melotot marah. Dengan sengaja Rindi melipat tangan di depan d**a dan memasang wajah angkuh. "Koreksi, Mas Faisal. Saya tidak pernah selingkuh. Mau Mas Faisal mempercayainya atau tidak, itu bukan urusan saya lagi. Sekarang saya yang tanya, apa selama ini Mas Faisal merasa diri sendiri yang selingkuh?"
"Mana ada saya selingkuh. Kamu jangan memutar balikan fakta! Jelas di sini yang selingkuh itu kamu. Bukti sudah di depan mata saja, masih tetap mau mengelak. Cih, ternyata keputusanku menceraikanmu itu adalah benar. Tadinya saya masih ingin meminta kamu untuk rujuk setelah kita sama-sama dingin, tapi ternyata saya malah menemukan hal lain yang selama ini kamu tutupi." Tidak terbayang bagaimana marahnya Faisal saat ini begitu dia menyaksikan istri yang dia anggap begitu setia ternyata ada main dengan laki-laki lain.
Faisal kini beralih menatap Dio yang dari tadi hanya diam," heh, kenapa kamu diam saja dari tadi? Oh, apa jangan-jangan kamu malu karena sudah tertangkap basah selingkuh dengan istri saya? Bagus, masih ada malu ternyata kamu ini."
Dio tidak menjawab, dia malah menyandarkan punggunya pada badan mobil karena merasa perdebatan ini akan cukup memakan waktu.
"Oh, ya. Kamu merasa selam ini tidak selingkuh. Lalu ke mana waktu yang selma ini kamu gunakan sehingga mengabaikan istri dan anakmu dikala sedang butuh-butuhnya? Apa kamu tahu, saat saya menelponmu dan kamu malah terus-terusan menolak panggilannya, saat itu Putri tengah demam tinggi dan akhirnya apa? Putri tidak terselamatkan karena telat di bawa ke rumah sakit. DI MANA KAMU SAAT ITU, MAS FAISAL?" Rindi meraung mengeluarkan semua unek-unek yang mengganjal perih dalam hatinya.
Faisal menelan salivanya susah payah. Saat itu Faisal memang sengaja menolak panggilan Rindi karena merasa yakin kalau Rindi hanya akan menyuruhnya pulang, jadi dia bermain bersama teman-temannya sampai subuh. Namun, yang membuatnya seakan dihantam golem ratusan kilo, ternyata saat dia pulang, dia langsung disuguhkan mayit anaknya yang masih berusia dua bulan.
Faisal menyesal. Namun, dia berpikir menyesalpun tak ada gunanya karena nasi sudah menjadi bubur. Dia malah meluapkan emosinya pada game online agar melupakan rasa bersalah yang berkecamuk dalam dadanya.
saat itu Faisal menyangka, semua akan baik-baik saja dan kembali normal setelah Rindi mengikhlaskan Putri.
"Itu...,"
"Kamu tidak bisa menjawab, bukan?" Rindi menyeringai sinis. Tampak puas karena dapat membungkam mulut Faisal.
Laki-laki seperti Faisal, harusnya dari awal Rindi tidak perlu menerimanya menjadi suami. pemalas, beban, tidak tahu diri, pokoknya Rindi benar-benar tidak bisa menjabarkan secara keseluruhan bagaimana buruknya Faisal saat ini di matanya.
"Rindi, maafkan Mas. Mas tidak tahu kalau saat itu Putri tengah demam. Mas nyangkanya kamu hanya menyuruh Mas pulang seperti biasanya." Faisal mengakui kesalahannya dengan mengiba pada Rindi minta untuk dimaafkan.
"Sudahlah, Mas. Hatiku sakit bila mengingat kejadian itu lagi. Sekarang kita sudah bercerai, jadi urus saja hidupmu sendiri mulai saat ini." Rindi menolak maaf Faisal, ia ingin pada keputusan awal yaitu berpisah.
"Rindi," Faisal memanggil Rindi yang sudah masuk ke dalam mobil bersama Dio.
"RINDI," Faisal berteriak. Namun, mobil itu tetap melaju meninggalkannya seorang diri dengan penyesalan luar biasa dalam dadanya.
"Faisal."
Faisal menoleh ke arah orang yang baru saja memanggilnya. Itu adalah bu Rima, orang yang rumahnya bersebelahan dengan rumahnya. "Ada apa?"
"Si Rindi sudah pergi, ya?" tanyanya kepo.
