Memutuskan jadi TKW

1459 Words
Sudah menjadi langganan Riana akhir-akhir ini menginap di tempat sahabat kecilnya. Disana dia bisa menggendong dan mencium bayi mungil yang selalu membuat Riana gemas dengan ocehan khas bayi seusianya. "Nanti ketempat Ninik lagi Ri?" tanya bapak yang baru pulang dari gudang padi. Riana mengangguk semangat, "Iya pak. Soalnya minggu kemarin ada tamu dari kota, jadi Riri nggak berani kesana." jelasnya. "Oh itu bosnya suami ninik." bapak menyeruput teh hangat dalam gelas yang sudah Riana sediakan untuknya. "bapak juga kenal kok." ujar bapak. Riana tentu tahu akan hal ini, mengingat bapak bekerja dengan mereka. Ia sontak menoleh ke arah pintu, tampak pemuda tampan dengan gaya slengeannya melangkah menghampirinya, "nginep lagi mbak?" tanya sang adik. Pemuda itu tidak bertanya melainkan menebak, sebab tak sengaja ikut mendengar percakapan kakak dengan sang bapak serta melihat sepeda kebangsaan sang kakak sudah terparkir sempurna di halaman rumah mereka. Riana mendecih dengan mata menyipit, "Iya... Seneng kan kamu nggak ada yang gangguin kamu lagi?" gerutu Riana kesal. "Anda betol!" Rendi tergelak puas tak lupa terus menggoda dengan menjulurkan lidah ke arah Riana, berlalu begitu kilat masuk ke dalam kamar mandi sebelum sang kakak mengamuk dan melempar sandal karet kearahnya. Emak yang melihat kedua anaknya pun hanya mampu menggelengkan kepala, "jangan berantem mulu, malu di dengerin tetangga." tegur beliau. "Rendi tu mak, yang rese." adunya, Riana sigap menghampiri sang emak melihat wanita paruh baya itu tampak kelelahan setelah menumbuk sebagian adonan sambal itu, "sini biar Riri aja, mak." mengambil alih alu yang di pegang emak. Emak tersenyum tipis, ia menepuk lembut pundak Riana dan melangkah menghampiri sang suami. "Capek ya, pak?" tanya emak sambil memijat pelan pundak bapak. "Lumayan mak, duh penake...!" ujar bapak yang menikmati pijatan emak, karena bapak benar-benar lelah memanggul beberapa karung padi hari ini. "Mbok yo besok ijin libur aja, pak." "Kenapa?" "Kalau benar-benar capek, minta libur aja sehari buat istirahat kan ndak popo to?!" usul emak. "Walah..." bapak tertawa ringan. "asal kamu tau, wong kerjanya bapak nggak sebanyak mereka yang masih muda-muda itu." "Kok bisa?" "Ya mungkin pak mandor bisa memilahkan pekerjaan sesuai kapasitas bapak to mak." jelasnya. Pak To tak mau istrinya khawatir akan dirinya, sementara emak sendiri juga tak mengenal lelah dan begitu semangat mencari nafkah untuk keluarganya. "Nduk... Kalo udah selesai menumbuk sambalnya buruan ke tempak ninik." ujar bapak mencoba mengalihkan pembicaraan sebelumnya. "Injih pak." ujar Riana patuh. "Bapak mau mandi dulu, sumuk!" lelaki paruh baya itu beranjak dari kursi rotannya kemudian masuk ke dalam kamar mandi setelah melihat anak ragil-nya sudah selesai mandinya. "Hoalah sakno bapak, pasti kerjaanya berat." gumam emak beliau pun beranjak menyiapkan makanan untuk makan malam. ***** Setelah selesai makan malam dan bersih-bersih, Riana dengan semangat segera keluar dari rumah sambil menuntun sepedanya. "Riri ke tempat Ninik pak emak, assalamualaikum." serunya di ambang pintu. Wa'allaikumsalam Sahut mereka. Riana mengayuh sepeda begitu riang, betapa tak sabar ingin bertemu kembali bayi mungil yang menggemaskan. Hanya butuh beberapa menit saja dirinya untuk mengayuh menuju rumah sahabatnya itu, mengingat mereka tinggal di satu kedukuhan. Ninik, wanita yang hendak ia datangi rumah mereka, sesungguhnya bukanlah kerabat melainkan hanya sosok tetangga namun mereka kedekatan antar keluarga merekalah yang membuat Riana berteman Ninik sedari mereka kecil. Keduanya memang bukan seumuran, tapi karena sikap berani dan kedewasaan Riana membuat Ninik selalu nyaman serta merasa aman bila dekat dengan gadis kecil bak cabe rawit itu. Hingga waktu yang membuat persahabatan antar kedua anak itu harus terpisah saat Riana masuk di bangku SMA, karena Ninik memutuskan menyusul orang tuanya untuk bekerja di ibukota selama lima tahun. Sampai akhirnya Riana mendengar kabar kembalinya sahabat kecilnya, bahwa Ninik akan pulang kampung membawa serta anaknya. Hal itu tentu membuat Riana bahagia bukan main, pasalnya Riana juga sangat menyukai anak kecil. Lihat saja minggu lalu, bayi Ninik yang masih sangat kecil bahkan si jabang bayi, karena usianya baru satu bulan. Tapi hal itu tak membuat Riana gentar bahkan dia dengan berani sesekali membantu Ninik mengganti popok bahkan ikut memandikan bayi mungil itu. Yang jelas Riana sangat gemas dan senang setiap melihat bayi mungil itu. Ting ting klinting... Lonceng sepeda Riana berbunyi nyaring saat memasuki teras rumah Ninik. "Selamlekom." teriaknya dari depan pintu. "Ck, Assalamualaikum Ri." sahut Ninik kesal dengan tingkah Riana yang tidak pernah benar mengucap salam. "Hehe udah ganti to ternyata" ujar Riana sambil nyengir cengengesan. "Apanya yang ganti?" "Itu tadi salamnya, aku kira selamlekom ternyata diganti assalamualaikum." jelas Riana riang tanpa peduli dengan lirikan tajam Ninik. Gadis itu melompat sambil berlari kecil karena tak sabar ingin melihat malaikat kecil Ninik. "Eits, cuci tangan dulu, terus ganti baju kamu, banyak kuman tu." Riana yang hampir terjungkal sebab kerah bajunya di tarik oleh Ninik, ia bahkan meringis kesakitan. "Nik... Aku kecekik nih..." gerutunya. "Makanya, cuci tangan dulu." "Yaaaahhhh." Riana dengan lesu putar balik arah. Dia tetap saja menurut, mencuci tangannya tanpa menunggu lama dan tak lupa juga mengganti bajunya yang sengaja ditinggal di rumah Ninik. Setelah selesai melakukan ritual sesuai ucapan Ninik, Riana pun kembali masuk ke dalam kamar sahabatnya tanpa permisi karena dia tahu suami Ninik tidak sedang berada di rumah. "Taaaraaa...." pekiknya riang, tak lupa memutar tubuhnya sambil memamerkan kedua lengan jari tangannya. "Udah bersih kan...?!" gadis itu menaik turunkan alis menatap Ninik. "Nah gitu donk." Ninik terkekeh geli lantas menyerahkan putrinya agar Riana menggendongnya, "nih jagain dulu anak ku, aku mau cuci bajunya yang kotor tadi." Riana mengangguk cepat dengan senyum lebar, ia menerima bayi mungil itu dan memangkunya begitu hati-hati. "Siap bos." ujarnya. Ninik pun beranjak keluar kamar meninggalkan Riana sendiri bersama sang bayi. "Nah sama aku jangan nakal ya." gumamnya kepada sang bayi mungil tersebut. "Eh Riri, kapan sampe?" Gadis itu mendongak menatap wanita paruh baya yang melangkah menghampirinya dan duduk di sampingnya. "Halo budhe, baru aja kok." jawabnya. "Budhe nyari Ninik ya? Niniknya di belakang cuci popok katanya." lanjutnya sambil cengengesan. "Iya budhe tau, kamu nanti nginep disini lagi?" Riana mengangguk, namun melihat gelagat budhe Siti nampaknya beliau ingin mengatakan sesuatu, Riana pun segera meletakan putri dari sahabatnya dengan sangat hati-hati. Ada sedikit rasa tak rela, hingga akhirnya mengecup pelan pipi lembutnya dengan gemas lalu duduk menghadap ibunya Ninik. "Budhe..." gadis itu meraih jemari wanita paruh baya itu mengusap permukaan tangan yang sudah mulai keriput. Senyum hangat mengembang setelah memandangi sosok ibu kedua setelah emaknya. Dari kecil Riana akan dititipkan ke orangtua Ninik apabila bapak dan emak sibuk mencari nafkah. Ayah Ninik yaitu pak Slamet bekerja sebagai supir di ibukota, dan kebetulan bos nya pak Slamet memiliki gudang penyimpanan di desa tempat tinggal mereka tersebut. Hal itu menjadi keuntungan pak Slamet karena tiap bulan bisa memiliki kesempatan untuk pulang mengunjungi istri dan anak-anaknya. Beliau tidak mengijinkan istrinya bekerja karena menurutnya hasil dari beliau kerja sebagai supir sudah lebih dari cukup. Sebab itulah orangtua Riana menitipkan anak gadisnya ke keluarga pak Slamet, karena mereka sudah menganggap Riana dan adiknya seperti anaknya sendiri bahkan bisa dibilang bagian dari keluarga mereka juga. Kebaikan mereka selama ini membuat Riana dan juga adiknya begitu patuh dan juga menyayangi orang tua kedua setelah emak bapaknya. "Budhe ada perlu kah sama Riri? Bicaralah... Kalau Riri bisa jawab, Riri akan menjawabnya." ujar Riana lembut kepada wanita paruh baya itu. Bu Siti memaku wajah gadis itu, "apa kamu beneran mau kerja jadi TKW Ri?" Riana mengangguk cepat. "Emang bapak karo emak mu nggak ngelarang?" Riana menghela napas panjang, "gimana ya..." cicitnya bingung. "Riri belum sempat menyampaikan itu ke emak bapak. Tapi Riri yakin mereka akan mendukung Riri kok budhe." setelah mampu menguasai hasratnya yang ingin menangis Riana pun kembali cengengesan seakan tak terjadi apa-apa. Tapi... Bu Siti menatapnya datar dan itu membuat Riana salah tingkah. "Hehehe..." ia tersenyum karena bingung mau bicara apa. "Ih budhe, lagian Riri sudah besar dan bapak pengen Riri jadi sarjana, jadi Riri harus bantu bapak cari modal untuk biaya Riri menimba ilmu nantinya." alibinya. "Bukan karena Aska to nduk?" selidik bu Siti. "HAHAHA." Riana menggeleng, mencoba tertawa terbahak tapi nyatanya malah garing. Dia pun mendeham karena masih ditatap penuh selidik oleh bu Siti. "Nggak lah budhe, ngapain kerja jauh-jauh hanya karena mas Aska. Dia sudah beristri lho kalo budhe lupa." kilahnya. "Jangan dibahas lagi ah takut ada yang dengar hehehe." "Bukan begitu, nduk..." merasa iba dengan hal yang terjadi pada Riana akhirnya budhe merangkul pundaknya. "Ya sudah nggak papa, nanti budhe coba bantu kamu cara menyampaikan ke emak bapakmu supaya mereka setuju." ujar bu Siti. Mata Riana berbinar cerah, "beneran budhe?" tanya gadis itu sambil mengguncang pelan jemari bu Siti. "Iya..." Riana memekik senang, di peluknya tubuh bu Siti karena mendapat dukungan dari beliau. Namun momen terharu itu berakhir kacau, keduanya tersentak melihat Ninik tergopoh-gopoh sambil menggenggam ponsel yang menempel di telinganya. "Bu. Kita harus membersihkan kamar Lingga sekarang bu. Karena kata si mas, anak majikannya akan kesini kalau ndak besok malam ya lusa." jelas Ninik dengan napas terengah-engah setelah berlari.
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD