BAB 3

1604 Words
Sabtu malam minggu ini, yasmin berencana untuk pergi bersama tabita. Sebenarnya rumah tabita dan ario hanya berbeda beberapa gang, hanya saja entah kenapa yasmin sudah lelah mempertahankan hubungan ini. Terlalu lelah harus yg selalu berusaha sendirian selama 3 tahun bersama. Dia yang selalu memberikan kesempatan, dia sendiri yang akhirnya terluka, dan hanya dia yang mendekati keluarga ario. Dalam hubungan ini sepertinya hanya dibangun dengan satu orang yang berusaha dan yang lainnya hanya diam menunggu hasil. Setahu yasmin jika memang ario menyayanginya bahkan mencintainya, mereka akan berusaha bersama. Bukan salah satu dari mereka. Setiap kali melihat hubungan teman - temannya dengan pasangan mereka, dalam hatinya terkadang timbul perasaan ingin membandingkan. Selama ini rasanya dia selalu melakukan semua sendiri, meskipun dia memiliki kekasih. Tapi jarang sekali ario menemaninya. Bukan jarang, bahkan bisa dibilang tidak pernah. Jangan salahkan yasmin jika dia banyak didekati pria – pria. Karena yang pria lihat adalah yasmin selalu sendiri. Saat yasmin sedang berbaring di ranjang milik bita, dia memberanikan diri untuk membuka akun sosial media milik ario di ponselnya. Yasmin yakin pasti ada yang disembunyikan. Meskipun itu memang melanggar privasi, tapi ini semua demi perasaan yang mengganjal didalam hatinya. Setelah membuka - buka sosial media milik ario, banyak sekali bukti tentang hubungan ario dengan beberapa wanita yang dia sedang dekati. Bahkan ada salah satu diantara mereka memiliki janji bertemu. Semakin dibuka-buka lagi, semakin yasmin yakin bahwa tidak ada jejak foto yasmin disana atau foto mereka berdua. Yasmin langsung terduduk lemas di tepi ranjang. Menghela nafas dalam, membalik ponselnya sambil menenggelamkan kepalanya di sela kakinya. Dia mencoba untuk tidak menangis, tapi saat semakin tabita menanyakannya air mata itu sudah tidak bisa dibendung. Akhirnya yasmin memutuskan untuk meninggalkan ario, dia sudah tidak sanggup bertahan lagi. Sudah terlalu lelah, karena ini bukan yang pertama kalinya. Mungkin kesekian kali atau mungkin sudah berulang kali. Hingga rasanya yasmin lupa karena terlalu seringnya. Sejam lamanya yasmin merangkai kata untuk memutusakan hubungannya dengan ario, setelah memberanikan diri mengirim pesan itu dia langsung pergi bersama dengan tabita sesuai dengan rencana mereka sebelumnya. "Mau makan apa ?" tanya tabita sambil membolak-balikan buku menu ditangannya. "Ini... ini.. ini... sama ini..." yasmin menunjuk beberapa menu yang sukses membuat temannya itu melongo. "Yakin bakalan bisa nampung semua ?" tanya bita meyakinkan. "Yakin, udah buruan pesen juga." Drt... Drt.... Ponsel yasmin bergetar, awalnya dia takut jika pesan itu adalah balasan dari ario. Sambil menimbang - nimbang akhirnya yasmin memberanikan diri membuka pesan itu. Ternyata satrya yg mengirim pesan.   From : Kak Satrya Yas, lagi dimana ? Sibuk nggak ?   Yasmin segera membalas pesan satrya itu, dia merasa sepertinya memang harus membuka hati untuk orang lain. Lagipula sekarang dia sudah tidak milik siapapun, yasmin bebas bisa dekat dengan siapa saja. "Siapa ?" tanya bita. "Kak satrya." "Wah gila belum sejam, udah dapet pengganti aja." goda tabita. "Belum tentu juga jadian, bit." Dan ternyata satrya pun tidak membalas lagi pesan yasmin. Dia hanya pasrah, tapi dalam hatinya dia merasa sangat lega dan tenang. Bebannya seperti sudah hilang. Saat di cek lagi, pesan yang dikirim yasmin pada ario sudah dibaca tetapi tidak ada balasan juga. Jadi, yasmin menganggap jika ario juga setuju dengan keputusannya. ********** Hubungan satrya dan yasmin hanya sedikit mengalami kemajuan. Meskipun mereka memang sering saling berkirim pesan. Tapi tidak ada kelanjutan akan hal itu. Yasmin pun tidak terlalu menggebu, karena dia ingin menikmati masa-masa sendirinya. Beberapa kali satrya dan yasmin berada di satu kelas yg sama. Dan beberapa kali juga, satrya meminjam catatan yasmin. Mereka dekat hanya sebatas itu, tidak lebih. Yasmin pun tidak terlalu berharap lebih. Hingga di titik dia rasa harus mengungkapkan perasaannya pada satrya. Yasmin memberanikan diri untuk mengungkapkan perasaannya pada satrya melalui pesan yang dia kirim. Kebetulan satrya sedang berlibur bersama kakaknya di Bali, jadi sedikit membuatnya lega karna bisa sedikit menyiapkan waktu dan diri jika harus bertemu dengannya.   To : Kak Satrya Lagi berlibur ya kak ? Maaf ya sebelumnya aku ganggu mungkin dengan ngomongin ini, sebenernya aku cuma mau nyampein aja kalo aku ada perasaan lebih dari sekedar temen ke kakak. Persaan suka mungkin, aku cuma pengen kakak tau aja. Kalo memang kakak nggak punya perasaan yg sama, aku nggak akan nuntut kakak untuk membalas perasaanku atau memaksa kakak menerimaku. Aku nggak lagi minta kakak jadi pacarku kok, cuma mau nyampein aja. So, have fun kak.   Olivia menimbang-nimbang untuk mengirim pesan itu. Dia merasa ragu. Paulina yg berada disebelahnya gemas sendiri melihat tingkat sahabatnya itu. Akhirnya paulina merebut paksa ponsel yasmin dan mengirim pesan itu kepada satrya. Meskipun yasmin kesal paulina mengirim pesan itu, tapi disatu sisi dia sangat lega sudah mengungkapkan. Dia memang tidak berharap satrya akan menerimanya. Hanya saja perasaan suka ini sedikit mengganggunya. Hampir satu jam lebih pesan itu belum mendapatkan balasan. Yasmin menghembuskan nafasnya, pasrah jika akan di abaikan mungkin. Drt... Drt... yasmin melihat pesan masuk itu dari satrya dengan takut-takut dia membuka pesan itu dan berharap bukan berisi makian.   From : Kak Satrya Yas, aku nggak tau harus ngomong apa. Tapi makasih karna kamu udah berani jujur. Aku bener-bener kaget kamu ngungkapin perasaanmu ini, tapi makasih ya.   Hanya itu pesan balasan satrya. Tapi itu tidak membuat yasmin kecewa, malahan dia sangat lega karna tidak dimaki oleh satrya.  Hatinya benar-benar lega. ********** Seusai kelas, saat yasmin sedang berjalan menuju keparkiran dia berpapasan dengan ayden. Entah kenapa dia merasa bahwa ayden memperhatikannya. Dia khawatir jika tabita menyampaikan tentang apa yg dia ceritakan tentang ayden. Tapi dia menghempaskan kekhawatirannya itu. Mungkin itu hanya perasaannya saja. Sesampainya dia diparkiran, paulina menarik tangannya. Ternyata ada satrya disana. Yasmin masih merasa canggung jika harus bertemu dengan satrya, akhirnya paulina lah yg maju dan mengobrol dengan satrya. Mereka asik mengobrol, entah kenapa yasmin merasa terabaikan hingga dia melamun dan menjatuhkan ponselnya. Satrya yg melihat itu hanya menoleh sebentar dan lanjut mengobrol dengan paulina dan salah satu sahabat satrya. "Nggak usah marah yas." kata satrya. "Ha ? Aku nggak marah kok." jawab yasmin cuek lalu membuang muka. Sore harinya saat yasmin sedang berjalan - jalan dengan teman – temannya di salah satu mall besar, dia melihat sebuah foto yg menampilkan wajah satrya dengan seorang wanita diponselnya. Hal itu langsung membuat mood yasmin terjun payung, dia yg awalnya ceria langsung memasang wajah jutek dan galaknya. "Yas, lu nggak papa kan ?" tanya paulina khawatir. "Iya, nggak papa kok." "Udah ikhlasin aja." kata paulina sambil mengelus punggung yasmin. "Kita kan emang nggak ada hubungan apa-apa pau, jadi tenang aja. Gua cuma kaget." jelas yasmin menenangkan sahabatnya itu. "Pantesan aja ya waktu kemaren gua bilang suka, dia cuma bilang kaget dan makasih. Ternyata udah ada yg lain. Kenapa nggak bilang aja coba, heran." gerutu yasmin sambil melipat tangannya didada. "Yaudah, emang bukan buat lu kali dianya." "Hmm." Keesokan harinya, yasmin ada jadwal kuliah jam 10 pagi. Tapi tiba-tiba ardina menghubunginya. Dia berencana mengajak yasmin untuk bolos kuliah hari itu. Mungkin inisiatif ardina untuk menghibur temannya itu dengan jalan-jalan setelah semalam yasmin menceritakan semuanya tentang satrya. Ardina memang buka tipe yg akan memberikan banyak komentar atau saran, dia adalah tipe yang langsung menghibur dengan caranya sendiri. Pagi-pagi sekali mereka sudah bersiap untuk pergi ke Bandung. Mungkin udara sejuk mampu mengurangi perasaan kecewa yasmin karena satrya. Yasmin mengajak ardina untuk mengunjungi sepupunya siska yg memang berkuliah di Bandung, serta beberapa teman SMP yasmin. Sesampainya disana, mereka duduk - duduk ditaman yang tersedia di kampus sepupunya itu. Menghirup udara sejuk, menikmati suasana yang asri, dan bertemu beberapa teman lama. "Yas, udah lama nunggu ?" panggil siska yg ternyata baru selesai kelas. "Lumayan, tapi nggak kerasa sih disini enak suasananya." "Kenalin nih temen gua, Ardina." lanjut yasmin mengenalkan ardina pada sepupunya itu. "Halo, ardina." "Siska." mereka berjabat tangan. Lalu ada seseorang yg memanggil ardina, yasmin ikut menolehkan kepalanya untuk melihat. Yasmin merasa pernah mengenal cewek itu tapi dia lupa dimana. "Din..." panggil cewek itu sambil melambaikan tangan. "Eh yas, kenalin ini titi saudara kembarnya tata." "Tata ? Tata yg pacarnya si rama ?" ardina hanya menganggukan kepalanya. "Yasmin." kata yasmin sambil mengulurkan tangannya. "Titi." "Kok kenal rama ?" tanya titi lagi. "Iya, dulu temen SMA." jawab yasmin yg membuat titi tersenyum. "Sempit ya dunia ini." Katanya sambil tersenyum. Setelah saling mengenalkan, ternyata siska menghubungi teman-teman SMP mereka (yasmin dan siska).  Mereka memang satu sekolah saat SMP sebelum yasmin pindah. Akhirnya mereka bertemu dan mengobrol, ardina pun bisa berbaur dengan teman-teman yasmin. Dia lupa tentang permasalahannya dengan satrya, hingga siska mengerjai yasmin dengan menghubungi mantannya yang juga kuliah di Bandung dan sukses membuat yasmin uring-uringan karena malas bertemu dengan mantan yang terobsesi padanya itu. Drrrtt.. Drrtt... Tanda ada pesan masuk. Yasmin yg sedang makan terkejut melihat pesan itu, hingga dia bolak-balik meminum minuman yg dipesannya. "Kenapa sih ? Kepedesan ?" tanya ardina heran. "Liat deh." yasmin menunjukkan pesan chat yg masuk. "Itu kan.... cowok yg dilobby kampus ?" tanya ardina yg dibalas anggukan yasmin. "Kok dia bisa tau nomer lu sih ?" "Nggak tau juga, bentar gua tanya bita." Setelah itu yasmin menghubungi tabita. Dan benar saja, ternyata tabita menceritakan tentang yasmin yang memperhatikan ayden saat di lobby kampus sore itu. Saat ayden tanya yg mana, bita malah memberikan nomer telfon yasmin. Kejutan yg sungguh membuat yasmin bingung. "Bita yang ngasih ?" "Iya." jawab yasmin singkat. "Gua bales apa nih.” tanya yasmin lagi. "Elah, kayak nggak pernah dideketin cowok aja." sindir ardina. "Bukan gitu, ini tuh gua ketauan merhatiin dia. Takutnya nanti dikira ngebet lagi." jelas yasmin yang khawatir dengan pemikirannya sendiri. Sore harinya, yasmin dan ardina berpamitan pada siska dan teman-temannya untuk pulang. Di sepanjang perjalanan pulang yasmin masih sibuk saling membalas pesan dengan ayden. Ardina yg sedang menyetir melihat temannya itu heran, betapa beruntung yasmin baru kemarin sepertinya dia kecewa hari ini sudah datang penawar untuknya. **********  
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD