"Selamat siang pak, tadi ibu Mirawati datang mencari bapak. Saya sudah memberitahu beliau, bahwa bapak sedang ada rapat."
Bimo menoleh sejenak, lelaki itu hanya mengangguk dan berlalu menuju meja kebesarannya.
"Mama...?!" gumamnya sendiri.
Ia mengeluarkan ponsel dari saku jas, lantas melemparkan jasnya begitu saja.
"Terima kasih San, kamu boleh keluar." perintah Bimo yang sudah terduduk di kursi putar kepada sekretarisnya.
Memandangi layar ponsel yang terdapat tiga puluh dua panggilan tak terjawab, sontak matanya melotot lantas menepuk jidat sendiri.
Sial...
Ia lupa akan janjinya tadi pagi saat mereka sarapan bersama, untuk menemani sang mama di restoran IPA siang ini.
Aduh, gawat... batin Bimo
Segera dirinya menelepon balik seseorang yang bisa di pastikan akan mengamuk padanya.
Dengan perasaan was-was, jari tangannya mengetuk-ngetuk meja di depannya, ponsel yang terus menempel pada daun telinga penuh setia menunggu jawaban telepon tersebut.
"Mama tadi nyari Bimo ada perlu apa?" ujarnya lembut setelah tersambung.
"Walaikumsalam." jawab mama ketus.
"Assalamuailaikum, mama. Tadi kata sekretaris Bimo mama kesini. Ada perlu apa ma?"
Bimo berbicara selembut mungkin, karena dia bisa merasakan badai sebentar lagi datang.
"Kamu ya Bimo, keterlaluan! Bisa-bisa mama mati berdiri karena tingkah kamu, pokoknya nanti malam kamu harus pulang kerumah. Mama tunggu titik."
Bimo meringis kecil mendengar ocehan mamanya.
"Iya cintaku, Bimo usahakan."
"Jangan cuma janji-janji, dan nggak usah ngrayu mama, itu nggak bakal ngaruh sama sekali."
Bimo tersenyum, kalau mamanya sudah begini nggak ada alasan lagi untuk menolak.
"Iya nanti Bimo pulang cepat kalau urusan kantor udah selesai, hmm?!"
"Awas kalau kamu nggak pulang, mending nggak usah pulang aja sekalian."
Mira menutup teleponnya sepihak, tanpa menunggu jawaban dari putra sulungnya.
Bimo hanya mampu menghela nafas panjang berkali-kali, memejamkan matanya, serta memijit pangkal hidungnya sambil menggeram guna meredam emosi.
Masalah pelik dalam perusahaan bahkan belum selesai, tapi sang mama sudah rewel saja minta menantu. Membuat Bimo geleng-geleng dengan aksi sang mama.
Beliau memang selalu melakukan hal diluar dugaan Bimo, akan tetapi hal itu tidak membuatnya risih sama sekali.
Bahkan terkadang Bimo sesekali menggoda mamanya dan itu sangat menghiburnya.
Diraihnya gagang telepon, menghubungi sekretarisnya untuk membatalkan semua janji hari ini.
Sesaat dia merasa lelah, namun ia tak ingin menunda atau mengecewakan wanita yang melahirkannya.
Bimo beranjak, meraih jas yang tadi dicampakkannya di atas sofa. Dengan langkah sedikit terburu-buru, sesekali mengangguk menjawab sapaan dari para karyawannya ia berlalu sampai lobi perusahaan. Ia masuk ke mobilnya tanpa mengijinkan seorang supir mengantarnya.
Lelaki itu engumpat berkali-kali, namun perlu diketahui, amarahnya bukan karena sang mama, melainkan karena dia belum menemukan jalan keluar dari masalah yang sangat merugikan perusahaan.
Dikendarailah mobilnya itu dengan kecepatan tinggi, membelah jalanan melaju tanpa halangan.
"Dimana lo?" tanyanya tetap fokus menatap ke arah jalan.
"Oke gue kesana sekarang!" ujar Bimo, ia melempar ponsel ke jok samping penumpang dengan kasar. Lelaki melonggarkan dasi yang terasa mencekik sesekali memukul stir kemudi meluapkan amarahnya.
Setelah sampe ke tempat tujuan, Bimo turun dari mobil lantas melempar kunci mobil kepada sosok pria berbadan kekar dan besar.
Dagunya mengendik memberi isyarat ke pria tersebut yang dibalas dengan anggukan patuh oleh sosok pria besar tersebut.
"Dengan bapak Bimo?" sapa seseorang yang berdiri dibalik pintu besar, Bimo pun mengangguk.
"Mari lewat sini pak."
Di giringnya Bimo masuk kedalam ruangan.
Wanita berpenampilan formal tersebut membuka pintu kayu tebal tinggi dan lebar yang terdapat ukiran rumit, lantas mempersilakan Bimo untuk menunggu sesaat. Sebab seorang ia cari masih terdapat urusan lain.
Seperti biasa ia pun mendudukan diri di atas sofa panjang tanpa ragu, tangannya mengotak-atik ponsel miliknya sambil memeriksa email dari sekertaris dan asisten pribadinya.
Suara decitan pintu sontak menyita perhatian Bimo, diliriknya sejenak lantas kembali fokus pada ponselnya.
"Baru datang?" mendapat pertanyaan itu, Bimo hanya mengangguk.
Bimo menyimpan kembali ponsel ke dalam saku jas nya, pandangannya menyapu benda-benda yang berada di dalam seisi ruangan tersebut.
"Ngeri gue liat ruangan lo." ujar nya sambil bergidik.
"Thanks." ujarnya tulus sesaat setelah menerima gelas kristal yang berisi beberapa es berbentuk balok dan cairan berwarna coklat beraroma pekat.
Tampak seperti hal yang semestinya ia menggoyang-goyangkan pelan gelas kristal tersebut lantas mengesap sedikit demi sedikit.
" The Dalmore 62." ujar seseorang yang duduk di sofa tunggal, saat matanya melihat Bimo menikmati cairan nikmat itu.
"Wow. Good!" puji Bimo jujur.
"Tumben lo kesini Bim?" seseorang yang baru masuk ke dalam ruangan, langsung duduk di atas sofa panjang di sebelah Bimo.
"Wooaaahh Leo, gilak... tampilan lo tuh nggak pernah ngecewain, keren banget. Gue sampe pengen gampar jaksa penuntut tadi. " ujar Wiliam menilai aksi Leo di persidangan.
" Thanks bro." tambah Wiliam saat menerima gelas kristal yang disodorkan oleh Leo.
Iya...
Mereka sekarang sedang berada di dalam ruang kerja Leo.
"Jadi, apa yang perlu lo omongin?" tanya Leo menghadap Bimo tentu dengan tatapan khas dinginnya. Bimo sontak mencondongkan tubuhnya memaku mata Leo.
"Gue pengen lo selidiki kasus yang menimpa perusahaan gue secepatnya. Kemarin-kemarin gue masih bisa mentoleransi mereka, tapi kalo kedepannya, nyawa mereka ada yang musti lo abisin itu terserah lo."
Bimo menghela nafas sejenak, menyandarkan kembali punggungnya di sofa.
"Gue akan urus gudang di Wonogiri sesuai saran lo waktu itu. Untuk hal yang-" perkataannya terputus karena ponsel Bimo berbunyi.
"Sebentar." memberi isyarat kepada kedua temannya untuk menerima telepon. Dilihatnya layar yang menampilkan nama my love.
"Assalamuailaikum ma."
(.....)
"Bimo mengerti."
(.....)
"Baiklah."
(.....)
"Walaikumsalam."
"Aaaarrrrggghhhh, sialll." erangnya.
Bimo mengacak-acak rambutnya pelan, dia menoleh menatap kedua temannya dengan wajah memelas. Wiliam yang di tatap seperti itu, tentu mengerutkan kedua alisnya dengan raut wajah bertanya-tanya. Sedangkan Leo? ck, jangan tanya bagaimana reaksi Leo. Tetap sama, datar...
"Lo kenapa lo?"
Wiliam yang memang selalu tidak sabaran, segera menanyakan keadaan Bimo.
"Nyokap gue, ngingetin gue pulang cepet."
"Lah, terus apa masalahnya?" Wiliam pun memperbaiki duduknya semakin menghadap Bimo.
"Gue tadi lupa kalo ada janji ma dia."
"Janji kapan sih kok sampe lupa?" tanya Wiliam lagi keheranan.
"Tadi pagi pas gue sarapan di rumah orangtua gue." terang Bimo.
"Bentar deh bro, gue makin nggak ngerti. Bukannya semalem lo bawa cewek balik dari club Venus ya?"
"Um." Bimo mengangguk lemah.
"Kok bisa sarapan di rumah orangtua lo? Apa jangan-jangan lo bawa tuh cewek ke rumah orang tua lo?"
William melotot sambil menunjuk ke arah sahabatnya.
"Wooahh.. Gilak ni bocah." Bimo mendelik melihat reaksi berlebihan dari Wiliam.
"Jangan ngaco deh. Bokap gue tadi pagi telepon, nyuruh gue pulang. Katanya nyokap ngambek." jelas Bimo.
"Tante Mira ngambek, kok lo yang disuruh pulang. Lo sekarang jadi 'anak mami' bro? Ppfffttt..." Lagi-lagi Wiliam dengan pikirannya yang suka menebak-nebak.
"Ck, percuma ngomong sama lo." Bimo pun beranjak.
"Eh mau kemana? Emang urusan lo sama Leo udah kelar?" tanya Wiliam yang masih saja tidak mengerti.
"Gue obrolin lewat telepon aja, ada lo di sini. Males." ujarnya meninggalkan ruangan Leo.
"Kenapa dia?" tanya Wiliam pada Leo. Leo yang dari tadi hanya menyimak obrolan kedua sahabatnya, hanya mengendikan kedua bahunya mendengar pertanyaan Wiliam.
*****
Bimo yang sudah sampai di depan gerbang rumah orangtuanya mendadak merasa jengah.
Dia benci perjodohan, meskipun Bimo sering bergonta ganti pasangan layaknya berganti pakaian, ia punya prinsip tersendiri bahwa dia akan menikahi seseorang yang benar-benar menyentuh hatinya.
Menurutnya menikah itu sekali untuk seumur hidup, dan itu atas kehendaknya sendiri tanpa paksaan siapapun bahkan itu mama nya sendiri.
Buat apa dia memilih tinggal di apartemen nya sendiri, kalo sang mama masih saja menjodohkan dengan banyak gadis pilihannya?
Segera dia masuk ke rumah yang nampak sepi, mungkin sang mama sedang di dapur dan papa pasti di ruang kerjanya.
Lelaki itu berlari kecil menaiki tangga lalu berhenti di depan sebuah pintu kamar. Jemarinya memutar gagang pintu lantas membuka secara perlahan.
Ia tak segera masuk, malah menyandarkan sisi tubuhnya dengan kedua tangan di saku celana kain miliknya. Diperhatikannya gadis yang sedang belajar sesekali menyerengitkan dahi tanpa berniat menggangu.
Nampaknya gadis itu kesulitan berpikir, sampai dirinya tak menyadari kehadiran Bimo.
Bimo akhirnya menutup pelan pintu kayu itu, mendekatinya lalu mengecup sayang puncak kepala gadis itu.
"Serius amat." ujar Bimo lembut, mengejutkan gadis itu.
"Waahh abang, kapan datengnya bang?" pekiknya. Di peluknya erat pinggang Bimo. Sebulan tak bertemu dengan Bimo, membuatnya rindu dengan abang satu-satunya.
"Baru aja nyampe, langsung ke kamar kamu."
Lelaki itu mengurai pelukan adiknya lantas menarik lembut tangannya untuk duduk bersisihan di tepi ranjang.
"Abang mau minta bantuanmu bisa?"
Gadis itu langsung mendelikan mata, "ih baru juga dateng sudah merepotkan, Dina bakal dapet apa dulu nih?" ujarnya sambil menaik turunkan alisnya.
"Kamu tu kalo ngomongin hadiah semangat banget. Bantuin abang dulu. ya... ya... ya.."
Dina memincingkan mata, seperti menyadari abangnya yang mungkin akan kabur lagi dari pertemuan yang direncanakan oleh mama mereka.
"Abaaaaang.... Jangan bilang-....." jari telunjuk mengarah wajah Bimo, mencoba menebak apa yang dipikirkan kakaknya.
"Hehehehehehe....." Bimo mengusap tengkuknya yang tidak gatal.
"Gini ya bang, kalo abang menghindar terus. Yang ada mama malah menggila njodohin abang." ujar Dina sambil melipat kedua tangannya.
"Abang belum siap menikah dek. Para wanita itu ribet."
"Eh, Dina ribet juga?" sahutnya penuh protes.
"Emang!" jawab Bimo cepat.
"Yaudah, nggak perlu minta bantuan Dina lagi. Se-la-ma-nya."
Dina beranjak dari ranjang tak selang lama ditahan lengannya oleh Bimo.
"Jangan donk. Iya abang minta maaf. Kamu adik abang yang paling manis. Suerr deh."
"Tapi ini yang terakhir ya." ucap Dina malas.
"Siap."
Lelaki itu lantas membisikan rencana yang akan dilakukan mereka berdua nanti.
"Mengerti?" tanya Bimo memastikan.
"Um!" Dina mengangguk dengan percaya diri.
"Oke, here we go..."
Bimo menggandeng tangan adiknya saat mendengar sang mama berteriak memanggil mereka untuk menyambut tamu yang akan datang.