Suara denting sendok berbenturan berirama memenuhi seisi ruang makan keluarga besar Prasodjo.
"Jadi nak Bimo sekarang memiliki kerjasama dengan perusahaan Golden Wish?" tanya lelaki paruh baya yang merupakan kolega papanya.
"Iya om, proposal mereka sudah saya terima satu bulan yang lalu."
Bimo meraih tissue lantas mengusap ujung bibirnya.
"Kemungkinan proyek hotel yang ada di Cibubur bisa dimulai bulan depan." ujarnya lagi.
"Wah perusahan itu sempat membatalkan kerjasamanya dengan om, hanya karena Cindy menolak anak sulung mereka."
Bimo hanya tersenyum tipis.
"Jadi kapan kalian berniat menikahkan Cindy dan Bimo ni, aku lihat mereka sangat cocok lho mbak Mira." sela istri om Stefan.
"Bimo sudah memiliki wanita pilihan Bimo sendiri om, tante."
"Jadi bila tujuan anda datang kemari untuk sebuah perjodohan. Bimo rasa itu hanya buang waktu." lanjutnya.
"Bimo." bentak mama Mira.
"Sudahlah mah, lagian kan sudah papa bilang. Bimo tu udah besar, semakin mama paksa malah kabur tu anak."
"Papa jangan belain Bimo donk, awas nanti malem nggak ada jatah." protes mama.
"Bimo kamu harus nurutin kata mama kamu, kalau nggak semua fasilitas papa sita."
"Papa bilang begitu kayak mempan aja."
"Nah, tu mama tahu."
Semua yang ada di ruangan tersebut tergelak, mendengar ocehan tuan dan nyonya Prasodjo.
*****
"Hey, apa boleh gabung?"
Bimo menoleh dan diam sesaat namun pada akhirnya dia menganggukan kepala tanda setuju.
"Aku nggak akan maksain perjodohan ini kok. Hanya ingin meluruskan saja, semoga kamu tidak berpikiran buruk tentangku."
Cindy menyusul Bimo di tepi kolam renang, mencelupkan kaki ke dalam air seperti yang Bimo lakukan.
"Iya. Kita masih bisa berteman. Saya hanya tak ingin kamu kecewa nantinya."
Cindy mengangguk setuju perkataan Bimo.
"Sebelum makan malam, Dina menghampiriku." gadis itu terkekeh mengingat apa yang disampaikan si bungsu.
"Apa saja yang dibicarakan olehnya, apa dia menjelekanku?"
"Ah tidak." sahut Cindy cepat,.
"Dia hanya bilang, kalau kamu menyuruhnya untuk mengatakan 'kamu pecinta sesama jenis' pfffttt."
Cindy terkikik dan menutup bibirnya dengan tangan untuk menahan tawanya.
"WHAT?" mata Bima berkedut, tak habis pikir dengan kejahilan adiknya yang diluar perintahnya.
Padahal rencananya kan bukan itu.
"Haha tenang aja, aku tahu dia hanya ingin membantumu untuk menolak perjodohan ini."
Cindy tersenyum, pandangannya di alihkan ke depan. Menatapi gelombang air dari gerakan kaki mereka.
"Terima kasih karena tidak ikut-ikutan gila."
Bimo menggaruk hidungnya yang tidak gatal.
"Untuk kedepannya jangan sungkan bila membutuhkan bantuan dari saya, karena kita sekarang teman." ujar Bimo serius.
"Baiklah...! Teman...!" ujar Cindy riang.
Gadis itu lantas mengulurkan tangan sambil tersenyum tulus dan disambut kaku oleh Bimo.
"Apa ada yang ingin kamu tanyakan lagi, Cin-dy?"
"Hah...?!" sahut Cindy tak paham.
"Oh tidak tidak, hanya bosan aja di dalam jadi aku menyusulmu disini." Cindy bingung, yang ada dirinya hanya menggerak-gerakan kaki nya di dalam air.
"Sebenarnya aku memiliki kekasih, tapi karena kesalah pahaman membuat dia semakin membenciku." ujar Cindy membuat Bimo menoleh penasaran.
"Aku sangat menyayanginya, tapi aku selalu merasa dia tidak sungguh-sungguh denganku, makanya aku menyetujui perjodohan ini tadinya."
Cindy menghela nafas lantas memandangi wajah Bimo.
"Mungkin kalian pun saling mengenal, tapi.... entahlah"
ujar Cindy sambil mengendikan kedua bahunya.
"Um, lumayan rumit, tapi cobalah salah satu diantara kalian mengalah untuk mempertahankan hubungan. Karena saya lihat dari ceritamu, kamu begitu mencintainya." ujar Bimo.
Mereka lalu berbincang-bincang banyak hal setelah sepakat untuk saling berteman.
"Kalau begitu saya akan berpamitan pada para orangtua kita, karena saya masih ada urusan yang harus diselesaikan secepatnya. Mari masuk." beranjak dari tepi kolam, mengulurkan tangannya untuk membantu Cindy bangkit dari duduknya.
Sesampainya di tempat para orangtua berkumpul, Bimo menyampaikan keinginannya untuk pamit ke Wonogiri bersama asisten sang papa.
"Apa nggak bisa besok pagi aja nak, masak baru pulang udah mau pergi lagi." protes mama, pasalnya dia masih merindukan putra sulungnya itu.
Bimo memeluk mamanya sekejap lantas membisikan hal yang akan diurusnya menyangkut perusahaan dan keluarga besar.
Maka dengan berat hati sang mama pun mengangguk tanda mengijinkan Bimo untuk pergi lagi.
"Ya sudah hati-hati, cepat kembali."
"Iya mama." ujarnya hangat.
Direngkuhnya lagi tubuh mungil mamanya sambil mengecup lembut kening beliau.
"Bimo pergi dulu, assalamualaikum."
Wa'alaikumsalam
Jawab semua orang yang berada di ruang tersebut.
*****
"Mas Bimo menolak perjodohan lagi?" tanya David, mereka berdua sekarang berada di dalam mobil yang sudah memasuki kawasan kota Wonogiri.
Suasana malam menjelang subuh itu sangatlah dingin terasa masuk ke dalam pori-pori.
"Haha perjodohan itu akan saya terima kalau gadis yang dipilih mama bisa mengambil hati saya Vid." David hanya bisa tersenyum menanggapi jawaban majikannya.
Saat mereka sampai dan turun dari dalam mobil, Bimo tidak sengaja bertatap mata secara intens dengan seorang lelaki berada di dalam mobil Range Rover Vilar yang terparkir tak jauh di seberang rumah pak Slamet.
Merasa tak mengenalinya, membuatnya mengendik kedua bahu serta menggeleng kecil kepalanya.
"Ada apa mas Bimo?"
Mendengar namanya dipanggil, ia pun menoleh ke arah David yang sedang menurunkan barangnya dari bagasi.
"Ah nggak. Itu siapa ya?" ujarnya sambil mengendikan dagu kearah mobil yang dimaksud.
David sontak menoleh ke arah yang Bimo maksud.
"Oh dia... Biarkan saja mas, nanti juga pergi sendiri." jawabnya.
David lantas berlalu menarik koper milik Bimo.
"Kok gitu, kamu nggak takut dia macam-macam Vid?"
"Dia memang seperti itu kalo temannya Lika menginap di sini. Mari masuk mas."
"Kenapa nggak disuruh masuk aja kalau dia tak berniat jahat?" tanya Bimo heran.
"Karena mereka bukan jodoh." setelah mengucapkan kalimat itu, David membantu Bimo menyimpan barang-barangnya ke dalam kamar.
"Mas Bimo bisa istirahat di dalam kamar lho."
"Sebentar, disini aja. Udah nyaman."
David yang melihat Bimo rebahan di atas sofa panjang pun mendudukan diri di atas sofa tunggal sebelah Bimo.
"Nggak perlu dinyalain lampunya Vid, biar begini aja. Saya mau tidur di sini sebentar."
David mengangguk, ia menurut karena dia juga sangat mengantuk.
Baru saja mereka mau memejamkan mata, harus terbangun mendengar seseorang yang keluar dari dalam kamarnya.
"Pak David baru sampe ya?"
Wajah khas bangun tidur, rambut acak-acakan dan suara seraknya menarik atensi Bimo yang masih tetap dalam posisinya rebahan di atas sofa panjang.
"Jangan dinyalain lampunya Ri, saya mau tidur sebentar." perintah David, saat melihat Riana akan menyalakan lampu ruang tamu.
"Oke!" ujar Riana berlalu meninggalkan ruang tamu.
Tanpa disadari olehnya bahwa terdapat orang lain selain ia dan suami Ninik di ruangan itu, karena penerangan hanya terdapat dari lampu kamar Ninik.
Bukan David tak menyadari kalau anak dari majikannya itu sedari tadi memperhatikan Riana.
"Namanya Riana mas, dia teman Lika." ujar David setelah melihat Riana sudah kembali masuk ke dalam kamar.
"Jadi lelaki yang di depan tadi nungguin dia?"
David menggeleng. " Bukan nungguin dia, lebih tepatnya mengamati dari jauh. Karena Riana tidak pernah menyadari kalo dirinya di pantau oleh lelaki yang di depan tadi." jelas David.
"Kok bisa gitu?"
"Karena yang di depan sana adalah lelaki yang sudah menikah dengan gadis pilihan orangtuanya." terang David lagi.
"Maksudnya selingkuh gitu?"
"Bukan, mereka berdua saling mencintai mas. Semua orang pun tahu itu."
"Aneh, saling mencintai kok menikahnya sama orang lain."
Bimo tak abis pikir dengan seseorang yang masih mau saja dijodohkan.
"Kamu pasti capek menyetir, tidurlah. Nanti saya akan ke gudang sendiri dengan orang suruhan saya."
Bimo pun beranjak dari sofa, masuk ke kamar yang sudah disiapkan untuknya. Tidur sebentar untuk menghalau rasa capek perjalanannya tadi.
Setelah subuh, bu Siti yang mengetahui menantu serta anak majikan suaminya sudah sampai, lantas memasak menyiapkan sarapan mereka semua.
"Bangunin suami kamu nduk."
Lika pun mengangguk keluar dari dapur, untuk menghampiri David.
"Mas, bangun. Ayo mandi dulu terus sarapan."
David pun mendudukan diri, mengucek mata menyesuaikan cahaya. Beranjak dari sofa menuju ke kamar mandi untuk membersihkan diri.
"Pagi bu." Sapanya kepada sang mertua.
"Pagi nak David. Ayo duduk dulu sarapan, keburu dingin nanti." David mengangguk dan mengambil tempat duduk. "Dahlia belum bangun yank?" Lika menggeleng dengan mulut penuh nasi, bibirnya mengerucut. "Semalam baru mau tidur jam dua mas."
Selesai dengan sarapan nya David bermain sebentar dengan anak perempuannya, tiba-tiba saja dia ingat sesuatu. "Bukannya Riana nginep disini ya yank, kok tadi nggak ikut sarapan?" ia menggendong anak perempuanya keluar kamar dengan Lika yang mengikuti langkahnya dari belakang. Kalau mengingat kejadian setelah subuh tadi, membuat Lika menghela nafas panjang.
"Tadi bapaknya Ana kesini, ribut di depan sama Aska. Lika pikir mereka mau ngelabrak Riri, ternyata tidak. Dan gara-gara keributan tadi, Riri langsung pulang." Menggoyang-goyangkan kaki mungil anaknya sambil mengecup pipi gembulnya.
"Pas mau bangunin mas buat melerai mereka, Lika dilarang sama mas Bimo. Ya akhirnya mas Bimo yang maju misahin mereka."
"Terus kenapa wajahnya murung begini?" ujar David sambil mencolek ujung hidung Lika.
"Emang bener perkataan mas dulu, kalau jodoh nggak bakal kemana. Tapi ya aneh aja. Soalnya biasanya pak Darman tu keras kepala, nggak bakal dengerin penjelasan dari siapapun. Melihat mas Bimo pas bicara empat mata dengan beliau, Lika bisa melihat kalo pak Darman kayak merasa bersalah gitu sama mas Bimo. Terus cara ngomongnya patuh gitu."
"Ya mungkin mas Bimo bisa meyak-." omongan David terputus karena dering ponselnya, layar ponsel dihadapkan ke sang istri untuk memberitahu siapa yang menghubunginya.
"Ya halo mas. APA!" Dahlia yang tadi dipangkuannya pun di serahkan ke Lika.
"Looh mau kemana mas?"
"Mas nyusul mas Bimo dulu yank, dia dikeroyok warga." ujar David yang berlalu masuk ke dalam rumah untuk mengambil kunci mobil. Ia mengecup dahi istri dan pipi anaknya, ia pun segera masuk dan menjalankan mobil menuju tempat Bimo dikeroyok.