Don 2

1261 Words
Tampak kelima cowok dan keempat cewek sedang bersama jendral polisi beserta kedua anak buahnya sedang berunding di meja bundar di ruangan rapat penting. Tampak hal serius yang dibicarakannya karna semua wajah tampak sangat amat serius membahas kasus yang satu ini. "Amerika serikat, washington d.c pada jam 01.30 malam seorang Don sedang mengerjai polisi. Dan kejadian ini terjadi 2 hari yang lalu dan seminggu yang lalu Don ke california melancarkan aksinya merampok bank terbesar di california saat polisi sedang berjaga ketat. Ia mengambil 1,3 triliun dan membakarnya di lapangan california dihadapan para polisi dengan cepat ia melarikan diri sehingga mendapatkan kabar keberadaanya di amerika pada malam 2 hari yang lalu. Don sangat susah sekali menangkapnya dan bahkan dia sangat cerdik melebihi kancil," jelas jendral itu atau lebih tepat ARYA CAKRAWALA. Ia menjelaskan lewat infocus dan terpampanglah jelas negara amerika dan california atau lebih tepat tempat sasaran seorang Don melakukan aksinya. "Dan dikabarkan Don ini merupakan pria asli orang indonesia. Dan sewaktu waktu ia akan berada di indonesia. Tetapi kita belum mendapatkan informasi lebih lanjutnya dari kepolisian amerika." "Apakah sesulit itu menangkap seorang Don sehingga setiap aksi jahatnya selalu saja lolos. Dan bahkan kita tak menyadari kalau sebenarnya ia akan berada di sekitar kita." Ajuan pertanyaan dari Donerald. "Bahkan menangkap Don itu sangat sulit lebih tepatnya mustahil," ucap Jendral Arya. "Dan saya mengumpulkan kalian disini untuk menangani kasus ini, karna sudah banyak kasus yang kalian tangani bahkan yang sulit sekalipun. Jika kalian bisa menangkap Don maka kalian akan menjadi terkenal di penjuru dunia." "Tapi Pak menurut rekaman suara yang saya dengar. Don seorang pria? Tapi kenapa suaranya tidak ngebass layaknya pria pada umumnya?" tanya Reynand penasaran. "Masalahnya disitu apakah ia seorang wanita yang menyamar menjadi pria? Atau memang dia pria dengan suara yang sedikit tidak ngebass? Dan kemungkinan ia mengubah suaranya agar tidak diketahui orang lain," jelas Jendral Arya. "Kami akan kirim setiap informasi yang kami dapatkan," sahut Bastian. "Anda yakin bisa menangkap seorang Don. Bahkan polisi negara lain yang terkuat dengan banyak kasus yang ia tangani saja tak sanggup menangkap Don apalagi kita kita?" tanya Jenni ke Bastian. "Selama kita mencoba." Bastian tampak acuh saja. "Kalian cobalah dulu kasus ini jika tak sanggup maka kalian bisa berhenti mencari kasus Don dan akan saya beri kasus yang lain saja," Jendral Arya pun kembali membuka suaranya memberikan keringanan pada mereka. "Baik jendral!" Ucap mereka tegas dan bediri sambil hormat saat jendral Arya akan keluar ruangan. Setelah jendral Arya keluar ruangan mereka semua bernapas lega dan kembali duduk di kursinya masing masing. "Huffftt lo tau gak sih Don ini sangat menyusahkan dunia." Vanya tampak kesal. "Benar kata Vanya, Sisil aja geram sama tuh Don. Tapi kalo dia ganteng sih gak jadi," ucapnya sambil memakan lolipopnya itu. "Gue salut sama si tuh Don," kata Farel membuat yang lain mengernyitkan keningnya bingung. "Iya gue salut sama sih Don, karna setiap aksi jahatnya ia engga takut sama sekali bahkan nih penjagaan diperketat sama polisi ia masih bisa masuk dan yang buat gue heran itu jelas jelas tuh polisi ngepung dia tapi dengan sekali jurus si Don bisa lolos. Gila gak sih!" Farel berbinar membayangkan aksi Don yang super nekat. "Yang buat gue penasaran bagaimana dia bisa berpikiran secerdik itu." Reynand masih penasaran dengan Don. "Hooh bener tuh, mempunyai seribu akal dia mah kayaknya," timpal Stephani. "Yaudah mending balik," ajak Kenny beranjak dari duduknya meninggalkan temannya itu. "Gue balik juga," sahut Jenni dan meninggalkan temannya juga. Akhirnya mereka semua balik ke rumah mereka masing masing dengan mengendarai dua buah mobil. Mobil Vanya berisikan Sisil, Jenni, Stephani dan mobil Kenny berisikan Bastian, Farel, Donerald, Reynand. Dua buah mobil melaju dengan kecepatan rata rata. Dan tampak lah dari kaca spion ada sebuah mobil yang mengikuti mereka dengan kecepatan di atas rata rata. Mobil itu adalah mobil lamborghini veneno. Mobil lamborghini itu menyelip di antara mobil alphard vanya dan mobil alphard Kenny. Ia menyeringai jahat saat mobilnya menyelip di antara mobil Vanya dan Kenny. Jalanan tampak sepi jadi lebih leluasa untuk melaju. Dengan berbagai tantangan ketiga mobil itu seperti berlomba untuk menyalip mobil yang berada di tengahnya. Mobil lamborghini itu membuka kedua kaca jendelanya dan orang di dalamanya memasang kacamata hitam. Setelah kaca mobil terbuka orang yang membawa mobil lamborghini itu tersenyum ke dua arah mobil disampingnya. "Don!" ucapnya. Dan melajukan mobilnya. Didalam mobil Vanya. "Don," ucap seorang di mobil lamborghini. "Itu Don, orang yang kita cari cepat kejar!" teriak Jenni saat melihat wajah Don. "Kok bisa bisanya dia ada di belakang mobil kita dan nyelinap di tengah mobil kita," timpal Stephani tak percaya. "Apalagi gue," sahut Vanya. Sedangkan di mobil Kenny. "Don," ucap seorang di mobil lamborghini. "Itu Don!!" teriak Bastian. "Kejar" Pekik donerald. "Shitt kenapa bisa nggak tau kalo dia ngikutin kita," umpat Kenny kesal. "Emang susah di tebak tuh orang!" Farel menunjuk mobil Don. Sedangkan di dalam mobil. Don nampak tertawa puas saat mengerjai polisi cilik itu. Atau lebih tepatnya orang suruhan polisi. "Hahahhahaha udah gue bilang mustahil sekali menangkap seorang Don." Don tertawa puas mengerjai polisi cilik. "Waktu gue tinggal sedikit lagi," Don melihat jam yang melingkar di tangannya. Kini di jalan raya nampak tiga mobil bersahutan dengan kedua mobil alphard di belakangnya dan mobil lamborghini di depannya. Seperti berlomba lomba seolah siapa yang akan menang. Dengan sigap mobil Kenny menyelit di mobilnya Don. Tetapi Don tidak semudah itu ia memutar sedikit kemudinya dan kembali memimpin jalan. Ketika jam di pergelangan tangannya itu sudah mencapai batas waktu. Ia sedikit mengumpat karna tak bisa bermain main dengan kedua mobil polisi itu. Saat di bundaran ia memutar mobilnya memutari bundaran. Ia terus saja memutari bundaran saat terasa cukup lama ia memutar kemudinya dan memutar ke arah berlawanan. Dan ia kembali berhasil lolos. Sedangkan mobil Kenny saat memutar ke arah berlawanan seperti mobil Don dengan sigap mobil Vanya menabraknya karna kecepatan mobil Vanya tak bisa di kontrol. Sehingga mobil Kenny di seret dari depan oleh mobil Vanya. Saat melihat tembok pembatas dengan cepat Vanya mengerem dan mobil Kenny menabrak tembok. Ciittttt brakkk Decitan mobil Vanya beserta sahutan benturan keras mobil Kenny. Saat setelah mengerem mereka yang berada di mobil vanya keluar melihat kondisi Reynand dan teman temannya di dalam mobil Kenny. "Woyy woyy lo gak papa kan?" tanya Vanya mengetuk jendela mobil Kenny. Mereka keluar dari mobil dengan mengelus d**a dan perasaan lega. Karna selamat dari maut kalo Vanya gak ngerem mungkin dia akan gepeng di dalam mobil. "Gila tuh si Don!" geram Farel sambil mengatur napasnya. "Sumpah gue nggak nyadar kalo dia ngikutin kita dari belakang." Vanya menggelengkan kepalanya tak percaya. Baru saja diomongkan eh sudah dikerjai. "Dan lo tau gara gara dia kita hampir mati!" kesal Bastian. "Benar kata jendral Arya, menangkap Don memang mustahil," sahut Reynand. "Untung lo semua nggak ada yang luka," ucap Stephani sambil memperhatikan tubuh temannya itu. "Selamat akhirnya dari aksi maut." Sisil bernapas lega. "Perasaan gue baru kali ini gue merasa nantangin maut, selama kasus yang kita kerjakan." nimbrung Jenni "Kita harus mempunyai taktik buat nangkap Don," ide barupun keluar di otak Donerald. "Setuju!" Ucap mereka kompak. Setelah itu mereka kembali ke rumah masing masing. Kelima pria itu pulang dengan menaiki taksi online karna mobilnya sudah hancur setengah. Dan keempat wanita itu juga pulang. Ternyata Don tidak pulang sepenuhnya ia masih menunggu mereka dengan jarak yang jauh dan mendengarkan percakapan mereka lewat alat penyadap suaranya itu. Taktik taktik, taktik yang mana mau menangkap Don. Sudah gue bilang mustahil sekali menangkap gue dan lo nggak gak percaya. Kita buktikan siapa yang paling cerdik dan bijak dalam melihat musuh dalam selimutnya batin Don. Setelah itu Don pergi meninggalkan tempat tersebut menuju tempat tujuannya.
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD