Rencana strategi

1378 Words
"Bu. Kita harus membersihkan kamar Lingga sekarang bu. Karena kata si mas, anak majikannya akan kesini kalau ndak besok malam, ya lusa." jelas Ninik dengan napas terengah-engah setelah berlari. plak.. "Aduh... Ibu...? Kok malah dipukul?!!" Ninik melongo terheran. Riana yang melihat itu pun terkikik geli, namun menjadi salah tingkah saat sekilas merasakan pelototan dari Ninik, membuatnya berdeham untuk meredam tawanya. "Kamu tu ya, gedubak gedubuk begitu, bikin jantung ibu mau copot tau ndak?!" seru bu Siti. "Jangan lari-lari seperti itu, perutmu masih rawan dan belum sembuh total. Lagian lihat tuh anakmu sedang tidur. Mbok yo sing alus to Lik Lik." omel bu Siti sambil mengelus dadanya. Wanita paruh baya itu tentu terkejut, jantungnya serasa melompat keluar mau copot melihat tingkah putrinya. Bagaimana tidak, baru saja sebulan lebih melahirkan, namun sudah berlarian seperti banteng ngamuk saja. Lagi-lagi Riana yang hampir kelepasan ketawa pun mencoba meredam tawanya dengan menggigit pipi bagian dalam. Pandangannya tak tentu arah, karena masih merasakan aura bayangan mata yang melotot padanya. "Dahlia nggak bakal bangun kok bu, dia sudah terbiasa dengan suara cempreng Riri." ujar Ninik menyeringai. Riana langsung menoleh cepat ke arah Ninik, wajahnya merengut lantas meraih lengan bu Siti. "Budheee...." rengek Riana. "Haha, sudah, sudah... Ayo Ri bantuin bersih-bersih." ujar bu Siti. Mereka pun tertawa melihat wajah memelas Riana hingga bu Siti pun merangkul Riana dan mengajaknya bersih-bersih ke kamar Lingga anak kedua pak Slamet dan bu Siti. "Jadi bos nya pak David menginap disini ya budhe?" tanyanya sekedar tanya. "Iya...." jawabnya, namun entah kenapa wanita paruh baya itu mendecak kesal. "Kamu itu lho, disuruh jangan manggil 'pak' ke suaminya mbakmu kok angel men to nduk." ujar bu Siti yang protes dengan sapaan panggilan 'pak' ke menantunya dari Riana. "Dia itu sudah sama aja jadi mas mu." tambahnya lagi. Riana mengusap ujung hidungnya yang tak gatal. "Hehehe, itu anu. Riri nggak biasa panggil 'mas' pada orang yang baru kenal. Apalagi usianya udah tua kayak pak David." Bu Siti mendelik tak suka sama jawaban Riana. "Azka umurnya berapa?" "Dua puluh delapan tahun." sahut Riana yang tentu belum menyadari dengan apa maksud pertanyaan bu Siti. Matanya mengerjap lucu karena merasa hal ini sudah keluar dari topik. "Eh, tunggu deh! Kenapa budhe malah bahas mas Azka, apa hubungannya?" tanyanya heran sambil mengerutkan dahi. Di pandangnya bu Siti, namun wanita paruh baya itu malah mengendikan kedua pundaknya. "Ya pengen tahu aja kenapa kamu memanggilnya 'mas' padahal mereka hanya selisih dua tahun." jawabnya malas. "Hehehe emboh ah." Gadis itu mengusap tengkuk nya yang tak gatal, karena dirinya yang masih saja tak paham dengan maksud dari bu Siti. "Buruan bantu ganti sprei nya, Ri." "Aahh... Siap budhe..." dengan gerakan hormat, Riana terkekeh lalu menyahut kain yang masih terlipat itu lalu membalutnya rapi pada ranjang yang sudah di bersihkan tadi. ***** Suasana kantor nampak sepi seperti tak berpenghuni, pencahayaannya pun mulai redup karena para karyawan sudah pulang sebagian besar. Ada beberapa yang lembur untuk membuat laporan perusahaan yang menuntut mereka secepatnya selesai sebelum hari esok. Begitu juga dengan lelaki yang duduk dalam ruangan luas namun minim penerangan itu. Matanya terpaku pada tumpukan berkas yang seolah menanti perhatiannya, kedua jemarinya bahkan tak henti menari di papan ketik serta menggeser-geser kursor. Pandangannya tak teralihkan dari grafik laporan perusahaan cabang yang dikirim oleh asisten pribadinya. Sesekali dahinya mengerut, mata menyipit melihat banyak hal yang tak beres setelah menyimak dengan seksama. Hufftt... Kenapa masalah datangnya bersamaan begini sih. batin Bimo menggerutu. Lelaki itu tampak lelah, ia menghela nafas panjang sembari duduk bersandar di kursi putarnya. Jemarinya memijat satu keningnya guna meredakan rasa pusing di kepala, seolah adanya sebuah hantaman benda keras yang tak henti sepanjang akhir tahun ini. Matanya terpejam, pikiran melayang membayangkan nasib tentang perusahaan yang telah ia pimpin. Saat mendengar gemuruh hentakan kaki datang menuju ke ruang kerjanya, membuatnya kembali duduk tegap menyambut ketiga orang yang tadi sempat ia hubungi. Mereka berjalan beriringan dan sekarang bahkan berbaris rapi menghadapnya, berdiri tepat di hadapan Bimo dengan pandangan yang berbeda-beda. Kalau saja saat ini tidak dalam suasana genting, mungkin Bimo akan terkekeh geli melihat gelagat mereka. Lihatlah masing-masing dari mereka, seolah sedang menanti sebuah hukuman berat yang akan diterima, mereka berdiri siap tegap wajib militer diam seribu bahasa sebelum Bimo menutup layar