Faisal menyipitkan mata. "Sudah."
Lalu bu Rima memanggil suaminya. Mereka berdua langsung masuk ke rumah Faisal tanpa permisi dari pemilik ruamahnya. Faisal jelas tidak terima, dia mengejar bu Rima dan Suaminya yang masuk sembarangan ke dalam rumahnya.
"Bu Rima, Pak Yadi, kenapa kalian masuk rumah saya dengan sembarangan? Gak ada sopan santunnya sama sekali. Dan itu juga, kenapa kalian membawa sopa milik saya?" Faisal menarik kembali sopa yang bu Rima dan Pak Yadi gotong untuk di bawanya.
"Faisal, minggirin itu tangan kamu!" Bu Rima mendelik kesal karena pekerjaannya terhambat gara-gara Faisal menarik sopa yang saat ini dia dan suaminya coba angkat.
"Harusnya saya yang bilang begitu. Cepat lepaskan tangan kalian dari sopa saya! Atau kalian mau saya laporkan padapak Rt?" Ancam Faisal yang malah ditertawakan bu Rima dan pak Yadi.
"Ya, silahkan saja laporkan pada pak Rt. Paling juga kamu yang di salahkan karena berusaha menghalangi kami dalam membawa sopa milik kami yang sudah dijual Rindi."
"Di-dijual?" Faisal tergagap shok.
"Ya, tadi si Rindi sudah menjual sopa ini pada saya. Jadi sekarang cepat minggir! Kamu menghalangi jalan kami."
Faisal melepaskantangannya dari sopa. Dia merosotkan bahu begitu melihat satu-persatu sopanya di bawa oleh bu Rima dan pak Yadi. Dalam hati dia mengutuk Rindi habis-habisan. Sialan.
Ternyata yang dijual Rindi bukan hanya sopa saja. Para tetangga yang lainnya juga pada datang. Mereka ada yang mengambil penanak nasi, kasur, TV, dan alat-alat lainnya sampai semua perabotan eumahnya ludes dibawa oara tetangga dan hanya menyisakan baju serta barang-barang lain miliknya.
Saat meratapi nasibnya yang sial, telepon genggamnya ada panggilan masuk. Ternyata itu dari pihak rumah sakit, bergegas Faisal mengangkatnya. "Halo."
"Hallo, dengan Pak Faisal?"
"Ya, saya sendiri."
"Maaf, Pak Faisal. Saya mau mengkonfirmasikan biaya administrasi pengobatan pak Joko,kapan akan dilunasi? Kami hanya bisa memberi waktu tiga hari saja, selebihnya kalau Pak Faisal tidak bisa membayar, maka pihak rumah sakit akan memberhentikan pengobatan pada beliou."
Faisal mengisap wajahnya kasar, "baik, seceoatnya saya kabari lagi."
"Baik, terima kasih untuk waktunya Pak Faisal."
"Ya, sama-sama."
Faisal menyimpan kembali hp-nya. Saat ini dia tidak punya pilihan lain, selain menjual ruamah ini. Saat di bawa ke puskesmas tadi, Dokter di sana memang merujuk ayahnya ke rumah sakit. Tentu saja biaya rumah sakit itu banyak, makanya Faisal hanya bisa menjual rumah ini demi pengobatan ayahnya itu.
"Faisal."
Faisal menoleh, ternyata itu pak Rt. "Eh, Pak Rt, kebetulan sekali datang ke sini."
"Memangnya kebetulan apa, Faisal?" Pak Rt bertanya penasaran.
"Gini Pak Rt. Ayah saya saat ini dirawat di ruamh sakit dan membutuhkan biaya pengobatan cukup besar. Saya berencana untuk menjual rumah ini pada Pak Rt, jadi apa Pak Rt bersedia menolong saya dengan cara membeli ruamah ini?" Faisal bertanya harap-harap cemas. Pasalnya pak Rt ini adalah orang terkaya sekelurahan, jadi kalau pak Rt saja menolak, harus pada siapa dia memibta pertolongan lagi.
"Sebelumnya saya rurut berduka atas musibah yang menimpa ayah kamu, tapi maaf saja Faisal. Ruamah ini sudah dijual oleh Rindi pada saya, jadi sekarang pemilik rumah ini adalah saya. Saya datang ke sini pun karena ingin memastikan apa rumah ini sudah kosong apa belum."
"APA?"
***