komputernya. Hening, semua terdiam sesaat, tapi salah satu dari mereka merasakan tak nyaman dengan suasana di dalam ruangan itu. "Jadi kenapa bisa gue harus disini?" tanya William terheran, lantaran dia juga sibuk dengan perusahaannya sendiri. Namun, karena mendapat panggilan telepon dari sahabatnya yang katanya urgent, dengan sigap dia mendatangi perusahaan tersebut. Di sebelahnya terdapat lelaki tak berekspresi, hanya menunjukan gerakan tenang dan santai sambil menyalakan satu batang rokok yang terselip di antara kedua jemarinya, menghisap asapnya dalam-dalam lalu menghembuskannya begitu elegan nan mempesona. Mata tajam itu bersibobrok dengan mata Bimo yang tampak lelah, seolah dia berisyarat mengatakan ada apa, bro? Dan yang terakhir sahabatnya juga tapi merangkap menjadi asisten pribadi Bimo. "Gue pengen kalian kerja sama dengan gue!" ujar Bimo dengan nada dingin memerintahkan ketiga para sahabatnya. "Menghabisi nyawa serahkan pada gue." Leo yang sedari tadi diam, mulai angkat bicara. "Tapi sebelumnya ini masalah apa dulu?" lanjutnya. Karena Leo tidak akan pernah menindas pihak lemah tak bersalah, meskipun itu musuhnya. "Ada apa sih, to the point bisa nggak?" sela Wiliam menggerutu tak paham, yang memang selalu tidak sabaran. "Ini masalah pabrik dan gudang yang kacau balau karena tangan-tangan para bajingaan serakah, guys..." Irfan pun menyampaikan pesan yang nantinya pasti akan di bicarakan oleh Bimo, mengingat dia asisten pribadi Bimo. Dan itu alasan yang membuat mereka sekarang berkumpul di ruang kantor Bimo. Lelaki yang duduk di kursi kebesarannya, setelah mendengar penjelasan dari Irfan barusan, hanya mampu menghela nafas panjang. Dia melepas kacamatanya dan memijat pangkal hidungnya. "Gue sebenarnya sudah mengetahui siapa dalang sebenarnya, tapi gue masih menyelidiki apa alasannya bertindak sejauh ini." ujar Bimo yang terdengar putus asa. "Sudah tau, kenapa bingung?" tanya Leo. "Rumit, bro..." erang Bimo. "Gudang mana yang di kacau Fan?" tanya Wiliam kepada Irfan, yang terlihat lebih tenang dari Bimo. "Gudang rempah di daerah Wonogiri, di sana salah satu gudang terbesar milik Perusahan Prasodjo Joyo Boyo. Jadi ini akan memakan kurun waktu yang lumayan cukup lama untuk pemulihannya, mengingat terlalu banyak campur tangan orang dalam yang secara tidak langsung ikut andil dalam pencurian ini!" jelasnya begitu formal, setelah menyadari jabatannya untuk saat ini. Mereka terdiam dengan pemikiran masing-masing, berharap bisa memberikan jalan keluar terbaik untuk sahabatnya. Nampak Leo mematikan rokok ke dalam asbak dan menaruh kedua tangannya di dalam saku celana kainnya. "Saran gue lo turun langsung ke lapangan melihat para buruh lo kerja, lo musti tau akar masalah dari yang kecil dulu." mereka diam, "baru lo pelajari kenapa bisa menjalar dan sefatal ini." lanjut Leo. "Gue rencananya juga begitu bro, tapi baru aja gue dapet laporan dari asistan bokap gue kalau gudang padi pun mengalami pencurian besar-besaran. Dan itu tak ada satupun yang menyadarinya." Bimo beranjak dari kursi putarnya, mempersilakan ketiga sahabatnya duduk di atas sofa. Irfan, William serta Leo pun mendaratkan pantatnya di sofa empuk itu. "Gue sebenernya bingung mau omong apa, tapi melihat hal seserius gini, gue setuju dengan usul Leo." ujar Wiliam. Bimo hanya mengangguk, dirinya menyalakan sebatang cigaret tersebut duduk bersandar dengan kaki kanan bertumpu di kaki kiri begitu elegan. Pandangan matanya tampak kosong, menandakan dia sedang memikirnya strategi dan saran-saran dari temannya. "Terkadang lo butuh hiburan, kemungkinan masalah yang lo anggap rumit itu sebenarnya hanya sepele." "Tidak akan bisa di anggap sepele, meskipun itu memang sepele. Karena semua ini menyangkut keluarga besar." jawab Bimo menatap William. "Lagi-lagi...!!!" gerutu William, "kenapa banyak sekali tikus penjilat di setiap keluarga besar ini, kenapa coba?!" erang William, wajahnya juga tampak kacau. Bimo lagi-lagi menghela nafas, ia sangat menyetujui ucapan William tentang itu. "Irfan, lo besok nggak usah ikut gue ke gudang." "Terus elo?" "Tugas lo disini meng-handle perusahaan selama gue pergi, dan tolong konfirmasi pada sekertaris gue untuk mengatur rapat besok pagi." putusnya. "Oke!" sahut Irfan. "Dari pada tegang begini mending kita ke club Venus yuk bro, kering gue." ajak Wiliam kepada para sahabatnya. Irfan sontak menoleh menatap Bimo. Sedangkan Leo menepuk kedua pahanya lantas bangkit dari duduk. "ayo..." sahutnya sebagai orang pertama yang menyetujui ajakan William. "Gimana bro?" tanya Irfan, senyumnya mengembang setelah Bimo menganggukkan kepala. "Okay, let's go..." seru Irfan begitu antusias. Mereka berempat serempak meninggalkan perusahaan besar milik Bimo.
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD